Sebuah Ilustrasi ukiran sejarah berwarna dengan gaya lukisan vintage yang menggambarkan suasana Gerbang Baru (The New Gate) di Batavia kolonial. Di langit, terdapat spanduk pita besar bertuliskan "NEGOTIE IN OPIUM BATAVIA". Di latar depan, para kuli pribumi terlihat memikul peti-peti kayu yang ditandai dengan lambang "VOC", "OPIUM CASSA", dan tulisan "OPIUM". Di sebelah kanan, sebuah jembatan angkat melintasi parit kota dengan perahu kecil di bawahnya. Lanskap kota abad ke-17 yang hidup dan mendetail (ardiholmes.id).

Sejarah Candu dan VOC: Ketika Madat Merajalela di Jawa

Sejarah

Ringkasan Artikel

  • Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) bukan hanya pedagang rempah. Sejak 1640-an, kongsi dagang Belanda ini membangun bisnis opium dari ladang Bihar di Benggala menuju lelang Batavia.
  • Perjanjian tahun 1677 dengan Amangkurat II memberi VOC monopoli candu di Mataram, disusul Palembang dan Cirebon. Konsumsi opium Jawa dan Madura melonjak dari 4.000 pon (1600) menjadi 70.000 pon (1678), lalu 156.000 pon (1745).
  • Bisnis ini digerogoti penyelundupan pegawainya sendiri, diambil alih klub elite Amfioen Sociëteit, dan akhirnya diwariskan kepada negara kolonial.

Bagaimana VOC Membangun Monopoli Candu dan Membanjiri Jawa dengan Opium Benggala

Beberapa kali dalam setahun, lapangan di dekat Kasteel Batavia berubah menjadi arena lelang.

Peti-peti kayu bersegel lambang VOC ditawar para pedagang kota. Isinya bukan pala atau cengkih, melainkan opium dari Bihar.

Sejarah VOC biasa dikisahkan lewat rempah. Padahal salah satu mesin uangnya yang paling tahan lama justru candu.

Artikel ini menelusuri bagaimana sebuah perusahaan mengubah narkotika menjadi komoditas monopoli, dan apa harganya bagi Jawa.

Sebuah peta maritim kuno wilayah Asia dan Hindia Timur (Oost Indien) berwarna sepia abad ke-17 yang telah diedit. Terlihat garis rute merah tebal berpanah yang menunjukkan rute perdagangan opium VOC. Garis utama bermula dari Bengala (India), turun melewati Samudra Hindia, dan mendarat di Batavia (Jawa). Dari Batavia, terdapat percabangan rute sekunder berwarna merah yang menyebar ke sepanjang pesisir utara Jawa (Cirebon, Jepara, Gresik) dan ke arah Cina. Di bagian bawah terdapat legenda teks dwi-bahasa Belanda-Indonesia bertuliskan keterangan rute opium VOC (ardiholmes.id).

Peta Jaringan Narkotika Kompeni”: Peta maritim kuno yang dimodifikasi untuk memvisualisasikan jalur pasokan candu VOC. Garis merah memperlihatkan perjalanan candu dari ladang Bihar di Benggala menuju pelabuhan utama Batavia, sebelum akhirnya didistribusikan ke pedalaman Jawa dan pasar Asia lainnya.

Jawa Sebelum Banjir Candu

Pada tahun 1600, candu masih barang pinggiran di Jawa.

Reni Putiray Kaya: Perempuan Maluku yang Lagunya Direkam di Moskow

J.C. Baud, pejabat kolonial yang menyusun sejarah opium pertama untuk Hindia Belanda, menaksir konsumsi Jawa dan Madura hanya sekitar 4.000 pon setahun. Itu untuk penduduk sekitar tiga juta jiwa.[1]

Satu pon setara kurang lebih setengah kilogram. Artinya, pemakaian per kepala saat itu nyaris tak terhitung.

Opium lebih dikenal sebagai obat. VOC sendiri sudah memungut cukai atas candu yang masuk ke Jawa sejak 1628.[2]

Madat, dari obat menjadi candu rakyat

Titik baliknya terjadi sekitar 1670. Warga Batavia mulai mencampur opium dengan tembakau, racikan yang dikenal sebagai madat.

Arsip Batavia mencatat campuran ini sangat adiktif dan membuka jalan bagi kecanduan serta kriminalitas.[3]

Sejarah Pocong: Dari Kain Kafan hingga Pocong Keliling

Pasar baru pun lahir. VOC berdiri paling depan untuk memasoknya.

Mesin Bisnis Candu, dari Ladang Bihar ke Lelang Batavia

Rantai pasok Benggala

Sebuah ilustrasi berwarna penuh (full color) yang menggambarkan interior atau bagian dalam gudang penumpukan raksasa di pabrik opium Patna, India. Ruangan memiliki langit-langit yang sangat tinggi dengan rak-rak kayu masif bertingkat yang membentang luas ke latar belakang. Rak-rak tersebut dipenuhi oleh ribuan bola candu mentah berwarna krem yang disusun rapi. Beberapa pekerja lokal India dengan pakaian tradisional sibuk memindahkan bola-bola candu di lantai, sementara dua tangga kayu panjang bersandar pada rak. Pencahayaan dramatis dengan teks di bagian bawah "THE STACKING ROOM, OPIUM FACTORY AT PATNA, INDIA" (ardiholmes.id).

Lumbung Candu Benggala”: Pemandangan di dalam The Stacking Room pabrik opium di Patna, India. Dari gudang raksasa di Bihar inilah ribuan pon candu Benggala diproduksi, ditumpuk, dan dikemas secara massal oleh VOC untuk dikapalkan ke Jawa demi meraup keuntungan tanpa batas.

VOC mulai serius menggarap opium pada 1640-an.

Mula-mula perusahaan memakai opium Malwa dari India barat. Sejak 1648, pembelian beralih ke opium Bihar melalui pasar Patna.

Setelah 1670, Bihar praktis menjadi pemasok tunggal candu bagi Nusantara.[4]

Bagi sebuah kongsi dagang, opium adalah komoditas impian. Nilainya tinggi, volumenya kecil, dan pembelinya selalu kembali.

Tebu Ajaib POJ 2878: Drama Sains di Balik Penyelamat Gula Dunia dari Jawa

Perjanjian 1677 dengan Amangkurat II

Lompatan terbesar datang dari politik.

Pada 1677, Amangkurat II yang terdesak pemberontakan Trunajaya meneken perjanjian dengan VOC di Jepara.

Salah satu pasalnya memberi Kompeni hak istimewa. Rakyat Mataram hanya boleh memiliki opium yang terbukti dibeli dari VOC di Batavia, selebihnya disita. Pola serupa menyusul di Palembang (1678) dan Cirebon (1681).[5]

Distribusinya tertata rapi. Opium dilelang terbuka di Batavia dan dikemas dalam peti bersegel lambang Kompeni.

Kelas perantara, umumnya warga bebas Batavia, memborong dalam jumlah besar. Mereka lalu mengecerkannya kepada pedagang lokal di Gresik, Jepara, dan Cirebon.[6]

Ledakan Konsumsi dan Standar Ganda Kompeni

Hasil kerja mesin itu terbaca dalam angka yang dihimpun Baud:

  1. Tahun 1600: sekitar 4.000 pon untuk 3.000.000 jiwa.
  2. Tahun 1678: 70.000 pon untuk 3.780.000 jiwa.
  3. Tahun 1707: 108.266 pon.
  4. Tahun 1745: 156.148 pon.[7]

“Konsumsi opium meningkat jauh lebih cepat daripada penduduknya,” simpul Baud.[8]

Dalam waktu delapan dekade, pasar yang nyaris tidak ada berubah menjadi kecanduan massal.

Larangan di Maluku, bukti Kompeni tahu bahayanya

VOC bukannya buta terhadap risiko candu.

Pada 1674, perusahaan justru melarang penjualan dan konsumsi opium di Maluku. Tujuannya menjaga produktivitas para petani cengkih dan pala.

Di Batavia, penjualan eceran diawasi ketat supaya tidak menjangkau para budak.[9]

Bahayanya diakui, tetapi hanya ketika mengancam aset sendiri. Selama pemakainya rakyat di luar pagar Kompeni, candu tetap dagangan.

Musuh dari Dalam, Pegawai Sendiri Menjadi Penyelundup

Ancaman terbesar bagi monopoli ini bukan pesaing asing, melainkan orang dalam.

Pada 1676, candu selundupan yang dibawa pegawai VOC sendiri ditaksir mencapai 140.000 pon. Jumlah itu berkali lipat dari impor resminya.

Batavia menjawab dengan plakat larangan pada 1678, 1680, dan 1683. Plakat terakhir bahkan mengancam hukuman mati, dan tetap saja gagal.[10]

Skandal paling telanjang meledak di Malaka. Sekitar 1743, gubernur, fiskal, dan syahbandar kota itu diperkarakan dalam urusan penyelundupan candu.

Ketiganya ditahan pada akhir Desember 1743 dan perkaranya disidangkan di Batavia sampai 1746.[11]

Upaya perang harga pada 1695 untuk mematikan pesaing juga kandas. Para penyelundup membeli langsung di Patna dengan ongkos jauh lebih ringan.[12]

Amfioen Sociëteit, Klub Laba Para Elite

Pada 1745, Gubernur Jenderal Van Imhoff mengubah arsitektur bisnis ini.

Ia mendirikan Amfioen Sociëteit, perusahaan saham yang memborong candu dari VOC seharga 450 ringgit per peti, lalu menjualnya kembali dengan untung.

Setelah lima tahun berjalan, laba bersihnya sekitar 150.000 ringgit per tahun.

Sahamnya dikuasai para petinggi. Arsip menyebut kursi direksinya terang-terangan sebagai jalan “memperbaiki penghasilan dari jabatan-jabatan mulia mereka”.[13]

Pada 1769, sebanyak 172 dari 300 sahamnya bahkan sudah beredar di Eropa.

Jatuhnya Benggala ke tangan Inggris pada 1757 mencekik pasokan. Lembaga penerusnya akhirnya dibubarkan Daendels pada 1808.[14]

Warisan Sang Bandar

Sebuah ukiran sejarah asli monokrom hitam putih dari abad ke-17. Gambar menampilkan "The New Gate" atau Gerbang Baru Batavia di sisi kiri dengan arsitektur bangunan berlantai dua yang kokoh. Di langit bagian atas tengah, terdapat spanduk pita dekoratif bertuliskan "THE NEW GATE". Di sisi kanan, sebuah jembatan kayu angkat melintasi parit atau sungai kota. Berbagai figur masyarakat Batavia tempo dulu, termasuk tentara Belanda, penduduk lokal, dan kereta kuda, beraktivitas di jalanan (ardiholmes.id).

Gerbang Baru Batavia yang Asli”: Ukiran klasik hitam putih yang menunjukkan lanskap autentik Gerbang Baru (The New Gate) Batavia sebelum bisnis opium mendominasi perdagangan Kompeni. Dokumentasi ini menjadi bukti sejarah penting mengenai tata kota kolonial pada abad ke-17 (diambil dari foto menara saat ini di Sunda Kelapa, Jakarta Utara).

VOC bangkrut pada penghujung abad ke-18, tetapi model bisnis candunya berumur jauh lebih panjang.

Negara kolonial abad ke-19 melanjutkannya lewat opiumpacht, sistem sewa bandar candu yang kelak diteliti sejarawan James Rush.[15]

Hans Derks bahkan memelesetkan singkatan VOC menjadi “the Violent Opium Company”, Kompeni Opium yang Penuh Kekerasan.[16]

Dari lelang Batavia hingga kecanduan massal, candu memperlihatkan watak Kompeni yang paling konsisten. Logika laba yang membesarkan perusahaan ini juga yang membesarkan pasar narkotikanya.

Catatan Kaki

  1. J.C. Baud, “Proeve van eene geschiedenis van den handel en het verbruik van opium in Nederlandsch-Indië,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 1 (1853): 79-220, tabel perbandingan penduduk dan konsumsi pada hlm. 114-115.
  2. Hendrik E. Niemeijer, “The Central Administration of the VOC Government and the Local Institutions of Batavia (1619-1811): An Introduction,” dalam The Archives of the Dutch East India Company (VOC) and the Local Institutions in Batavia (Jakarta), ed. Louisa Balk, Frans van Dijk, dan Diederick J. Kortlang (Leiden: Brill, 2007).
  3. Niemeijer, “Central Administration of the VOC Government.”
  4. Om Prakash, The Dutch East India Company and the Economy of Bengal, 1630-1720 (Princeton: Princeton University Press, 1985), 145-148.
  5. Prakash, Dutch East India Company, 143, 149, 152. Tempat penandatanganan di Jepara disebut dalam Baud, “Proeve.”
  6. Prakash, Dutch East India Company, 145, 148.
  7. Baud, “Proeve,” 114-115.
  8. Baud, “Proeve,” 115. Kalimat asli: “Het verbruik van opium nam mitsdien veel sneller toe dan de bevolking.” Terjemahan penulis.
  9. Prakash, Dutch East India Company, 145-156.
  10. Prakash, Dutch East India Company, 154-155.
  11. L.C.D. van Dijk, “Bijvoegsels tot de Proeve eener geschiedenis van den handel en het verbruik van opium in Nederlandsch-Indië,” Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 1 (1853): 189 dan seterusnya.
  12. Prakash, Dutch East India Company, 145-156.
  13. Niemeijer, “Central Administration of the VOC Government.” Frasa asli: “to improve the modest incomes of their illustrious offices.” Terjemahan penulis. [PERLU VERIFIKASI ARDI: halaman]
  14. Niemeijer, “Central Administration of the VOC Government.”
  15. James R. Rush, Opium to Java: Revenue Farming and Chinese Enterprise in Colonial Indonesia, 1860-1910 (Ithaca: Cornell University Press, 1990). Edisi Indonesia: Candu Tempo Doeloe: Pemerintah, Pengedar, dan Pecandu, 1860-1910 (Jakarta: Komunitas Bambu, 2013).
  16. Hans Derks, History of the Opium Problem: The Assault on the East, ca. 1600-1950 (Leiden: Brill, 2012), 189-237.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer

01

Review Buku Homo Deus: Saat Manusia Berambisi Menjadi Tuhan

02

Chung Hwa Hui (1928-1942): Kisah Organisasi Politik Tionghoa yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia

03

20 Teknik Storytelling dalam Pembelajaran Sejarah

04

Detective Board: Solusi Krisis Literasi Sejarah Indonesia

05

Review Jujur NotebookLM: Asisten AI Guru Sejarah atau Sekadar Gimmick?

Artikel Terbaru






Berlangganan Gratis