Potongan halaman majalah memuat artikel pendaftaran sukarelawan Irian Barat dan foto penyambutan J.A. Dimara oleh rakyat dengan spanduk di Tanjung Priok (ardiholmes.id).

Gerwani, Kontes Mangga, dan Pembebasan Irian Barat

Sejarah

Ringkasan Artikel 

Pada penghujung 1961, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) mengubah seruan merebut Irian Barat menjadi tugas keibuan. Lewat majalah Api Kartini, ajakan berperang dicetak berdampingan dengan resep masakan dan kontes mangga. Tulisan ini menelusuri bagaimana Trikora dibawa masuk ke dapur dan kamar anak perempuan Indonesia.


Trikora dari Dapur: Ketika Majalah Gerwani Menyeru Ibu-ibu Merebut Irian Barat

Pada pagi Hari Ibu, 22 Desember 1961, Istana Negara berubah menjadi lautan kebaya. Lebih dari lima belas ribu perempuan dari berbagai lapisan berdesakan di sana.

Suasananya hangat, bukan karena seremoni, melainkan karena gema sebuah komando. Tiga hari sebelumnya, di Yogyakarta, Presiden Sukarno mengumumkan Tri Komando Rakyat untuk merebut Irian Barat dari tangan Belanda.[1]

Di atas podium, Sukarno tidak berbicara soal dapur. Ia berbicara soal revolusi. Tetapi seruannya justru ditujukan kepada para ibu.

“Hai, ibu-ibu,” serunya, daftarkanlah putera-puterimu untuk dilatih dan digembleng di pusat latihan. Dan kalau tidak punya anak, daftarkanlah dirimu sendiri.

Pegadaian Kolonial: Ketika Negara Menjadikan Kemiskinan Zona Gula sebagai Bisnis

Yang lebih menarik justru tata letaknya. Di halaman majalah yang memuat seruan itu, persis di bawah teks yang menuntut pengerahan tenaga, terpampang dua foto: kontes mangga golek di Kendal yang diikuti 36 peserta dengan 216 buah mangga, dan eksposisi kursi pengantin Jawa Tengah.[2]

Perang dan perkawinan, mobilisasi dan mangga, dicetak dalam satu bidang kertas. Di situlah seluruh kisah ini memadat: sebuah operasi militer diterjemahkan menjadi urusan rumah tangga.

Dua foto berdampingan yang menampilkan perempuan di pameran kontes mangga golek di Kendal dan eksposisi kursi pengantin bergaya Jawa Tengah (ardiholmes.id).

Kolase foto yang menampilkan kegiatan domestik dan sosial perempuan pada masa itu. Gambar kiri menunjukkan suasana Kontes Mangga Golek di Kendal yang diikuti oleh 36 peserta, sementara gambar kanan menampilkan pameran eksposisi dua kursi pengantin di Jawa Tengah (source: Majalah Api Kartini).

Kongres yang mendahului perang

Adegan itu terekam di Api Kartini, majalah bulanan Gerwani, organisasi perempuan terbesar di Indonesia saat itu. Majalah ini terbit dari Matraman Raya 51 Jakarta dan berdiri dekat dengan Partai Komunis Indonesia.

Hanya beberapa hari sebelum Hari Ibu, Gerwani baru saja menutup Kongres Nasional ke-IV mereka di Gedung Wanita Jakarta, berlangsung 14 sampai 17 Desember 1961.[3]

Di kongres itu Sukarno hadir dan menyampaikan amanat berjudul Persatuan Total dengan Poros Nasakom.

Sejarah VOC: Startup Pertama di Dunia dan Warisan Korporasi Modern

Nadanya keras. Ia menolak gerakan perempuan yang sekadar menjadi Ladies’ Movement, gerakan para nDoro Den Aju, nyonya-nyonya feodal. Yang ia mau adalah gerakan massa yang revolusioner.[4]

Maka ketika Trikora turun hanya dua hari berselang, Gerwani sudah berada dalam suasana siap tempur. Majalah mereka tinggal menerjemahkan komando itu ke dalam bahasa pembacanya, yaitu para ibu rumah tangga.

Ibu sebagai mesin moral perang

Sebulan kemudian, gambaran itu makin terang.

Sejak pagi 17 Januari 1962, gedung Pengurus Besar Front Nasional di Jakarta didatangi berduyun-duyun sukarelawan.

Perempuan-perempuan Gerwani ikut memadati ruangan sepanjang hari untuk mendaftar, lalu diterima oleh sejumlah tokoh, termasuk Ibu Hurustiati Subandrio.[5]

Sirkuler 1894: Perintah Rahasia soal Lurah Makelar Pabrik Gula

Tetapi pesan yang ditekankan bukan soal taktik perang. Para ibu diminta menjadi sumber dorongan sebesar-besarnya.

Dikatakan bahwa seorang ibu bisa memberi banyak inspirasi kepada suami dan anak-anaknya agar terus maju dalam perjuangan merebut Irian Barat.

Di sini logikanya terlihat utuh. Perempuan tidak harus memanggul senapan. Tugasnya menyalakan semangat dari dalam rumah, lalu mengirim suami dan anak ke garis depan.

Emansipasi dan pengabdian rumah tangga dijalin menjadi satu. Menjadi ibu yang baik dan menjadi patriot yang baik dibuat seolah satu hal yang sama.

Foto hitam putih Dr. Ruslan Abdulgani sedang memberikan wejangan atau ceramah kepada sekumpulan perempuan yang duduk di dalam kelas (ardiholmes.id).

Dokumentasi suasana kelas Training Centre yang memperlihatkan Dr. Ruslan Abdulgani sedang berdiri memberikan ceramah atau wejangan di hadapan puluhan perempuan yang duduk menyimak di bangku kelas (source: Majalah Api Kartini).

Dari kelas latihan ke hutan Papua

Seruan itu tidak berhenti di atas kertas.

Pada Oktober 1962, Dewan Pimpinan Pusat Gerwani menggelar training centre, sebuah pusat pelatihan kader.

Pesertanya datang dari seluruh penjuru: Lombok, Medan, Manado, Lampung, Jawa, perempuan Dayak dari Kalimantan Tengah, sampai perempuan Batak Karo.

Di atas meja mereka tergeletak buku Manipol dan Resopim, dua naskah doktrin politik Sukarno, dan tokoh sekelas Roeslan Abdulgani pun turut memberi materi.

Pelatihan itu memadukan dua hal yang biasanya terpisah: pelajaran pertahanan negara dan persoalan perempuan.

Seorang peserta dari Karo bercerita betapa banyak yang baru ia pahami, dari soal kawin paksa sampai poligami.

Empat peserta lalu maju ke latihan tingkat lanjut yang diselenggarakan Front Nasional Pusat.

Majalah itu bahkan menyebut nama mereka: Rukinah dari Yogyakarta, Saniam dari Medan, Darminah dari Semarang, dan Martini dari Jakarta.[6]

Sejumlah catatan sejarah menyebut bahwa setelah pelatihan inilah empat sukarelawati Gerwani akhirnya dikirim ke Irian Barat. Perjalanan dari halaman resep ke garis depan kini lengkap.[7]

Wajah yang kemudian dihapus

Kisah ini terasa ganjil bila dibaca dari hari ini, sebab citra Gerwani yang kita warisi sangat berbeda.

Setelah peristiwa 1965, Gerwani digambarkan semata sebagai sosok bengis dalam propaganda Orde Baru.

Wajah lain mereka, yaitu ibu-ibu yang membaca resep sambil menjahit lalu mengirim anak berjuang, nyaris terhapus dari ingatan publik.[8]

Padahal Gerwani sendiri terus bergerak makin ke kiri. Dalam laporan ketuanya, Umi Sardjono, organisasi ini justru menyerukan pengintegrasian total dengan perempuan buruh tani dan tani miskin.[9]

Halaman-halaman Api Kartini tahun 1961 dan 1962 menyimpan satu momen ketika garis itu belum setajam nanti. Ketika perang dan dapur, revolusi dan resep, masih bisa duduk berdampingan di satu majalah.

Membaca ulang halaman-halaman itu sama dengan membaca ulang sebuah zaman, saat menjadi ibu dan menjadi pejuang dianggap satu tarikan napas yang sama.

Catatan Kaki

  1. Tri Komando Rakyat dikumandangkan Presiden Sukarno di Yogyakarta pada 19 Desember 1961. Lihat uraian umum Operasi Trikora pada berbagai literatur sejarah Indonesia.
  2. Api Kartini, No. 12 Th. III (Desember 1961), “22 Desember di Djakarta: Kaum Ibu Siap-Sedia”, hal. 1. Koleksi Wason, Cornell University.
  3. Peraturan Dasar Gerwani, disahkan oleh Kongres Nasional ke-IV Gerwani di Djakarta, 14–17 Desember 1961 (Djakarta: DPP Gerwani), hal. 3 & 7.
  4. Persatuan Total dengan Poros Nasakom: Amanat Presiden Sukarno pada Kongres Gerwani ke-IV di Gedung Wanita, Djakarta, 14 Desember 1961 (Djakarta: Departemen Penerangan R.I., Penerbitan Chusus 207), hal. 3–5.
  5. Api Kartini, No. 1 Th. IV (Djanuari 1962), “Pendaftaran Sukarelawan untuk Membebaskan Irian Barat”, hal. 2.
  6. Api Kartini, No. 9–10 Th. IV (September–Oktober 1962), “Sedjenak di Training Centre Gerwani”, hal. 6.
  7. Dimas Dwi Kurnia., & Miftahuddin. “Peran Gerwani dalam Tri Komando Rakyat (Trikora) 1961–1963”, Mozaik: Jurnal Ilmu-Ilmu Sosial dan Humaniora, Vol. 10, No. 2 (2020).
  8. Untuk pembentukan citra Gerwani pascaperistiwa 1965, lihat misalnya Saskia E. Wieringa, Penghancuran Gerakan Perempuan: Politik Seksual di Indonesia Pasca Kejatuhan PKI, 1999 (terjemahan), atau kajian sejenis.
  9. Umi Sardjono, “Madju Terus untuk Pengintegrasian Total Gerwani dengan Wanita Buruhtani dan Tanimiskin”, Laporan Umum Ketua DPP Gerwani kepada Sidang Pleno ke-III DPP Gerwani.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *