Ilustrasi Duit Ayam Jago, token dagang bergambar ayam sabung buatan Inggris yang beredar luas sebagai uang pasar di Nusantara pada abad ke-19, menampilkan pedagang tradisional, keping tembaga, pelabuhan Singapura, dan aktivitas perdagangan kolonial (ardiholmes.id).

Duit Ayam Jago: Uang Palsu yang Menguasai Pasar Nusantara Hampir Seabad

Sejarah

Ringkasan Artikel

Duit ayam jago adalah koin tembaga tak resmi bergambar ayam sabung yang dicetak pabrik di Inggris atas pesanan para pedagang Singapura sejak 1820-an, lalu beredar luas sebagai uang pasar di Nusantara. Meski secara hukum tergolong uang palsu, koin ini justru dipercaya rakyat dan bertahan hampir seabad. Pemerintah kolonial Belanda baru berhasil menyingkirkannya lewat operasi pembersihan uang yang tuntas menjelang 1929.


Duit Ayam Jago, Uang Ilegal yang Dipercaya Rakyat Nusantara

Pada 1911, seorang peminat uang kuno di Bangkinang, Sumatra Tengah, memborong seratus ribu keping koin dari pasar. Harganya sangat murah: lima keping ditukar satu sen.

Penduduk setempat menyebut koin itu lintjir, uang receh yang sehari-hari berpindah tangan di pasar. Setelah seluruhnya disortir, hasilnya mengejutkan: 85 persen bergambar ayam sabung.[1]

Koin-koin itu bukan uang resmi. Ia tidak dicetak di Batavia, tidak pula di Utrecht. Ia lahir dari pabrik-pabrik di Inggris atas pesanan pedagang swasta.

Secara hukum, koin itu uang palsu. Di pasar, ia raja.

Bank Pribumi Sebelum BRI: Spaarbank Mojowarno 1889 yang Terlupakan

Koin tembaga kuno bergambar ayam jago, token pedagang Singapura bernilai dua keping yang beredar sekitar 1828 sampai 1835

Token pedagang Singapura bernilai 2 keping bercorak ayam sabung, beredar sekitar 1828-1835. Foto: Rachmat04, Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.

Lahir di Calcutta, Besar di Singapura

Kepeng 1783 untuk Pesisir Barat Sumatra

Cerita ini bermula jauh sebelum ayam jago berkokok. Pada 1783, para pedagang Inggris di Calcutta mencetak koin tembaga bernilai dua kepeng untuk wilayah pendudukan Inggris di pesisir barat Sumatra, sekitar Bengkulu.[2]

Kata kepeng berarti kepingan tipis. Nama itu dipinjam dari sebutan untuk uang tembaga Cina berlubang yang sudah lebih dulu beredar di Nusantara.

William Marsden, sejarawan Inggris yang lama tinggal di Bengkulu, mencatat sistem hitungnya: dolar Spanyol berlaku di mana-mana, dan pembukuan dihitung dalam dolar, suku, serta keping. Empat ratus keping setara satu dolar.[3]

Kongsi dagang Inggris EIC kemudian ikut mencetak seri kepeng resmi antara 1786 dan 1804, sebagian digarap pabrik Boulton di Soho, Birmingham.[4]

Ayam Sabung dan Aksara Bugis: Jurus Pemasaran Uang

Babak besarnya dimulai setelah Singapura berdiri pada 1819. Para trader di sana meniru resep Calcutta, tetapi dengan skala jauh lebih besar dan sasaran seluruh kepulauan.

Membaca Indonesia dari Sela Buku Kas: Cara Sejarawan Membalik Arsip VOC

Desain paling laris adalah ayam sabung, hewan yang digemari hampir semua penduduk Nusantara. Dari sinilah julukan duit ayam jago lahir.[5]

Para pedagang itu paham selera pasarnya. Ada seri beraksara Bugis bertuliskan tana ugi untuk Sulawesi. Ada pula yang mencatut nama negeri: Selangor, Trengganu, Perak, Minangkabau, Siak, Deli, sampai Aceh.[6]

James Brooke, raja putih Sarawak, bahkan punya token sendiri bertarikh 1841. Satu keping lain memuat nama C. R. Read, saudagar Singapura yang kerap dikacaukan dengan anaknya, W. H. M. Read, yang kelak menjadi konsul Belanda di kota itu.[7]

Perang Uang di Selat Malaka

Bagi Belanda, banjir koin swasta ini bukan sekadar soal receh. Ia pelanggaran kedaulatan: uang ilegal asing beredar bebas di tanah jajahannya.

Protes diplomatik pun dilayangkan ke London. Pada 1844, pemerintah Inggris menyita cetakan koin di Birmingham, dan EIC menyusul melarang peredaran token itu pada 1848.[8]

Premi Pabrik Gula: Korupsi Era Kolonial yang Dirancang Negara

Larangan itu terlambat sekaligus tumpul. Pada masa puncaknya, 1841 sampai 1851, diperkirakan lebih dari 300 juta token terserap Nusantara melalui Singapura.[9]

Token bergambar ayam yang tidak meniru desain koin resmi mana pun juga lolos dari jerat larangan. Jauh di pedalaman Sumatra dan Sulawesi, si ayam jago terus berkokok.

Grafik garis waktu enam peristiwa penting duit ayam jago dari 1783 sampai 1929 (ardiholmes.id).

Garis waktu duit ayam jago, dari kepeng Calcutta 1783 hingga muntzuivering 1929. Diolah dari Michielsen (1939) dan sumber pendukung.

Mengapa Rakyat Memilih Si Ayam

Jawabannya sederhana: pasar butuh uang receh, dan negara tidak hadir.

Di luar Jawa, uang kecil resmi harus diimpor dari Eropa dan jarang sampai ke pedalaman. Kepeng swasta justru murah, melimpah, dan diterima tetangga sebelah.

Nilainya memang berubah-ubah dari satu daerah ke daerah lain. Di Bangkinang, lima keping dihargai satu sen. Kurs macam ini disepakati pasar, bukan ditetapkan negara.[10]

Negara bahkan pernah menyerah pada uang pasar. Saat perang Lombok 1894, serdadu kolonial di Ampenan sempat digaji sebagian dengan kepeng Cina, enam keping per sen, karena uang receh resmi habis.[11]

Uang, pada akhirnya, adalah soal kepercayaan. Selama orang pasar mau menerimanya, kepingan tembaga ilegal pun sah menjadi uang.

Eksekusi Si Ayam Jago

Baru pada awal abad ke-20 negara kolonial bergerak serius lewat muntzuivering, operasi pembersihan uang. Wilayah demi wilayah, uang tak resmi ditarik dari peredaran dan dilarang masuk.

Laporan kolonial 1929 mencatat salah satu babak pamungkasnya: lewat ordonansi 21 Desember 1928, keluar-masuknya koin tembaga yang dikenal dengan nama kepeng dilarang di Sumbawa dan Flores mulai 1 Maret 1929.[12]

Hampir seabad setelah kelahirannya, si ayam jago akhirnya dieksekusi oleh negara yang pernah dikalahkannya.

Kisahnya meninggalkan satu pelajaran yang tetap relevan: uang bekerja bukan karena stempel penguasa, melainkan karena kepercayaan orang yang memakainya. Ketika negara absen, pasar akan mencetak uangnya sendiri.

Catatan Kaki

  1. A. W. A. Michielsen, “De Kèpèng,” De Indische Gids 61 (1939), hlm. 319-324. Anekdot penyortiran di Bangkinang pada hlm. 321-322.
  2. Michielsen, “De Kèpèng,” hlm. 320-321.
  3. William Marsden, The History of Sumatra, edisi ketiga (London: dicetak untuk penulis, 1811), bagian tentang mata uang di pesisir barat Sumatra.
  4. Michielsen, “De Kèpèng,” hlm. 320-323.
  5. Michielsen, “De Kèpèng,” hlm. 321-323.
  6. Michielsen, “De Kèpèng,” hlm. 322-323.
  7. Michielsen, “De Kèpèng,” hlm. 323; bandingkan “Token dagang Malaya Britania,” Wikipedia bahasa Indonesia, https://id.wikipedia.org/wiki/Token_dagang_Malaya_Britania, yang mengidentifikasi C. R. Read sebagai saudagar Christopher Rideout Read, ayah dari W. H. M. Read.
  8. “Token dagang Malaya Britania,” Wikipedia bahasa Indonesia, https://id.wikipedia.org/wiki/Token_dagang_Malaya_Britania, merujuk pelat dan katalog Ellis (1865).
  9. “Token dagang Malaya Britania,” Wikipedia bahasa Indonesia.
  10. Michielsen, “De Kèpèng,” hlm. 321-322.
  11. Michielsen, “De Kèpèng,” hlm. 324.
  12. Verslag van bestuur en staat van Nederlandsch-Indië, Suriname en Curaçao van 1929 (Koloniaal Verslag 1929), Bijlagen van het Verslag der Handelingen van de Tweede Kamer der Staten-Generaal 1929-1930, Bijlage C, bagian Muntwezen, hlm. 139-140.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer

01

Review Buku Homo Deus: Saat Manusia Berambisi Menjadi Tuhan

02

Chung Hwa Hui (1928-1942): Kisah Organisasi Politik Tionghoa yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia

03

20 Teknik Storytelling dalam Pembelajaran Sejarah

04

Detective Board: Solusi Krisis Literasi Sejarah Indonesia

05

Review Jujur NotebookLM: Asisten AI Guru Sejarah atau Sekadar Gimmick?

Artikel Terbaru






Berlangganan Gratis