DHA, Fairclough, dan Van Dijk: Tiga Jalan Analisis Wacana Kritis
Kalau kamu mulai membaca tentang Analisis Wacana Kritis, kamu akan segera menemukan tiga nama yang muncul di hampir setiap buku dan artikel pengantar: Norman Fairclough, Teun van Dijk, dan Ruth Wodak. Ketiganya sering disebut dalam satu tarikan napas, seolah-olah mereka mengerjakan hal yang sama dengan cara yang sama. Padahal tidak.
Memang benar, ketiganya berbagi komitmen dasar yang sama — bahwa bahasa bukan alat komunikasi yang netral, melainkan arena di mana kekuasaan dibangun, dipertahankan, dan dilawan. Tapi cara mereka menerjemahkan komitmen itu ke dalam metode penelitian sangat berbeda. Perbedaan ini bukan soal mana yang lebih baik — melainkan soal mana yang paling cocok untuk pertanyaan riset tertentu.
Artikel ini membandingkan tiga pendekatan tersebut secara sistematis: Critical Discourse Analysis (CDA) Fairclough, pendekatan Sosio-Kognitif van Dijk, dan Discourse-Historical Approach (DHA) Wodak. Tujuannya bukan untuk menyederhanakan perbedaan menjadi tabel perbandingan yang kering, melainkan untuk menunjukkan bagaimana masing-masing pendekatan “melihat” teks secara berbeda — dan implikasi praktisnya bagi peneliti yang harus memilih salah satu.
Satu Payung Dengan Banyak Jalan

Ilustrasi ringkas mengenai tiga tradisi utama dalam Analisis Wacana Kritis (AWK). Infografis ini merangkum fokus utama masing-masing tokoh: Fairclough yang bergerak dari teks ke praktik sosial, Van Dijk yang menempatkan kognisi sebagai mediator, serta Wodak yang menjadikan sejarah sebagai dimensi konstitutif.
Analisis Wacana Kritis — atau dalam perkembangan terbarunya sering disebut Critical Discourse Studies (CDS) — bukan paradigma tunggal yang homogen. Ia lebih menyerupai sebuah keluarga pendekatan yang berbagi “kemiripan keluarga” (meminjam istilah Wittgenstein): mirip-mirip, tapi tidak identik. Setiap anggota keluarga punya karakter, kebiasaan, dan cara pandang sendiri.
Reisigl dan Wodak (2009) mengidentifikasi setidaknya empat tradisi utama dalam CDA/CDS. Tradisi Inggris (Fairclough, Kress, van Leeuwen) berakar pada linguistik sistemik fungsional M.A.K. Halliday. Tradisi kognitif Belanda (van Dijk) menggunakan psikologi kognitif sebagai jembatan antara wacana dan masyarakat. Tradisi Jerman (Jäger, Link) paling kuat dipengaruhi oleh Foucault. Dan tradisi Wina (Wodak dan kolaborator) berakar dalam sosiolinguistik Bernstein dan Teori Kritis Frankfurt School.
Masing-masing tradisi ini punya akar disipliner yang berbeda — dan akar ini menentukan bagaimana mereka mendekati teks, apa yang mereka cari di dalamnya, dan bagaimana mereka menghubungkan teks dengan dunia sosial. Mari kita lihat satu per satu.
Fairclough: Dari Teks ke Praktik Sosial
Norman Fairclough, yang mengembangkan pendekatannya di Universitas Lancaster, Inggris, adalah sosok yang paling kuat dipengaruhi oleh linguistik sistemik fungsional Halliday. Bagi Fairclough, teks bukan hanya objek linguistik — ia adalah produk dari proses sosial, dan sekaligus mempengaruhi proses sosial itu.
Model Fairclough yang paling berpengaruh adalah kerangka tiga dimensi (Fairclough, 1992, 2010). Setiap peristiwa diskursif memiliki tiga dimensi yang harus dianalisis secara bersamaan: teks itu sendiri (fitur linguistik — kosakata, tata bahasa, kohesi, struktur teks); praktik diskursif (bagaimana teks diproduksi, didistribusikan, dan dikonsumsi); dan praktik sosial (hubungan teks dengan struktur kekuasaan, ideologi, dan hegemoni yang lebih luas).
Dalam praktiknya, pendekatan Fairclough bekerja seperti ini: kamu mengambil sebuah teks — misalnya iklan produk kecantikan — dan menganalisisnya di tiga level. Di level teks, kamu perhatikan pilihan kata (“mencerahkan” bukan “memutihkan”), struktur kalimat (siapa subjek, siapa objek), dan modalitas (seberapa pasti klaim yang dibuat). Di level praktik diskursif, kamu tanyakan: siapa yang memproduksi iklan ini, lewat media apa, untuk audiens siapa, dan bagaimana audiens menerimanya. Di level praktik sosial, kamu hubungkan temuan itu dengan struktur yang lebih besar: bagaimana standar kecantikan yang kolonialistik direproduksi melalui industri kosmetik, bagaimana kapitalisme menciptakan ketidakpuasan untuk menjual produk.
Kekuatan utama Fairclough adalah kedekatannya dengan analisis linguistik yang sangat detail. Ia memberikan perangkat yang presisi untuk membedah fitur-fitur bahasa dalam teks — transitivity, modality, nominalization — dan menghubungkannya secara eksplisit dengan fungsi sosialnya. Konsep kunci lainnya yang sangat berpengaruh adalah intertextuality (bagaimana teks menyerap dan merespons teks lain) dan interdiscursivity (bagaimana berbagai genre dan wacana bercampur dalam satu teks), meskipun kedua konsep ini juga digunakan oleh DHA dengan penekanan yang berbeda.
Namun, dimensi historis dalam pendekatan Fairclough relatif terbatas. Analisis biasanya fokus pada teks-teks kontemporer dan konteks sosial yang melingkupinya saat ini — ia jarang melacak bagaimana sebuah wacana berubah secara diakronis selama bertahun-tahun atau puluhan tahun. Ini bukan kelemahan — ini adalah pilihan fokus yang berbeda.
Van Dijk: Segitiga Wacana-Kognisi-Masyarakat
Teun van Dijk, yang berbasis di Universitas Amsterdam dan Universitat Pompeu Fabra Barcelona, mengambil jalan yang sangat berbeda. Pertanyaan sentralnya bukan “bagaimana teks berhubungan dengan praktik sosial?” (seperti Fairclough) atau “bagaimana wacana berubah dalam konteks historis?” (seperti Wodak). Pertanyaan van Dijk adalah: bagaimana pikiran manusia memediasi hubungan antara wacana dan masyarakat?
Model van Dijk (2008, 2015) dibangun di atas segitiga konseptual: wacana, kognisi, dan masyarakat. Menurutnya, kamu tidak bisa memahami hubungan antara bahasa dan kekuasaan tanpa memahami apa yang terjadi di kepala orang — bagaimana stereotip, prasangka, dan ideologi tersimpan dalam memori sosial dan diaktifkan melalui bahasa. Wacana mempengaruhi kognisi (cara orang berpikir), dan kognisi mempengaruhi wacana (apa yang orang katakan dan tulis). Keduanya tertanam dalam struktur sosial yang lebih luas.
Contoh yang sangat relevan untuk Indonesia: ketika seseorang bilang “orang Tionghoa pasti kaya-kaya,” van Dijk akan menganalisis ini sebagai interaksi antara tiga level. Di level wacana, kalimat ini menggunakan generalisasi (“pasti”) dan kategorisasi etnis. Di level kognisi, kalimat ini mengaktifkan dan memperkuat skema mental tertentu — stereotip tentang kelompok etnis yang tersimpan di pikiran individu dan diperkuat setiap kali diulang. Di level masyarakat, stereotip ini terhubung dengan struktur ketidaksetaraan historis — kebijakan yang membedakan “pribumi” dan “non-pribumi,” distribusi ekonomi yang tidak merata, dan memori kolektif tentang kerusuhan 1998.
Kekuatan van Dijk terletak pada kerangka kognitifnya yang canggih. Ia bisa menjelaskan bagaimana prasangka yang ada di level individu terhubung dengan wacana publik dan struktur sosial — dan bagaimana ketiganya saling memperkuat. Konsep kunci van Dijk seperti mental models (representasi mental subjektif dari pengalaman), social cognition (pengetahuan, sikap, dan ideologi yang dibagi oleh kelompok sosial), dan context models (representasi mental tentang situasi komunikatif) memberikan perangkat yang tidak dimiliki Fairclough maupun Wodak.
Namun, van Dijk berbagi keterbatasan yang sama dengan Fairclough dalam hal dimensi historis. Analisisnya biasanya sinkronis — fokus pada momen tertentu — dan jarang melacak bagaimana kognisi sosial dan wacana berubah secara diakronis melintasi periode sejarah yang panjang.
Wodak dan DHA: Sejarah sebagai Dimensi Konstitutif
Di sinilah Discourse-Historical Approach (DHA) mengambil posisi yang distingtif. Kalau Fairclough memulai dari teks dan bergerak ke konteks sosial, dan van Dijk memasukkan kognisi sebagai mediator, DHA melakukan sesuatu yang tidak dilakukan keduanya: ia menempatkan sejarah bukan sebagai latar belakang, melainkan sebagai dimensi analitis inti.
Apa artinya ini secara konkret? Seorang peneliti DHA tidak memulai dengan membaca sebuah teks dan menganalisis fitur linguistiknya (seperti Fairclough). Ia memulai dengan memahami konteks historis dan sosio-politik secara mendalam — sebelum menyentuh teks. DHA menuntut peneliti untuk memahami bagaimana sebuah wacana terbentuk secara historis, melalui proses apa ia berubah dari waktu ke waktu, dan bagaimana elemen-elemen diskursif berpindah dari satu konteks ke konteks lain melalui proses rekontekstualisasi.
Model analitis DHA bekerja melalui empat lapis konteks yang harus dianalisis secara rekursif: ko-teks linguistik langsung (kata-kata di sekitar ujaran yang dianalisis); hubungan intertekstual dan interdiskursif (bagaimana teks ini terhubung dengan teks dan wacana lain); variabel sosial dan kerangka situasional (siapa yang berbicara, kepada siapa, dalam genre apa, di setting apa); dan konteks sosio-politik serta historis yang lebih luas (Reisigl & Wodak, 2009). Empat lapis ini bukan tangga yang didaki secara linear — peneliti bergerak bolak-balik di antaranya sepanjang analisis.
Sebagai perangkat analisis teks, DHA menggunakan lima strategi diskursif (nominasi, predikasi, argumentasi, perspektivisasi, intensifikasi/mitigasi) dan analisis argumentasi berbasis topoi yang sangat detail. Tapi yang membedakan DHA dari pendekatan lain bukan hanya perangkat teksnya — melainkan cara perangkat itu digunakan untuk melacak perubahan diakronis. DHA tidak cuma bertanya “bagaimana teks ini bekerja?” — ia bertanya “bagaimana cara bicara tentang topik ini berubah dari sepuluh tahun lalu ke sekarang, dan kenapa?”
Datondji dan Amoussou (2019) mencatat beberapa fitur distingtif lain yang membedakan DHA dari tradisi Fairclough dan van Dijk. Pertama, DHA menggunakan konsep wacana yang multi-perspektif — satu wacana mencakup berbagai perspektif yang saling bertentangan, bukan hanya satu perspektif atas realitas sosial. Kedua, DHA menempatkan argumentasi sebagai area sentral analisis — bukan sekadar salah satu fitur yang diperhatikan, tapi fokus utama. Ketiga, DHA merujuk lebih banyak pada Pragmatik Fungsional dibanding pendekatan lain. Dan keempat, DHA paling kuat orientasi historisnya — ia secara eksplisit dirancang untuk menganalisis perubahan diskursif melintasi waktu.
Lima Perbedaan Kunci
Setelah melihat masing-masing pendekatan secara individual, sekarang kita bisa merangkum perbedaan-perbedaan utamanya secara langsung.

Panduan cepat untuk membedakan metodologi Fairclough, Van Dijk, dan Wodak melalui lima dimensi kunci. Perbedaan ini mencakup arah analisis, mediator utama yang digunakan, konsep wacana, peran argumentasi, hingga orientasi temporal apakah bersifat sinkronis atau diakronis.
1. Arah Analisis
Fairclough bergerak dari teks ke konteks — mulai dari fitur linguistik, lalu bergerak ke praktik diskursif dan sosial. Van Dijk bergerak di antara tiga titik segitiga (wacana-kognisi-masyarakat) secara siklis. DHA bergerak dari konteks ke teks — mulai dari pemahaman historis yang mendalam, baru kemudian masuk ke analisis linguistik detail. Bagi sejarawan, arah DHA ini terasa paling natural karena sesuai dengan cara kerja disiplin sejarah: memahami konteks dulu, baru membaca sumber.
2. Mediator Utama
Fairclough menggunakan praktik diskursif (produksi, distribusi, konsumsi teks) sebagai mediator antara teks dan struktur sosial. Van Dijk menggunakan kognisi sosial — representasi mental yang tersimpan di pikiran individu dan kelompok. DHA menggunakan sejarah itu sendiri — bagaimana wacana terbentuk dalam konteks historis tertentu dan berubah secara diakronis.
3. Konsep Wacana
Fairclough mendefinisikan wacana sebagai “cara merepresentasikan aspek dunia tertentu” — satu wacana terkait dengan satu perspektif (mono-perspektif). Van Dijk juga cenderung menggunakan konsep wacana yang relatif homogen. DHA mendefinisikan wacana sebagai kluster praktik semiotik yang terkait dengan makro-topik tertentu dan mencakup berbagai perspektif yang saling bertentangan (multi-perspektif). Perbedaan ini punya konsekuensi praktis: kalau kamu menganalisis “wacana tentang MBG,” pendekatan DHA akan sejak awal mengasumsikan bahwa wacana itu mencakup suara-suara yang saling berlawanan — pendukung dan penentang — dan menganalisis bagaimana suara-suara itu berinteraksi.
4. Peran Argumentasi
Fairclough memperhatikan argumentasi sebagai salah satu fitur teks, tapi bukan fokus utamanya. Van Dijk lebih fokus pada strategi semantik dan struktur wacana (makro-struktur dan superstruktur). DHA menempatkan argumentasi — khususnya analisis topoi dan falasi — di pusat analisis. Ini berarti DHA sangat kuat untuk menganalisis teks-teks yang sifatnya persuasif dan argumentatif: pidato politik, editorial, debat parlemen, kampanye media sosial.
5. Orientasi Temporal
Ini perbedaan yang paling mendasar. Fairclough dan van Dijk terutama bekerja secara sinkronis — menganalisis teks dalam momen tertentu. Mereka bisa menyertakan konteks historis, tapi itu bukan inti metode mereka. DHA secara eksplisit bekerja secara diakronis — melacak bagaimana wacana berubah melintasi waktu, bagaimana argumen berpindah dari satu genre ke genre lain, dan bagaimana masa lalu diinstrumentalisasi dalam wacana kontemporer. Bagi siapa pun yang tertarik dengan perubahan historis — bukan hanya potret sesaat — ini adalah perbedaan yang menentukan.
Pendekatan Mana Yang Relevan?
Pertanyaan “pendekatan mana yang terbaik?” adalah pertanyaan yang salah. Pertanyaan yang tepat adalah: pendekatan mana yang paling cocok untuk pertanyaan riset saya?
Gunakan pendekatan Fairclough kalau fokus risetmu adalah pada hubungan antara fitur linguistik teks dan praktik sosial kontemporer — misalnya bagaimana bahasa iklan mereproduksi standar kecantikan tertentu, bagaimana bahasa korporat menyembunyikan eksploitasi, atau bagaimana bahasa media membingkai isu tertentu. Fairclough paling kuat ketika kamu ingin analisis linguistik yang sangat detail dan terhubung langsung dengan teori sosial.
Gunakan pendekatan van Dijk kalau fokus risetmu adalah pada hubungan antara wacana dan kognisi — misalnya bagaimana berita membentuk prasangka, bagaimana stereotip direproduksi melalui bahasa, atau bagaimana ideologi tersimpan dalam pikiran kelompok sosial dan diaktifkan melalui teks. Van Dijk paling kuat ketika kamu ingin memahami mekanisme kognitif di balik hubungan bahasa-kekuasaan.
Gunakan DHA kalau fokus risetmu melibatkan dimensi historis yang substansial — misalnya bagaimana narasi tentang peristiwa tertentu berubah dari waktu ke waktu, bagaimana konsep kunci direkontekstualisasi lintas periode sejarah, bagaimana identitas nasional dikonstruksi dan diperdebatkan melalui wacana, atau bagaimana argumen tertentu berpindah lintas genre dan ranah tindakan. DHA paling kuat ketika kamu bekerja dengan material dari berbagai periode, berbagai genre, dan berbagai aktor sosial — dan ingin melacak perubahan serta kontinuitas di antara semuanya.
Untuk konteks kajian sejarah Indonesia, DHA menawarkan kecocokan yang natural. Pertanyaan-pertanyaan yang sudah lama beredar dalam historiografi Indonesia — bagaimana narasi Orde Baru tentang 1965 dikonstruksi dan dipertahankan, bagaimana konsep “Pancasila” berubah makna lintas rezim, bagaimana identitas “Indonesia” dibangun melalui buku teks dan pidato resmi — semuanya adalah pertanyaan yang secara intuitif membutuhkan pendekatan diakronis, multi-genre, dan berorientasi historis. Persis apa yang DHA tawarkan.
Tentu saja, pendekatan-pendekatan ini tidak harus digunakan secara eksklusif. Beberapa peneliti mengombinasikan elemen-elemen dari berbagai tradisi. Baker et al. (2008), misalnya, mengombinasikan analisis korpus kuantitatif dengan CDA kualitatif. Tang dan Li (2024) mengembangkan kerangka yang mengintegrasikan triangulasi metode campuran ke dalam DHA. Yang penting adalah memahami apa yang ditawarkan dan apa yang tidak ditawarkan oleh masing-masing pendekatan — sehingga pilihanmu didasarkan pada kebutuhan riset, bukan sekadar kebiasaan atau ketersediaan literatur.

Panduan memilih pendekatan Analisis Wacana Kritis yang paling sesuai dengan kebutuhan riset: Fairclough, van Dijk, atau Wodak.
Akhir Kata
Fairclough, van Dijk, dan Wodak bukan tiga nama yang bisa dipertukarkan. Mereka mewakili tiga cara yang sangat berbeda untuk mendekati hubungan antara bahasa dan kekuasaan — masing-masing dengan kekuatan, keterbatasan, dan wilayah aplikasi optimalnya sendiri. Memahami perbedaan ini bukan sekadar latihan intelektual. Ia menentukan pertanyaan apa yang bisa kamu ajukan, data apa yang kamu kumpulkan, dan temuan apa yang bisa kamu hasilkan.
Bagi pembaca di Indonesia yang selama ini lebih familiar dengan Fairclough — karena memang tradisi Inggris lebih dominan dalam literatur CDA berbahasa Indonesia — mengenal DHA membuka kemungkinan baru. Terutama untuk pertanyaan-pertanyaan yang melibatkan dimensi sejarah, perubahan diakronis, dan analisis argumentasi secara mendalam — wilayah di mana DHA menawarkan perangkat yang tidak dimiliki oleh pendekatan lain.
FAQ Tentang DHA
1. Apa perbedaan utama Fairclough, van Dijk, dan DHA?
Fairclough bergerak dari teks ke praktik sosial, van Dijk menempatkan kognisi sebagai penghubung wacana dan masyarakat, sedangkan DHA menempatkan sejarah sebagai dimensi analitis inti dan bergerak dari konteks historis ke teks.
2. Mengapa DHA dianggap paling historis dibanding Fairclough dan van Dijk?
Karena DHA tidak menjadikan sejarah sekadar latar belakang, melainkan bagian utama dari analisis. Pendekatan ini melacak bagaimana wacana terbentuk, berubah, dan berpindah konteks secara diakronis.
3. Apa yang membedakan cara kerja Fairclough dan DHA dalam membaca teks?
Fairclough biasanya mulai dari fitur linguistik teks lalu bergerak ke praktik diskursif dan sosial, sedangkan DHA mulai dari pemahaman konteks historis dan sosio-politik sebelum masuk ke analisis teks.
4. Kapan pendekatan van Dijk lebih cocok digunakan?
Van Dijk paling cocok ketika penelitian ingin menjelaskan hubungan antara wacana, kognisi, dan masyarakat, terutama untuk melihat bagaimana stereotip, prasangka, dan ideologi bekerja dalam pikiran kelompok sosial.
5. Kapan sebaiknya peneliti memilih DHA?
DHA paling cocok dipakai ketika riset melibatkan perubahan wacana dari waktu ke waktu, rekontekstualisasi lintas periode, atau analisis atas narasi yang berhubungan dengan sejarah, identitas, dan argumentasi politik.
Referensi
Baker, P. et al. (2008). “A Useful Methodological Synergy? Combining Critical Discourse Analysis and Corpus Linguistics to Examine Discourses of Refugees and Asylum Seekers in the UK Press.” Discourse & Society, 19(3), 273–306.
Datondji, A.C. & Amoussou, F. (2019). “Discourse-Historical Approach to Critical Discourse Studies: Theoretical and Conceptual Analysis.” RILALE.
Fairclough, N. (1992). Discourse and Social Change. Cambridge: Polity Press.
Fairclough, N. (2010). “A Dialectical-Relational Approach to Critical Discourse Analysis in Social Research.”
Reisigl, M. & Wodak, R. (2009). “The Discourse-Historical Approach (DHA).” Dalam R. Wodak & M. Meyer (Eds.), Methods of Critical Discourse Analysis (2nd ed., pp. 87–121). London: SAGE.
Tang, X. & Li, J. (2024). “Toward Integrative Triangulation in Discourse-Historical Approach.” Discourse & Society. SAGE.
Van Dijk, T.A. (2008). “Critical Discourse Studies: A Sociocognitive Approach.” Dalam R. Wodak & M. Meyer (Eds.), Methods of Critical Discourse Analysis (2nd ed.). London: SAGE.
Van Dijk, T.A. (2015). “Critical Discourse Studies: A Sociocognitive Approach.” Dalam R. Wodak & M. Meyer (Eds.), Methods of Critical Discourse Studies (3rd ed.). London: SAGE.


Komentar