Infografis ringkasan materi sebagai pelengkap review buku Jan Breman (Colonialism, Capitalism and Racism). Sketsa visual ini berjudul "Warisan Kolonial yang Belum Selesai" dan memetakan tiga bagian utama. Bagian atas menggambarkan siklus Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme sebagai satu mesin eksploitasi dan teknologi kekuasaan. Bagian tengah berisi "Kronik Kekejaman & Perlawanan" yang membandingkan Skandal Coolie di Deli dengan horor di Kongo, serta perjuangan para whistle-blower. Bagian bawah menunjukkan "Warisan yang Terus Bermutasi" melalui kedok Bantuan Pembangunan, nostalgia era VOC, dan rasisme institusional di masa kini.

Review Buku Jan Breman: Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme

Review Buku

Warisan Kolonial yang Belum Selesai: Membaca Breman tentang Sejarah yang Kita Warisi

Dua tahun mengajar sejarah kelas 11, dan ada satu pertanyaan yang sampai sekarang belum benar-benar saya jawab dengan memuaskan, bukan kepada murid, tapi kepada diri saya sendiri. Setiap kali masuk ke materi pergerakan nasional, saya menjelaskan dengan runtut: Budi Utomo, Sarekat Islam, Indische Partij, strategi kooperasi versus non-kooperasi. Murid-murid mencatat. Ujian datang, mereka menjawab. Nilai keluar. Selesai.

Tapi di balik kelancaran itu ada kebingungan yang menggantung: apa sebenarnya yang sedang kita pahami di sini? Siapa yang benar-benar menanggung beban kolonialisme itu? Dan mengapa, setelah lebih dari tujuh dekade merdeka, pertanyaan-pertanyaan tentang masa lalu itu masih terasa belum selesai, bukan hanya sebagai catatan sejarah, tapi sebagai sesuatu yang hidup?

Colonialism, Capitalism and Racism: A Postcolonial Chronicle of Dutch and Belgian Practice karya Jan Breman (Amsterdam University Press, 2024) tidak menjawab semua pertanyaan itu sekaligus. Tapi buku ini memberikan sesuatu yang lebih berharga: sebuah cara pandang yang mengubah cara kita bertanya. Bagi pembaca Indonesia, buku ini sudah tersedia dalam terjemahan bahasa Indonesia dengan judul Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme: Kronik Pascakolonial, diterbitkan Yayasan Pustaka Obor Indonesia bekerja sama dengan KITLV-Jakarta sejak 2024. Perlu dicatat bahwa versi Indonesia diterjemahkan dari edisi Belanda 2021, sementara edisi Inggris 2024 memuat beberapa bab tambahan yang tidak ada di edisi terjemahan.

Siapa Jan Breman dan Mengapa Bukunya Penting

Infografis ringkasan materi sebagai pelengkap review buku Jan Breman (Colonialism, Capitalism and Racism). Sketsa visual ini berjudul "Warisan Kolonial yang Belum Selesai" dan memetakan tiga bagian utama. Bagian atas menggambarkan siklus Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme sebagai satu mesin eksploitasi dan teknologi kekuasaan. Bagian tengah berisi "Kronik Kekejaman & Perlawanan" yang membandingkan Skandal Coolie di Deli dengan horor di Kongo, serta perjuangan para whistle-blower. Bagian bawah menunjukkan "Warisan yang Terus Bermutasi" melalui kedok Bantuan Pembangunan, nostalgia era VOC, dan rasisme institusional di masa kini.

Visualisasi poin-poin utama dalam review buku Jan Breman: Colonialism, Capitalism and Racism. Infografis ini memetakan bagaimana kapitalisme tidak dapat dipisahkan dari kolonialisme karena selalu membutuhkan sumber daya dan tenaga kerja murah. Ekspansi ekonomi tersebut ditopang oleh rasisme yang difungsikan sebagai “teknologi kekuasaan”. Dari skandal buruh coolie di Deli hingga rasisme institusional di era modern, diagram ini menunjukkan bahwa warisan kolonial bukanlah masa lalu yang sudah selesai, melainkan terus bermutasi hingga hari ini.

Jan Breman bukan nama baru dalam sejarah sosial Asia Tenggara. Sosiolog Belanda kelahiran 1936 ini memulai karir akademisnya dengan penelitian lapangan di India dan Indonesia sejak awal 1960-an, dengan fokus yang konsisten pada satu tema, yaitu nasib kelas pekerja paling bawah, petani tak bertanah, buruh kontrak, kaum coolie atau Kuli, yang nyaris tidak pernah masuk ke dalam narasi besar sejarah kolonial.

Yang membuat Breman berbeda dari banyak sejarawan kolonial lainnya adalah latar belakangnya sendiri. Ia tumbuh di lingkungan kelas pekerja Amsterdam, anak seorang tukang pos. Dalam prologue buku ini, ia secara eksplisit mengakui bahwa identitas sosial peneliti bukan sekadar catatan kaki biografis. Ia membentuk apa yang kita pilih untuk dilihat dan apa yang kita abaikan. Breman memilih melihat ke bawah, bukan ke atas.

Review Buku The Making of a Periphery: Mengapa Jawa Bisa Jatuh Miskin?

Colonialism, Capitalism and Racism adalah semacam kronik intelektual: kumpulan esai yang ditulis selama beberapa dekade, kini disusun menjadi satu argumen besar yang koheren. Edisi bahasa Inggris ini adalah versi yang diperluas dan diperbarui dari edisi Belanda yang terbit pada 2021, dengan penambahan beberapa bab baru termasuk analisis tentang bantuan pembangunan pasca-kolonial.

Lima Bagian, Satu Argumen

Buku ini dibagi menjadi lima bagian yang bergerak secara kronologis sekaligus tematik, dari ideologi imperialisme di abad ke-19 hingga warisan kolonial yang masih beroperasi di dunia kontemporer.

Bagian pertama membuka dengan dua esai yang memetakan kerangka ideologis kolonialisme: bagaimana rasisme dan kapitalisme tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan saling memperkuat dalam logika penjajahan. Breman memilih Alexis de Tocqueville, filsuf liberal Prancis yang selama ini dipuja sebagai pemikir demokrasi, sebagai contoh kasus yang mengejutkan. Tocqueville, ternyata, adalah pendukung vokal kolonialisme Perancis di Aljazair dan tidak melihat kontradiksi antara pembelaan universalnya atas kebebasan dengan dukungannya terhadap penjajahan kekerasan atas bangsa lain. Bagi Breman, Tocqueville bukan anomali; ia adalah cermin dari bagaimana kelas menengah dan atas Eropa membangun batas-batas tersembunyi pada siapa yang berhak atas kebebasan itu.

Bagian kedua adalah bagian yang paling langsung berbicara kepada pembaca Indonesia. Breman mengangkat kembali “skandal coolie” di perkebunan Deli, Sumatera Timur, sebuah sistem kerja kontrak yang pada awal abad ke-20 menjadi simbol dari kapitalisme perkebunan yang brutal. Para buruh, kebanyakan dari Jawa dan China, terikat oleh kontrak yang memberikan hak penuh kepada majikan untuk menghukum mereka secara fisik jika melanggar aturan. Ini bukan sekadar “penyimpangan” sistem; Breman menunjukkan secara rinci bahwa kekerasan adalah mekanisme struktural yang disengaja, bukan ekses yang kebetulan terjadi. Yang lebih menarik adalah kisah para whistle-blower, yaitu pengacara Johannes van den Brand, inspektur buruh Bernard Hoetink, dan jaksa Johannes Rhemrev, yang berani melaporkan kekejaman ini dan justru dihancurkan karir serta reputasinya oleh sistem kolonial yang mereka coba kritik dari dalam.

Bagian ketiga melintasi Samudra Hindia ke Afrika Tengah, membandingkan praktik kolonial Belanda di Indonesia dengan rezim karet Leopold II di Kongo Belgia. Bab tentang Kongo ini adalah salah satu bagian paling berat dalam buku, berisi dokumentasi tentang teror yang dilembagakan, pemotongan tangan sebagai “bukti” peluru yang telah digunakan, dan bagaimana komunitas internasional merespons dengan sangat lambat karena kepentingan ekonomi lebih besar dari nilai kemanusiaan. Perbandingan Belanda-Belgia ini bukan untuk mengatakan bahwa satu lebih baik dari yang lain, tapi untuk menunjukkan bahwa logika dasarnya sama: rasisme sebagai legitimasi, kapitalisme sebagai tujuan.

Review Buku Nexus: Ketika Informasi Bukan Kebenaran, Tapi Juga Bukan Senjata

Bagian keempat adalah analisis politik kolonial Belanda secara lebih sistematis, tentang Ethical Policy yang dipromosikan sebagai kebijakan “baik hati” tapi pada praktiknya adalah fasad di balik kepentingan ekonomi yang keras, tentang gerakan kebangsaan Indonesia yang secara konsisten dibungkam, dan tentang bagaimana Belanda menggunakan kekerasan militer bahkan setelah proklamasi kemerdekaan 1945 untuk mempertahankan genggaman atas “permata mahkotanya.”

Bagian kelima adalah yang paling provokatif secara intelektual: Breman berargumen bahwa development aid, bantuan pembangunan yang gencar dipromosikan sejak 1950-an hingga 1980-an oleh negara-negara Barat kepada bekas jajahan mereka, pada dasarnya adalah kelanjutan imperialisme dalam kemasan baru. Bukannya memutus ketergantungan, bantuan itu justru mengabadikan relasi donor-penerima yang secara struktural mereplikasi hierarki kolonial lama.

Tiga Konsep yang Mengikat Segalanya

Membaca buku ini, ada tiga konsep yang terus-menerus muncul dan saling mengunci satu sama lain.

Yang pertama adalah hubungan tak terpisahkan antara kapitalisme dan kolonialisme. Breman menolak narasi yang memisahkan ekspansi kolonial sebagai proyek “misi peradaban” dari kepentingan ekonomi. Bagi Breman, kapitalisme membutuhkan kolonialisme. Ia memerlukan sumber bahan mentah yang murah, tenaga kerja yang bisa dikontrol dengan kekerasan, dan pasar yang bisa dipaksakan. Tanpa menempatkan kapitalisme sebagai mesin penggeraknya, kita tidak akan pernah benar-benar memahami mengapa kolonialisme berlangsung selama dan sekeji itu.

Yang kedua adalah fungsi rasisme sebagai teknologi kekuasaan. Rasisme dalam buku ini bukan sekadar prasangka pribadi atau kebencian individual. Ia adalah sistem yang diproduksi dan direproduksi secara sadar untuk membenarkan eksploitasi. Ketika petani Jawa dituduh malas karena menolak bekerja tanpa upah layak, itu bukan deskripsi; itu adalah konstruksi ideologis yang membuat eksploitasi tampak wajar dan bahkan diperlukan.

Review 21 Lessons for the 21st Century: Cara Berpikir Sejarah di Era Banjir Informasi

Yang ketiga adalah apa yang Breman sebut sebagai the social question, pertanyaan tentang keadilan bagi kelas pekerja, yang selama era kolonial secara sistematis diblokir untuk tidak pernah ditanyakan di wilayah jajahan, meskipun pertanyaan yang sama sedang diperjuangkan di Eropa pada periode yang sama. Gerakan buruh dan demokrasi sosial tumbuh di Belanda dan Belgia; di Indonesia dan Kongo, hak-hak yang sama dibungkam atas nama “kesiapan” yang tidak pernah kunjung dianggap matang.

Warisan yang Tidak Mau Pergi

Bagian yang paling membekas bagi saya ada di bab pertama, sebuah bagian pendek berjudul “Impact of the colonial legacy” yang terasa seperti Breman sedang berbicara langsung tentang hari ini, bukan tentang abad lalu.

Breman mencatat bagaimana masyarakat Belanda terpecah dalam cara mereka mengingat masa kolonialnya. Di satu sisi ada kecenderungan untuk menghapus sepenuhnya, seolah-olah beberapa abad kehadiran di “Hindia Belanda” tidak pernah terjadi, atau terjadi dengan cara yang bisa dibanggakan. Breman menyebut ini sebagai varian Belanda dari kultus tempo doeloe, nostalgia yang menjaga kenangan indah tanpa pertanggungjawaban. Di sisi lain ada mereka yang justru dengan bangga merayakan “VOC mentality” sebagai bukti kejayaan nasional Belanda, sebuah frasa yang, ironisnya, masih digunakan oleh Perdana Menteri Belanda pada 2006, lebih dari setengah abad setelah dekolonisasi.

Yang lebih pedih adalah observasi Breman tentang bagaimana rasisme kolonial tidak berhenti di batas geografis bekas jajahan. Ketika warga Indonesia dan Afrika generasi pertama dan kedua bermigrasi ke Belanda, mereka membawa serta pengalaman tentang rasisme yang kini bertemu dengan rasisme institusional baru dalam proses integrasi sosial. Warisan kolonial, dengan kata lain, tidak tinggal di museum. Ia berpindah, bermutasi, dan terus bekerja.

Membaca bagian ini, saya kembali teringat pada kebingungan saya di kelas. Mengapa kita perlu memahami sejarah kolonial? Bukan karena ia adalah masa lalu yang sudah selesai. Justru sebaliknya: karena ia adalah masa lalu yang belum selesai, yang terus membentuk cara kita memahami relasi kekuasaan, ketidaksetaraan ekonomi, dan siapa yang dianggap layak untuk didengar.

My appetite to find out was fed by curiosity. It stemmed from the question of whether the escape from poverty, which enabled a better existence and the prospect of upward mobility in my country, was also a future lying ahead for the large part of humankind which had remained confined in exploitation and oppression. I have spent my academic career trying to find an answer to that inquiry.

(Halaman 411-412).

Apa yang Kuat, Apa yang Perlu Dicatat

Colonialism, Capitalism and Racism adalah buku yang kuat justru karena Breman tidak berpura-pura netral. Ia menulis dari posisi yang jelas: sebagai seseorang yang percaya bahwa sejarah kolonial Eropa adalah sejarah eksploitasi yang sistematis, dan bahwa menolak mengakui ini adalah bentuk penipuan kolektif. Kekuatan argumentasinya terletak pada kedalaman empiris. Ia tidak bicara dalam abstraksi, tapi dalam dokumen, laporan inspektur, foto eksekusi, angka tabel tenaga kerja.

Namun ada satu catatan yang perlu jujur disampaikan: perspektif dalam buku ini tetap sebagian besar adalah perspektif dari sisi Eropa, yaitu tentang bagaimana orang Belanda dan Belgia memandang, mendebat, dan mengelola kolonialisme mereka. Suara dari mereka yang dijajah, petani Jawa, buruh coolie dari China, warga Kongo yang tangannya dipotong, hadir sebagai bukti dan data, tapi jarang sebagai subjek yang berbicara atas nama dirinya sendiri. Ini bukan kesalahan Breman semata; ini adalah keterbatasan arsip yang ia kerjakan. Tapi pembaca Indonesia perlu membaca buku ini bersama sumber-sumber lain yang memberi ruang lebih besar bagi perspektif dari bawah dan dari dalam.

Untuk Siapa Buku Ini?

Colonialism, Capitalism and Racism paling tepat dibaca oleh mereka yang sudah punya kerangka dasar sejarah kolonial Indonesia dan ingin melangkah lebih jauh, memahami mengapa sistem itu bekerja seperti yang ia bekerja, bukan sekadar apa yang terjadi. Ini bukan buku teks pengantar; ini adalah karya seorang sarjana yang telah mendedikasikan enam dekade untuk satu pertanyaan dan akhirnya menuliskannya dengan seluruh keyakinan dan kekritisan yang ia miliki.

Bagi guru sejarah, bagi peneliti, bagi siapa pun yang pernah duduk di depan kelas dan merasa ada lapisan penting yang belum tersentuh. Buku ini adalah pengingat bahwa sejarah yang baik bukan yang membuat kita merasa sudah tahu segalanya. Sejarah yang baik adalah yang membuat kita terus bertanya, bahkan setelah buku ditutup.

Daftar Pustaka

Breman, J. (2024). Colonialism, capitalism and racism: A postcolonial chronicle of Dutch and Belgian practice. Amsterdam University Press.

Breman, J. (2024). Kolonialisme, kapitalisme, dan rasisme: Kronik pascakolonial (S. Moeimam & N. Santoso, Penerjemah; B. Triyana, Kata Pengantar). Yayasan Pustaka Obor Indonesia & KITLV-Jakarta. (Cetakan kedua, November 2025)

https://www.iss.nl/en/about-iss/organization/honorary-fellows/jan-breman

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *