Ringkasan Artikel
Weapons of the Weak (1985) karya James C. Scott adalah studi etnografi tentang cara kaum tani miskin melawan ketidakadilan tanpa pemberontakan terbuka. Scott menyebutnya everyday resistance, yaitu perlawanan sehari-hari yang senyap: mengulur kerja, pura-pura tidak paham, mencuri kecil-kecilan, dan menyebar gosip. Review ini merangkum argumen inti buku, menimbang kekuatan dan kelemahannya, lalu membacanya ulang lewat fenomena tukang parkir liar di Indonesia untuk menunjukkan bagaimana stigma sosial bekerja sebagai senjata, bukan dari kaum lemah, melainkan dari kaum yang nyaman.
Poin Kunci
- Buku: Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (James C. Scott, Yale University Press, 1985).
- Konsep utama: everyday resistance, yakni perlawanan sehari-hari yang senyap, bukan pemberontakan terbuka.
- Argumen kunci: kaum miskin tidak tertipu oleh ideologi penguasa; mereka paham betul situasinya, tetapi memilih bentuk perlawanan yang aman.
- Relevansi: stigma terhadap tukang parkir liar bekerja sebagai senjata simbolik yang mengalihkan masalah struktural menjadi cerita tentang watak pribadi.
Senjata Kaum Lemah: Perlawanan Senyap yang Tak Pernah Masuk Berita
Sebuah Pertanyaan dari Berbagai Platform Media Sosial
Buka media sosial mana pun, dan kamu akan dengan mudah menemukannya. Video pak ogah yang memaksa setoran, atau tukang parkir liar yang muncul entah dari mana di depan minimarket, lengkap dengan kolom komentar yang penuh cemoohan.
Mereka disebut parasit, pemalas, sampah masyarakat. Hinaan itu mengalir deras, nyaris tanpa perlawanan.
Namun ada satu pertanyaan yang jarang sekali diajukan. Ketika ribuan orang beramai-ramai menghina seorang tukang parkir liar, siapa sebenarnya yang sedang menyerang siapa?
Untuk menjawabnya, kita perlu alat berpikir yang tepat. Salah satu yang paling tajam datang dari seorang antropolog politik bernama James C. Scott, lewat bukunya Weapons of the Weak (1985).
Desa “Sedaka” dan Luka Revolusi Hijau

Pemetaan latar belakang sejarah dan studi etnografi Scott di Malaysia. Isinya menggambarkan efek domino Revolusi Hijau yang menghancurkan sistem “ekonomi moral” tradisional antara petani kaya dan buruh miskin. Kehilangan pekerjaan akibat mesin memaksa kaum tani melakukan perlawanan senyap (everyday resistance) di panggung belakang guna melawan balik stigma pelabelan “malas” yang dilemparkan oleh penguasa tanah.
Sebelum sampai ke tukang parkir liar, kita perlu memahami dulu dari mana Scott berangkat.
Selama sekitar empat belas bulan pada akhir 1970-an, Scott tinggal di sebuah desa kecil di Kedah, Malaysia.
Ia menyamarkan namanya menjadi “Sedaka”, komunitas petani padi berisi sekitar tujuh puluh rumah tangga (Scott, 1985, p. xvii).
Desa ini sedang mengalami guncangan besar. Sejak 1972, sistem tanam padi dua kali setahun (double-cropping) diperkenalkan, dan pada 1976 datang mesin pemanen raksasa (combine harvester).
Akibatnya brutal. Mesin itu melenyapkan sekitar dua pertiga peluang kerja upahan bagi buruh tani tak bertanah (Scott, 1985, p. xvi).
Yang runtuh bukan cuma pendapatan, melainkan seluruh tatanan sosial.
Dulu, petani kaya terikat pada buruh miskin lewat jaring kewajiban moral: memberi sedekah, zakat, pinjaman, dan undangan kenduri.
Begitu mesin menggantikan tenaga manusia, petani kaya tak lagi membutuhkan buruh. Maka satu per satu kewajiban moral itu mereka tinggalkan (Scott, 1985, pp. 305–309).
Inilah latar yang sering disebut para sosiolog sebagai runtuhnya “ekonomi moral” (moral economy) pedesaan.
Melawan Tanpa Memberontak

Komparasi struktural antara gerakan konfrontatif terbuka dan perlawanan laten harian. Fokus utamanya adalah analogi “polip karang” milik Scott: tindakan-tindakan pembangkangan kecil, individual, dan tidak tercatat sejarah (seperti mencuri kecil, mengulur waktu, atau pura-pura bodoh) secara akumulatif jauh lebih efektif menjadi karang penghalang yang menenggelamkan “kapal” kebijakan penguasa tanpa harus memicu penumpasan keras.
Pertanyaan Scott sederhana. Ketika kaum miskin diperlakukan tidak adil seperti itu, mengapa mereka tidak memberontak?
Jawabannya: karena memberontak secara terbuka adalah bunuh diri.
Buruh tani tidak punya senjata, tidak punya organisasi, dan berhadapan dengan tuan tanah yang didukung negara.
Tetapi diam bukan berarti pasrah. Di sinilah Scott menyumbang konsepnya yang paling terkenal: everyday resistance, atau perlawanan sehari-hari.
Perlawanan jenis ini tidak pernah terlihat heroik. Bentuknya justru remeh dan senyap, seperti yang Scott rinci sendiri.
“Here I have in mind the ordinary weapons of relatively powerless groups: foot dragging, dissimulation, false compliance, pilfering, feigned ignorance, slander, arson, sabotage, and so on.” (Scott, 1985, p. xvi)
Daftar “senjata” itu bisa kita terjemahkan ke dalam keseharian: mengulur-ulur kerja, pura-pura patuh, pura-pura bodoh, mencuri kecil-kecilan, menyebar fitnah, sampai sabotase diam-diam.
Agar lebih jelas, perbedaan antara perlawanan terbuka dan perlawanan sehari-hari bisa dipetakan seperti berikut.
Menurut Scott, justru perlawanan yang senyap inilah yang paling efektif dalam jangka panjang. Untuk menjelaskannya, ia memberi sebuah perumpamaan yang indah.
Seperti jutaan polip karang yang tanpa sengaja membentuk terumbu, ribuan tindakan pembangkangan kecil kaum tani perlahan membentuk karang penghalang bagi kebijakan penguasa.
“Everyday forms of resistance make no headlines.” (Scott, 1985, p. xvii)
Karena tak masuk berita itulah, perlawanan semacam ini kerap luput dari sejarah.
Sejarah hanya mencatat kapal negara yang karam, bukan karang-karang kecil yang membuatnya karam.
Perang yang Sesungguhnya: Makna, Nama Baik, dan Kritik atas Hegemoni
Bagian paling penting dari buku ini, sekaligus yang paling sering disalahpahami, ada di sini. Bagi Scott, pertarungan kelas bukan semata soal beras, tanah, dan upah.
Ada medan perang lain yang sama sengitnya, yaitu perebutan makna.
“It is also a struggle over the appropriation of symbols, a struggle over how the past and present shall be understood and labeled, a struggle to identify causes and assess blame.” (Scott, 1985, p. xvii)
Apa maksudnya? Di Sedaka, petani kaya tidak cukup hanya berhenti memberi sedekah. Mereka juga butuh pembenaran.
Maka muncullah wacana bahwa si miskin itu malas, tidak tahu berterima kasih, dan tidak lagi pantas dibantu. Cerita ini membuat penarikan bantuan terasa wajar, bahkan adil.
Di titik inilah Scott melontarkan argumen teoretisnya yang paling berani. Ia menolak gagasan populer tentang “hegemoni” dan “kesadaran palsu” (false consciousness).
Menurut teori itu, kaum miskin menerima nasibnya karena pikirannya sudah dibentuk oleh ideologi penguasa sampai menganggap ketimpangan sebagai sesuatu yang wajar.
Scott membantah keras. Berdasarkan pengamatannya, kaum miskin Sedaka sama sekali tidak tertipu.
Mereka tahu persis bahwa mereka diperas. Mereka punya analisis yang tajam tentang siapa yang serakah dan siapa yang curang.
Yang tidak mereka miliki hanyalah ruang aman untuk menyatakannya secara terbuka (Scott, 1985, pp. 304–317).
Maka perlawanan mereka pindah ke “panggung belakang” (backstage): gosip, fitnah, julukan menghina, dan pembunuhan karakter terhadap si kaya.
Namun Scott jujur mengakui bahwa pertarungan simbolik ini timpang.
“The rich, while they may be relatively immune to material sanctions, cannot escape symbolic sanctions: slander, gossip, character assassination. But even on this small terrain, the contest is an unequal one.” (Scott, 1985, p. 25)
Si kaya memang bisa digunjingkan. Tetapi mereka kebal, karena tidak lagi membutuhkan nama baik di mata orang miskin. Gunjingan itu bahkan tak pernah sampai ke telinga mereka.
Sumbangan dan Titik Lemah Buku Ini
Lalu, apa nilai buku ini, dan di mana batasnya? Sebuah resensi yang jujur harus menimbang keduanya.
Dari sisi sumbangan, ada tiga hal yang membuat buku ini menjadi klasik.
- Mendefinisikan ulang “perlawanan”. Scott memperluas pemahaman kita, dari pemberontakan besar menjadi tindakan-tindakan kecil yang selama ini diabaikan sejarah.
- Mengangkat dimensi simbolik. Ia menunjukkan bahwa siapa yang berhak disebut “terhormat” dan siapa yang “hina” adalah taruhan politik yang nyata.
- Menolak meromantisasi. Scott tidak menjadikan kaum miskin sebagai pahlawan suci tanpa cela.
Namun buku ini juga punya titik lemah yang banyak dikritik.
Kritik utamanya: konsep “perlawanan” menjadi terlalu lentur.
“It would be a grave mistake, as it is with peasant rebellions, to overly romanticize the ‘weapons of the weak.’” (Scott, 1985, p. 29)
Jika mencuri, mengulur kerja, dan menggerutu semuanya disebut perlawanan, lalu di mana batas antara melawan dan sekadar bertahan hidup atau mencari untung pribadi?
Pertanyaan ini penting, dan justru ketegangan inilah yang akan kita bawa ke kasus berikutnya.
Cermin Kecil: Membaca Tukang Parkir Liar Lewat Scott
Sekarang kita kembali ke linimasa, dengan alat berpikir yang sudah lengkap.

Infografis ini menerapkan pisau analisis James C. Scott pada fenomena sosial urban di Indonesia, khususnya gesekan seputar tukang parkir liar. Isinya mengkritik keras kelas menengah (“kaum nyaman”) yang memakai stigma “parasit/malas” untuk menutupi ketimpangan struktural. Hal ini memicu konflik samping-samping (horizontal) sesama orang kecil di lapangan dan meloloskan kritik vertikal terhadap negara, menghidupkan kembali corak anti-politics machine dan mitos kolonial masa lalu.
Stigma sebagai Senjata, tetapi Senjata Kaum Nyaman
Ingat wacana “si miskin yang malas” di Sedaka? Wacana itu hidup kembali hari ini, dalam bentuk cemoohan terhadap tukang parkir liar dan pak ogah.
Para pencemooh di media sosial sedang memainkan peran yang persis sama dengan petani kaya di Sedaka. Mereka memproduksi cerita yang membenarkan ketidakpedulian.
Logikanya identik: mengubah masalah struktural, yaitu tidak adanya lapangan kerja layak dan tidak adanya investasi negara pada keterampilan mereka, menjadi cerita tentang watak pribadi yang buruk.
Di sini judul Scott justru terbalik. Stigma memang sebuah senjata, tetapi ini bukan senjata kaum lemah. Ini senjata kaum yang nyaman.
Konflik Samping-Samping: Dua Korban yang Diadu
Tentu kita harus jujur. Pungli punya korban nyata, dan korbannya sering kali justru sesama orang kecil: pengendara motor, pedagang, warga biasa. Gesekan ini tidak boleh ditutup-tutupi.
Tetapi perhatikan apa yang sedang terjadi. Pengendara melawan tukang parkir, padahal keduanya sama-sama korban dari ketimpangan yang sama, justru diadu satu sama lain.
Konflik vertikal terhadap akar masalahnya lenyap dari pandangan. Yang tersisa hanya konflik samping-samping, antara sesama korban.
Stigma itulah yang melakukan pengalihan ini. Dan pengalihan inilah yang paling menguntungkan struktur yang sebenarnya bermasalah.
Gema Kolonial: Kuli dan Mitos Si Pemalas
Pola ini bukan hal baru di negeri kita. Ia punya akar kolonial yang dalam.
Pada zaman Hindia Belanda, para kuli kontrak kerap dicap bodoh, pemalas, dan sulit diatur. Citra itu, seperti ditunjukkan Syed Hussein Alatas dalam The Myth of the Lazy Native (1977), bukanlah fakta, melainkan konstruksi ideologis.
Fungsinya sama persis: menyembunyikan akar eksploitasi struktural di balik cerita tentang watak pribumi yang katanya malas (Alatas, 1977).
Kuli yang dicap pemalas dan tukang parkir liar yang dicap parasit adalah dua wajah dari mesin yang sama.
James Ferguson menyebut mesin ini sebagai anti-politics machine, yaitu alat yang menyulap persoalan politik menjadi seolah-olah persoalan teknis atau moral semata (Ferguson, 1994).
Membaca Scott Tanpa Menjadikannya Palu
Lalu, di mana letak “senjata kaum lemah” yang sejati pada tukang parkir liar? Bukan pada pungutannya.
Senjata itu ada pada kegigihan mereka menolak lenyap: bertahan menempati ruang yang ditinggalkan negara, terus hadir meski dilarang dan dihina, dan memegang narasi tandingan tentang diri sebagai orang yang sekadar mencari nafkah.
Ada satu pelajaran metodologis penting di sini, terutama bagi mahasiswa ilmu sosial. Scott adalah lensa, bukan palu.
Jika kita memakainya sebagai palu, setiap tindakan bertahan hidup akan tampak seperti perlawanan heroik, dan kita jatuh pada romantisasi yang justru diperingatkan Scott sendiri.
Tetapi jika kita memakainya sebagai lensa, kita bisa melihat hal yang lebih jujur sekaligus lebih penting: bahwa cemoohan ramai-ramai terhadap orang yang ditinggalkan bukanlah tanda keadilan, melainkan tanda bahwa kita sedang lupa pada akar masalah yang sesungguhnya.
Daftar Pustaka
Alatas, S. H. (1977). The myth of the lazy native: A study of the image of the Malays, Filipinos and Javanese from the 16th to the 20th century and its function in the ideology of colonial capitalism. Frank Cass.
Ferguson, J. (1994). The anti-politics machine: Development, depoliticization, and bureaucratic power in Lesotho. University of Minnesota Press.
Scott, J. C. (1985). Weapons of the weak: Everyday forms of peasant resistance. Yale University Press.


Komentar
maksdnya tukang parkir sebgai simbol perlawanan bagaiamana?apa maksudnya dibiarin aja pungli gtu?
Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk membaca artikel di website saya serta memberikan pertanyaan dan komentar yang sangat kritis ini.
Maksud dari istilah “simbol perlawanan” di sini sebenarnya bukan berarti mereka melakukan aksi demo besar atau pemberontakan fisik. Dalam ilmu sosial, istilah ini digunakan untuk menggambarkan bagaimana masyarakat kelas bawah berusaha keras untuk bertahan hidup saat sistem ekonomi tidak menyediakan lapangan kerja yang cukup buat mereka. Karena tidak mau pasrah dengan nasib dan kemiskinan, mereka akhirnya memutar otak dan menciptakan “lowongan kerja” sendiri di jalanan. Jadi, perlawanan yang dimaksud adalah cara diam-diam mereka untuk menolak menyerah pada keadaan ekonomi yang sulit.
Tentu saja hal ini bukan berarti pungli harus dibiarkan begitu saja. Menjelaskan alasan di balik sebuah fenomena sosial sama sekali tidak sama dengan mendukung atau membenarkan tindakan tersebut. Pungli tetaplah hal yang salah secara aturan dan mengganggu kenyamanan kita bersama di ruang publik. Namun, kalau solusinya hanya sekadar menangkap atau mengusir mereka, masalah tidak akan selesai karena besoknya mereka pasti kembali lagi demi urusan perut yang tidak bisa ditunda. Melalui penjelasan ini, kita diajak melihat akar masalahnya secara lebih luas supaya solusinya bisa lebih tepat sasaran, seperti penyediaan lapangan kerja yang layak oleh pemerintah, bukan cuma penertiban sementara di lapangan.