Thumbnail artikel "Kenapa Sekolah Mirip Penjara?" menampilkan sampul buku Discipline and Punish: The Birth of the Prison karya Michel Foucault dengan latar jeruji penjara dan ruang kelas sebagai ilustrasi konsep disiplin dan pengawasan.

Kenapa Sekolah Mirip Penjara? Review Buku Discipline and Punish Michel Foucault

Review Buku

Buku yang mengganggu: Membaca Ulang Discipline and Punish Michel Foucault

Buku Discipline and Punish: The Birth of the Prison karya Michel Foucault di atas meja kafe, ditemani secangkir kopi hitam dan buku catatan berisi rangkuman tentang disiplin, pengawasan, dan Panopticon.

Secangkir kopi, sebuah buku catatan, dan Discipline and Punish. Momen sederhana untuk menyelami gagasan Michel Foucault tentang disiplin, pengawasan, Panopticon, dan cara kekuasaan bekerja dalam kehidupan modern.

Michel Foucault membuka Discipline and Punish (judul asli Prancis: Surveiller et punir, terbit 1975) dengan sebuah adegan yang sengaja dibuat sulit dilupakan. Ia mengutip vonis atas Robert-François Damiens, orang yang berupaya membunuh Raja Louis XV, yang dijatuhkan pada 2 Maret 1757.

Beberapa pekan kemudian, di sebuah lapangan di Paris, hukuman itu dieksekusi: tubuh Damiens dijepit dengan besi membara, disiram timah dan minyak mendidih, lalu keempat anggota badannya ditarik oleh empat ekor kuda sampai tercerai-berai di hadapan kerumunan.

Lalu, hanya beberapa halaman kemudian, Foucault meletakkan sesuatu yang sama sekali berbeda di sebelahnya: sebuah jadwal harian rumah tahanan anak muda dari awal abad ke-19, yang mengatur waktu bangun, kerja, belajar, makan, dan tidur menit demi menit. Kontras inilah pintu masuk ke seluruh buku.

Dalam waktu kurang dari satu abad, hukuman berpindah wujud, dari tontonan yang mengoyak tubuh menjadi jadwal yang membentuk perilaku.

Pertanyaan Foucault terdengar sederhana tetapi menghantui ratusan halaman berikutnya: apa yang sebenarnya berubah, dan bentuk kekuasaan seperti apa yang lahir dari perubahan itu (Foucault, 1995)?

Review Buku: John Ingleson; Workers, Unions and Politics dan Gerakan Buruh di Indonesia

Buku ini kerap diperkenalkan sebagai sejarah lahirnya penjara modern. Padahal, siapa pun yang menuntaskannya akan sadar bahwa penjara hanyalah titik berangkat.

Yang sesungguhnya dibedah Foucault adalah cara kerja kekuasaan di dunia modern, dan mengapa lembaga-lembaga yang tampak jinak, termasuk sekolah tempat kita menghabiskan masa kecil, ternyata dicetak dari acuan yang sama dengan bui. Resensi ini akan menyusuri alur pikir itu, dari panggung eksekusi hingga ke ruang kelas.

Dari tubuh yang disiksa ke jiwa yang diatur

Untuk memahami ke mana Foucault hendak membawa pembaca, kita perlu ikut menempuh pergeseran besar yang ia lukiskan di paruh pertama buku, yaitu peralihan dari menghukum tubuh menuju membentuk jiwa.

Hukuman sebagai tontonan

Pada rezim lama, hukuman adalah urusan publik dan tubuh adalah sasarannya. Eksekusi digelar terbuka, dramatis, dan sengaja dibuat berlarut agar rasa sakit benar-benar terlihat.

Menurut Foucault, kekejaman itu bukan semata luapan kesadisan, melainkan logika kekuasaan berdaulat (sovereign power).

Review Buku Along the Archival Grain – Ann Laura Stoler

Kejahatan dipandang sebagai serangan langsung terhadap tubuh sang raja, maka pemulihannya pun harus setara mencoloknya, yakni ditorehkan di atas tubuh terpidana di hadapan rakyat. Tiang eksekusi adalah panggung tempat kekuasaan mempertontonkan dirinya (Foucault, 1995).

Namun panggung itu rapuh. Kerumunan bisa berbalik bersimpati kepada terpidana, mengubah eksekusi menjadi kerusuhan, bahkan menjadikan si terhukum seorang martir. Ketegangan semacam inilah, kata Foucault, salah satu alasan mengapa rezim tontonan perlahan ditinggalkan.

“Reformasi” abad ke-18 dan lahirnya penjara

Sepanjang abad ke-18, para pembaru menuntut hukuman yang lebih manusiawi dan terukur. Foucault menolak menelan klaim itu bulat-bulat. Baginya, yang bergeser bukan sekadar kadar belas kasih, melainkan sasaran dan ekonomi kekuasaannya.

Hukuman modern berhenti mengincar tubuh untuk disiksa, lalu beralih membidik sesuatu yang lebih dalam untuk dibentuk dan dikoreksi. Di sinilah lahir salah satu kalimat paling termasyhur dari buku ini.

“The soul is the prison of the body.” Terjemahan: “Jiwa adalah penjara bagi tubuh.”

Kalimat ini sengaja membalik gagasan lama yang menempatkan tubuh sebagai penjara jiwa. Bagi Foucault justru sebaliknya: lewat pendisiplinan, kekuasaan modern menanamkan aturan, kebiasaan, jadwal, dan rasa bersalah ke dalam diri seseorang, sampai individu itu menjaga dan mengatur dirinya sendiri dari dalam (Foucault, 1995, p. 30).

Review Buku Guns, Germs, and Steel: Membaca Takdir Geografi dari Ruang Kelas Sejarah Indonesia

Penjara, dalam pengertian ini, tidak lagi identik dengan tembok, melainkan dengan cara berpikir yang kita bawa ke mana pun kita pergi.

Menariknya, penjara bukanlah gagasan pertama para pembaru. Di Bagian Kedua buku, Foucault menunjukkan bahwa banyak reformis abad ke-18 justru membayangkan hukuman sebagai sistem tanda yang mendidik publik: setiap kejahatan diganjar hukuman yang sepadan dan seolah ‘berbicara’, dipertontonkan secara terukur agar masyarakat belajar darinya.

Namun yang akhirnya menang bukanlah kota penuh tanda peringatan itu, melainkan bangunan tertutup bernama penjara, yang menghukum dengan cara menyita waktu dan menata perilaku. Peralihan dari menyakiti tubuh menuju membentuk jiwa inilah yang membuka jalan bagi gagasan sentral buku (Foucault, 1995).

Anatomi kuasa disipliner

Tubuh yang patuh

Bagian paling orisinal dari buku ini adalah pembedahan Foucault atas apa yang ia sebut disiplin (discipline), yakni serangkaian teknik kecil yang menata tubuh manusia supaya berguna sekaligus penurut.

Ia menamai hasil akhirnya docile bodies, tubuh-tubuh yang jinak, tubuh yang dapat ditundukkan, digunakan, diubah, dan disempurnakan sesuai kebutuhan (Foucault, 1995).

Teknik-tekniknya terdengar remeh justru karena kita sudah kelewat akrab dengannya. Ruang dibagi menjadi petak agar setiap orang punya tempat dan setiap tempat punya penghuni. Manusia disusun dalam barisan dan peringkat. Waktu dipecah menjadi jadwal yang ketat, lalu gerakan dilatih hingga efisien.

Yang dahulu dipakai untuk mencetak prajurit dari orang kebanyakan, kata Foucault, adalah teknik yang sama yang kemudian merambah bengkel, rumah sakit, dan sekolah. Disiplin bekerja diam-diam, terus-menerus, dan justru karena itu ia ampuh. Foucault bahkan menyimpulkan bahwa disiplinlah yang membentuk individu modern.

Foucault memberi contoh yang menggugah, yakni sosok prajurit. Pada abad ke-17, prajurit dianggap terlahir dengan wibawa alami. Seabad kemudian, prajurit berubah menjadi sesuatu yang dibuat.

Dari tubuh petani yang kikuk, latihan yang cermat sanggup mencetak sikap tegak, langkah seragam, dan gerakan senapan yang nyaris otomatis.

Tubuh diperlakukan bagai mesin yang bisa dibongkar, dilatih bagian demi bagian, lalu dirakit kembali menjadi lebih patuh sekaligus lebih berguna. Menurut Foucault, resep yang sama inilah yang belakangan dipinjam oleh pabrik dan ruang kelas (Foucault, 1995).

“Discipline ‘makes’ individuals.” Terjemahan: “Disiplin ‘membuat’ individu.”

Maksudnya, individu bukan bahan jadi yang sudah utuh lalu ditekan dari luar oleh kekuasaan. Individu justru diproduksi oleh kuasa disipliner yang memilah, mengukur, dan menandai setiap orang (Foucault, 1995, p. 170).

Inilah salah satu tesis terpenting Foucault: kekuasaan tidak melulu menindas dan melarang, ia juga produktif. Ia menghasilkan perilaku, pengetahuan, dan pada akhirnya jenis manusia tertentu.

Tiga alat: pengawasan, normalisasi, dan ujian

Foucault memerinci tiga instrumen yang membuat disiplin berjalan.

  • Pertama, pengawasan hierarkis (hierarchical observation), yaitu penataan bangunan dan manusia agar segala hal dapat dilihat oleh yang berada di atas.
  • Kedua, penghakiman yang menormalkan (normalizing judgement), yaitu mekanisme mencatat dan mengoreksi tiap penyimpangan kecil dari standar, sehingga tumbuh gagasan tentang yang normal dan yang menyimpang.
  • Ketiga, ujian (examination), perpaduan keduanya, saat seseorang diamati sekaligus dinilai, lalu hasilnya diarsipkan menjadi berkas (Foucault, 1995).

Perhatikan bahwa ketiga alat itu adalah denyut nadi kehidupan sekolah. Dan memang, di titik inilah sekolah mulai menyita perhatian Foucault secara khusus.

Panopticon: melihat tanpa terlihat

Puncak analisis Foucault adalah Panopticon, rancangan penjara ideal karya filsuf Inggris Jeremy Bentham. Bentuknya menyerupai cincin: sel-sel mengelilingi sebuah menara pengawas di pusatnya.

Pencahayaan diatur sedemikian rupa sehingga penghuni sel selalu terlihat dari menara, tetapi tidak pernah bisa memastikan apakah pada saat itu ada yang tengah mengawasinya atau tidak (Foucault, 1995).

Efeknya, tulis Foucault, brilian sekaligus mengerikan. Karena tidak pernah tahu kapan sedang diawasi, penghuni sel akhirnya berperilaku seolah-olah selalu diawasi.

Pengawasan pun berpindah dari luar ke dalam kepala. Kekuasaan bekerja otomatis, murah, dan nyaris tanpa kekerasan yang kasat mata. Yang terpenting, bagi Foucault Panopticon bukan sekadar sketsa bangunan, melainkan diagram kekuasaan modern, sebuah pola yang bisa dipasang di penjara, pabrik, rumah sakit, barak, dan tentu saja sekolah.

Justru di sinilah letak argumen Foucault yang paling berani. Ia menolak menganggap disiplin terkurung di balik tembok penjara. Sebaliknya, teknik-teknik itu menyebar keluar, merembes ke sekolah, rumah sakit, pabrik, dan barak, hingga membentuk apa yang ia sebut masyarakat disipliner.

Penjara hanyalah simpul paling padat dari satu jaringan pengawasan yang jauh lebih luas, sebuah rangkaian lembaga yang saling meminjam cara kerja. Dengan kata lain, Panopticon bukan bangunan langka, melainkan prinsip yang diam-diam menata banyak ruang tempat kita menjalani hidup (Foucault, 1995).

Denah dan potongan Panopticon, penjara ideal rancangan Jeremy Bentham (1791). Domain publik via Wikimedia Commons.

“Sekolah menyerupai penjara”: jantung provokasi

Di sinilah buku ini menusuk paling dalam bagi siapa pun yang pernah duduk di bangku sekolah, apalagi bagi yang berdiri di depannya. Bagi Foucault, sekolah bukan lawan dari penjara, melainkan sepupu dekatnya. Keduanya lahir dari rahim teknik disipliner yang sama.

Bukan metafora, melainkan bentuk yang sama

Tengok perkakas sehari-hari sekolah. Lonceng yang membelah hari menjadi jam pelajaran. Bangku yang memaku tiap murid di satu titik tetap. Peringkat kelas dari juara pertama hingga yang paling buncit.

Rapor yang mengarsipkan setiap anak menjadi angka dan catatan. Dalam kosakata Foucault, semua itu adalah pengawasan hierarkis, normalisasi, dan ujian yang bekerja serentak. Ia bahkan menegaskan bahwa sekolah menjelma menjadi mesin ujian yang tidak pernah berhenti.

“The school became a sort of apparatus of uninterrupted examination.” Terjemahan: “Sekolah menjelma semacam aparatus ujian yang tiada henti.”

Ujian di sekolah, kata Foucault, tidak lagi berupa peristiwa sesekali untuk mengadu kemampuan, melainkan pembandingan yang berlangsung terus-menerus, yang sanggup mengukur, memeringkat, dan menempatkan tiap murid pada posisinya masing-masing (Foucault, 1995, p. 186).

Detail-detail yang tampak sepele pun, di mata Foucault, sarat makna. Susunan bangku yang berjajar rapi bukan semata soal ketertiban, melainkan cara menempatkan tiap murid pada satu titik yang mudah diawasi sekaligus dibandingkan.

Nilai dan peringkat mengubah anak menjadi rangkaian data yang bisa dilacak dari waktu ke waktu. Dari sinilah lahir sosok ‘murid normal’ sebagai tolok ukur, sekaligus ‘murid bermasalah’ sebagai bayangannya.

Sekolah, dengan demikian, bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan juga mesin halus untuk memilah dan menormalkan manusia sejak dini (Foucault, 1995).

Sekolah sebagai laboratorium yang normal

Foucault melacak akarnya hingga ke sekolah-sekolah Kristen abad ke-17 rancangan Jean-Baptiste de La Salle, ke kelahiran sekolah guru atau école normale (dan dari kata normale itulah istilah normalisasi memperoleh warnanya), sampai ke Mettray, koloni pemasyarakatan anak muda di Prancis yang ia sebut sebagai bentuk disiplin paling murni: peleburan sekolah, keluarga, bengkel, biara, dan penjara sekaligus (Foucault, 1995).

Di Mettray, garis batas antara mendidik dan menghukum nyaris lenyap sama sekali.

Dari seluruh rangkaian itu, Foucault sampai pada kalimat yang menjadi jantung buku, sekaligus baris yang paling sering dikutip orang.

“…prisons resemble factories, schools, barracks, hospitals, which all resemble prisons.”Terjemahan: “…penjara menyerupai pabrik, sekolah, barak, dan rumah sakit, yang semuanya menyerupai penjara.”

Kalimat itu ia tutup dengan nada retoris yang menohok: masih pantaskah kita merasa heran (Foucault, 1995, p. 228)?

Sebuah klarifikasi penting

Di titik inilah banyak pembaca populer salah tangkap. Foucault tidak sedang berkata bahwa sekolah adalah penjara secara harfiah, seakan guru adalah sipir dan rapor adalah vonis.

Yang ia tunjukkan lebih halus dan justru lebih menggigit: sekolah, penjara, pabrik, dan rumah sakit berbagi teknologi kekuasaan yang sama, yaitu disiplin. Perbedaan tujuannya tetap nyata, sekolah mendidik sedangkan penjara menghukum, tetapi mekanisme yang mereka pakai untuk menata tubuh dan waktu manusia berasal dari satu keluarga.

Menyadari kesamaan bentuk itu tidak dengan sendirinya menjadikan sekolah sebagai lembaga jahat. Ia hanya memaksa kita jujur tentang apa yang sesungguhnya sedang dikerjakan oleh sebuah ruang kelas.

Ruang kelas dengan sistem monitorial (metode Joseph Lancaster), Central School, Borough Road, London, sekitar 1817. Domain publik via Wikimedia Commons.

Nilai dan batas buku

Apa yang membuatnya penting

Kekuatan Discipline and Punish terletak pada caranya mengubah pertanyaan. Alih-alih menanyakan siapa yang memegang kekuasaan, Foucault bertanya bagaimana kekuasaan bekerja pada titik-titik terkecil, tepat di atas tubuh kita.

Dari sini lahir gagasan kuasa-pengetahuan (power-knowledge): ilmu-ilmu modern tentang manusia, seperti psikologi, kriminologi, dan pedagogi, tumbuh justru dari praktik mengawasi dan menilai di penjara, klinik, dan sekolah (Foucault, 1995).

Metodenya, yang ia sebut genealogi, yaitu melacak asal-usul yang tersembunyi dan kerap memalukan dari hal-hal yang telanjur kita anggap wajar, telah mengubah cara banyak sejarawan dan ilmuwan sosial membaca institusi.

Apa yang bisa digugat

Kendati begitu, buku ini bukan tanpa cela, dan sejarawan justru termasuk pengkritiknya yang paling keras.

  • Pertama, ada aroma fungsionalisme. Foucault kerap menampilkan disiplin sebagai mesin yang mulus dan selalu berhasil, seakan tiap lembaga bergerak persis mengikuti logika kekuasaan tanpa cegukan.
  • Kedua, dan berkaitan dengan itu, ruang bagi perlawanan nyaris tidak tampak. Murid yang membolos, narapidana yang memberontak, buruh yang mogok, seolah raib dari halaman-halamannya. David Garland (1990), misalnya, menunjukkan bahwa realitas penjara jauh lebih berantakan, penuh kegagalan dan tawar-menawar, ketimbang model rapi yang disodorkan Foucault.
  • Ketiga, basis sejarahnya dipilih secara selektif dan sangat kental Prancis, sehingga generalisasinya ke seluruh masyarakat modern perlu ditimbang ulang, terlebih untuk konteks di luar Eropa seperti Indonesia.

Toh, kritik-kritik itu tidak meruntuhkan bangunan buku ini. Sebaliknya, mereka menjadi bukti bahwa Discipline and Punish cukup penting untuk terus diperdebatkan selama setengah abad.

Cermin Bagi Ruang Kelas Kita

Discipline and Punish bukanlah bacaan yang nyaman. Ia mengambil hal-hal yang biasa kita rayakan sebagai kemajuan, seperti hukuman yang lebih manusiawi, sekolah yang tertib, dan pengawasan demi keamanan, lalu menyingkap sisi kekuasaan yang bekerja diam-diam di baliknya.

Bagi pembaca Indonesia, gaungnya terasa akrab. Lonceng sekolah, upacara bendera yang rapi berbaris, daftar hadir, rapor, sampai kamera pengawas di koridor, semuanya bisa dibaca ulang lewat kacamata Foucault.

Membaca buku ini tidak akan membuat Anda serta-merta membenci sekolah ataupun penjara.

Namun ia menanamkan satu kebiasaan berpikir yang sukar dihapus. Setiap kali berhadapan dengan ruang yang menata tubuh dan waktu manusia, Anda akan refleks bertanya: siapa yang mengawasi, apa yang sedang dinilai, dan menjadi manusia macam apa kita di dalamnya.

Untuk sebuah buku yang terbit pada 1975, pertanyaan semacam itu terdengar makin relevan, bukan makin usang.

Daftar Pustaka

  • Foucault, M. (1995). Discipline and punish: The birth of the prison (A. Sheridan, Penerj.). Vintage Books. (Karya asli terbit 1975)
  • Garland, D. (1990). Punishment and modern society: A study in social theory. University of Chicago Press.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer

01

Review Buku Homo Deus: Saat Manusia Berambisi Menjadi Tuhan

02

Chung Hwa Hui (1928-1942): Kisah Organisasi Politik Tionghoa yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia

03

20 Teknik Storytelling dalam Pembelajaran Sejarah

04

Detective Board: Solusi Krisis Literasi Sejarah Indonesia

05

Review Jujur NotebookLM: Asisten AI Guru Sejarah atau Sekadar Gimmick?

Artikel Terbaru






Berlangganan Gratis