Ilustrasi Sejumlah pria duduk melingkar di warung kopi bambu di Tjiong Hwa, Serang-Banten, dengan suasana percakapan serius dan papan nama warung di dinding; ilustrasi bernuansa arsip kolonial yang menampilkan ruang diskusi rakyat kecil di awal abad ke-20. (ardiholmes.id)

Ketika Warung Kopi Mengancam Pemerintah Kolonial

Sejarah

Ringkasan Artikel

Pada awal 1926, otoritas kolonial menyimpulkan bahwa pusat gerakan komunis di Rangkasbitung, Banten, bersarang di sebuah warung kopi. Episode kecil ini hanya terekam karena dikutip dengan nada mengejek oleh koran komunis di Amsterdam. Di baliknya tersingkap cara negara kolonial memandang ruang keseharian rakyat kecil sebagai ancaman politik.


Sarang Subversi di Rangkasbitung: Warung Kopi yang Membuat Penguasa Kolonial Gelisah (1926)

Titik Api di Sudut Warung

Pada Februari 1926, koran komunis Belanda De Tribune memuat kabar dari Hindia. Sebuah inspeksi mendadak di barak polisi lapangan (veldpolitie) Rangkasbitung menemukan bahwa beberapa agennya berlangganan koran komunis.

Yang meresahkan otoritas bukan musuh dari luar, melainkan kenyataan bahwa aparat keamanan mereka sendiri ikut terpapar.

Lebih jauh lagi, penyelidikan menyimpulkan bahwa titik api (brandpunt) pergerakan komunis di kota itu berada di sebuah warung kopi.

De Tribune menyambut kabar itu dengan kemenangan getir. Propaganda komunisme, tulisnya, tidak bisa dibendung dan menembus segala-galanya.[1]

Mengapa VOC Disebut Company-State? Ini Sejarahnya

Sekelompok pria berkumpul rapat di dalam warung kopi remang-remang di Serang-Banten, diterangi lampu minyak, dengan suasana tegang dan penuh perhatian; ilustrasi bergaya arsip sejarah yang menggambarkan percakapan politik di ruang sehari-hari. (ardiholmes.id)

(Sebuah Ilustrasi, bukan foto asli) Menggambarkan kemungkinan suasana diskusi di warung kopi Banten pada awal 1926, ketika ruang-ruang informal seperti warung menjadi tempat bertemunya berita, gagasan, dan percakapan politik di tengah meningkatnya pengawasan pemerintah Hindia Belanda. Adegan ini merupakan rekonstruksi visual berdasarkan sumber-sumber sejarah, bukan dokumentasi peristiwa tertentu.

Mengapa Sebuah Warung Bisa Berbahaya

Ruang yang Lolos dari Sensor

Untuk memahami kegelisahan itu, kita perlu melihat apa yang bisa dan tidak bisa dikuasai negara kolonial.

Pemerintah Hindia Belanda punya tangan panjang untuk mengawasi barang cetakan. Surat kabar bisa diberangus, pamflet bisa disita, penulisnya bisa dibuang.

Tetapi obrolan di warung kopi adalah perkara lain. Tidak ada sensor yang sanggup menyaring percakapan dari mulut ke mulut.

Di sinilah warung kopi memperoleh bobotnya. Ia berfungsi sebagai semacam infrastruktur lisan: tempat berita, rumor (geruchten), dan isi pamflet yang dibacakan keras berpindah dari satu orang ke orang lain.

Fungsi ini penting di masyarakat yang sebagian besar belum melek huruf. Sehelai selebaran terlarang mungkin hanya terbaca segelintir orang, tetapi isinya bisa menjangkau puluhan telinga begitu diperbincangkan di lincak warung.

Pasal 161 bis: Sebelum 1923, Mogok Bukan Kejahatan di Hindia Belanda

Pada awal 1926, ruang gerak organisasi pun makin dipersempit. Pemerintah membatasi hak berkumpul sejumlah serikat buruh, dari pekerja besi hingga percetakan.[2]

Ketika pintu-pintu resmi ditutup, ruang keseharian yang dianggap remeh justru menanggung beban lebih.

Warung tidak menggantikan rapat, tetapi menjadi tempat denyut percakapan tetap hidup saat ruang formal diawasi.

Bagi aparat yang sejak lama memandang kerumunan dengan campuran kekuatiran dan curiga, sebuah warung yang ramai obrolan politik adalah pemandangan yang mengganggu.[3]

Rangkasbitung dan Tradisi Pemberontakan Banten

Lalu mengapa justru Rangkasbitung? Mengapa bukan kafe-kafe besar di Batavia atau Bandung?

Duit Ayam Jago: Uang Palsu yang Menguasai Pasar Nusantara Hampir Seabad

Jawabannya terletak pada Banten itu sendiri. Wilayah ini memiliki sejarah panjang perlawanan yang berakar pada agama dan kekecewaan kaum tani.

Pada 1888, Banten meletus dalam pemberontakan petani besar yang mengguncang kekuasaan kolonial, salah satu perlawanan paling terkenal pada abad kesembilan belas.[4]

Pemberontakan itu tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari jaringan tarekat, persaudaraan mistik Islam yang dipimpin para ulama dan haji, dan dijalari harapan akan datangnya Ratu Adil, sang juru selamat yang diyakini bakal menumbangkan penindasan.

Dengan kata lain, Banten sudah lama punya saluran sosial untuk mengubah kekecewaan menjadi perlawanan, jauh sebelum palu arit dikenal di sana.

Memasuki tahun 1920-an, satu lapisan baru bertambah. Banten menjadi tempat bertemunya tiga arus: ulama dan jaringan tarekat, para jawara atau jagoan lokal, dan organisasi komunis yang sedang tumbuh.

Sejarawan Michael Williams menunjukkan bahwa Pemberontakan Banten 1926 justru lahir dari perpaduan hibrida ini, bukan dari satu ideologi tunggal.[5]

Di Rangkasbitung, ibu kota Lebak, anyaman itu kian rumit dengan kehadiran buruh kereta api. Serikat buruh kereta adalah salah satu basis pengorganisasian terpenting bagi gerakan kiri pada masa itu.

Dalam dunia semacam inilah sebuah warung kopi bukan lagi sekadar tempat singgah. Ia bisa menjadi simpul tempat berbagai jaringan itu saling bersilangan, jauh dari sorot mata pejabat.

Ironi Warung Kopi yang Diremehkan

Beberapa bulan kemudian, kegelisahan itu terbukti bukan isapan jempol. Pada malam 12 November 1926, pemberontakan komunis pecah serentak di sejumlah wilayah Jawa Barat, dari Batavia, Tangerang, hingga Priangan, dan Banten menjadi satu dari hanya dua daerah di seluruh Hindia tempat perlawanan itu benar-benar berkobar dan bertahan.[6]

Para penyulutnya memang cuma segelintir orang, dan banyak di antaranya bergerak tanpa restu Moskwa. Tetapi mereka menemukan tanah yang subur, sebab bara perlawanan itu sudah lama disiapkan oleh tradisi panjang Banten sendiri.

Yang paling menggugah dari kisah ini bukan hanya warungnya, melainkan cara ia sampai kepada kita.

Kita tidak tahu nama pemilik warung itu. Kita tidak tahu siapa saja yang duduk di sana, apa yang mereka bicarakan, atau seperti apa rupa tempatnya.

Warung kopi Rangkasbitung hanya muncul dalam catatan sejarah sebagai bayangan, terekam justru karena ia membuat negara gelisah.

Lebih ironis lagi, satu-satunya suara yang mengabadikannya adalah koran komunis di Amsterdam yang sedang menertawakan kepanikan penguasa kolonial, ribuan kilometer dari Banten.

Di situlah maknanya. Ruang-ruang keseharian rakyat kecil, yang dianggap remeh dan tak layak dicatat, ternyata sanggup memikul bobot politik yang nyata.

Sebuah warung kopi sederhana di kota kecil bisa membuat sebuah pemerintahan kolonial merasa terancam. Dan justru karena rasa terancam itulah, untuk sekejap, ia terlihat dalam sejarah.

Catatan Kaki

  1. De Tribune (Amsterdam), 17 Februari 1926. Laporan ini mengutip redaktur Algemeen Indisch Dagblad (Batavia), yang bersumber dari koran-koran bumiputera (inlandsche bladen). De Tribune adalah organ resmi Partai Komunis Belanda (CPH), sehingga nada beritanya bersifat merayakan kepanikan tersebut, bukan laporan kolonial yang netral.
  2. Mengenai pembatasan hak berkumpul (beperking vergaderrecht) sejumlah serikat buruh terhitung sejak awal tahun 1926, lihat Bataviaasch Nieuwsblad, 19 Januari 1926.
  3. Mengenai transformasi psikologis aparat kolonial yang memandang ruang publik dan kerumunan dengan campuran antara kecemasan dan pengawasan ketat, lihat Marieke Bloembergen, De geschiedenis van de politie in Nederlands-Indië: Uit zorg en angst (Amsterdam: Boom, 2009).
  4. Sartono Kartodirdjo, The Peasants’ Revolt of Banten in 1888 (The Hague: Martinus Nijhoff, 1966).
  5. Michael C. Williams, Sickle and Crescent: The Communist Revolt of 1926 in Banten (Ithaca: Cornell Modern Indonesia Project, 1982); dan Communism, Religion, and Revolt in Banten in the Early Twentieth Century (Athens: Ohio University Center for International Studies, 1990).
  6. Mengenai pecahnya pemberontakan pada malam 12 November 1926 di Jawa Barat dan Banten sebagai salah satu dari hanya dua wilayah dengan perlawanan paling bertahan, lihat Harry J. Benda dan Ruth T. McVey (ed.), The Communist Uprisings of 1926–1927 in Indonesia: Key Documents (Ithaca: Modern Indonesia Project, Cornell University, 1960).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer

01

Review Buku Homo Deus: Saat Manusia Berambisi Menjadi Tuhan

02

Chung Hwa Hui (1928-1942): Kisah Organisasi Politik Tionghoa yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia

03

20 Teknik Storytelling dalam Pembelajaran Sejarah

04

Detective Board: Solusi Krisis Literasi Sejarah Indonesia

05

Review Jujur NotebookLM: Asisten AI Guru Sejarah atau Sekadar Gimmick?

Artikel Terbaru






Berlangganan Gratis