Review Buku Homo Deus Tentang Post-Humanisme secara Komprehensif
Setelah pikiran saya dijungkirbalikkan oleh buku Sapiens, saya sempat berpikir telah memahami inti pemikiran Yuval Noah Harari. Saya merasa siap untuk apa pun.
Ternyata, saya salah besar.
Jika Sapiens adalah cermin masa lalu, maka buku Homo Deus: A Brief History of Tomorrow adalah teleskop yang diarahkan ke masa depan.
Pemandangannya memukau sekaligus sangat mengkhawatirkan.
Ulasan buku ini adalah upaya untuk membedah argumen sentral Harari dalam Homo Deus, yang akan mengubah cara kita memandang teknologi, kemanusiaan, dan takdir.
Inti dari buku ini adalah sebuah visi tentang kebangkitan post-humanisme: sebuah era di mana manusia tidak lagi puas dengan kondisi biologisnya, dan mulai berambisi untuk menjadi Tuhan.
Sebagai seorang guru, review Homo Deus ini menjadi sebuah pergulatan personal.
Sapiens membantu saya menjelaskan dunia yang sudah ada. Homo Deus memaksa saya bertanya tentang dunia yang akan datang.
Ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan fundamental yang kini menghantui saya:
- Dunia seperti apa yang sedang kita siapkan untuk para siswa?
- Bagaimana saya bisa mengajarkan nilai kehendak bebas, jika buku ini berargumen bahwa itu hanyalah ilusi biokimia?
- Apa artinya ‘individu’, jika kelak algoritma mengenal kita lebih baik dari diri kita sendiri?
Mari kita selami argumen-argumen provokatif Harari, mulai dari fondasi yang dirobohkannya hingga visi masa depan yang dilukiskannya.
*Catatan: buku yang dijadikan referensi tulisan ini adalah buku Homo Deus dari penerbit Alfabet tahun 2018.
Catatan: Artikel ini adalah bagian dari eksplorasi mendalam tentang transformasi pemikiran Yuval Noah Harari melalui karya-karyanya yang berpengaruh.
Artikel Lain dari Review Buku karya Harari:
– Review Yuval Noah Harari untuk Pendidik Indonesia
– Review Buku 21 Lessons for the 21st Century (dalam proses)
– Review Buku Nexus (dalam proses)
Ringkasan Eksekutif:
- Meruntuhkan Fondasi Humanisme Universal: Ulasan ini menyoroti bagaimana Homo Deus pertama-tama mendekonstruksi pemikiran humanis dengan menyatakan ‘kehendak bebas’ sebagai ilusi algoritma biokimia dan ‘individu’ sebagai fiksi naratif. Ini adalah landasan filosofis yang membuka jalan bagi era post-humanisme.
- Agenda Baru Manusia: Inti dari buku ini adalah proyek ambisius manusia di abad ke-21 untuk melampaui batas biologisnya. Tiga agenda utamanya adalah mengalahkan kematian, merekayasa kebahagiaan abadi, dan meningkatkan (upgrade) diri menjadi Homo deus dengan kekuatan ilahi melalui teknologi.
- Lahirnya Agama Data (Dataisme): Artikel ini menggarisbawahi munculnya Dataisme sebagai ideologi pembenar, sebuah ‘agama’ baru yang memuja aliran data. Dalam pandangan ini, otoritas bergeser dari perasaan manusia ke algoritma, di mana nilai sebuah pengalaman ditentukan oleh kontribusinya pada data.
- Ancaman Ketidaksetaraan Biologis: Konsekuensi paling mengkhawatirkan yang dibahas adalah munculnya ketidaksetaraan biologis—jurang pemisah antara manusia yang ‘di-upgrade’ dan yang alami. Ulasan ini menekankan bagaimana hal tersebut secara fundamental menantang nilai-nilai kesetaraan dan tujuan pendidikan modern, sekaligus menyimpulkan bahwa buku ini adalah sebuah peringatan, bukan ramalan.
Fondasi yang Runtuh – Kematian “Diri” Humanis
Ketika Sains Modern Menggugat Fondasi Ruang Kelas

Tiga jalur menuju Homo deus: Harari berpendapat manusia akan di-upgrade melalui rekayasa biologis, rekayasa siborg, dan penciptaan kecerdasan buatan.
Ada sebuah keyakinan inti yang saya, sebagai seorang pendidik, coba tanamkan kepada setiap siswa, itu adalah ‘kekuatan individu’.
Saya mendorong mereka untuk “menemukan jati diri,” “mendengarkan suara hati,” dan “bertanggung jawab atas pilihan mereka.”
Ini adalah inti dari pendidikan humanis modern. Namun, setelah membaca bab-bab awal Homo Deus, saya merasa seolah-olah seluruh kurikulum yang saya ajarkan dibangun di atas fondasi yang retak.
Harari tidak hanya menyajikan ide-ide baru; ia datang dengan palu godam sains dan logika untuk menghancurkan dua pilar utama yang menopang dunia kita: kehendak bebas dan individu.
Serangan Pertama: Ilusi yang Disebut “Kehendak Bebas”
Serangan Harari dimulai dengan konsep yang paling kita hargai yaitu, ‘kebebasan untuk menentukan’.
Ia berargumen secara sistematis bahwa sains modern tidak menyisakan ruang untuk “roh” atau “kehendak bebas” yang berdiri di luar rantai sebab-akibat biologis. Ia membangun argumennya melalui tiga pilar utama:
- Manusia adalah Algoritma Biokimia. Pilihan yang kita banggakan, menurutnya, hanyalah riak dari badai proses elektrokimia di otak kita—sebuah kalkulasi biologis kompleks yang dipengaruhi oleh gen, hormon, dan rangsangan eksternal. Dengan kata lain, pilihan kita bukanlah sebuah tindakan kemerdekaan spiritual, melainkan hasil dari algoritma yang sedang berjalan. Implikasinya jelas: jika manusia adalah algoritma, maka ia bisa diprediksi dan direkayasa (Halaman 333).
- Dilema Logika. Ia menyajikan dilema yang sulit dibantah. Sebuah “pilihan” hanya bisa terjadi melalui dua cara: secara deterministik (ditentukan oleh peristiwa sebelumnya) atau secara acak. Jika pilihan kita deterministik, maka itu tidak bebas. Jika acak, itu juga bukan kehendak—hanya sebuah lotre biokimia. Tidak ada ruang ketiga untuk “kebebasan” (Halaman 334).
- Misteri Keinginan. Pukulan terakhir, dan yang paling terasa secara personal, adalah argumennya tentang keinginan. Kita mungkin merasa bebas untuk bertindak sesuai keinginan kita, tetapi kita sama sekali tidak bebas untuk memilih keinginan itu sendiri. Saya bisa bertanya pada siswa, “Kamu memilih untuk suka grup musik itu, atau rasa suka itu sekedar ada di dalam dirimu?” Keinginan itu muncul begitu saja di dalam kesadaran kita, tanpa kita undang (Halaman 335-336).
Serangan Kedua: Mitos Sang “Individu”
Setelah menggoyahkan pilar ‘kehendak’, Harari mengarahkan serangannya ke jantung pertahanan humanisme: sang ‘individu’ itu sendiri, satu ‘diri’ yang otentik dan berdaulat.
Harari berargumen bahwa ‘diri’ tunggal ini adalah sebuah fiksi yang diciptakan oleh pikiran kita. Ia memecahnya menjadi dua entitas yang sering kali hidup terpisah:
- Diri yang Mengalami (Experiencing Self). Ini adalah kesadaran kita dari momen ke momen. Ia yang merasakan sakitnya suntikan, nikmatnya es krim, atau bosannya rapat. Ia hidup sepenuhnya di masa kini, tanpa kata-kata.
- Diri yang Bercerita (Narrating Self). Ini adalah sang narator di kepala kita. Ia adalah editor yang kejam, yang memilih beberapa momen puncak, mengabaikan ribuan lainnya, lalu merangkainya menjadi sebuah cerita—cerita tentang ‘liburan kita’, ‘masa kecil kita’, atau ‘siapa diri kita’ (Halaman 359).
Masalahnya, kita mengidentifikasi diri kita dengan sang pencerita, bukan sang pemeran utama.
Memori dan keputusan besar kita dikendalikan oleh narator fiksi ini, yang sering kali rela mengorbankan kebahagiaan sesaat (dari Diri yang Mengalami) demi sebuah akhir cerita yang dramatis atau bermakna (Halaman 343).
Konsekuensinya sangatlah besar.
Jika narator di kepala kita sendiri adalah seorang pembual yang tidak bisa diandalkan, mengapa kita tidak lebih percaya pada narator di luar kita?
Algoritma seperti Google atau Facebook, yang memiliki lebih banyak data objektif tentang perilaku kita, pada akhirnya bisa menceritakan kisah tentang “siapa diri kita” dengan lebih akurat.
Dengan serangan ganda ini, panggung pun telah disiapkan.
Fondasi lama telah hancur, dan kekosongan yang ditinggalkannya kini siap diisi oleh sesuatu yang baru, sesuatu yang disebut post-humanis.
Agenda Baru Manusia – Proyek Terbesar Abad ke-21

Harari berargumen bahwa ‘kehendak bebas’ adalah ilusi. Otak kita pada dasarnya adalah sebuah algoritma biologis yang sangat kompleks, yang dapat dipahami dan direkayasa.
Mengejar Surga, Kebahagiaan, dan Keilahian di Sini dan Saat ini!
Setelah Harari meruntuhkan fondasi humanisme di Bagian 1, ia tidak membiarkan kita dalam kekosongan.
Sebaliknya, ia menunjukkan apa yang akan dibangun di atas reruntuhan itu.
Menurutnya, untuk pertama kalinya dalam sejarah, masalah-masalah kuno seperti kelaparan, wabah, dan perang telah berubah status.
Dari kekuatan alam yang tak terkendali, mereka menjadi tantangan teknis yang bisa dikelola.
Dengan “lowongan pekerjaan” yang ditinggalkan oleh masalah-masalah lama ini, buku Homo Deus berargumen bahwa umat manusia, yang didorong oleh ekonomi kapitalis dan ideologi humanis, akan menetapkan tiga proyek besar baru yang akan mendefinisikan abad ke-21:
- Mengalahkan Kematian. Ini adalah agenda yang paling radikal. Kematian tidak lagi dipandang sebagai takdir metafisik, melainkan sebagai masalah teknis yang bisa dipecahkan. Harari menegaskan bahwa ‘bagi orang-orang modern, kematian adalah sebuah masalah teknis yang bisa dan seharusnya kita pecahkan’ (Halaman 33). Peran pendeta kini diambil alih oleh insinyur teknologi (Halaman 35). Ambisi ini terbukti dari inisiatif konkret seperti Calico (anak perusahaan Google) yang misinya adalah ‘mengatasi kematian’ (Halaman 36), dan pernyataan pengusaha Peter Thiel untuk ‘melawan’ kematian (Halaman 37).
- Mencapai Kebahagiaan Universal. Proyek kedua adalah merekayasa kebahagiaan abadi dari dalam. Harari berargumen bahwa kebahagiaan adalah fenomena biokimia. Oleh karena itu, cara paling efisien untuk menjamin kebahagiaan bukanlah dengan reformasi sosial, melainkan dengan memanipulasi biokimia manusia secara langsung (Halaman 53). Cikal-bakalnya sudah terlihat: jutaan anak menggunakan obat perangsang seperti Ritalin untuk tujuan akademis, atau tentara yang menggunakan antidepresan untuk mengatasi tekanan ekstrem (Halaman 54).
- Meraih Kekuatan Ilahi. Inilah puncak ambisi yang memberi judul pada buku ini: meningkatkan Homo sapiens menjadi Homo deus (Manusia Tuhan). ‘Keilahian’ di sini bukanlah kemahakuasaan absolut, melainkan penguasaan atas kemampuan super-spesifik yang dulu hanya ada dalam mitologi, seperti ‘merancang dan menciptakan makhluk hidup, mentransformasi tubuh mereka sendiri, [dan] mengendalikan lingkungan’ (Halaman 63). Ini adalah langkah logis terakhir dari humanisme; setelah menempatkan manusia di pusat alam semesta, kini saatnya meng-upgrade manusia itu sendiri (Halaman 84).
Ketiga agenda ini—keabadian, kebahagiaan, dan keilahian—adalah tiga sisi dari satu ambisi besar yang sama: menggunakan teknologi untuk merekayasa ulang kemanusiaan.
Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya?

Source image: ourworldindata.org

Source image: ourworldindata.org
Jalan Menuju Keabadian dan Ideologi Pembenarnya
Dari Rekayasa Genetika hingga Agama Data

Dalam pandangan Dataisme, manusia hanyalah algoritma biokimia yang fungsi utamanya adalah memproses dan menyumbang data ke dalam sistem global.
Memiliki agenda ambisius adalah satu hal, tetapi bagaimana cara mencapainya? Harari memaparkan dua pilar yang menopang transisi ini: “perangkat keras” (teknologi) dan “perangkat lunak” (ideologi).
Perangkat Keras: Tiga Jalur Teknologi Menuju Peningkatan
- Rekayasa Biologis. Intervensi di tingkat paling dasar—mengutak-atik kode genetik dan sistem biologis kita. Contohnya sudah ada, seperti teknologi bayi dari tiga orang tua (Halaman 70) dan seleksi embrio (Halaman 69-70).
- Rekayasa Siborg (Cyborg). Menggabungkan tubuh biologis dengan perangkat non-organik. Ini bisa berupa tangan bionik, nanorobot di aliran darah (Halaman 59), hingga antarmuka otak-komputer (Halaman 71, 415).
- Kecerdasan Buatan (AI) dan Kehidupan Anorganik. Menciptakan entitas cerdas yang sepenuhnya non-organik. AI sudah mampu menciptakan seni musik yang emosional (Halaman 382) atau membuat diagnosis medis yang lebih akurat daripada dokter (Halaman 373).
Perangkat Lunak: Dataisme sebagai Agama Baru
Teknologi secanggih apa pun tidak akan bergerak tanpa ideologi yang melegitimasinya. Di sinilah Harari memperkenalkan Dataisme.
Dataisme adalah ‘agama’ baru yang tidak memuja Tuhan atau Manusia, melainkan Data.
Pandangan ini menganggap alam semesta adalah sistem pemrosesan data, dan manusia hanyalah algoritma untuk melakukannya (Halaman 432, 454). Prinsip-prinsip utamanya adalah:
- Nilai Tertinggi: Aliran informasi yang bebas dan efisien.
- Tujuan Utama: Terhubung dan berkontribusi pada sistem data global atau “Internet-of-All-Things”.
- Dosa Terbesar: Membuntu aliran data (Halaman 447-448).
Ideologi ini secara fundamental membalikkan kredo humanis. Jika humanisme berkata ‘Dengarkan perasaan Anda!’, maka Dataisme memerintahkan: ‘Dengarkan algoritma!’ (Halaman 460).
Otoritas pun bergeser dari individu ke Big Data.
Di satu sisi, ada teknologi yang menyediakan kemampuan untuk berubah.
Di sisi lain, ada Dataisme yang menyediakan alasan untuk perubahan tersebut. Kombinasi keduanya menciptakan momentum yang nyaris tak terbendung.
Implikasi untuk Pendidikan – Mengajar di Ambang Jurang Baru
Ketika Kesetaraan Manusia Terancam Secara Biologis
Di sinilah Harari menarik kita ke realitas sosial yang paling brutal.
Teknologi peningkatan ini tidak akan tersedia untuk semua orang. Konsekuensinya adalah lahirnya jurang pemisah terbesar dalam sejarah: ketidaksetaraan biologis.
Harari melukiskan skenario suram di mana para elite di negara berkembang mungkin akan lebih memilih menginvestasikan sumber daya untuk menciptakan segelintir manusia super daripada mengatasi masalah jutaan rakyat miskin mereka, yang secara ekonomi dianggap tidak lagi relevan (Halaman 412).
Bagi saya sebagai seorang pendidik, implikasi ini menghantam tepat di jantung profesi saya sebagai guru. Ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan yang sulit dijawab di ruang kelas:
- Tentang Nilai Universal: Bagaimana saya bisa mengajarkan bahwa setiap nyawa manusia itu setara (Halaman 125), jika dunia di luar sana sedang menciptakan kasta biologis?
- Tentang Tujuan Belajar: Apa gunanya sistem pendidikan yang terobsesi dengan nilai angka (Halaman 204), jika tolok ukur kesuksesan di masa depan bukanlah ijazah, melainkan upgrade biologis?
- Tentang Metode Mengajar: Bagaimana saya bisa terus menjalankan mandat pendidikan humanis untuk ‘mengajar siswa berpikir bagi diri mereka sendiri’ (Halaman 276), di dunia di mana ‘diri’ itu sendiri telah didekonstruksi dan otoritas tertinggi adalah algoritma?
Pertanyaan-pertanyaan ini bukan lagi teori. Mereka adalah tantangan nyata bagi generasi siswa yang saya ajar saat ini.
Catatan Kritis dan Perspektif Pribadi
Sebuah Tinjauan Kritis: Kelemahan dalam Visi Harari
Sebuah ulasan yang adil tentu tidak lengkap tanpa membahas beberapa catatan kritis terhadap visi besar yang disajikan Harari.
Meskipun provokatif dan sangat mencerahkan, Homo Deus bukanlah kitab suci tanpa celah.
Dari berbagai diskusi dan ulasan para ahli, serta refleksi pribadi saya, ada beberapa poin penting yang perlu menjadi catatan:
- Determinisme Teknologi. Harari terkadang menyajikan masa depan yang ia lukiskan seolah-olah merupakan sebuah keniscayaan yang tak terhindarkan, didorong oleh kekuatan teknologi yang otonom. Kritik ini menyoroti bahwa Harari kurang memberi bobot pada agensi manusia—kemampuan masyarakat, gerakan sosial, dan keputusan politik untuk menolak, mengubah arah, atau mengatur teknologi tersebut. Sejarah tidak selalu berjalan lurus.
- Generalisasi Berlebihan. Untuk membangun narasinya yang megah dan mudah dicerna, Harari terkadang menyederhanakan perdebatan filosofis dan ilmiah yang sangat kompleks. Konsep seperti “kesadaran” dan “kehendak bebas”, yang telah diperdebatkan selama ribuan tahun, sering kali ia sajikan dalam kesimpulan yang terasa terlalu ringkas demi mendukung alur argumen utamanya.
- Mengabaikan Isu Krusial Lain. Dengan fokus yang sangat tajam pada revolusi bioteknologi dan AI, buku ini cenderung menempatkan isu-isu global mendesak lainnya di kursi belakang. Bagaimana dengan ancaman perubahan iklim catastrofik, kelangkaan sumber daya, atau perang nuklir? Salah satu dari krisis ini saja sudah cukup untuk menggagalkan seluruh “agenda baru manusia” yang Harari usulkan. Masa depan tidak hanya dibentuk oleh Silicon Valley.
Refleksi Pribadi: Kekuatan Narasi sebagai Pedang Bermata Dua
Dari sudut pandang saya sebagai seorang guru sejarah, kritik terbesar saya—yang merupakan ringkasan dari banyak kritik lain—adalah bahwa kekuatan terbesar Harari juga merupakan kelemahannya.
Ia adalah seorang pendongeng yang luar biasa.
Ia mampu merangkai data dari berbagai disiplin ilmu menjadi sebuah narasi tunggal yang kuat, jernih, dan mencekam.
Namun, sejarah mengajarkan kita bahwa dunia nyata tidak pernah berjalan dalam narasi tunggal yang rapi.
Realitas adalah sebuah jejaring yang kusut dari politik, budaya, ekonomi, lingkungan, dan kebetulan-kebetulan acak.
Dengan terlalu fokus pada ‘cerita’ evolusi teknologi-data, Harari terkadang membuat faktor-faktor lain yang sama pentingnya ini terasa seperti figuran.
Oleh karena itu, saya memandang Homo Deus bukan sebagai ramalan, melainkan sebagai sebuah eksperimen pemikiran (thought experiment).
Ini adalah alat yang sangat berguna di ruang kelas untuk memprovokasi debat dan pemikiran kritis.
Tugas kita bukanlah menelan visinya bulat-bulat, tetapi menggunakannya untuk mempertanyakan asumsi kita sendiri tentang kemajuan dan masa depan kemanusiaan.
Penutup
Dari runtuhnya ‘kehendak bebas’ dan ‘individu’, menuju agenda ambisius untuk menjadi Tuhan, hingga lahirnya Dataisme sebagai ideologi pembenar—ulasan buku Homo Deus ini telah membawa kita pada perjalanan intelektual yang mengganggu sekaligus mencerahkan.
Namun, penting untuk menggarisbawahi satu hal yang Harari tekankan sendiri. Buku ini bukanlah sebuah ramalan yang pasti terjadi. Ia adalah sebuah peta yang menunjukkan berbagai kemungkinan arah. Seperti yang ia tulis:
‘Prediksi saya difokuskan pada apa yang dicoba capai oleh manusia pada abad ke-21—bukan apa yang akan berhasil dicapai’ (Halaman 73).
Pada akhirnya, buku ini adalah sebuah alarm. Sebuah panggilan untuk sadar. Harari tidak memberi kita jawaban, tetapi ia memaksa kita untuk mulai mengajukan pertanyaan yang benar sekarang juga.
Diskusi yang kita mulai hari ini—di ruang kelas, di ruang keluarga, di ruang publik—akan menentukan jalan mana dari peta kemungkinan itu yang akan kita ambil. Sebelum algoritma yang kita ciptakan memilihnya untuk kita.
Referensi
Harari, Y. N. (2018). Homo Deus: Masa depan umat manusia. (Y. Musthofa, Terj.). PT Pustaka Alvabet.
https://proto.life/2017/04/the-misguided-pessimism-of-homo-deus/
https://www.sarahspiekermann.com/blog-en/the-problem-with-harari%E2%80%99s-homo-deus
https://www.nytimes.com/2017/02/15/books/review-homo-deus-yuval-noah-harari.html


Komentar
Inspiring story there. What occurred after? Take care!
Thank you! After that, it opens up more questions about where humanity might be heading. I’d love to hear your thoughts—how do you see the future of humans in this context?