Ilustrasi Spaarbank voor Inlanders di Mojowarno, Jombang, yang menjadi bank tabungan pribumi sebelum berdirinya BRI, menampilkan suasana desa, buku tabungan, koin gulden, dan arsip sejarah perbankan kolonial Hindia Belanda (ardiholmes.id).

Bank Pribumi Sebelum BRI: Spaarbank Mojowarno 1889 yang Terlupakan

Sejarah

Ringkasan Artikel

Empat tahun sebelum bank Purwokerto yang kelak dirayakan sebagai cikal bakal BRI berdiri, sebuah bank tabungan khusus pribumi sudah beroperasi di desa Mojowarno, Jombang. Laporan De Indische Gids tahun 1891 mencatat 115 penabung dengan kapital f 8.924.


Sebelum BRI Lahir, Desa di Jombang Sudah Punya Bank Sendiri

Hampir semua kisah tentang bank rakyat di Indonesia membuka babnya di Purwokerto. Di kota itu, pada 16 Desember 1895, Raden Bei Aria Wirjaatmadja mendirikan De Poerwokertosche Hulp-en Spaarbank der Inlandsche Hoofden, lembaga yang kelak dirayakan sebagai cikal bakal Bank Rakyat Indonesia.[1]

Tanggal itu kini diperingati setiap tahun sebagai hari lahir bank rakyat tertua di negeri ini.

Namun, arsip berkata lain. Majalah kolonial De Indische Gids terbitan 1891 memuat laporan keuangan sebuah lembaga bernama Spaarbank voor Inlanders te Modjowarno, bank tabungan untuk pribumi di sebuah desa di tenggara Jombang, Jawa Timur. Laporan itu bertanggal 15 April 1891 dan dengan bangga menyebut dirinya laporan tahun buku kedua.[2]

Artinya, ketika Wirjaatmadja belum memulai apa pun di Purwokerto, orang-orang desa Mojowarno sudah beberapa tahun lebih dulu mengenal buku tabungan.

Duit Ayam Jago: Uang Palsu yang Menguasai Pasar Nusantara Hampir Seabad

Foto hitam putih awal abad ke-20 memperlihatkan bangunan kantor pos pembantu di Mojowarno, Jawa Timur, dengan beberapa orang berdiri di halamannya

Kantor pos pembantu (hulppostkantoor) di Mojowarno, awal abad ke-20. Kehadirannya menandai lengkapnya lembaga modern di desa ini. Koleksi KITLV/Universiteitsbibliotheek Leiden, via Wikimedia Commons (CC BY 4.0).

Desa Kristen yang Mengurus Uangnya Sendiri

Mojowarno bukan desa biasa. Sejak pertengahan abad ke-19, permukiman ini tumbuh sebagai desa Kristen Jawa binaan Nederlandsch Zendelinggenootschap, lembaga zending Belanda yang menempatkan keluarga zendeling Kruyt di sana lintas generasi. Desa ini memiliki gereja besar, sekolah dasar, sekolah guru, sekolah pertukangan, dan kelak sebuah rumah sakit zending yang tersohor sampai jauh ke luar Jawa Timur.

Kebiasaan mengelola uang bersama juga bukan barang baru di sana. Sejak 1871 jemaat Mojowarno mengenal lumbung persekutuan. Sebagian hasil panen disisihkan, dijual, dan dananya disimpan di De Javasche Bank cabang Surabaya untuk membiayai pembangunan gereja.[3]

Dari kebiasaan menyisihkan hasil panen itulah gagasan bank tabungan menemukan tanahnya. Koran Soerabaijasch Handelsblad kemudian mencatat bank ini didirikan pada 1888 atas prakarsa Kruyt, meski pembukuan pertamanya baru berjalan penuh setahun kemudian.[4]

Foto tahun 1904 memperlihatkan rumah kayu zendeling pertama di Mojowarno dengan buah asam yang sedang dijemur di halaman

Rumah zendeling pertama di Mojowarno dengan asam yang dijemur di halamannya, 1904. Koleksi Tropenmuseum, via Wikimedia Commons (CC BY-SA 3.0).

Laporan 1891: Angka-Angka dari Sebuah Bank Desa

Laporan tahun buku kedua itu disusun rapi layaknya bank kota. Kapital milik nasabah tercatat f 4.789,85 pada akhir 1889. Sepanjang 1890 masuk setoran f 6.239,48 dan keluar penarikan f 2.367,83. Setelah bunga sebesar f 262,50 dibukukan ke rekening nasabah dan f 79,80 disisihkan ke dana cadangan, kapital nasabah ditutup pada angka f 8.924. Jumlah penabung melonjak dari 51 menjadi 115 orang, naik lebih dari dua kali lipat dalam setahun.[5]

Susunan pengurusnya memperlihatkan kolaborasi yang jarang ada di lembaga kolonial: A. Kruyt dari kalangan zending duduk sebagai direktur, didampingi komisaris H. E. Steinmetz dan H. van Vleuten dari kalangan pejabat Eropa, serta Kromodjojo Adinegoro, bupati Mojokerto yang wilayahnya saat itu mencakup Jombang.

Membaca Indonesia dari Sela Buku Kas: Cara Sejarawan Membalik Arsip VOC

Negara pun mengakui keberadaannya. Perubahan aturan bunga bank ini disahkan pemerintah melalui Regeeringsbesluit 14 Januari 1891 No. 15.[6]

Grafik batang dua panel memperlihatkan kapital nasabah naik dari 4.789,85 gulden pada akhir 1889 menjadi 8.924 gulden pada akhir 1890, dan jumlah penabung naik dari 51 menjadi 115 orang

Pertumbuhan kapital nasabah dan jumlah penabung Spaarbank Mojowarno, 1889-1890. Diolah dari De Indische Gids 13 (1891).

Menabung di Bulan Paceklik, Menarik untuk Dagang Padi

Bagian paling hidup dari laporan itu justru bukan neracanya, melainkan keterangan tentang perilaku nasabah. Uang paling banyak disetor pada bulan-bulan paceklik. Menyimpan di bank menjauhkan uang dari godaan terpakai untuk hal-hal kecil di masa sulit.

Sebaliknya, penarikan besar terjadi menjelang dan sesudah panen, ketika uang dibutuhkan sebagai modal berdagang padi.

Angkanya bercerita. Pada 1889 penarikan hanya sekitar f 200 sepanjang tahun. Setahun kemudian angka itu melonjak ke f 2.367,83, tanda uang mulai berputar keluar-masuk mengikuti irama musim tanam.

Bunga yang kecil tidak pernah menjadi keluhan. Yang dicari para penabung adalah tempat yang aman dan disiplin yang dipaksakan oleh jarak. Bagi petani Mojowarno, bank desa ini adalah alat mengelola kas musiman, bukan sekadar celengan.

Premi Pabrik Gula: Korupsi Era Kolonial yang Dirancang Negara

Empat Tahun Sebelum Purwokerto

Pertumbuhan itu tidak berhenti. De Locomotief edisi 25 Juni 1895, hanya setengah tahun sebelum bank Purwokerto berdiri, mencatat dana kelolaan Spaarbank Mojowarno sudah mencapai f 27.626. Pengurusnya tetap lintas kalangan: direktur R. Kruyt didampingi Asisten Residen Arends, Bupati Kromodjojo Adinegoro, dan Controleur Steendam.[7]

Ketika Purwokerto baru meletakkan batu pertama pada penghujung 1895, bank desa di Jombang ini sudah tujuh tahun berjalan dan berkembang hampir enam kali lipat.

Nama desa ini bahkan terbawa sampai ke Den Haag. Dalam sidang Tweede Kamer 17 November 1897, anggota parlemen B. K. F. van Vlijmen mengutip ceramah F. Fokkens di hadapan Indisch Genootschap setahun sebelumnya: satu-satunya jalan melepaskan petani Jawa dari cengkeraman lintah darat adalah mendirikan bank simpanan dan kredit. Sebagai bukti bahwa orang Jawa memang mau menabung, disebutlah spaarkas yang tengah berkembang subur di Mojowarno.[8]

Ada satu kejanggalan kecil yang justru berbicara banyak. Fokkens menyebut lembaga itu didirikan zendeling Jellesma, padahal Jellesma sudah wafat sejak 1858. Reputasi menabung Mojowarno rupanya telah menjadi buah bibir yang melampaui ingatan orang akan pendirinya.[9]

Catatan sezaman tentang Purwokerto sendiri sedikit berbeda dari kanon yang kita warisi. Laporan Roessingh van Iterson tahun 1898 menggambarkan Asisten Residen E. Sieburgh menalangi modal f 8.000 dari kantongnya sendiri, dikelola sebuah komisi kepala-kepala pribumi yang dipercaya.

Dua tahun kemudian omzetnya sekitar f 70.000 setahun, dengan bunga pinjaman paling tinggi 15 persen setahun, jauh di bawah bunga lintah darat yang 10 persen lebih setiap bulan. Direksinya digambarkan sepenuhnya pribumi dengan tiga komisaris Eropa.[10]

Lalu mengapa Purwokerto yang dikenang dan Mojowarno yang dilupakan? Setidaknya ada tiga jawaban. Pertama, bank Wirjaatmadja bersambung secara kelembagaan hingga menjadi Algemeene Volkscredietbank di zaman kolonial akhir dan akhirnya BRI.

Ada ahli waris raksasa yang merawat ingatannya. Kedua, Mojowarno hidup di lingkungan zending. Riwayatnya tersimpan di majalah dan arsip Belanda, jauh dari panggung historiografi nasional yang dibangun setelah kemerdekaan.

Ketiga, keduanya memang berbeda watak. Mojowarno adalah bank tabungan murni, sementara Purwokerto sejak awal adalah bank pertolongan dan kredit. Sejarah perbankan rakyat kita terlanjur menempatkan kredit sebagai tonggak, bukan simpanan.

Perlu dicatat pula bahwa bank tabungan gaya Eropa sudah hadir di kota-kota besar Jawa sejak pertengahan abad ke-19, tetapi lembaga-lembaga itu melayani publik kota, terutama orang Eropa.

Kekhususan Mojowarno terletak pada tiga hal sekaligus: khusus untuk pribumi, berdiri di desa, dan dikelola bersama oleh zendeling, pejabat, dan bupati. Lagi pula, menabung kolektif bukan barang asing bagi orang Jawa. Sarjana masa itu bahkan menyebut arisan sebagai bank tabungan kooperatif dalam bentuknya yang paling jujur.[11]

Titik Nol yang Lebih dari Satu

Sejarah menabung rakyat Indonesia ternyata tidak dimulai dari satu tanggal dan satu kota. Ia tumbuh di banyak tempat sekaligus, termasuk di sebuah desa Kristen di Jombang yang penabungnya menyetor di bulan paceklik dan menarik uangnya untuk berdagang padi.

Laporan tua tahun 1891 itu mencatat 115 orang yang namanya tidak pernah masuk buku sejarah. Merekalah pengingat bahwa inklusi keuangan di negeri ini punya lebih dari satu titik nol, dan sebagian titik nol itu masih menunggu ditemukan kembali di lembar-lembar arsip.

Catatan Kaki

  1. Sejarah resmi Bank Rakyat Indonesia menempatkan pendirian De Poerwokertosche Hulp- en Spaarbank der Inlandsche Hoofden oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja pada 16 Desember 1895 sebagai titik awal lembaga; tanggal ini dipakai sebagai hari jadi BRI. Lihat laman sejarah bri.co.id (diakses Juli 2026).
  2. “De Spaarbank voor Inlanders te Modjowarno,” De Indische Gids 13, no. 2 (1891): 1299-1300. Nomor halaman terkonfirmasi lewat Register De Indische Gids 1879-1903 (Amsterdam: De Bussy, 1904), yang mencatat laporan tahunan bank ini sebagai rubrik berseri: jilid XII (1890) 1:1219 untuk tahun buku pertama 1889, hingga jilid XX (1898) 1:597 untuk hasil tahun 1897.
  3. J. D. Wolterbeek, Babad Zending di Pulau Jawa (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1995).
  4. Soerabaijasch Handelsblad, 6 Desember 1897, menyebut bank ini didirikan pada 1888 atas prakarsa Kruijt. Laporan De Indische Gids 1891 menyebut tahun 1890 sebagai “tahun buku kedua”, yang mengarah ke mulai beroperasinya bank pada 1889. Selisih ini wajar bila pendirian resmi dan pembukuan pertama tidak jatuh pada tahun yang sama.
  5. “De Spaarbank voor Inlanders te Modjowarno,” De Indische Gids 13 (1891). Seluruh angka dan keterangan perilaku nasabah pada bagian ini berasal dari laporan yang sama.
  6. Regeeringsbesluit 14 Januari 1891 No. 15, sebagaimana dikutip dalam laporan De Indische Gids 13 (1891).
  7. De Locomotief, 25 Juni 1895. Identitas “A. Kruyt” pada laporan 1891 dan “R. Kruyt” pada berita 1895 perlu ditelusuri lebih lanjut; keluarga Kruyt mengabdi di Mojowarno lintas generasi, dan Register De Indische Gids mencatat A. Kruyt sudah menulis dari Mojowarno sejak 1886. Koran dapat diakses penuh melalui delpher.nl.
  8. G. Roessingh van Iterson, “De oprichting van de eerste hulp- en spaarbank door inlandsche hoofden te Poerwokerto,” Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie (1898): 355-356. Risalah sidangnya: Handelingen der Staten-Generaal 1897-1898, hlm. 134-135, dapat diakses penuh di statengeneraaldigitaal.nl.
  9. Jellesma, zendeling pertama Mojowarno, wafat pada 1858, tiga dasawarsa sebelum bank berdiri. Atribusi Fokkens kemungkinan merancukan bank dengan tradisi simpanan komunal jemaat yang lebih tua, atau sekadar keliru nama. Jejak untuk ditelusuri: entri Jellesma dalam De Indische Gids 18 (1896) 1:203.
  10. Roessingh van Iterson, “De oprichting,” 357-359.
  11. L. W. C. van den Berg, “Het inlandsche gemeentewezen op Java en Madoera,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde (1901), yang menyebut arisan sebagai spaarbank kooperatif sejati dan mencatat dewan-dewan gereja desa Kristen mendirikan spaarbank sebagai lembaga jemaat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer

01

Review Buku Homo Deus: Saat Manusia Berambisi Menjadi Tuhan

02

Chung Hwa Hui (1928-1942): Kisah Organisasi Politik Tionghoa yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia

03

20 Teknik Storytelling dalam Pembelajaran Sejarah

04

Detective Board: Solusi Krisis Literasi Sejarah Indonesia

05

Review Jujur NotebookLM: Asisten AI Guru Sejarah atau Sekadar Gimmick?

Artikel Terbaru






Berlangganan Gratis