Lukisan cat air seorang perempuan Jawa abad ke-19 mengenakan kebaya panjang gelap, kain batik, dan selendang putih bercorak, berdiri di jalan setapak berlatar belakang pegunungan (ardiholmes.id)

Ankat Prut, Cara Perempuan Jawa Mengatur Kelahiran Sebelum Era Pil KB

Sejarah

Ringkasan Artikel

Jauh sebelum program Keluarga Berencana, perempuan Jawa sudah punya cara sendiri mengatur kesuburan lewat tangan para dukun. Teknik itu disebut Ankat prut, dan rahasianya dibongkar oleh seorang ginekolog Belanda, C.H. Stratz, yang justru diam-diam mengagumi keahlian para dukun. Inilah kisah pengetahuan reproduksi perempuan yang nyaris hilang dari sejarah.


Ankat Prut: KB Tradisional Dukun Jawa yang Dibongkar Dokter Belanda

Seorang perempuan dengan rumah penuh anak tiba-tiba berhenti mengandung. Tidak ada obat yang diminum, tidak ada jamu yang terlihat.

Yang ada hanya satu kunjungan ke dukun setelah ia melahirkan anak terakhirnya.

Pemandangan semacam ini membuat penasaran seorang dokter Belanda yang bertugas di Surabaya dan Batavia antara 1887 dan 1893.[1]

Namanya C.H. Stratz, ginekolog terlatih dari Eropa. Bertahun-tahun ia mendengar cerita bahwa para dukun mampu menyalakan dan mematikan kesuburan perempuan sesuka hati.

Pegadaian Kolonial: Ketika Negara Menjadikan Kemiskinan Zona Gula sebagai Bisnis

Ia tidak langsung percaya, tetapi juga tidak bisa mengabaikannya.

Foto berwarna (diedit) era kolonial menampilkan dua bidan bergaun putih bersih berjalan di gang sempit perkampungan rumah bambu Batavia yang dipenuhi warga lokal dan anak-anak (ardiholmes.id)

Seorang bidan kolonial bersertifikat dan muridnya berjalan menyusuri gang kampong di Batavia usai memberikan bantuan persalinan. Gaun putih bersih mereka yang mencolok mencerminkan jarak kultural yang kontras dengan ruang hidup masyarakat bawah, menjadi salah satu alasan mengapa perempuan Jawa di masa itu tetap lebih memilih kehangatan dan keakraban dukun bayi daripada bidan didikan Eropa. (Dokumentasi sejarah ini diambil dari koleksi Tropenmuseum, Wikimedia Commons).

Rahasia Terbuka di Tangan “Perempuan Bijak”

Ketika Stratz tiba, dunia persalinan di Jawa hampir sepenuhnya milik dukun.

Menurut sejarawan Liesbeth Hesselink dalam bukunya Healers on the Colonial Market (2011), sekolah bidan yang dibuka pemerintah kolonial di Batavia pada 1851 akhirnya ditutup melalui keputusan Gubernur Jenderal pada 1875, setelah hanya meluluskan sekitar seratus bidan.[2]

Stratz sendiri menegaskan kekosongan itu pada masanya.“Eine Hebammenschule existirt in Java nicht”, tulisnya, sekolah bidan tidak ada di Jawa.[3] Karena itu ia sampai melatih sendiri empat calon bidan di rumah sakit militer.

Di tengah kekosongan itu, dukun, yang oleh Stratz disebut “perempuan bijak”, menangani kelahiran perempuan Jawa, perempuan campuran, bahkan banyak nyonya Eropa.

Sejarah VOC: Startup Pertama di Dunia dan Warisan Korporasi Modern

Yang membuat catatan Stratz tidak biasa adalah sikapnya. Berbeda dari kebanyakan dokter kolonial yang memandang rendah dukun, ia justru mengakui keunggulan mereka:

“die meisten unter ihnen stehen auf einer höheren Stufe als der Durchschnitt unserer Hebammen.” Terjemahan: Sebagian besar dari mereka berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada rata-rata bidan kita.

Kebanyakan dari mereka berada pada tingkat yang lebih tinggi daripada rata-rata bidan kita.[4]

Kekagumannya berdasar. Tanpa pemeriksaan dalam, para dukun bisa menentukan posisi janin hanya lewat rabaan luar.

Rekan sejawatnya, dokter Van der Burg, bahkan menulis bahwa para tukang pijat itu kerap merasakan kelainan yang luput dari dokter.[5]

Sirkuler 1894: Perintah Rahasia soal Lurah Makelar Pabrik Gula

Membongkar Arti “Ankat Prut”

Istilah yang sengaja bermakna ganda

Rahasia para dukun terlindung oleh sebuah trik bahasa. Istilah yang mereka pakai adalah Ankat prut, yang secara harfiah berarti “mengangkat perut”.

Masalahnya, istilah yang sama dipakai untuk dua hal yang sangat berbeda. Ankat prut bisa berarti pijatan ringan dan tidak berbahaya di perut ibu seusai melahirkan, sekadar merapikan tubuh agar tidak gelambir.

Namun Ankat prut juga bisa berarti manipulasi rahim tingkat lanjut yang bertujuan membuat seorang perempuan mandul.[6]

Karena namanya sama, tidak ada orang luar yang bisa memastikan mana yang dimaksud dalam suatu tindakan. Rahasia itu bersembunyi di depan mata.

Apa yang sebenarnya dilakukan tangan dukun

Stratz akhirnya membongkarnya lewat kasus klinis. Pada 1888, seorang perempuan datang kepadanya dengan gejala hebat setelah menjalani Ankat prut untuk mencegah kehamilan.

Stratz menemukan rahim perempuan itu terjepit dalam posisi terbalik, sampai air seninya tertahan.[7]

Dari kasus itu dan banyak kasus lain, ia menyimpulkan rahasianya. Tekniknya, tulis Stratz, adalah:

“künstlich durch äussere Handgriffe bewirkten Retroflexio uteri.” Terjemahan: Retrofleksi uteri (kondisi rahim yang menekuk ke belakang) yang diinduksi secara buatan melalui manipulasi/gerakan tangan dari luar.

Retrofleksi rahim yang sengaja ditimbulkan melalui manipulasi tangan dari luar.[8]

Dengan kata lain, dengan tekanan dan pijatan dari luar, dukun sengaja membuat rahim terbalik ke belakang.

Posisi itulah yang membuat perempuan sulit hamil. Waktu paling manjur untuk melakukannya, menurut pengakuan para perempuan, adalah hari-hari pertama setelah melahirkan atau keguguran.

Itulah yang menimpa si ibu beranak banyak. Sang dukun, mengira ia tak ingin anak lagi, melakukan Ankat prut dalam arti yang sebenarnya. Si ibu baru menyadari dirinya mandul bertahun-tahun kemudian.[9]

Benarkah Manjur?

Di sinilah Stratz bersikap jujur sebagai dokter. Metode ini, simpulnya, hanya berhasil pada sekitar separuh kasus, tidak selalu mencegah kehamilan meski dianggap berhasil, dan kerap mengancam nyawa, terutama bila dilakukan tepat setelah persalinan.[10]

Angka itu pun ia tarik dari pengamatan terhadap kelompok pasiennya sendiri di Surabaya, bukan dari seluruh perempuan Jawa.[11]

Seorang dukun ternama yang lama ia dekati akhirnya bersedia memperagakan tekniknya. Ia berhasil membalik dan mengembalikan rahim seorang pasien dengan mudah.

Tetapi ketika Stratz membuat posisinya sedikit lebih sulit, sang dukun tak lagi mampu mengembalikannya.

Dukun itu mengakui sendiri bahwa pengembalian kesuburan sering gagal, dan perempuan tetap bisa hamil bila mereka percaya, sebuah pengakuan tentang peran sugesti.[12]

Selain manipulasi rahim, dukun juga punya jalur lain. Untuk memancing keguguran, mereka memakai pijat berkepanjangan, ramuan pencahar yang keras, sampai dosis besar kina.[13]

Pijatan mereka sendiri berpadu dari dua gerak, urut (menggosok) dan pidjet (meremas).

Sejarah yang Sengaja Dilupakan

Cerita ini bukan sekadar soal teknik medis kuno. Ini potret perempuan yang, di zaman tanpa pil dan tanpa klinik, berusaha mengendalikan tubuh dan kesuburannya sendiri lewat pengetahuan yang diwariskan turun-temurun.

Pengetahuan itu nyata, meski tidak sempurna dan kadang berbahaya.

Yang menarik, seorang dokter kolonial yang datang untuk “memodernkan” justru terpaksa menanggapinya dengan serius.

Bahkan ia mengakui sesuatu yang jarang ditulis sejawatnya:

“Gerne gestehe ich auch ein, dass ich in dieser Beziehung manches von den bräunlichen Colleginnen gelernt habe.”Terjemahan: “Dengan senang hati saya akui juga bahwa dalam hal ini saya telah belajar banyak dari para kolega perempuan berkulit kecokelatan itu.

Dengan senang hati saya akui bahwa dalam hal ini saya pun belajar banyak dari para kolega berkulit kecokelatan itu.[14]

Menurut sejarawan Eka Ningtyas dalam artikelnya “Rationalization of Health in Java: A Historical Portrait of Dukun Bayi in Java to the Present” (2020), pada abad ke-20 makna kata “dukun” perlahan menyempit menjadi sekadar urusan magis.[15]

Keahlian tangan yang klinis dan terukur seperti yang dicatat Stratz pun ikut terhapus dari ingatan.

Padahal, di sanalah pernah ada sebuah ilmu yang sepenuhnya milik perempuan Jawa.

Catatan Kaki

  1. C.H. Stratz, Die Frauen auf Java: Eine gynäkologische Studie (Stuttgart: Ferdinand Enke, 1897), Vorwort, 50, 74. Rekonstruksi masa tugas dari kata pengantar dan catatan kasus.
  2. Liesbeth Hesselink, Healers on the Colonial Market: Native Doctors and Midwives in the Dutch East Indies (Leiden: KITLV Press, 2011), 158–159.
  3. Stratz, Die Frauen auf Java, 42.
  4. Stratz, Die Frauen auf Java, 29.
  5. C.L. van der Burg, De geneesheer in Nederlandsch-Indië, deel I, 249, dikutip dalam Stratz, Die Frauen auf Java, 29.
  6. Stratz, Die Frauen auf Java, 37, 44.
  7. Stratz, Die Frauen auf Java, 44.
  8. Stratz, Die Frauen auf Java, 45.
  9. Stratz, Die Frauen auf Java, 44.
  10. Stratz, Die Frauen auf Java, 46–47.
  11. Stratz, Die Frauen auf Java, 24, 46. Data dihimpun dari sekitar 1.750 subjek (1.000 perempuan dan 750 pasien klinis) di Surabaya.
  12. Stratz, Die Frauen auf Java, 46.
  13. Stratz, Die Frauen auf Java, 44, 47.
  14. Stratz, Die Frauen auf Java, 30.
  15. Eka Ningtyas, “Rationalization of Health in Java: A Historical Portrait of Dukun Bayi in Java to the Present,” Jurnal Sejarah, Vol. 3, No. 1 (2020), hlm. 17–38.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *