Ringkasan Artikel
Selama Tanam Paksa (1830-1870), petani Jawa yang justru dipuji rajin oleh laporan kolonial melawan diam-diam lewat pangan dan data: bersandar pada jagung di tegalan, menyembunyikan umbi, dan lewat kepala desa mengaburkan laporan sampai pemerintah memperketat aturan pada 1869. Perlawanan tak kasatmata semacam ini, sejenis gerilya kuliner dan gerilya data, oleh James C. Scott disebut infrapolitik.
Siasat di Balik Wajah Patuh: Gerilya Pangan Petani Jawa
Pada akhir 1840-an, seorang pengawas perkebunan (opziener) yang berkeliling Demak bisa pulang dengan laporan rapi: hamparan tebu tumbuh teratur, kewajiban tanam terpenuhi.
Namun di balik keteraturan itu, desa-desa sedang sekarat.
Antara 1848 dan 1850, kelaparan melanda Demak dan Grobogan. Catatan resmi menyebut penduduk Demak susut dari sekitar 336.000 menjadi 120.000, dan Grobogan dari 89.500 menjadi hanya 9.000.[1]
Kisah yang biasa kita dengar berhenti di sini: petani sebagai korban yang pasrah. Anehnya, laporan kolonial justru kerap memuji mereka sebagai petani yang rajin.
Di antara dua wajah itu, korban dan teladan, tersembunyi cerita ketiga: bagaimana mereka melawan. Bukan dengan bambu runcing, melainkan dengan jagung, umbi, dan diam.

Ilustrasi wajah patuh penuh siasat: Petani tebu Jawa di bawah cengkeraman sistem eksploitasi Cultuurstelsel.
Kelaparan yang Bukan Sekadar Bencana Alam
Cultuurstelsel, atau Tanam Paksa, diberlakukan Gubernur Jenderal Van den Bosch pada 1830 untuk mengisi kas Belanda yang bobol setelah Perang Jawa.
Hasilnya luar biasa bagi penjajah. Keuntungan kolonial, batig slot, mengalir deras ke Eropa dan memuncak pada 1850-an.[2]
Versi populer menyalahkan satu hal: sawah padi diganti tebu, lalu rakyat kelaparan. Sejarawan melihatnya lebih berlapis.
Studi A. Supriyono tentang krisis subsistensi di Karesidenan Semarang menunjukkan sebab yang bertumpuk: gagal panen padi akibat serangan hama tikus, tekanan kerja dan pajak yang menggerus subsistensi, penipuan oleh pejabat pribumi, serta hilangnya daya beli rakyat.[3]
Yang terakhir itu penting. W.R. Hugenholtz menyebut bencana semacam ini pada dasarnya “kelaparan harga”: bukan karena pangan lenyap, melainkan karena rakyat tak punya uang untuk membelinya.[4]
Studi demografi mutakhir bahkan menemukan bahwa beban kerja paksa sistem ini sendiri menaikkan angka kematian lewat kekurangan gizi dan penyakit, begitu besar sampai penghapusannya diperkirakan menurunkan kematian rata-rata di Jawa.[5]
Singkatnya, krisis pangan adalah produk kebijakan, bukan takdir, dan ia berulang sepanjang abad ke-19.[6]
Senjata di Balik Dapur
Jika sistem ini begitu mematikan, bagaimana desa-desa tetap bertahan? Jawabannya ada di tanah dan di dapur.
Pikirkan sebuah pekarangan. Di halaman depan, tebu tumbuh rapi memenuhi kewajiban kepada negara.
Di belakang, jagung dan umbi tumbuh untuk perut keluarga, jauh dari hitungan pengawas.
Dari sanalah pertahanan dilancarkan, lewat siasat yang tampak sederhana:
- Bersandar pada djagong (jagung) dan palawija (tweede gewassen) di tegalan, yang jauh lebih tahan kekeringan daripada padi sawah. Di lahan kering, justru jagunglah yang menambal kegagalan panen padi.
- Menanam umbi yang tidak mencolok, seperti talas, gadung, ganyong, dan ubi, di lahan pinggir yang sulit diawasi.
- Membiarkan sebagian umbi tertanam di tanah sebagai lumbung hidup, luput dari mata pajak.
- Menyimpan cadangan di lumbung desa, dan kabur meninggalkan desa (desersi) ketika tekanan memuncak.
- Memperlambat kerja, dan lewat kepala desa, mengaburkan angka dalam laporan.
Landrente, pajak tanah warisan Inggris, mengukur produktivitas sawah. Jagung dan umbi di tegalan yang tak tercatat pun sebagian berada di luar jangkauan pandang kolonial.[7]
Antropolog James C. Scott menyebut tindakan semacam ini “senjata kaum lemah”, perlawanan tanpa manifesto yang ia namai infrapolitik.[8]
Di Balik Citra Petani Rajin
Di sinilah ironinya. Pemerintah kolonial tidak mencap petani Jawa sebagai pemalas. Dalam laporan resmi, mereka justru kerap dicatat sebagai pekerja yang rajin dan tekun.[9]
Cap “malas” (luiheid) memang ada, tapi ditimpakan ke tempat lain.
Koloniaal Verslag 1870 menyebut kemalasan dan keangkuhan sebagai watak utama penduduk Banda di Maluku, bukan petani Jawa.[10]
Lalu di mana perlawanannya? Justru di balik wajah patuh itu. Kepatuhan dan kerajinan menjadi tabir bagi siasat sehari-hari.
Buktinya hitam-putih di arsip. Pemerintah kolonial mengeluh bahwa data kependudukan dari kepala desa selama ini diberikan “tanpa pedoman apa pun dan di luar kontrol yang memadai”.
Akibatnya, pada 1869 mereka memberlakukan dessaregister dan menghapus laporan statistik lisan kepala desa.[11]
Apakah ini perlawanan sadar atau sekadar kekalutan dan korupsi pejabat desa, itu soal tafsir.
Tetapi dengan kacamata Scott, mengaburkan data adalah salah satu senjata paling ampuh kaum yang diawasi: yang tak terbaca negara, sulit dikuasai negara.
Syed Hussein Alatas kelak menamai citra “pribumi malas” sebagai mitos yang dibangun kolonialisme untuk melegitimasi eksploitasi.
Di Jawa, mekanismenya justru terbalik: bukan dicap malas, melainkan dipuji rajin, lalu diperah lebih dalam.[12]
Warisan di Meja Kita
Perang sunyi ini meninggalkan warisan yang masih kita kunyah hari ini.
Di lahan kering, jagung menjadi tulang punggung. Nasi jagung dan grontol adalah anak kandung dari ketergantungan pada palawija ketika padi tak bisa diandalkan.
Singkong datang belakangan. Ia baru meluas di Jawa setelah sekitar 1870 dan menjadi pangan darurat utama pada awal abad ke-20, melahirkan gaplek, tiwul, gathot, dan getuk.[13]
Kita sering mengenang jajanan umbi itu sebagai makanan kampung atau bahan nostalgia. Padahal ia lahir dari daya tahan, bukan dari kemewahan rasa.
Berbeda dari kisah populer tentang manisnya masakan Jawa yang berakar pada gula tebu, jejak jagung dan umbi ini bercerita tentang sisi lain: bagaimana rakyat memberi makan dirinya sendiri ketika sistem gagal.
Sejarah dari Bawah
Membaca sejarah dari bawah mengubah siapa tokoh utamanya.
Petani Cultuurstelsel bukan sekadar angka kematian dalam laporan, dan bukan pula “pribumi rajin” yang pasrah pada takdir.
Di balik wajah patuh, ada pertahanan yang sabar dan cerdik, dilancarkan dengan cangkul, jagung, dan diam.
Pola ini tidak berhenti di abad ke-19. Logika menundukkan rakyat demi komoditas, kata sejumlah pengkaji, berlanjut dalam bentuk-bentuk baru jauh setelah Tanam Paksa usai.[14]
Maka sepiring nasi jagung dan sepotong tiwul menyimpan ingatan, tentang sebuah perlawanan yang nyaris tak terdengar, tetapi tak pernah benar-benar diam.
Catatan Kaki
- Angka penyusutan populasi Demak dan Grobogan (1848–1850) merujuk langsung pada Sejarah Nasional Indonesia Jilid IV (Edisi Pembaruan/Revisi), halaman 365. Catatan verifikasi historiografis: Keandalan data kolonial yang masif ini masih diperdebatkan oleh para sejarawan karena bias pencatatan yang mencampuradukkan angka mortalitas riil akibat kelaparan dengan gelombang desersi atau migrasi massal penduduk keluar wilayah. ↑
- Pim de Zwart, Daniel Gallardo-Albarrán, dan Auke Rijpma, “The Demographic Effects of Colonialism: Forced Labor and Mortality in Java, 1834-1879,” The Journal of Economic History 82, no. 1 (2022). Lihat juga Pim de Zwart dan Jan Luiten van Zanden, “Labor, Wages, and Living Standards in Java, 1680-1914,” European Review of Economic History 19 (2015): 215-34. ↑
- A. Supriyono, “Krisis subsistensi di Karesidenan Semarang: Kasus kelaparan di Afdeling Demak dan Grobogan tahun 1849/50” (Tesis, Fakultas Sastra Universitas Indonesia, 1987). Dalam studi ini, Supriyono membedah faktor krisis yang bertumpuk, termasuk gagal panen padi akibat serangan hama tikus dan penipuan oleh pejabat pribumi. ↑
- W.R. Hugenholtz, “Famine and Food Supply in Java 1830-1914,” dalam Two Colonial Empires: Comparative Essays on the History of India and Indonesia in the Nineteenth Century, ed. C.A. Bayly dan D.H.A. Kolff (Dordrecht: Martinus Nijhoff, 1986), hlm. 155-188. ↑
- de Zwart, Gallardo-Albarran, dan Rijpma, “The Demographic Effects of Colonialism.” Estimasi mereka: tanpa penghapusan sistem, kematian rata-rata di Jawa diperkirakan 10-30% lebih tinggi pada akhir 1870-an. ↑
- Peter Boomgaard, “From Subsistence Crises to Business Cycle Depressions, Indonesia 1800-1940,” Itinerario 26, no. 3-4 (2002): 35-49. ↑
- Koloniaal Verslag 1869 dan 1870 (sumber primer) berulang kali mencatat djagong (jagung) dan tweede gewassen sebagai penopang pangan lahan kering (tegalvelden) yang menambal kegagalan panen padi. Landrente sendiri dihitung atas produktivitas sawah, bukan sensus per-tanaman. ↑
- James C. Scott, Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (New Haven: Yale University Press, 1985); dan Domination and the Arts of Resistance: Hidden Transcripts (New Haven: Yale University Press, 1990). Dipakai sebagai pisau analisis modern atas data kolonial abad ke-19. ↑
- Koloniaal Verslag tahun 1868–1869 mencatat penduduk dan petani di beberapa wilayah Jawa dengan predikat positif; penduduk pedalaman Pekalongan dilaporkan lebih rajin (ijveriger) dibandingkan penduduk pesisir, sementara masyarakat di Krawang digambarkan sangat tekun (vlijtig) dalam membuka serta mengolah lahan hutan dan tegalan. Lihat Koloniaal Verslag, Zitting 1868–1869, No. 3: Bijzonderheden Betreffende Nederlandsch Indië, Bab C (Mededeelingen van staatkundigen en algemeenen aard), § 2. Java en Madura, hlm. 3. ↑
- Koloniaal Verslag van 1870 (sumber primer): “Luiheid en hooghartigheid zijn de voornaamste karaktertrekken der Bandasche bevolking.” Cap watak “malas” di sini ditujukan ke penduduk Banda di Maluku, bukan ke petani Jawa. ↑
- Koloniaal Verslag van 1870 (ditandatangani Menteri Jajahan E. de Waal) mengeluhkan bahwa data kependudukan dari kepala desa selama ini diberikan “zonder eenigen leiddraad en buiten afdoende contrôle”, lalu laporan itu dihapus dan digantikan dessaregister (1869). Di Pekalongan, kepala desa tercatat korup dan berkolusi demi keuntungan pribadi. Membaca manipulasi ini sebagai resistensi sadar (infrapolitik Scott) adalah tafsir, bukan klaim motif yang pasti. ↑
- Syed Hussein Alatas, The Myth of the Lazy Native (London: Frank Cass, 1977), sebagai pisau analisis modern. ↑
- Kronologi penyebaran singkong memerlukan sumber khusus: karya Pierre van der Eng tentang sejarah pangan/singkong di Indonesia (1998 atau 2000). [Referensi perlu ditambahkan Ardi]. Penanggalan kelaparan 1849-50 dan 1900-02 mengikuti Pierre van der Eng, “Market Responses to Climate Stress: Rice in Java in the 1930s,” Australian Economic History Review 50, no. 1 (2010): 62-79. ↑
- Mark Stevenson Curry, “Enabling Conditions for Structures of Domination: Java’s Colonial Era ‘Cultivation System’ and Indonesia’s Palm Oil Plantation System in Comparative Analysis,” Asian International Studies Review 17, no. 2 (2016): 55-77. ↑



Komentar