Toleransi Jawa yang Ditulis di Ambang Kekerasan
Buku Kecil dari Musim Panas 1965
Ada esai setebal tiga puluh dua halaman yang menyimpan salah satu klaim paling sering diulang tentang budaya Jawa, bahwa orang Jawa itu toleran.
Mythology and the Tolerance of the Javanese karya Benedict R. O’G. Anderson terbit sebagai nomor 37 dalam seri Cornell Modern Indonesia Project.
Anderson, ilmuwan politik muda yang baru kembali dari tiga tahun riset lapangan di Indonesia[1], tidak puas hanya mengulang pujian itu begitu saja.
Ia bertanya dari mana toleransi tersebut sesungguhnya berasal, dan mencarinya bukan di risalah filsafat atau kitab suci, melainkan di layar wayang kulit.

Sampul edisi Equinox Classic Indonesia Books dari Mythology and the Tolerance of the Javanese karya Benedict R. O’G. Anderson, esai yang pertama kali terbit lewat Cornell Modern Indonesia Project pada 1965.
Buku setipis ini paling berguna untuk pembaca yang ingin tahu dari mana klaim “toleransi Jawa” itu berasal secara akademis, bukan sekadar jargon promosi budaya, atau siapa pun yang penasaran bagaimana ilmu sosial Amerika membaca Jawa tepat di ambang salah satu babak paling gelap sejarah Indonesia modern.
Kata pengantar buku ini ditulis oleh George McT. Kahin, direktur proyek, bertanggal 24 Agustus 1965[2].
Pendahuluan Anderson sendiri bertanggal 7 Agustus 1965[3], dan di situ ia berulang kali merendahkan nada tulisannya sendiri, menyebutnya “eksploratif”, “sangat sementara”, dan mengaku sadar akan dangkalnya pengetahuannya sendiri soal kerumitan peradaban Jawa[4].
Dua tanggal yang, seperti akan terlihat nanti, jauh lebih penting daripada yang tampak sekilas dari kerendahan hati itu.
Argumen inti Anderson menabrak asumsi populer. Toleransi Jawa, tulisnya, bukan humanisme universal ala Barat yang menerima segala perbedaan atas nama kemanusiaan semata.
Toleransi itu lahir dari struktur sosial hierarkis yang diajarkan lewat wayang, sistem mitologi yang menurutnya masih dipegang teguh secara emosional dan intelektual oleh hampir seluruh lapisan masyarakat Jawa, dari istana sampai desa[5].
Toleransi sebagai Pluralisme Moral, Bukan Humanisme Universal
Kosmos yang Terbelah Dua
Dunia wayang menurut Anderson dibangun di atas pasangan-pasangan yang saling melengkapi, Kiri dan Kanan, Tua dan Muda, Kurawa dan Pendawa, laki-laki dan perempuan, siang dan malam[6].
Tidak ada satu kutub yang mutlak benar sendirian. Anderson mencatat detail kecil yang jenaka sekaligus tepat sasaran soal ini, saat menonton pertunjukan wayang kulit, kanan bisa jadi kiri dan kiri jadi kanan tergantung apakah penonton melihat bonekanya langsung atau bayangannya di layar[7].
Ini kontras tajam dengan kosmologi Islam dan Kristen yang menempatkan Tuhan sebagai kutub tunggal yang tidak ambigu, mewakili hanya satu sisi saja, kebaikan, terang, akal[8].
Di atas dualitas kosmis itu berdiri hierarki fungsional, raja berhubungan dengan kekuatan gaib, brahmana menjaga ritual dan meneruskan budaya, satria mengurus pemerintahan dan pertahanan, pedagang menjaga kemakmuran, tukang membangun peradaban material, dan semua saling bergantung[9].
Karena itu pula, menurut Anderson, dalam pendidikan moral lewat wayang, tidak ada hierarki di antara para pahlawan itu sendiri, Kresna tidak dianggap lebih baik daripada Arjuna, dan Bima tidak dianggap lebih baik daripada Yudistira, semua dihormati setara selama masing-masing setia pada perannya[10].
Bahkan tokoh punakawan seperti Semar, pelayan rakyat jelata yang justru menyimpan kesaktian tertinggi, dicintai sama besarnya oleh bangsawan maupun petani, model yang berbeda untuk kepribadian yang berbeda, tapi sama-sama sah.
“Ora Pantes”: Moral Menurut Fungsi, Bukan Standar Tunggal
Anderson memberi contoh yang sampai sekarang masih relevan buat siapa pun yang pernah menonton wayang.
Adipati Karna berperang di pihak Kurawa, tapi tetap dihormati karena ia hidup dan mati sebagai satria sejati.
Dalam satu lakon, saat asal-usul kesatriaan Karna belum terungkap, ia dicemooh para Pendawa karena dianggap tidak tahu diri, seorang anak kusir yang berani ikut sayembara panah.
Penonton Jawa, tulis Anderson, akan merasa terganggu bukan karena ejekan itu kejam secara umum, melainkan karena mereka tahu Karna sebenarnya seorang satria, sehingga perlakuan para Pendawa itulah yang ora pantes, tidak pada tempatnya[11].
Konsep kepantasan inilah yang menurut Anderson jadi inti etika Jawa, lebih penting daripada baik-buruk secara abstrak.
Bahkan Arjuna, saat dilanda ragu untuk membunuh saudara tirinya sendiri, Karna, di medan Bratayuda, dijawab singkat oleh Kresna bahwa satria sejati tidak boleh goyah oleh perasaan keluarga[12].
Kesetiaan pada fungsi mengalahkan kesetiaan pada hati nurani pribadi, dan justru di situlah pluralisme moral Jawa, menurut Anderson, menemukan bentuknya yang paling utuh.
Batas Toleransi: Siapa Boleh “Melebur jadi Jawa”
Di sinilah argumen Anderson paling sering disalahpahami pembaca populer. Toleransi yang ia maksud tidak pernah bersifat universal.
Ia menulis eksplisit bahwa rasa relativisme Jawa “dalam segala hal tidak boleh dipahami sebagai toleransi umum atas perbedaan tanpa memandang ras, warna kulit, atau keyakinan”[13].
Terhadap suku lain di Indonesia, orang Jawa cenderung merasa sedikit lebih unggul. Terhadap Tionghoa dan Eropa, ada prestise ambigu warisan kolonial yang masih membekas sampai pertengahan 1960-an[14].
Terhadap Islam sendiri, toleransi itu punya fungsi politik yang cukup jelas dan tegas.
Karena mayoritas orang Jawa menurutnya hanya Muslim secara nominal, toleransi terhadap kelompok non-Islam pada dasarnya adalah “senjata untuk menolak dominasi kaum santri dan mempertahankan legitimasi kekuasaan abangan yang sudah berlangsung lama”[15].
Kristen dan Buddha diterima sejauh keduanya bisa dijinakkan jadi versi yang tjotjog, selaras dengan pandangan hidup Jawa, Buddha bahkan mendapat tempat terhormat karena diasosiasikan dengan kejayaan Majapahit[16].
Sementara itu, budaya Bali, yang secara historis dan religius sebetulnya cukup dekat dengan akar Hindu-Buddha Jawa lama, justru dipandang sebelah mata sebagai kasar, rame, dan desa[17].
Anak-anak yang belum sepenuhnya menyerap nilai Jawa bahkan disebut durung Djawa, belum Jawa, bukan sekadar belum dewasa[18].
Yang tampak sebagai keluwesan spiritual, dengan kata lain, sebetulnya adalah kepercayaan diri kultural yang sangat kuat.
Segala sesuatu bisa ditoleransi, selama bisa dijelaskan atau disesuaikan dengan cara hidup Jawa.
Retakan yang Sudah Dicatat Anderson Sendiri
Wayang Jadi Propaganda Partai
Anderson sendiri sadar sistem yang ia gambarkan sedang retak. Di bagian penutup esainya, ia mendaftar sejumlah gejala kemunduran, dan yang paling tajam justru soal politik.
Partai-partai politik, tulisnya, sudah mulai memanfaatkan wayang untuk propaganda dengan menyederhanakan dualitas Kiri-Kanan yang tadinya kompleks jadi biner Baik lawan Jahat belaka, “Kami menjadi Pendawa, mereka menjadi Kurawa”[19].
Kerumitan moral yang selama ini membuat Karna, Baladewa, atau Kumbakarna tetap dihormati meski berada di pihak yang “salah” diratakan jadi jargon kawan-lawan yang jauh lebih kasar.
Dari Yudistira ke Gatutkatja atau Gatotkaca
Anderson juga mencatat pergeseran selera pahlawan di kalangan generasi muda.
Ketenangan Yudistira dan kerumitan moral Arjuna makin kalah pamor dibanding Gatutkatja, putra Bima yang digambarkan lebih tampan, lebih sederhana, dan setia tanpa banyak tanya.
Presiden Sukarno sendiri, catat Anderson, secara eksplisit menyebut Gatutkatja sebagai model bagi “Manusia Indonesia Baru”[20].
Arjuna yang dulu dipuja karena kerumitan dan kehalusannya, tulis Anderson, mulai diejek generasi muda sebagai kemayu, sesuatu yang menurutnya mustahil terbayang tiga puluh tahun sebelumnya[21].
Dalam catatan kaki di halaman yang sama, Anderson menyelipkan detail yang belakangan terasa jauh lebih berat daripada saat ditulis.
Akhir 1963, pemeran Gareng dari rombongan wayang wong Sriwedari yang populer sempat ditangkap polisi di Solo karena leluconnya dianggap mengkritik pemerintah, dan baru dilepas setelah diperingatkan[22].
Anderson membingkai semua ini sebagai gejala “pembatasan borjuis” dan pergeseran wayang dari pendidikan jadi sekadar hiburan.
Ia tidak membingkainya sebagai tanda bahaya yang jauh lebih besar sedang mendekat.

Infografis yang merangkum argumen utama Benedict R. O’G. Anderson dalam Mythology and the Tolerance of the Javanese, mulai dari kosmologi wayang sebagai dasar pluralisme moral hingga kritik terhadap batas-batas toleransi Jawa dan retaknya tradisi akibat politisasi menjelang peristiwa 1965.
Lima Minggu sebelum G30S
Di sinilah kronologi buku ini jadi penting. Pendahuluan Anderson bertanggal 7 Agustus 1965. Kata pengantar Kahin bertanggal 24 Agustus 1965.
Kurang dari lima minggu kemudian, 30 September 1965, meletus Gerakan 30 September yang memicu pembersihan anti-komunis paling berdarah dalam sejarah Indonesia modern, dengan korban yang diperkirakan mencapai ratusan ribu hingga lebih dari sejuta orang, sebagian besar terjadi justru di Jawa Tengah dan Jawa Timur, jantung masyarakat abangan pedesaan yang dalam esai Anderson digambarkan sebagai penjaga toleransi struktural itu.
Seperti sempat saya bahas saat mengulas Indonesian Communism under Sukarno karya Rex Mortimer, basis massa PKI pada pertengahan 1960-an memang paling kuat justru di kalangan abangan, kelompok yang oleh Anderson sendiri digambarkan longgar keislamannya dan menaruh identitas kultural pada wayang, bukan pada kitab suci mana pun.
Kelompok yang dalam esai ini dipuji karena kemampuannya menampung banyak kebenaran sekaligus, dalam hitungan minggu berubah jadi korban sekaligus, di sejumlah tempat, pelaku kekerasan komunal yang menghancurkan sesama tetangga abangan dari faksi politik berbeda.
Anderson bukan tanpa firasat sama sekali. Ia sendiri sudah mencatat wayang dipolitisasi jadi propaganda partai, dan ia menduga perubahan budaya Jawa akan berjalan lambat.
“di desa-desa perubahan berlangsung jauh lebih lambat, dan di sanalah kebudayaan Jawa lama masih paling kukuh bertahan”[23].
Yang terjadi kurang dari dua bulan kemudian justru sebaliknya, desa-desa itulah yang berubah paling cepat dan paling kejam, jauh melampaui skala yang bisa diduga dari nada eksploratif dan penuh kehati-hatian esai ini.
Wacana yang Meramalkan Dirinya Sendiri
Ada godaan untuk membaca esai ini sebagai ramalan, tapi itu klaim yang terlalu besar untuk dipertanggungjawabkan.
Anderson tidak meramalkan apa pun secara sadar, dan jelas tidak ada dalang kekerasan 1965 yang membaca esai akademis terbitan Cornell ini sebelum bertindak.
Yang lebih tepat disebut adalah kebetulan diskursif, biner Pendawa lawan Kurawa yang menurut Anderson sedang ditunggangi partai politik untuk propaganda kasar, struktur yang sama persis yang belakangan dipakai secara harfiah untuk membingkai PKI sebagai pihak yang kafir dan pantas dibasmi, berhadapan dengan Pancasila serta “rakyat” yang diposisikan sebagai pihak Pendawa yang harus dibela.
Dibaca dengan kerangka discourse-historical approach, ini bukan soal sebab-akibat langsung, melainkan soal bahan mentah wacana yang sudah tersedia sebelum kekerasan itu sendiri terjadi.
Seperti pernah saya singgung ketika mengulas Agama Jawa karya Clifford Geertz, ilmu sosial Amerika era itu punya kecenderungan yang sama, membekukan keragaman internal masyarakat Jawa jadi tipologi yang rapi.
Di atas kertas, tipologi semacam ini membantu pembaca asing memahami Jawa. Di lapangan, kategori yang sama ternyata cukup mudah diambil alih dan dipertajam jadi garis pembeda hidup dan mati.
Yang Tersisa dari Toleransi Itu
Anderson menutup esainya dengan nada muram yang, dibaca hari ini, terasa lebih berat daripada yang mungkin ia niatkan.
“Musim gugur sudah terasa di udara. Di pohon kebudayaan Jawa, daun-daun berguguran satu demi satu”
Tulisnya, sembari bertanya apakah akar budaya itu masih bisa menumbuhkan daun baru di musim semi berikutnya[24].
Ia memperkirakan kemunduran bertahap akibat modernisasi dan nasionalisme. Yang sebenarnya menunggu di depan mata bukan kemunduran bertahap, melainkan keruntuhan tiba-tiba yang jauh lebih berdarah.
Toleransi yang dibangun di atas hierarki fungsional, seperti digambarkan Anderson sendiri, ternyata menyimpan logika pengucilannya sejak awal.
Siapa pun yang dianggap ora pantes, tidak pada tempatnya, selalu bisa dikeluarkan dari lingkaran yang pantas ditoleransi, dan batas lingkaran itu bisa direntangkan sejauh yang diinginkan kekuasaan yang sedang berkuasa.
Seperti pernah saya tulis saat mengulas Infrastructures of Impunity karya Elizabeth Drexler, mekanisme pengucilan semacam ini punya umur panjang, dan ia banyak menjelaskan kenapa impunitas atas kekerasan 1965 bertahan begitu lama dalam wacana resmi Indonesia sampai sekarang.
Membaca esai Anderson enam dekade kemudian bukan sekadar membaca nostalgia tentang toleransi yang hilang.
Ia lebih tepat dibaca sebagai catatan lapangan yang tanpa sengaja merekam bahan mentah diskursif yang, dalam hitungan minggu, siap dipakai untuk hal yang jauh lebih kejam daripada yang pernah diduga penulisnya sendiri.
Catatan Kaki
- Benedict R. O’G. Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, ed. ke-2 (Ithaca, NY: Cornell Modern Indonesia Project, Cornell University, 1996), 5. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 6. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 12. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 11. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 16. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 17. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 17. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 17. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 18. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 39. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 18. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 20. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 13. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 13–14. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 14. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 15. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 15. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 16. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 42. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 43. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 43. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 43n8. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 45. ↑
- Anderson, Mythology and the Tolerance of the Javanese, 45. ↑
Daftar Pustaka
- Anderson, Benedict R. O'G. Mythology and the Tolerance of the Javanese. Edisi ke-2. Ithaca, NY: Cornell Modern Indonesia Project, Cornell University, 1996.



Komentar