Thumbnail artikel ulasan buku Healers on the Colonial Market dengan kolase sampul buku dan foto-foto sejarah pendidikan kedokteran kolonial. (ardiholmes.id)

Review Buku Healers on the Colonial Market (Hesselink)

Review Buku

Ringkasan Artikel

  • Komparasi Sejarah Dua Sekolah: Ulasan buku Healers on the Colonial Market karya Liesbeth Hesselink mengungkap perjalanan Sekolah Dokter Djawa dan Sekolah Bidan Pribumi yang sama-sama didirikan di Batavia pada 1851 dengan misi awal menggantikan peran dukun.
  • ​Ketimpangan Gender dan Nasib Institusi: Sekolah Dokter Djawa sukses berkembang menjadi STOVIA pada 1902 berkat investasi anggaran dan pelatihan solidaritas kelompok, sementara Sekolah Bidan Pribumi ditutup pada 1875 akibat keterbatasan pengajar teori, beban moral gender, dan ketidaktepatan sasaran pasien.
  • ​Dinamika Medical Market Kolonial: Pendekatan kerangka pasar medis (medical market) memperlihatkan bahwa pasien dari berbagai kelompok etnis di Hindia Belanda bertindak aktif melakukan healer hopping (berpindah antarpengobat) daripada bersikap pasif terhadap medis Barat.
  • ​Kegagalan Menggeser Dukun Bayi: Kedua sekolah kedokteran kolonial tersebut gagal memenuhi ambisi utamanya untuk menyingkirkan dukun, di mana posisi dukun bayi di tengah masyarakat pribumi tetap kokoh tak tersentuh.
  • ​Relevansi Jangka Panjang: Dampak kegagalan kebijakan kolonial ini bertahan melintasi era, terbukti dari data bahwa dukun bayi masih menangani sekitar 35 persen persalinan di Indonesia hingga era 2000-an.

Review Buku: Sekolah Dokter Menang, Sekolah Bidan Kalah, dan Dukun yang Tetap Bertahan

Sampul buku Healers on the Colonial Market: Native Doctors and Midwives in the Dutch East Indies karya Liesbeth Hesselink dengan ilustrasi gedung Sekolah Dokter Djawa pada bagian bawah sampul. (ardiholmes.id)

Sampul buku Healers on the Colonial Market: Native Doctors and Midwives in the Dutch East Indies karya Liesbeth Hesselink (2011).

Narasi yang Kita Kenal, dan yang Tidak

Kalau bicara soal STOVIA, hampir semua orang Indonesia yang pernah duduk di bangku sekolah punya bayangan yang sama: sekolah dokter pribumi di Weltevreden, cikal bakal Boedi Oetomo, tempat lahirnya kesadaran nasional.

Narasi ini benar, tapi juga menyembunyikan separuh cerita. Sebab pada tahun yang sama STOVIA lahir sebagai Sekolah Dokter Djawa, 1851, di Batavia berdiri pula sekolah lain, persis di sebelahnya, di kompleks rumah sakit militer yang sama.[1]

Sekolah itu untuk anak perempuan, calon bidan pribumi. Sekolah itu ditutup 24 tahun kemudian, dan nyaris tidak pernah lagi disebut dalam sejarah populer kita.

Buku Liesbeth Hesselink, Healers on the Colonial Market: Native Doctors and Midwives in the Dutch East Indies (KITLV Press, 2011), meletakkan dua sekolah ini berdampingan, seperti aslinya.

Hesselink adalah sejarawan medis lulusan Universitas Amsterdam, dan buku ini terjemahan resmi dari disertasinya sendiri.[2]

Review buku Mythology and the Tolerance of the Javanese karya Benedict R. O’G. Anderson

Hasilnya bukan sekadar sejarah institusi pendidikan kedokteran kolonial, melainkan cerita tentang bagaimana satu proyek yang sama bisa berakhir di dua nasib yang jauh berbeda, dan tentang siapa sebenarnya yang menang di pasar pengobatan Hindia Belanda.

Bangunan Sekolah Dokter Djawa sekitar tahun 1896 dengan halaman yang rindang dan sejumlah orang berada di depan bangunan. (ardiholmes.id)

Bervoets dan istrinya berfoto bersama para staf pelayanan kesehatan. Diambil dalam Hesselink, Healers on the Colonial Market, hlm. 242 (koleksi foto KIT 10000788).

Dua Sekolah, Satu Tujuan: Menyingkirkan Dukun

Tujuan pendirian kedua sekolah itu sebenarnya sama persis: menggantikan dukun, tabib pribumi lelaki, dan dukun bayi, penolong persalinan tradisional, yang di mata pemerintah kolonial dianggap berbahaya.

Ada banyak cerita horor yang beredar soal kesalahan pertolongan persalinan oleh dukun bayi, dan cerita itu terus dipakai untuk membenarkan kehadiran bidan didikan Barat, meski sekolahnya sendiri sempat ditutup.[3]

Sekolah dokter lahir dari sebuah krisis. Pada 1846, wabah penyakit menewaskan sekitar 50.000 orang di kawasan pegunungan Jawa Tengah.

Kepala Dinas Kesehatan saat itu, W. Bosch, menuding sistem tanam paksa sebagai penyebabnya, karena menurutnya penduduk dibuat kelaparan dan rentan sakit, tudingan yang membuatnya berselisih tajam dengan Gubernur Jenderal J.J. Rochussen, yang membela sistem itu dan balik menegur Bosch karena dianggap kelewat kritis.

Review Buku Keuntungan Kolonial dari Kerja Paksa: Kopi Priangan dan Satu Abad Kerja Paksa yang Terlupakan

Meski begitu, Rochussen tetap menyetujui satu usul Bosch: melatih dokter pribumi.

Dalam suratnya sendiri ke Menteri Jajahan, Rochussen menulis bahwa sesuatu harus dilakukan untuk memperbaiki cara dukun menjalankan pengobatan, yang ia sebut sendiri sebagai kejahatan yang merusak.[4]

Yang jarang disebut, dua hari sebelum Bosch resmi mengusulkan sekolah dokter, ia lebih dulu mengusulkan sekolah bidan, dengan motif yang identik, sehingga menurut Hesselink dua proyek ini sebetulnya satu paket sejak awal.[5]

Gagasan melatih bidan pribumi sendiri sudah diajukan sejak 1807, dan terus gagal terwujud selama empat dekade berikutnya.

Percobaan tahun 1839, misalnya, kandas karena tiga masalah yang sudah diperingatkan sejak awal oleh pejabat kesehatan P.J. Godefroy: biaya, sulitnya mencari siswa perempuan yang cocok, dan ketidakpastian apakah perempuan hamil pribumi mau melahirkan di klinik asing.

Agama Jawa Clifford Geertz: Membaca Abangan, Santri, dan Priyayi sebagai Dokumen Sejarah

Tiga masalah yang sama inilah yang akhirnya benar-benar meruntuhkan sekolah bidan pada 1875.[6]

Untuk membaca dua sekolah ini, Hesselink meminjam kerangka medical market, pasar medis, konsep yang berkembang dalam historiografi medis dunia Anglo-Saxon sejak pertengahan 1980-an.[7]

Gagasannya sederhana: layanan kesehatan diperlakukan seperti komoditas, dengan penyedia yang bersaing memperebutkan pasien, dan pasien yang aktif memilih, bukan sekadar objek pasif dari kebijakan kolonial.

​“From the perspective of the demand side of care – the patients – the medical market is the entirety of available consultation and treatment options, varying from self-care, the intervention of a supernatural force to consulting a professional practitioner.” (hlm. 3)

Yang membuat buku ini istimewa, kerangka ini nyaris tidak pernah dipakai untuk membaca masyarakat kolonial yang majemuk seperti Hindia Belanda.[8]

Padahal justru di situlah pasarnya paling ramai: ada dukun, ada sinse Tionghoa, ada bidan Eropa, ada dokter militer, semuanya berebut kepercayaan pasien yang sama.

Dari sisi jumlah siswa saja, sudah kelihatan pemerintah kolonial lebih berharap banyak dari sekolah dokter. Sekolah Dokter Djawa menerima maksimal 30 siswa, sekolah bidan hanya 20.[9]

Infografis perbandingan bertajuk "Dua sekolah, dua nasib" yang memuat tabel komparasi antara Sekolah Dokter Djawa dan Sekolah Bidan Pribumi sejak berdiri tahun 1851 di Batavia, mencakup kuota siswa, syarat masuk, pengajar teori, organisasi profesi, hingga nasib akhir kedua lembaga serta data kegagalan menggeser dukun bayi di Indonesia (ardiholmes.id).

Infografis perbandingan kontras antara Sekolah Dokter Djawa dan Sekolah Bidan Pribumi mencakup kuota, syarat masuk, tenaga pengajar, hingga nasib institusi pasca-1875. Data disarikan dari buku Healers on the Colonial Market karya Liesbeth Hesselink (KITLV Press, 2011).

Jalan Bercabang, 1875

Selama 24 tahun pertama, kedua sekolah berjalan relatif sejajar: sama-sama gratis, sama-sama memberi tunjangan bagi siswa dan lulusannya, sama-sama berlokasi di kompleks yang sama.[10]

Titik pisahnya jatuh tahun 1875. Sekolah bidan ditutup, karena pasien yang datang ternyata kebanyakan perempuan Tionghoa dan Indo-Eropa, bukan perempuan pribumi yang justru jadi sasaran utama program ini.

Pemerintah tidak mengubah tujuannya, hanya menutup sekolahnya untuk sementara, dan sekolah itu tidak pernah dibuka kembali sampai akhir periode yang dicakup buku ini, 1915.

Sebagai gantinya, hanya segelintir gadis yang dilatih langsung secara informal oleh dokter Eropa.[11]

Setahun setelah penutupan, kepala Dinas Kesehatan yang baru, B.E.J.H. Becking, malah merekomendasikan sekolah itu dibuka kembali, lengkap dengan klinik bersalin baru, dan direktur Departemen Pendidikan menyetujui usul itu tanpa perubahan pada 1876.

Semua pihak sepakat pelatihan bidan pribumi penting dilanjutkan. Tapi usul itu ditolak, semata karena alasan anggaran, dan pembahasannya menggantung bertahun-tahun.

Jumlah bidan berijazah di seluruh Hindia nyaris tidak bergerak sepanjang dekade berikutnya: sekitar 50 orang pada 1875, dan hanya 45 pada 1886.[12]

Sekolah Dokter Djawa berjalan ke arah sebaliknya. Investasinya terus bertambah, gedung baru dibangun, tenaga pengajar tetap direkrut, dan jumlah siswa terus dinaikkan, hingga akhirnya berubah nama menjadi STOVIA pada 1902 dan menjadi tulang punggung Dinas Kesehatan Sipil kolonial pada 1915.[13]

Bandingkan dengan nasib sekolah bidan: sepanjang riwayatnya, seluruh pelajaran teori hanya diajarkan oleh satu orang, bidan kota nomor dua di Batavia.

Perhatian publik terhadap pendidikan kebidanan memang sempat ramai, baik di Belanda maupun di Hindia, tapi menurut catatan Hesselink, semua itu tidak berujung pada apa pun selain kegaduhan dan kata-kata muluk.[14]

Bervoets dan istrinya berfoto bersama para staf di depan sebuah bangunan layanan kesehatan kolonial. (ardiholmes.id)

Bervoets dan istrinya berfoto bersama para staf pelayanan kesehatan. Diambil dalam Hesselink, Healers on the Colonial Market, hlm. 242 (koleksi foto KIT 10000788).

Kenapa Gender Jadi Penjelasnya

Bagian paling tajam dari buku ini justru ada di bab penutup, ketika Hesselink membandingkan langsung syarat masuk kedua sekolah.

Untuk calon bidan, pemerintah mensyaratkan perempuan yang sudah menikah, karena pernikahan dianggap jaminan moral.

Untuk calon dokter djawa, justru sebaliknya: siswa harus lajang, dengan alasan lelaki lajang dianggap tidak terikat aturan soal petualangan seksual mereka.[15]

Standar ganda ini bukan detail kecil. Ia menjelaskan kenapa dua proyek yang lahir dari niat yang sama bisa berakhir sejauh itu bedanya.

Pelatihan pun berbeda bentuk. Dokter djawa dilatih sebagai angkatan, dalam kelompok yang cukup besar untuk tumbuh jadi solidaritas profesional, sampai akhirnya mendirikan organisasi profesi sendiri pada 1909.[16]

Calon bidan dilatih satu-satu atau dalam kelompok kecil, langsung di bawah bimbingan seorang dokter Eropa, sehingga menurut Hesselink nyaris tidak ada jejak bahwa mereka pernah berusaha memperjuangkan kepentingan bersama sebagai kelompok.[17]

Yang tersisa hanyalah siasat perorangan. Ada murid bernama Markati yang mengaku sebagai dukun sendiri demi memenangkan kepercayaan pasiennya.

Ada Nji Astjiem yang memilih berbagi tugas dengan dukun, ketimbang bersaing langsung.[18] Sementara itu, lulusan dokter djawa justru berjuang kolektif untuk hal-hal simbolis, misalnya hak memakai payung, ubel-ubel status sosial, dan belakangan hak memakai pakaian Barat.[19]

Hesselink menutup perbandingan ini dengan cukup tegas: gender adalah faktor penentu, terutama lewat tekanan agar bidan tampil sebagai teladan kesusilaan.

​“They were definitely not representative of their fellow countrymen, the majority of whom were illiterate.” (hlm. 6)

Pandangan rendah dokter Eropa terhadap bidan pribumi, tulisnya, bisa dibaca di sela-sela dokumen resmi, dan meledak penuh dalam cerita-cerita horor yang mereka ceritakan tentang dukun bayi.[20]

Dukun yang Tak Pernah Benar-benar Kalah

Di sinilah letak sengat buku ini. Kalau ditanya apakah proyek penggantian dukun ini berhasil, jawaban Hesselink tidak bisa lain kecuali tidak.

​“The indigenous population was not prepared to use the services of these doctors and midwives. Native doctors did in fact prove useful as vaccinators and assistant doctors, but the school for midwives was closed in 1875.” (Sampul Belakang)

Baik dokter djawa maupun bidan pribumi sama-sama gagal menggeser dukun.[21]

Posisi dukun bayi di pasar pertolongan persalinan pribumi bahkan disebut tidak tersentuh sama sekali, dan bukan hanya orang pribumi yang tetap memakai jasanya, perempuan Tionghoa dan Indo-Eropa pun ikut serta.[22]

Seorang dukun dari Kandangan, dekat Lumajang, Jawa Timur, duduk di atas tikar dengan lesung dan berbagai perlengkapan pengobatan tradisional di depannya. (ardiholmes.id)

Seorang dukun dari Kandangan, dekat Lumajang, Jawa Timur, sedang duduk di atas tikar dengan lesung dan berbagai perlengkapan pengobatan tradisional. Diambil dalam Hesselink, Healers on the Colonial Market, hlm. 15.

Yang lebih menohok, kegagalan ini bukan cuma soal abad ke-19. Hesselink mencatat, bahkan di era 2000-an, dukun bayi masih menangani sekitar 35 persen persalinan di Indonesia, meski sejak tahun 2000 pemerintah sudah mewajibkan persalinan ditangani bidan terlatih.[23]

Satu setengah abad setelah sekolah dokter djawa dan sekolah bidan sama-sama berdiri dengan misi yang sama, hasil di lapangan nyaris tidak berubah.

Hesselink juga membongkar asumsi bahwa pasien kolonial hanya setia pada pasar etnisnya sendiri, seolah orang pribumi selalu ke dukun, orang Tionghoa selalu ke sinse, orang Eropa selalu ke dokter.

Kenyataannya jauh lebih cair. Pasien dari semua kelompok etnis melakukan apa yang disebutnya healer hopping, berpindah dari satu jenis penyembuh ke penyembuh lain, biasanya setelah pilihan pertama mereka gagal.[24]

Herbal pribumi bahkan dipakai lintas kelompok, termasuk oleh dokter Eropa sendiri yang diam-diam tertarik dengan metode dukun soal pijat dan pengguguran kandungan sampai awal abad ke-20.[25]

Pola inilah yang pernah saya bahas lewat kisah dokter Belanda yang diam-diam berguru pada dukun Jawa: rupanya bukan kasus terisolasi, melainkan pola yang berulang sepanjang periode kolonial.

Buku Ini untuk Siapa

Healers on the Colonial Market bukan bacaan ringan, tapi juga tidak seberat yang terbayang dari judulnya.

Cocok untuk siapa saja yang tertarik dengan sejarah kesehatan, sejarah gender, atau sekadar ingin tahu kenapa narasi kebangkitan nasional lewat STOVIA yang kita hafal di sekolah ternyata cuma separuh cerita.

Buku ini tersedia gratis dan legal secara akses terbuka lewat penerbit KITLV/Brill, jadi tidak ada alasan untuk melewatkannya kalau memang penasaran dengan detail lengkapnya.[26]

Yang tertinggal setelah membaca buku ini bukan cuma fakta soal dua sekolah kolonial.

Ada pertanyaan yang lebih mengganggu: berapa banyak proyek modernisasi lain, di bidang apa pun, yang sebenarnya juga separuh gagal, tapi versi kegagalannya sengaja tidak pernah kita ceritakan?

Catatan Kaki

  1. Liesbeth Hesselink, Healers on the Colonial Market: Native Doctors and Midwives in the Dutch East Indies (Leiden: KITLV Press, 2011), 1, 312. ↑
  2. Hesselink, Healers on the Colonial Market, ix, sampul belakang. ↑
  3. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 1. ↑
  4. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 67-69. ↑
  5. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 119. ↑
  6. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 119-120. ↑
  7. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 2-3. ↑
  8. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 4. ↑
  9. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 312. ↑
  10. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 312. ↑
  11. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 1, 310-311. ↑
  12. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 225-226. ↑
  13. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 312. ↑
  14. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 312. ↑
  15. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 312-313. ↑
  16. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 316. ↑
  17. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 311. ↑
  18. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 311. ↑
  19. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 313. ↑
  20. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 313-314. ↑
  21. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 309. ↑
  22. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 309. ↑
  23. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 314, mengutip Hennessy, Hick, dan Harni Koesno (2006), 9. ↑
  24. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 317. ↑
  25. Hesselink, Healers on the Colonial Market, 315-316. ↑
  26. Liesbeth Hesselink, Healers on the Colonial Market (Leiden: KITLV Press, 2011). Tersedia akses terbuka melalui OAPEN Library, oapen.org. ↑

Daftar Pustaka

  • Hesselink, Liesbeth. Healers on the Colonial Market: Native Doctors and Midwives in the Dutch East Indies. Leiden: KITLV Press, 2011.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer

01

Review Buku Homo Deus: Saat Manusia Berambisi Menjadi Tuhan

02

Chung Hwa Hui (1928-1942): Kisah Organisasi Politik Tionghoa yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia

03

Review Buku Jan Breman: Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme

04

20 Teknik Storytelling dalam Pembelajaran Sejarah

05

Sejarah Kuntilanak: Dari Pendiri Pontianak 1771 hingga Industri Film

Artikel Terbaru






Berlangganan Gratis