Ringkasan Artikel
Pemerintah kolonial Hindia Belanda secara resmi memandang dukun beranak sebagai takhayul yang harus diganti. Namun di ruang praktik, dokter Eropa seperti C.H. Stratz justru mengakui keunggulan teknik mereka, dan bahkan para pengkritik kebijakan menempatkan dukun biasa di atas bidan setengah terlatih. Inilah kisah pengetahuan pribumi yang dipungut sembari pemiliknya direndahkan.
Ilmu yang Dipungut, Tangan yang Direndahkan
Di sebuah kamar bersalin di Surabaya pada akhir 1880-an, seorang dukun meletakkan kedua tangannya di perut seorang perempuan hamil.
Hanya dengan rabaan dari luar, ia menyebut posisi janin dengan tepat, tanpa satu kali pun pemeriksaan dalam.
Yang menyaksikan adegan itu adalah seorang ginekolog terlatih dari Eropa, dan ia tahu dirinya belum tentu sanggup melakukan hal yang sama.
Dokter itu bernama C.H. Stratz, yang berpraktik di Surabaya dan Batavia antara 1887 dan 1893.[1]
Ia datang membawa seluruh perangkat ilmu kedokteran Eropa. Tetapi yang ia catat dalam bukunya, Die Frauen auf Java (1897), bukan kisah seorang ahli yang mengajari pribumi, melainkan kisah seorang ahli yang terpaksa mengakui ada banyak hal yang sudah lama dikuasai para dukun.
Untuk memahami mengapa pengakuan itu begitu janggal pada zamannya, kita perlu melihat dulu bagaimana negara kolonial memandang dukun di atas kertas.

Ilustrasi rekonstruksi visual praktik rabaan luar perut oleh dukun beranak di Jawa akhir abad ke-19, metode tradisional tanpa pemeriksaan dalam yang sempat membuat takjub ginekolog Eropa.
Di Atas Kertas, Dukun Hanyalah Takhayul
Pada 1902, sebuah jurnal kebidanan Belanda, Tijdschrift voor Praktische Verloskunde, memuat tulisan berseri Dr. C.N. van de Poll tentang “takhayul dan kebiasaan rakyat” seputar kehamilan, persalinan, dan masa nifas di Hindia.[2]
Bingkainya sudah terbaca dari judulnya sendiri: praktik pribumi ditempatkan sebagai kepercayaan irasional yang perlu diluruskan oleh ilmu.
Pandangan semacam itu sejalan dengan kebijakan resmi. Pemerintah kolonial sudah lama berusaha menggeser dukun lewat jalur pendidikan.
Sekolah bidan yang dibuka di Batavia pada 1851 dimaksudkan meluluskan bidan pribumi sebagai pengganti dukun, meski akhirnya ditutup melalui keputusan Gubernur Jenderal pada 1875 setelah hanya menghasilkan sekitar seratus bidan.[3]
Di atas kertas, arah anginnya satu: dukun adalah masa lalu yang harus digantikan tenaga terlatih ala Eropa. Persoalannya, kertas dan lapangan tidak selalu bercerita hal yang sama.
Tetapi di Lapangan, Ceritanya Lain
Tangan yang lebih peka dari instrumen
Stratz justru menyebut para dukun dengan istilah hormat, “perempuan bijak”, dan menempatkan mereka di atas rata-rata bidan Eropa pada zamannya:
“die meisten unter ihnen stehen auf einer höheren Stufe als der Durchschnitt unserer Hebammen.” Terjemahan: Sebagian besar dari mereka berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada rata-rata bidan kita [Eropa].
Kebanyakan dari mereka berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada rata-rata bidan kita.[4]
Kekagumannya bukan basa-basi. Tanpa alat dan tanpa pemeriksaan dalam, para dukun mampu menentukan posisi janin hanya lewat rabaan luar.
Rekan sejawat Stratz, dokter Van der Burg, bahkan mencatat bahwa para tukang pijat itu kerap merasakan kelainan yang luput dari tangan dokter.[5]
Yang paling jarang ditulis dokter kolonial adalah kalimat berikutnya. Stratz mengakui terus terang bahwa ia berutang ilmu kepada para dukun:
“Gerne gestehe ich auch ein, dass ich in dieser Beziehung manches von den bräunlichen Colleginnen gelernt habe.” Terjemahan: Dengan senang hati saya akui juga, bahwa dalam hal ini saya telah belajar banyak hal dari para kolega perempuan berkulit kecokelatan itu.
Dengan senang hati saya akui bahwa dalam hal ini saya pun belajar banyak dari para kolega berkulit kecokelatan itu.[6]
Perhatikan pilihan katanya. Stratz tidak menyebut mereka “pasien” atau “objek”, melainkan Colleginnen, kolega perempuan.
Sebuah pengakuan kesetaraan profesional yang ganjil di tengah hierarki kolonial yang menempatkan pribumi di bawah.
Bahkan Para Pengkritik Mengakuinya
Pengakuan diam-diam itu ternyata tidak hanya milik Stratz. Pada 5 Februari 1910, harian De Preanger-Bode memuat perdebatan tentang bantuan persalinan bagi pribumi.
Dr. C. Winkler mengkritik usulan Dr. H.B. van Buuren yang ingin melatih perempuan pribumi menjadi bidan lewat kursus singkat.[7]
Argumen Winkler menarik justru karena ia sedang menentang. Menurutnya, bidan pribumi dengan “pengetahuan setengah” hasil pelatihan kilat justru jauh lebih berbahaya bagi keselamatan ibu melahirkan dibandingkan dukun beranak biasa, de gewone doekoens beranak.[8]
Dengan kata lain, seorang dokter yang skeptis pun menempatkan dukun yang berpengalaman di atas bidan yang setengah jadi.
Bahkan negara sendiri sempat berpikir ke arah yang sama. Pada 3 Oktober 1902, harian Sumatra-Bode memberitakan pembentukan komisi pemerintah untuk mengkaji kebutuhan bantuan persalinan pribumi.
Salah satu butir yang harus dijawab komisi adalah apakah pelatihan kebidanan sebaiknya lebih dulu diprioritaskan bagi para dukun beranak yang sudah ada.[9]
Artinya, di balik retorika penggantian, ada kesadaran pragmatis bahwa dukun bukan sekadar penghalang, melainkan modal pengetahuan yang justru ingin dimanfaatkan.
Pola yang Lebih Besar
Kejanggalan ini sebenarnya bagian dari pola yang lebih luas.
Menurut sejarawan Hans Pols dalam artikelnya “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation” (2009), para dokter dan botanis Eropa justru menaruh minat besar pada pengobatan pribumi seperti jamu, dan untuk memahaminya mereka bergantung pada perantara lokal.[10]
Pengetahuan pribumi terus mengalir masuk ke dalam ilmu kedokteran kolonial, hanya saja jalurnya jarang diakui terbuka. Di sinilah letak kemunafikannya.
Menurut kajian Widya Fitria Ningsih dan koleganya dalam artikel “Indigenous Healing and the Making of Medical Knowledge in Colonial Java” (2025), dukun diposisikan sekaligus sebagai sumber data empiris yang berguna dan sebagai objek wacana yang direndahkan.[11]
Tubuh pengetahuannya dipanen, tetapi sosok dan otoritasnya dihapus.
Stratz, dengan kejujuran yang tidak biasa, tanpa sengaja memperlihatkan mekanisme itu bekerja.
Ia menulis hitam di atas putih apa yang banyak koleganya lakukan diam-diam: memungut ilmu dari tangan yang secara resmi mereka anggap rendah.
Sejarah yang Berutang
Catatan Stratz membalik satu anggapan yang masih sering kita warisi, bahwa kedokteran modern datang ke Nusantara sebagai pemberi yang murni, mengganti takhayul dengan ilmu.
Sebagian dari ilmu itu, nyatanya, dipungut dari pengetahuan yang sudah hidup di tangan perempuan-perempuan Jawa.
Para dukun beranak menguasai pembacaan posisi janin lewat rabaan, teknik pijat, dan penanganan persalinan jauh sebelum sekolah bidan kolonial berdiri.
Pengetahuan itu nyata, terukur, dan diakui, bahkan oleh mereka yang berkepentingan merendahkannya.
Yang hilang dari ingatan kita bukan hanya nama para dukun itu, melainkan fakta bahwa kedokteran di negeri ini, sejak awal, berutang kepada mereka.
Catatan Kaki
- C.H. Stratz, Die Frauen auf Java: Eine gynäkologische Studie (Stuttgart: Ferdinand Enke, 1897), Vorwort, 50, 74. ↑
- C.N. van de Poll, “Het een en ander omtrent bijgeloof, volksgewoonten enz., bij zwangerschap, baring en in het kraambed,” Tijdschrift voor Praktische Verloskunde 6, no. 14 (15 November 1902). ↑
- Liesbeth Hesselink, Healers on the Colonial Market: Native Doctors and Midwives in the Dutch East Indies (Leiden: KITLV Press, 2011), 158–159. ↑
- Stratz, Die Frauen auf Java, 29. ↑
- C.L. van der Burg, De geneesheer in Nederlandsch-Indië, deel I, 249, dikutip dalam Stratz, Die Frauen auf Java, 29. ↑
- Stratz, Die Frauen auf Java, 30. ↑
- “Verloskundige hulp,” De Preanger-Bode, edisi pagi, 5 Februari 1910. ↑
- Ibid. ↑
- “Inlandsche vroedvrouwen,” Sumatra-Bode, 3 Oktober 1902. ↑
- Hans Pols, “European Physicians and Botanists, Indigenous Herbal Medicine in the Dutch East Indies, and Colonial Networks of Mediation,” East Asian Science, Technology and Society: An International Journal 3 (2009): 173–208. ↑
- Widya Fitria Ningsih, Gregorius Andika Ariwibowo, Hary Ganjar Budiman, dan Indra Fibiona, “Indigenous Healing and the Making of Medical Knowledge in Colonial Java,” Medicina Historica 9, no. 3 (2025): 17995. ↑



Komentar