Ringkasan Artikel
Pada masa kolonial, jamu sempat dicap perdukunan oleh kalangan kedokteran Hindia Belanda. Namun ilmu yang sama diam-diam menyalin dan menganalisis ramuannya. Jamu bertahan bukan karena diakui penjajah, melainkan karena melayani rakyat yang tak terjangkau oleh apotek dan medis kolonial.
Kijk in Kloppenburg: Saat Jamu Dihina sekaligus Ditiru Penjajah
Di sebuah rumah Eropa di Hindia, ketika seorang anak mendadak demam, kalimat yang terdengar sering kali bukan “panggil dokter”, melainkan “Kijk in Kloppenburg!” Lihat di Kloppenburg.
Yang dimaksud adalah sebuah buku tebal berisi ramuan tumbuhan, Indische planten en haar geneeskracht, yang terbit di Semarang pada 1907.[1]
Isinya ratusan racikan dari daun, akar, kulit kayu, dan rimpang untuk segala keluhan, dari demam sampai luka.
Buku itu begitu populer sampai hampir setiap rumah tangga Eropa memilikinya, dan seruan “Kijk in Kloppenburg” menjadi ungkapan umum ketika ada anggota keluarga jatuh sakit.
Penulisnya, Nyonya J.M.C. Kloppenburg-Versteegh, bukan seorang dokter. Ia menyusun buku itu setelah putrinya, Tina yang berumur empat belas tahun, meninggal pada 1899 walau telah ditangani dokter Eropa dan diberi kina.[2]
Di sinilah letak ironinya. Pertolongan pertama orang Eropa di tanah jajahan justru bersandar pada pengetahuan pribumi yang setiap hari mereka pandang rendah.
Dua Dunia, Apotek dan Bakul Jamu

(Editing berwarna) Dunia Medis Formal Hindia Belanda: Ruang steril apotek dan laboratorium kolonial, simbol supremasi sains Barat yang mendominasi tata sehat di kota-kota besar. Di ruang-ruang seperti inilah ramuan pribumi diam-diam diteliti, ditakar, dan diekstraksi demi kepentingan pengetahuan kolonial. (Sumber foto: KITLV, ca. 1925, Apotheek van Landbouwkolonie Pro-Juventute bij Pasoeroean)
Di Hindia Belanda, penyakit bertemu dua dunia yang berbeda.
Di satu sisi ada apotek, lembaga resmi tempat obat dijual, sebagian harus dengan resep dokter dan sebagian boleh dibeli bebas.[3]
Apotek itu mahal, berbahasa Belanda, dan terpusat di kota. Pelayanannya terutama menjangkau orang Eropa dan kalangan berada.
Di sisi lain ada jamu, ramuan murah yang diracik di dapur, diwariskan turun-temurun, dan dijajakan perempuan dari rumah ke rumah.
Suara “jamu… jamu…” yang ditawarkan dari gang ke gang adalah pemandangan biasa. Ada racikan untuk pegal, untuk perempuan seusai melahirkan, juga untuk menjaga daya tahan tubuh; hampir setiap keluhan punya jamunya.
Bagi sebagian besar penduduk, jamu dan dukunlah sistem kesehatan yang sebenarnya, bukan apotek.[4]
Kedua dunia ini tidak pernah setara, baik di mata hukum maupun gengsi. Yang satu dianggap sains, yang lain dianggap sekadar kepercayaan.
Vonnis “Kwakzalverij/Perdukunan”
Kedokteran kolonial tidak sekadar mengabaikan jamu. Ia menghakiminya.
Ketika buku Kloppenburg terbit, sebuah resensi di buletin perkumpulan dokter Hindia pada 1907 memberinya judul yang telak, Kwakzalverij atau perdukunan.
Buku itu disebut tidak berguna, berbahaya, dan hanya berdasarkan takhayul.
Para pengulas bahkan menulis bahwa buku itu ditulis seseorang yang hanya sering mengobrol dengan babu (pengasuh anak), sesekali bertanya pada dukun, dan menarik prinsipnya dari dongeng pribumi.[5]
Penghinaan itu sampai ke ruang rapat. Dalam pembahasan di kalangan dokter, dengan suara tujuh lawan tiga, buku itu divonis “berada di bawah segala kritik”.[6]
Yang menarik bukan kerasnya kata-kata itu, melainkan cara kerjanya. Dengan menempelkan karya Kloppenburg pada label “pribumi”, para pengulas menjauhkannya dari sains dan akal sehat.
Label itu bukan kesimpulan ilmiah, melainkan senjata. Dalam dunia kolonial, itulah cara paling ampuh mematikan kredibilitas sesuatu.
Dihina di Depan, Disalin di Belakang
Namun di balik penghinaan itu, ilmu kolonial diam-diam sibuk menambang jamu.
Di Kebun Raya Buitenzorg, ahli seperti W.G. Boorsma menjalankan laboratorium farmakologi yang justru meneliti khasiat ramuan pribumi.[7]
Para ahli botani pun menyusun daftar tebal tumbuhan berguna Hindia, lengkap dengan catatan mana yang dipakai dalam djamoe.[8]
Hasil analisis di laboratorium kadang membenarkan khasiat yang sudah lama dipercaya, kadang membantahnya, tetapi keduanya menempatkan jamu sebagai objek penelitian yang serius.
Pengetahuan yang dicap takhayul itu ternyata cukup berharga untuk dibukukan dan dianalisis.
Bahkan keberhasilan terbesar kedokteran tropis lahir dari memperhatikan yang lokal. Penelitian penyakit beri-beri yang kelak berbuah Nobel menemukan jawabannya pada beras dan pola makan sehari-hari, bukan pada obat dari Eropa.[9]
Perdebatannya pun tidak sesederhana penjajah melawan pribumi. Dokter A.G. Vorderman, seorang Eropa, justru terbuka pada pengobatan Jawa dan Tionghoa, dan secara terbuka mengkritik koleganya yang merendahkan praktik pribumi.[10]
Mengapa Jamu Tidak Mati
Kalau dihina sekeras itu, mengapa jamu tidak punah?
Jawabannya ada pada siapa yang dilayaninya. Apotek terlalu mahal dan terlalu jauh bagi rakyat banyak.
Di banyak daerah dokter Eropa nyaris tak terlihat, sementara peracik jamu selalu ada di dekat dapur sendiri.
Bagi mereka, jamu bukan pilihan gaya hidup, melainkan satu-satunya layanan kesehatan yang terjangkau.
Di sinilah penjual jamu gendong mengambil peran. Para perempuan ini menggendong bakul berisi botol dan menjajakannya keliling kampung, semacam apotek berjalan yang tak pernah diberi izin resmi.
Dari pasar, ke gang sempit, sampai ke halaman rumah, merekalah yang membawa obat hingga ke pintu rakyat kecil.
Hukum kolonial justru membuka celah. Menjual ramuan herbal tidak dihitung sebagai “praktik kedokteran”, sehingga para penjual jamu bebas beroperasi tanpa tersentuh aturan.[11]
Jamu bahkan harus bersaing dengan obat tradisional Cina. Menariknya, justru pengusaha Tionghoa yang kemudian mengemas jamu menjadi produk siap jual dan memperluas pasarnya.[12]
Yang Bertahan dari Bayang-Bayang Apotek
Kisah ini belum selesai.
Penjual jamu gendong yang masih kita temui hari ini, perempuan yang menyusun botol dalam bakul lalu menggendongnya berkeliling dari kampung ke kampung, adalah ekor hidup dari sejarah panjang itu.[13]
Mereka pembawa sistem kesehatan rakyat yang dihina di depan dan disalin di belakang.
Dan di situlah pembalikannya. Pengetahuan yang pernah divonis “berada di bawah segala kritik” oleh dokter kolonial justru pada 2023 diakui UNESCO sebagai warisan budaya takbenda dengan nama Budaya Sehat Jamu.[14]
Jamu tidak menang karena diakui. Ia bertahan karena tak pernah benar-benar bisa digantikan bagi mereka yang paling membutuhkannya.
Catatan Kaki
- J.M.C. Kloppenburg-Versteegh, Indische planten en haar geneeskracht (Semarang: Masman & Stroink, 1907). ↑
- Hans Pols, “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation,” East Asian Science, Technology and Society 3 (2009). ↑
- “Apotheek,” dalam Encyclopaedie van Nederlandsch-Indië (’s-Gravenhage: Nijhoff; Leiden: Brill). ↑
- Liesbeth Hesselink, Healers on the Colonial Market: Native Doctors and Midwives in the Dutch East Indies (Leiden: KITLV Press, 2011). ↑
- C.E. Benjamins dan H.T. Damsté, “Kwakzalverij,” Bulletin van den Bond van Geneesheeren in Nederlandsch-Indië 16 (1907): 15-24 (kutipan hlm. 16), dikutip dalam Pols, “European Physicians and Botanists.” ↑
- Geneeskundig Tijdschrift voor Nederlandsch-Indië, sekitar 1906-1907; pembahasan dan pemungutan suara atas buku Kloppenburg. ↑
- Pols, “European Physicians and Botanists”; lihat juga W.G. Boorsma, Aanteekeningen over Oostersche geneesmiddelleer op Java (Buitenzorg: ’s Lands Plantentuin, 1913). ↑
- K. Heyne, De nuttige planten van Nederlandsch-Indië (Batavia: Ruygrok, 1922). ↑
- Leo van Bergen, Liesbeth Hesselink, dan Jan Peter Verhave (ed.), The Medical Journal of the Dutch Indies 1852-1942: A Platform for Medical Research (Jakarta: AIPI, 2017). ↑
- A.G. Vorderman, Kritische beschouwingen over Dr. C.L. van der Burg’s ‘Materia Indica’ (Batavia, 1886); lihat Hesselink, Healers on the Colonial Market. ↑
- Pols, “European Physicians and Botanists.” ↑
- Indra Fibiona dan Siska Nurazizah Lestari, “Rivalitas Jamu Jawa dan Obat Tradisional Cina Abad XIX-Awal Abad XX,” Balai Pelestarian Nilai Budaya Yogyakarta. ↑
- Sukini, Jamu Gendong: Solusi Sehat Tanpa Obat (Jakarta: Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2018). ↑
- UNESCO, “Jamu Wellness Culture,” Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity, 2023, https://ich.unesco.org/en/RL/jamu-wellness-culture-01972. ↑



Komentar