Ringkasan Artikel
- Paris jatuh tanpa tembakan pada 14 Juni 1940, beberapa hari setelah dinyatakan kota terbuka dan setelah sebagian besar penduduknya mengungsi.
- Dalam sebulan, Jerman memberlakukan jam malam, menyamakan jam dengan Berlin, menjadikan kota itu panggung wisata dan propaganda, hingga Hitler datang untuk lawatan singkat.
- Pagi 14 Juni 1940, Paris sunyi seperti kota yang baru dihantam wabah. Toko tutup, jalan lengang, dan tiga dari empat warga memutuskan pergi.
Paris, Juni 1940: Sebulan Pertama di Bawah Pendudukan Nazi
Sekilas Sebulan Pertama
| Tanggal | Peristiwa | Foto pendamping |
|---|---|---|
| 3 Juni | Bom Jerman jatuh di Paris, sekitar 250 warga sipil tewas | – |
| 10 Juni | Pemerintah meninggalkan ibu kota | Bild 146-1971-083-01 (pengungsi di Gien, bukan di Paris) |
| 12-13 Juni | Paris dinyatakan kota terbuka (sumber berbeda tanggal) | – |
| 14 Juni | Jerman masuk, parade di Avenue Foch, jam malam | Bild 183-L05487 |
| Juni | Serdadu berwisata, kota dipenuhi tentara | Bild 183-L12788 |
| 22 Juni | Gencatan senjata | – |
| 23 Juni | Hitler berkeliling Paris | Bild 183-H28708 |
| Pertengahan Juli | Pétain berkuasa di Vichy | – |
Kota yang Ditinggalkan
Kepanikan bermula pada 3 Juni, ketika pesawat Jerman membom Paris dan menewaskan sekitar 250 warga sipil. Pada 10 Juni, pemerintah diam-diam meninggalkan ibu kota.
Sekitar dua juta orang pergi dalam beberapa hari (Musée de la Libération 2020). Diamond (2007) menyebut hampir empat juta orang meninggalkan rumah di wilayah Paris Raya.
Mereka memenuhi jalan raya ke selatan dengan mobil, kereta kuda, dan sepeda. Reid dan Gemie (2011) mencatat bahwa perempuan, terutama lewat Palang Merah Prancis, ikut merawat para pengungsi.
Beberapa hari kemudian, Paris dinyatakan ville ouverte (kota terbuka). Artinya tidak akan ada pertempuran, demi mencegah kota itu hancur.
Masuk Tanpa Tembakan
Past Daily melaporkan pasukan terdepan Jerman tiba di Porte de la Villette sekitar pukul setengah enam pagi, 14 Juni, tanpa menemui perlawanan.

Pasukan Jerman berbaris di Champs-Élysées dengan Arc de Triomphe di latar belakang, Paris, 1940. Source Foto: Bundesarchiv, Bild 146-1994-036-09A / CC-BY-SA 3.0 DE
Menjelang sore, bendera swastika berkibar di Arc de Triomphe. Pasukan berbaris diiringi musik di Avenue Foch dan Champs-Élysées, terutama untuk juru foto dan kamera film berita.
Pertunjukan itu bukan untuk Paris yang kosong. Ia untuk khalayak di Jerman.
Jam Malam dan Jam Berlin
Pagi itu juga, mobil berpengeras suara memerintahkan warga tetap di rumah, dan jam malam berlaku mulai pukul delapan malam. Dalam hitungan hari, wajah kota berubah:
- Markas: Hotel Meurice menjadi markas pendudukan Paris Raya.
- Parlemen: Chambre des députés dipakai administrasi militer dan Kommandantur, Senat menjadi markas Luftwaffe, dan Istana Élysée ditutup.
- Rumah disita: rumah Daladier, Mandel, dan Reynaud.
- Papan jalan: diganti atau ditambah berbahasa Jerman.
- Jam: disamakan dengan waktu Berlin, satu jam lebih maju dari sebelumnya.
Tentara Rasa Turis
Kota yang diam itu segera ramai oleh serdadu Jerman. Menurut Gordon (2018), jurnalis Amerika William Shirer melihat mereka membawa kamera dan bertingkah seperti turis yang lugu.
Arsip film USHMM mencatat rombongan tentara berkeliling di Palais de Chaillot dan sekitar Menara Eiffel.
Wisata itu segera diatur. Gordon (2018) menunjukkan bahwa otoritas militer Jerman menyelenggarakan tur bagi puluhan ribu personel militer dan sipil.
Mereka dipandu majalah dwimingguan Der deutsche Wegleiter für Paris yang mendaftar restoran, film, dan tempat wisata seolah-olah masa damai. Gordon (1998) menelaah hubungan perang dan pariwisata di Paris ini secara khusus.
Restoran-restoran terbaik diambil alih para perwira tinggi. Reichsmark dipatok senilai 20 franc, padahal sebelum perang hanya sekitar 12 franc, sehingga para prajurit berbelanja besar-besaran akibat dari penetapan sepihak.
Kunjungan Hitler
Pada 22 Juni, Prancis menandatangani gencatan senjata dengan Jerman. Bagi warga Paris, itu menandai berakhirnya pengungsian. Satu per satu mereka pulang ke jalan-jalan yang nyaris kosong dan dihiasi bendera swastika.
Pagi 23 Juni, Hitler datang. Itu satu-satunya kunjungannya ke Paris sepanjang perang. Gordon (2018) mencatat ia dan beberapa perwiranya menyusuri jalan-jalan Paris pada jam-jam awal hari itu.
Ia ditemani arsitek Albert Speer dan Hermann Giesler serta pematung Arno Breker, dan mengaku kepada Breker bahwa Paris selalu memikatnya.
Rutenya mencakup gedung Opéra, Trocadéro, Les Invalides tempat makam Napoleon, hingga Sacré-Cœur. Seluruh lawatan hanya sekitar tiga jam. Menurut memoar Speer, tur berakhir sebelum pukul sembilan pagi.

Hitler dan rombongan di depan Menara Eiffel, Juni 1940. Foto dibuat Heinrich Hoffmann, fotografer pribadinya. Source Foto: Bundesarchiv, Bild 183-H28708 / Hoffmann / CC-BY-SA 3.0 DE
Ada satu ganjalan. Hitler konon ingin naik ke Menara Eiffel, tetapi kabel lift sudah diputus pihak Prancis.
Citra yang Dibuat Penakluk
Banyak foto dari bulan-bulan itu lahir dari lensa kompi propaganda Wehrmacht. Kesteloot (2017) mencatat bahwa setiap ibu kota yang diduduki punya banyak foto propaganda, karena dampak gambar tidak luput dari penguasa.
Foto semacam itu perlu dibaca dengan tiga pertanyaan: siapa pemotretnya, siapa yang difoto, dan dalam konteks apa.
Sejak September 1940, penguasa Jerman disebut melarang pemotretan jalan dan tempat umum di Paris. Namun menurut Kesteloot (2017), di Brussel dan Amsterdam memotret tidak dilarang selama tidak menyasar objek militer.
Contoh yang paling diperdebatkan adalah foto warna André Zucca, fotografer yang terakreditasi pada Propaganda Staffel. Pameran fotonya di Paris pada 2008 menuai polemik karena warna dan pilihan temanya memberi kesan ringan (Kesteloot 2017).

Seorang pria Prancis menangis di antara kerumunan. Keterangan arsip AS menyebutnya terjadi saat pasukan Jerman memasuki Paris pada 14 Juni 1940, tetapi lokasi dan tanggal foto ini diperdebatkan. Source Foto: U.S. National Archives and Records Administration (NARA), melalui Picryl.
Foto-foto semacam ini lebih tepat dibaca sebagai citra, bukan cermin kehidupan warga.
Pada pertengahan Juli, pemerintahan baru Pétain berdiri di Vichy dan Majelis Nasional menyerahkan kekuasaan penuh kepadanya (Jackson 2001). Selama tahun pertama pendudukan hampir tak ada yang berpikir untuk melawan.
Paris selamat dari kehancuran. Harganya adalah empat tahun hidup di bawah bendera Swastika yang berkibar dari Menara Eiffel dan ingatan ini membekas dalam sejarah masyrakat Perancis yang dianggap cukup memalukan.



Komentar