Menghitung yang Tak Terlihat: Sensus 1930 dan Sisi Gelap Psikiatri Kolonial

Sejarah

Ringkasan Artikel

  • Selama puluhan tahun, psikiater kolonial meyakini kegilaan adalah penyakit peradaban yang jarang menjangkiti pribumi.
  • Pada 1933, psikiater paling berpengaruh di Hindia justru membongkar keyakinan itu.
  • Tulisan ini menelusuri bagaimana ia menghitung jumlah orang gila dengan bersandar pada kategori ras sensus 1930, dan bagaimana kategori yang sama membuat ratusan ribu orang gila pribumi terhitung ada namun tak terlihat, dirawat diam-diam oleh kampung dan pasung.

Dua dari Seribu: Saat Sensus Menjadi Alat Menghitung Orang Gila

Bagaimana cara sebuah negara menyembunyikan ratusan ribu orang gila Jawabannya sederhana: dengan memercayai bahwa mereka tidak pernah ada.

Selama berpuluh-puluh tahun, psikiatri kolonial di Hindia Belanda bersandar pada keyakinan yang absurd bahwa kegilaan adalah fenomena eksklusif masyarakat modern.

Otak elite Eropa dianggap cukup rumit untuk bisa menjadi gila, sementara masyarakat pribumi dianggap terlalu sederhana untuk bisa kehilangan akal sehat.

Mitos medis ini menjadi tameng moral yang sempurna; sebuah kepalsuan administratif yang baru terbongkar ketika seseorang memutuskan untuk menguji teori tersebut menggunakan angka riil dari sensus penduduk.

Keyakinan itu enak didengar karena ia sekaligus menyanjung dan membebaskan. Menyanjung, sebab seolah hanya bangsa beradab yang cukup rumit untuk bisa menjadi gila.

Pembakaran Tebu di Jawa: Sabotase yang Dicatat sebagai Kejahatan Biasa

Membebaskan, sebab jika pribumi memang jarang gila, negara kolonial tidak perlu repot membangun rumah sakit jiwa untuk mereka.[1]

Lalu pada 1933, keyakinan itu dirobohkan justru oleh orang dalam.

P.M. van Wulfften Palthe, guru besar psikiatri di Batavia dan psikiater paling berwibawa di koloni, menulis bahwa anggapan jumlah orang gila pribumi lebih kecil daripada orang Eropa adalah dugaan yang sebenarnya tidak didasari apa pun.[2]

Foto hitam-putih Profesor P.M. van Wulfften Palthe mengenakan kemeja putih, sedang duduk di meja kerja menghadap dokumen dan memegang pulpen.

Prof. P.M. van Wulfften Palthe, guru besar psikiatri di Batavia yang merubuhkan mitos medis kolonial menggunakan angka riil sensus pada 1933. (Sumber: Wikimedia Commons).

Para ahli yang serius menekuni soal ini, katanya, sudah lama meninggalkannya. Ia lalu melakukan hal yang sederhana namun berani, yaitu menerapkan angka yang sama untuk semua orang.

Logikanya begini. Di Eropa terdapat kira-kira dua orang gila per seribu penduduk. Angka yang sama, tulisnya, berlaku untuk orang Eropa di Hindia, sebab dari 250.000 orang Eropa ada 652 yang dirawat di rumah sakit jiwa pada 1931.[3]

Macroscope AI: Menavigasi Pola dan Ledakan Arsip dalam Riset Sejarah

Jika rasio dua per seribu itu berlaku merata, maka untuk seluruh penduduk Hindia yang berjumlah lebih dari enam puluh juta jiwa, akan ada sekitar 120.000 orang gila.

Sebuah angka yang mencengangkan. Tetapi yang lebih penting bukan angkanya, melainkan dari mana angka itu berasal.

Angka yang Lahir dari Sensus

Untuk menghitung rasio, van Wulfften Palthe lebih dulu harus tahu berapa jumlah orang Eropa, dan satu-satunya sumber angka itu adalah sensus.

Peta birokrasi Sensus 1930 untuk wilayah Jawa dan Madura yang dipenuhi titik-titik hitam penanda kerapatan distribusi populasi warga golongan Eropa.

Peta hasil Sensus 1930 yang memilah penduduk berdasarkan ras. Ketertiban administratif ini menjadi basis van Wulfften Palthe dalam menghitung rasio kegilaan di Hindia Belanda. (Sumber: KITLV).

Hindia Belanda baru saja merampungkan sensus besar pada 1930, sebuah proyek raksasa yang mencacah lebih dari enam puluh juta jiwa.

Yang khas, penduduk tidak dipilah terutama menurut wilayah atau usia, melainkan menurut golongan hukum dan ras, yaitu orang Eropa, Inlander atau pribumi, dan Vreemde Oosterlingen atau Timur Asing seperti Tionghoa dan Arab.

Psikiatri Kolonial Hindia Belanda: Sistem yang Menjangkau Seujung Kuku

Pembagian inilah tulang punggung kekuasaan kolonial, sebab ia menentukan hukum apa yang berlaku, pajak apa yang dibayar, dan sekolah mana yang boleh dimasuki seseorang.

Di sini muncul keganjilan kecil yang membuka tabir besar. Van Wulfften Palthe memakai angka 250.000 orang Eropa, padahal sumber lain pada masa yang sama mencatat jumlahnya hanya sekitar 193.618 jiwa.[4]

Selisihnya hampir enam puluh ribu orang. Ini bukan salah hitung, melainkan persoalan klasik di Hindia, yaitu siapa sebenarnya yang berhak disebut orang Eropa.

Kategori itu memuat banyak orang Indo-Eropa dan mereka yang statusnya dipersamakan lewat prosedur hukum.

Garis batasnya cair dan administratif, bukan biologis. Negara kolonial tidak menemukan ras di lapangan, ia menciptakannya lewat pena para juru hitung.

Terhitung Ada, tetapi Tak Terlihat

Bagian paling tajam muncul ketika rasio yang sama diterapkan pada pribumi. Sebab meski jumlahnya diperkirakan sama besar secara proporsional, nasib mereka jauh berbeda.

Orang Eropa yang dianggap gila cenderung berakhir di salah satu rumah sakit jiwa koloni, seperti di Buitenzorg, Lawang, atau Magelang, sehingga tercatat dan terlihat. Orang pribumi tidak.

Sebagian besar dari mereka kembali larut ke dalam kampung, dirawat keluarga, atau dipasung di rumah.

Van Wulfften Palthe sendiri mengakuinya dengan tenang. Di wilayah dengan tatanan sosial yang lebih sederhana, tulisnya, sebagian besar orang gila dapat tetap tinggal dalam lingkungan kampung tanpa terlalu mengganggu.[5]

Kalimat itu tampak seperti pengamatan netral, padahal ia sebuah pembenaran. Dengan mengatakan bahwa kampung sanggup menampung, negara kolonial mengubah ketiadaan layanan menjadi sesuatu yang seolah wajar, bahkan alami.

Maka terjadilah paradoks yang dingin. Rasio yang sama menghasilkan keterlihatan yang berbeda menurut ras.

Orang gila Eropa masuk ke dalam statistik, sementara orang gila pribumi menghilang ke dalam pasung dan tidak pernah ikut dihitung sebagai pasien.

Angka, alih-alih menerangi, justru memproduksi ketidakterlihatan.

Pola semacam ini bukan keanehan khas Hindia. Di Amerika Serikat, sensus 1840 pernah menggelembungkan angka kegilaan di kalangan orang kulit hitam merdeka demi membuktikan bahwa kebebasan membuat mereka gila, sebuah klaim yang lalu dipakai membela perbudakan.[6]

Arahnya berkebalikan dengan Hindia, namun prinsipnya satu, yaitu statistik kegilaan tidak pernah netral.

Ia selalu memikul beban kategori rasial yang melahirkannya, entah dengan melebih-lebihkan, entah dengan menyembunyikan.

Negara yang Menghitung dan Negara yang Membiarkan

Di sinilah dua wajah negara kolonial bertemu. Wajah pertama sibuk menghitung, memilah jutaan orang ke dalam kotak-kotak ras demi keteraturan pemerintahan.

Wajah kedua memilih membiarkan, dengan menyandarkan perawatan orang gila pribumi pada kampung dan pasung.

Selama ini keduanya dianggap urusan terpisah, yang satu soal demografi dan yang lain soal kesehatan.

Padahal keduanya berdiri di atas tindakan yang sama, yaitu mengklasifikasi ras.

Hasil akhirnya sebuah ironi yang seharusnya membuat kita berhenti sejenak.

Lewat perhitungannya sendiri, negara kolonial sebenarnya tahu bahwa ada sekitar 120.000 orang gila di tanah jajahannya.

Pada saat yang sama, ia hanya menyediakan beberapa ribu tempat tidur, dan nyaris seluruhnya untuk orang Eropa.

Ketidakterlihatan ratusan ribu sisanya bukanlah kelalaian yang tidak disengaja. Ia dirancang, dihitung, dan dibakukan, satu kolom demi satu kolom, di dalam buku sensus.

Catatan Kaki

  1. Keyakinan ini sebenarnya tidak bulat. Sebagian psikiater justru menduga sebaliknya, bahwa benturan dengan modernitas kolonial yang membuat pribumi gila. Lihat Hans Pols & Suryani Wibisono, Psychiatry and Mental Health Care in Indonesia (2017), dan Hans Pols, Nurturing Indonesia (2018).
  2. Dalam teks aslinya, dugaan itu ia sebut tidak didasari apa pun, door niets gemotiveerde. P.M. van Wulfften Palthe, “Krankzinnigenverzorging in Nederlandsch-Indië,” Koloniale Studiën 17 (1933), hlm. 341.
  3. Ibid., hlm. 341. Angka 652 dari 250.000 inilah yang ia jadikan bukti bahwa rasio orang Eropa di Hindia sama dengan rasio di Eropa.
  4. Sebastiaan Broere mencatat populasi Eropa 1930 sekitar 193.618 jiwa, sementara angka resmi sensus mendekati 246.000. Selisih ini bukan soal ketelitian, melainkan keluwesan kategori hukum “Orang Eropa” yang merangkul banyak Indo-Eropa, hasil gelijkstelling (persamaan status hukum), dan naturalisasi. Bandingkan Cees Fasseur (1994) dan Bart Luttikhuis (2013).
  5. Dalam bahasa aslinya, sebagian besar orang gila dapat tetap tinggal in kampongverband … zonder al te storend te werken. Koloniale Studiën 17 (1933), hlm. 342.
  6. Élodie Grossi, “Truth in numbers? Emancipation, race, and federal census statistics in the debates over Black mental health in the United States, 1840-1900,” Social Science History (2021). Angka sensus 1840 itu belakangan terbukti keliru dan dibantah oleh dokter kulit hitam James McCune Smith.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *