Review Buku The Making of a Periphery: Mengapa Jawa Bisa Jatuh Miskin?

Review Buku

Ketika Vaksin Jadi Jebakan: Apa yang Bosma Ajarkan tentang Kemiskinan Jawa

Review Buku dan analisis mendalam The Making of a Periphery karya Ulbe Bosma

Sebagai seorang guru sejarah, saya terbiasa memberikan narasi yang rapi tentang kolonialisme. Ada penjajah yang datang, ada rakyat yang menderita, ada perlawanan, ada kemerdekaan. Narasi itu tidak salah, tapi setelah membaca The Making of a Periphery karya Ulbe Bosma, saya menyadari bahwa narasi itu hanya menjawab pertanyaan “apa yang terjadi” — sementara pertanyaan yang jauh lebih penting, yaitu “mengapa akibatnya masih kita rasakan sampai hari ini,” nyaris tidak pernah kita jawab dengan serius di kelas.

Bosma adalah sejarawan senior di International Institute of Social History, Amsterdam, dan buku ini adalah hasil riset bertahun-tahun yang mencakup Indonesia, Filipina, dan Malaysia sekaligus. Pertanyaan utamanya sederhana secara bahasa tapi sangat berat secara implikasi: Mengapa Jawa — yang pada abad ke-14 adalah pusat peradaban paling maju di Asia Tenggara — kini menjadi salah satu wilayah termiskin di kawasannya, sementara jutaan warganya harus bekerja di luar negeri untuk bertahan hidup?

Untuk memahami jawaban Bosma, kita perlu memahami tiga konsep kunci yang menjadi tulang punggung argumennya. Saya akan uraikan ketiganya satu per satu, karena masing-masing membangun pemahaman untuk yang berikutnya.

Konsep Pertama: “Reversal of Fortune” dan Mengapa Itu Bukan Kebetulan

Istilah reversal of fortune — pembalikan nasib — pertama kali dipopulerkan oleh ekonom Daron Acemoglu dalam perdebatan akademik tentang asal-usul kemiskinan global. Ide dasarnya adalah ini: wilayah-wilayah yang paling makmur dan padat penduduknya sebelum 1800 justru cenderung menjadi yang paling miskin di abad ke-20. Sebaliknya, wilayah yang relatif tertinggal sebelum kolonialisme — seperti Amerika Utara atau Australia — justru berkembang pesat.

Di Asia Tenggara, pola ini sangat jelas. Jawa dan Luzon (Filipina utara) adalah dua wilayah yang paling subur, paling padat, dan paling terorganisir secara sosial di kawasan ini selama berabad-abad. Namun justru keduanya yang mengalami kemiskinan paling akut di abad ke-20. Malaysia dan Sumatera Luar yang dulunya lebih “tertinggal” justru tumbuh lebih baik.

Review Buku Nexus: Ketika Informasi Bukan Kebenaran, Tapi Juga Bukan Senjata

Acemoglu menjelaskan fenomena ini dengan argumen tentang institusi: penjajah menciptakan “extractive institutions” — lembaga yang merampok kekayaan rakyat — di wilayah yang sudah makmur dan padat, karena di sana ada lebih banyak yang bisa dirampok. Bosma menghargai argumen ini, tapi ia menganggapnya tidak lengkap. Dua dimensi krusial hampir selalu absen dari perdebatan ini: demografi dan sistem kontrol tenaga kerja. Dan itulah yang ingin ia isi.

Konsep Kedua: Vaksinasi Cacar dan Ledakan Demografis yang Tidak Terduga

Diagram alir waktu (timeline) ledakan populasi Jawa dari tahun 1700 hingga 1930. Menampilkan bagaimana populasi yang awalnya stagnan di angka 7,5 juta jiwa akibat wabah cacar, melonjak menjadi 30 juta jiwa setelah pemerintah kolonial Belanda menjalankan program vaksinasi sistematis di awal abad ke-19. Surplus penduduk ini kemudian dimanfaatkan sebagai tenaga kerja murah untuk ekspansi besar-besaran perkebunan kolonial.

Ironi sejarah demografis: keberhasilan program vaksinasi cacar di awal abad ke-19 menyelamatkan nyawa, namun di saat yang sama menciptakan surplus tenaga kerja yang menjadi “bahan bakar” bagi sistem eksploitasi perkebunan Belanda.

Ini adalah bagian yang paling tidak terduga dari buku ini, dan yang paling sering membuat mahasiswa — maupun guru seperti saya — terdiam ketika pertama kali membacanya.

Untuk memahami argumen Bosma, kita perlu membayangkan Jawa pada awal abad ke-19. Selama hampir dua abad sebelumnya, cacar adalah pembunuh massal. Wabah datang berulang, merenggut nyawa dalam jumlah besar, dan membuat populasi stagnan. Di seluruh Asia, pertumbuhan penduduk rata-rata hanya sekitar 0,2 hingga 0,7 persen per tahun.

Kemudian, antara 1804 dan 1820-an, pemerintah kolonial Belanda di Jawa — dipimpin Gubernur Jenderal Raffles dan penggantinya Van der Capellen — menjalankan program vaksinasi cacar yang, untuk ukuran zamannya, cukup sistematis. Mereka melatih penghulu (pemuka agama Islam di desa) sebagai vaksinator, membangun rantai distribusi vaksin dari Batavia ke pedalaman, dan menggunakan struktur desa yang sudah ada untuk menjangkau sebanyak mungkin penduduk.

Hasilnya luar biasa: angka kematian akibat cacar turun drastis. Dalam satu abad, populasi Jawa melonjak dari sekitar 7,5 juta menjadi 30 juta jiwa. Laju pertumbuhannya mencapai 1,25 hingga 1,6 persen per tahun — dua kali lipat laju pertumbuhan China, yang saat itu dianggap luar biasa dengan angka 0,7 persen per tahun.

Review 21 Lessons for the 21st Century: Cara Berpikir Sejarah di Era Banjir Informasi

Sekarang, pertanyaan pedagogisnya: apakah ini kabar baik atau kabar buruk?

Jawabannya bergantung pada apa yang terjadi selanjutnya. Di Inggris, ledakan penduduk di era yang hampir sama bertemu dengan Revolusi Industri — ada pabrik, ada kota yang tumbuh, ada penyerapan tenaga kerja baru. Di Jawa, ledakan yang sama bertemu dengan sistem perkebunan kolonial yang sudah menguasai lahan. Hasilnya adalah surplus tenaga kerja yang sangat besar tanpa ada industri yang bisa menyerapnya — dan surplus tenaga kerja itu kemudian menjadi bahan bakar sempurna bagi eksploitasi perkebunan.

Bosma tidak mengatakan vaksinasi itu keliru. Ia menunjukkan sesuatu yang lebih mendasar: kebijakan yang baik secara moral, jika bekerja di dalam sistem yang tidak adil secara struktural, bisa menghasilkan konsekuensi yang jauh melampaui niat pembuatnya — dan bertahan jauh lebih lama dari kebijakan itu sendiri.

Inilah yang ia sebut sebagai salah satu mesin utama peripheralization — proses berubahnya sebuah wilayah menjadi “pinggiran” yang hanya berfungsi sebagai pemasok bahan baku dan tenaga kerja murah bagi pusat-pusat kapitalis global.

Konsep Ketiga: Hubungan Patron-Klien sebagai Infrastruktur Eksploitasi

Konsep ketiga adalah yang paling penting untuk dipahami, karena inilah yang menghubungkan masa lalu kolonial dengan kondisi hari ini secara langsung.

Review Buku Homo Deus: Saat Manusia Berambisi Menjadi Tuhan

Di hampir semua masyarakat agraris Jawa dan Filipina, terdapat apa yang dikenal sebagai hubungan patron-klien. Secara sederhana, ini adalah hubungan antara orang yang lebih kuat (patron) dan orang yang lebih lemah (klien), di mana patron memberikan perlindungan, akses lahan, dan jaminan pangan, sementara klien memberikan loyalitas dan tenaga kerja. Hubungan ini bukan sekadar eksploitasi sepihak — ia punya logika survivalisnya sendiri dalam konteks masyarakat yang tidak punya jaring pengaman sosial formal.

Yang penting dipahami adalah bahwa hubungan ini sudah ada sebelum kolonialisme datang. Majapahit membangun kejayaannya justru karena berhasil mengorganisir petani-petani dalam jaringan patron-klien yang produktif. Sawah-sawah yang luas, sistem irigasi yang rumit — semua itu tidak mungkin dibangun tanpa mekanisme rekrutmen dan pengorganisasian tenaga kerja yang efektif. Patron-klien adalah infrastruktur sosialnya.

Ketika perkebunan-perkebunan Belanda masuk ke Jawa di abad ke-19, mereka tidak membangun sistem rekrutmen dari nol. Mereka duduk di atas infrastruktur yang sudah ada. Seorang lurah yang selama ini mengelola gotong royong kini menjadi agen tenaga kerja untuk pabrik gula. Aristokrat lokal yang dulu memungut pajak untuk kerajaan kini memungut tenaga kerja untuk perkebunan — dan mendapat komisi. Strukturnya identik; yang berubah hanyalah kepada siapa hasilnya mengalir.

Bosma kemudian melacak bagaimana mekanisme yang sama ini — patron yang kuat mengakses tenaga kerja orang yang lemah melalui ikatan utang dan ketergantungan — terus bekerja jauh melampaui era kolonial.

Hari ini, kita bisa melihatnya dalam sistem rekrutmen TKI. Seorang yang berpengaruh di desa menawarkan “kemudahan” berangkat ke luar negeri: ia menanggung biaya pengurusan dokumen, tiket, dan pelatihan — yang semuanya menjadi utang si calon pekerja sebelum ia sempat terbang. Sesampainya di negara tujuan, pekerja itu harus melunasi utang tersebut dulu sebelum mulai mengirimkan uang ke rumah. Biaya penempatan yang membelenggu ini, menurut beberapa lembaga advokasi buruh migran, bisa memakan empat hingga delapan bulan gaji pertama. Bosma tidak menulis tentang mekanisme ini secara langsung — bukunya berakhir di era yang lebih awal — tapi polanya identik dengan yang ia dokumentasikan dari abad ke-19.

Mengapa Malaysia Bisa dan Jawa Tidak?

Infografis perbandingan struktur penguasaan lahan antara Jawa dan Malaysia pada masa kolonial. Sisi kiri menunjukkan Jawa dengan Sistem Perkebunan Besar Belanda yang menjadikan petani sekadar buruh murah. Sisi kanan menunjukkan Malaysia dan Sumatera Luar dengan Sistem Petani Kecil yang mandiri, di mana petani menikmati keuntungan langsung dari lonjakan harga komoditas global.

Perbedaan nasib ekonomi yang berakar pada bentuk produksi yang dominan: sistem perkebunan besar kolonial di Jawa yang memonopoli lahan berhadapan dengan sistem petani mandiri di Semenanjung Malaya yang lebih fleksibel.

Sampai di sini, pembaca yang kritis mungkin bertanya: kalau kolonialisme begitu menentukan, mengapa Malaysia — yang juga dijajah — bisa tumbuh menjadi negara berpendapatan menengah ke atas, sementara Jawa tidak?

Pertanyaan ini sangat penting, dan Bosma menjawabnya dengan analisis komparatif yang menjadi salah satu kontribusi terbesar bukunya.

Perbedaannya, menurut Bosma, bukan terletak pada apakah dijajah atau tidak, melainkan pada bentuk produksi yang dominan: apakah komoditas ekspor diproduksi oleh perkebunan besar yang menguasai lahan, atau oleh petani kecil yang memiliki lahannya sendiri.

Di Semenanjung Malaya dan Sumatera bagian luar, karet dan kelapa sawit banyak dikelola oleh petani kecil independen. Mereka menanam komoditas ekspor di lahan mereka sendiri, menikmati keuntungan ketika harga naik, dan punya fleksibilitas untuk berpindah komoditas ketika pasar berubah. Ketika boom karet terjadi di awal abad ke-20, para petani kecil ini ikut menjadi lebih sejahtera.

Di Jawa, gambarnya sangat berbeda. Pada tahun 1930, 85 persen dari nilai ekspor pertanian Jawa berasal dari perkebunan besar milik Belanda. Petani Jawa tidak memiliki lahan — mereka hanya tenaga kerja. Ketika boom komoditas terjadi, keuntungannya mengalir ke Amsterdam, bukan ke desa-desa di Jawa Tengah.

Yang membuat perbandingan ini semakin tajam adalah fakta bahwa tanaman yang sama bisa menghasilkan hasil yang berbeda tergantung siapa yang menanamnya. Karet di Jawa adalah komoditas perkebunan besar karena lahannya sudah lebih dulu dikuasai oleh sistem kolonial yang lebih mapan. Karet di Sumatera luar dan Malaysia adalah komoditas petani kecil karena lahannya belum sempat dimonopoli. Artinya, bukan jenis tanamannya yang menentukan nasib — melainkan struktur penguasaan lahannya.

Kesimpulan Bosma dari perbandingan ini penting untuk dipahami dengan tepat: ia tidak sedang mengatakan bahwa Malaysia tidak dijajah, atau bahwa kolonialisme Inggris lebih baik dari Belanda. Ia sedang mengatakan bahwa cara sebuah masyarakat diintegrasikan ke dalam ekonomi global — melalui perkebunan atau melalui petani kecil — meninggalkan jejak struktural yang jauh melampaui berakhirnya kolonialisme itu sendiri.

Apa yang Hilang dari Buku Ini

Membaca buku ini secara kritis juga berarti memperhatikan apa yang tidak ada di dalamnya, dan ada beberapa hal yang perlu saya catat sebagai pembaca yang juga bekerja sebagai pendidik.

Pertama, Bosma sangat kuat dalam analisis makro tetapi relatif lemah dalam menampilkan wajah manusianya. Ketika ia menulis tentang hampir satu juta orang yang hidup sebagai budak di kepulauan Asia Tenggara pada awal abad ke-19, kita mendapat angka estimasi yang hati-hati dan didukung data. Yang kurang adalah kisah konkret: siapa mereka, dari mana, apa yang mereka tinggalkan, bagaimana kehidupan mereka sehari-hari. Sejarah dari perspektif bawah hampir tidak muncul di sini, dan itu adalah kehilangan yang terasa.

Kedua, tesis tentang vaksinasi cacar sebagai salah satu pemicu kemiskinan struktural adalah argumen yang kuat tapi mengandung rantai kausal yang panjang. Bosma membangunnya dengan hati-hati dan bersandar pada riset demografis yang solid. Namun ada sejarawan lain yang memberikan bobot lebih besar pada faktor-faktor lain: penghancuran industri tekstil lokal akibat impor murah dari Eropa, kebijakan pajak yang berlebihan, atau korupsi birokrasi kolonial. Bosma tidak mengabaikan faktor-faktor itu, tetapi posisinya bahwa demografi dan kontrol tenaga kerja adalah variabel penjelasnya yang utama tetap merupakan pilihan interpretif yang bisa diperdebatkan.

Ketiga — dan ini lebih merupakan catatan praktis — buku ini ditulis untuk pembaca akademik. Kepadatan datanya nyata. Namun dengan kesabaran yang cukup, argumen-argumennya sangat bisa diikuti, dan saya kira justru itulah nilai lebihnya: ia memberi kita alat analitis yang bisa kita gunakan sendiri, bukan hanya kesimpulan yang kita terima begitu saja.

Relevansi untuk Hari Ini: Bukan Sekadar Sejarah

Infografis yang melacak jejak sejarah struktur patron-klien di Indonesia dalam tiga era. Era pertama menunjukkan masa kerajaan Majapahit sebagai fondasi pengorganisasian tenaga kerja organik. Era kedua memperlihatkan kolonial Belanda yang menggunakan lurah lokal sebagai agen penarik tenaga kerja. Era ketiga menggambarkan sistem TKI modern, di mana sponsor atau penyalur mengikat calon pekerja migran dengan lingkaran utang biaya penempatan sebelum berangkat.

Struktur eksploitasi yang persisten: logika ikatan utang dan ketergantungan antara pihak kuat (patron) dan lemah (klien) yang sudah ada sejak masa pra-kolonial terus bertransformasi, dari pengelolaan sawah kerajaan hingga sistem rekrutmen pekerja migran hari ini.

Satu hal yang konsisten saya tekankan kepada murid-murid saya adalah ini: sejarah bukan hanya tentang apa yang sudah terjadi. Ia adalah peta untuk memahami mengapa kondisi hari ini terasa seperti ini — dan ke mana kita mungkin akan pergi jika tidak mengubah arahnya.

Dalam kerangka itu, Bosma sangat relevan untuk percakapan yang sedang berlangsung hari ini. Kelapa sawit — komoditas yang mendominasi lanskap Kalimantan dan Sumatera saat ini — memainkan peran yang strukturnya sangat mirip dengan gula di abad ke-19: perkebunan besar yang menguasai lahan, penyerapan tenaga kerja dengan upah rendah, keuntungan yang lebih banyak mengalir ke pemegang saham daripada ke masyarakat lokal. Sistem rekrutmen TKI, dengan segala kerumitan utang dan ketergantungannya, bekerja dengan logika yang secara struktural identik dengan patron-klien abad ke-19 yang Bosma dokumentasikan.

Ini bukan berarti tidak ada yang berubah. Banyak yang berubah. Hukum berbeda, perlindungan (walaupun masih jauh dari ideal) ada. Tapi struktur — cara orang yang kuat mengakses tenaga kerja orang yang kurang berdaya melalui ketergantungan ekonomi — berubah jauh lebih lambat dari hukum dan jauh lebih lambat dari narasi kemajuan yang kita ceritakan kepada diri sendiri.

Bosma memberi kita kosakata untuk melihat struktur itu. Dan melihatnya, saya percaya, adalah langkah pertama untuk benar-benar mengubahnya.

Untuk Siapa Buku Ini Paling Bermanfaat?

Saya merekomendasikan buku ini terutama untuk siapa saja yang ingin melampaui narasi kolonialisme yang standar — yang penting dan benar, tapi sering berhenti di permukaan. The Making of a Periphery adalah buku untuk pembaca yang sudah bertanya “tapi kenapa?” dan belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.

Mahasiswa sejarah, ekonomi, sosiologi, dan studi pembangunan akan mendapat banyak dari analisis komparatif dan kerangka teoritis yang Bosma tawarkan. Jurnalis dan peneliti yang bekerja di isu perburuhan, migrasi, atau agraria akan menemukan genealogi historis dari fenomena yang mereka liput sehari-hari. Dan guru-guru seperti saya akan menemukan cara baru untuk menjawab pertanyaan yang selama ini terasa sulit dijawab di kelas: “Pak, kenapa negara kita masih begini?”

Jawabannya panjang. Bosma membantu kita mulai dari awal yang benar.


Judul: The Making of a Periphery: How Island Southeast Asia Became a Mass Exporter of Labor

Penulis: Ulbe Bosma

Penerbit: Columbia University Press, New York, 2019

Tebal: 256 halaman

Rekomendasi untuk: Mahasiswa sejarah, ekonomi, sosiologi · Peneliti isu perburuhan dan migrasi · Pendidik yang mengajar sejarah kolonial Indonesia.

https://iisg.amsterdam/en/about/staff/ulbe-bosma

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *