Ringkasan Artikel
Singapura jatuh ke tangan Jepang pada 15 Februari 1942 dan dalam hitungan hari berganti nama menjadi Syonan-to, “Cahaya dari Selatan”. Sebulan pertama itu menampilkan dua wajah pendudukan sekaligus: koran dan pengumuman yang menyuruh warga kembali bekerja, serta operasi Sook Ching yang menyaring dan membunuh ribuan lelaki Tionghoa. Artikel ini menelusurinya lewat halaman depan koran 1942, memoar Lee Kuan Yew, dan kajian para sejarawan.
Cahaya dari Selatan: Sebulan Pertama Singapura Menjadi Syonan-to
Pada 13, 14, dan 15 Februari 1942, di bawah nama koran The Straits Times masih tercetak seruan Gubernur:
“Singapore Must Stand; It SHALL Stand”.
Di edisi Minggu 15 Februari, terselip imbauan kecil agar warga mengisi penuh bak mandi mereka untuk cadangan air.

The Sunday Times, 15 Februari 1942, hari jatuhnya Singapura. Sumber: NewspaperSG, National Library Board Singapura.
Hari itu juga Singapura menyerah.
Di Tokyo, surat kabar Tokyo Nichi Nichi menerbitkan peta bergambar yang kira-kira berjudul “Gambaran Utuh Benteng Pulau Singapura”. Peta itu menandai lapangan terbang, tangki minyak, stasiun radio, waduk, dan pangkalan armada Inggris.

Peta bergambar terbitan Tokyo Nichi Nichi, 1942, tentang benteng Pulau Singapura. Sumber: Picryl.
Lima hari kemudian, 20 Februari, terbit koran baru di Cecil Street, jalan yang sama dengan kantor Straits Times Press. Namanya The Shonan Times, nomor 1.

The Shonan Times nomor 1, 20 Februari 1942. Sumber: NewspaperSG, National Library Board Singapura.
Kota yang Mendapat Nama Baru
Nomor perdana itu memuat pengumuman dari otoritas Jepang di “Pulau Shonan”.
Pekerja gas, listrik, air, dan penyiaran diperintahkan melapor ke Gedung Municipal. Warga diminta membersihkan jalan di sekitar rumah, sementara pemadaman lampu malam tetap berlaku.
Di sudut halaman, iklan baris berisi orang-orang yang saling mencari. Seorang perempuan terakhir terlihat pada 10 Februari. Seorang lelaki terakhir terdengar kabarnya di Ipoh.
Sehari kemudian, edisi 21 Februari memuat tulisan “The Meaning of Syonan”. Menurut tulisan itu, syo berarti terang atau cemerlang dan nan berarti selatan, sehingga Syonan bermakna “Selatan yang Cemerlang”. Nama itu dikaitkan dengan era Showa.

The Syonan Times nomor 2, 21 Februari 1942, memuat “The Meaning of Syonan”. Sumber: NewspaperSG, National Library Board Singapura.
Edisi Mandarin Syonan Shimbun menjelaskan penamaan itu pada 22 Februari lewat judul 昭南命名之意義. Di halaman yang sama ada pemberitahuan agar warga memakai kalender Jepang.

Syonan Shimbun edisi Mandarin nomor 2, 22 Februari 1942, berjudul 昭南命名之意義. Sumber: NewspaperSG, National Library Board Singapura.
Kota Tanpa Hukum, Aturan Lewat Tamparan
Sebelum koran itu terbit, kota sempat kosong dari penguasa. Lee Kuan Yew, kala itu pemuda 18 tahun, mengenangnya dalam memoarnya, The Singapore Story.
Polisi lokal menghilang karena takut dianggap bagian dari aparat Inggris. Menurut Lee, tentara Jepang belum hadir di kota, sehingga setiap orang menjadi hukum bagi dirinya sendiri.
Penjarahan merebak di rumah dan gudang milik orang Eropa. Jepang memulihkan ketertiban dengan menembak atau memenggal sejumlah penjarah secara acak, lalu memajang kepala mereka di jembatan dan persimpangan utama.
Aturan baru datang lewat kekerasan kecil. Di Red Bridge, Lee ditampar lalu didorong jatuh dengan sepatu bot oleh seorang serdadu penjaga.
Orang lain yang lupa membungkuk kepada penjaga, tulis Lee, dipaksa berlutut berjam-jam di bawah terik sambil mengangkat batu besar di atas kepala.
Pada 17 Februari, tawanan Sekutu berbaris ke Changi melewati depan rumah Lee. Perjalanan itu berlangsung dua hari satu malam.
Pemeriksaan di Jalan Besar
Operasi itu dikenal sebagai Sook Ching, dari aksara 肃清 yang berarti pembersihan. Chew dan Lim, dalam buku Sook Ching terbitan Departemen Sejarah Lisan Singapura (1992), menggambarkannya sebagai pemeriksaan massal.
Pada 18 Februari, menurut Lee, pengumuman dan pengeras suara memanggil semua lelaki Tionghoa berusia 18 sampai 50 tahun ke lima titik pengumpulan.
Kempeitai, polisi militer Jepang, mendatangi rumah demi rumah untuk menggiring yang belum datang. Perempuan, anak-anak, dan orang tua ikut terseret.
Lee berangkat ke stadion Jalan Besar bersama Teong Koo, tukang kebun keluarganya. Puluhan ribu keluarga Tionghoa berdesakan di area berkawat duri, dan setiap pintu keluar dijaga Kempeitai.

Diorama yang menggambarkan warga sipil dikumpulkan dan diperiksa tentara Jepang. Sumber: Picryl.
Di pintu keluar, seorang serdadu menyuruh Lee bergabung dengan kelompok pemuda. Ia merasa itu pertanda buruk, minta izin mengambil barang, lalu bersembunyi di bilik selama sehari setengah.
Percobaan kedua lolos. Lengan kiri atas dan kemejanya dicap dengan aksara jian, “telah diperiksa”. Lee menulis ia tak akan pernah paham bagaimana urusan hidup dan mati diputuskan begitu sembarangan.
Mereka yang dipilih di pos pemeriksaan ditahan di halaman Victoria School. Pada 22 Februari, truk mengangkut mereka ke pantai Tanah Merah Besar, dan di sana mereka ditembaki senapan mesin.
Lee mencatat sejumlah kecil penyintas berhasil lolos dan menuturkan kisahnya.
Angka yang Tak Pernah Sepakat
Lee mencatat Jepang mengaku membunuh 6.000 pemuda Tionghoa dalam operasi 18 sampai 22 Februari 1942.
Setelah perang, panitia Kamar Dagang Tionghoa menggali kuburan massal di Siglap, Punggol, dan Changi, lalu memperkirakan korban antara 50.000 dan 100.000.
Ooi Keat Gin, dalam syarahan guru besarnya, menyebut sumber militer Jepang melaporkan sekitar 5.000 korban di Singapura. Klaim sumber lokal untuk seluruh Malaya mencapai sekitar 100.000.
Tanggalnya pun berbeda. Sejarawan Tan Chee Seng, dalam artikel jurnalnya tahun 2019, merujuk Cheah Boon Kheng (Red Star over Malaya): Markas Tentara ke-25 mengeluarkan perintah pada 17 Februari, dan Kempeitai menjalankannya sejak 21 Februari.
Siapa yang disasar? Tan merangkum: pendukung aktif Kuomintang, komunis, anggota dana bantuan Tiongkok pimpinan Tan Kah Kee, pendatang baru pasca-1937, anggota kongsi gelap, pegawai pemerintah, orang pro-Inggris, dan pemilik senjata api.
Chin Kee Onn, dalam Malaya Upside Down (1976), menambahkan guru sekolah Tionghoa, pelajar, dan siapa pun yang tampak seperti kaum terpelajar.
Lim Pui Huen menyebut operasi di Singapura sebagai yang “paling ganas” dibanding tempat lain.
Lee menyebut dalang rencana ini Kolonel Masanobu Tsuji, yang mendapat persetujuan Jenderal Tomoyuki Yamashita untuk menghukum orang Tionghoa yang menggalang dana bagi Tiongkok dan memboikot barang Jepang. Baginya itu pembalasan dendam, dilakukan ketika Singapura sudah menyerah.
Dua Bahasa, Dua Pesan
Pada pekan yang sama, koran memberi pesan berbeda kepada pembaca yang berbeda.
Edisi Inggris 21 Februari mengajak warga memulihkan “kehidupan normal”: buka lagi toko, binatu, dan toko roti secepatnya.
Edisi Mandarin 24 Februari menurunkan berita 抗日運動之罪首被鎗決, tentang pimpinan gerakan anti-Jepang yang dieksekusi, dan sebuah editorial berjudul 殺一儆百, “bunuh satu untuk memperingatkan seratus”.
Di halaman yang sama, pengumuman militer menjanjikan perlindungan jiwa dan harta bagi mereka yang bekerja dengan patuh.
Dua hari kemudian, 26 Februari, koran Mandarin itu mengabarkan Lim Boon Keng (林文慶) menerima penunjukan sebagai pemimpin komunitas Tionghoa.
Di Tengah Ketidakpastian
Nama Syonan-to bertahan tiga setengah tahun. Menurut Lee, warga perlahan mengenal ketidakpastian, kerja keras sehari-hari, dan penderitaan yang menjadi nasib mereka selama itu.
Pada bulan-bulan berikutnya, tulis Lee, uang militer bergambar pohon kelapa dan pisang, yang dijuluki “uang pisang”, kian tak bernilai.
Sebulan pertama sudah memperlihatkan polanya: pendudukan datang membawa nama baru, aturan baru, dan ancaman sekaligus. Cahaya dari Selatan itu menyala di atas kota yang baru saja belajar membungkuk.



Komentar