Potret setengah badan Nj. Reni Putiray Kaya, tokoh pergerakan perempuan dan komponis lagu anak-anak asal Maluku. Beliau mengenakan mantel musim dingin berwarna krem, syal tebal hijau, dan memegang seikat dedaunan dengan latar belakang biru muda cerah. Terdapat teks cetak nama di bagian bawah foto. (ardiholmes.id)

Reni Putiray Kaya: Perempuan Maluku yang Lagunya Direkam di Moskow

Sejarah

Ringkasan Artikel

Reni Putiray Kaya adalah perempuan Maluku yang memimpin koor radio kolonial pada usia tujuh belas tahun, dipecat pemerintah Hindia Belanda karena dianggap anti-Belanda, lalu menjadi komponis lagu anak-anak yang rekamannya beredar hingga Moskow dan Amsterdam. Jejak hidupnya terekam dalam arsip majalah Api Kartini tahun 1960.


Perempuan Maluku yang Lagunya Sampai ke Moskow

Pada penghujung 1950-an, lagu-lagu anak berbahasa Indonesia berputar di piringan hitam yang dicetak jauh di Belanda dan Uni Soviet.

Salah satunya berjudul “Ada botol kosong”. Yang lain “Aku kutjing jang mentjari tikus”.

Penciptanya bukan seorang komponis dari pusat kekuasaan di Jawa, melainkan seorang perempuan dari sebuah pulau kecil di Maluku.

Namanya Reni Putiray Kaya. Kini namanya nyaris hilang dari ingatan publik, padahal hidupnya menyimpan satu kisah perlawanan yang panjang: dari mikrofon radio kolonial, ke ruang kuliah di negeri penjajah, sampai panggung kebudayaan dunia.

Sejarah Candu dan VOC: Ketika Madat Merajalela di Jawa

Foto bersama delegasi misi kebudayaan Indonesia, termasuk Reni Putiray Kaya (kedua dari kanan), saat melawat ke Moskow, Uni Soviet. Anggota delegasi tampil formal dengan setelan jas, peci, mantel hangat, dan syal, berpose di depan gedung megah berarsitektur klasisisme Soviet dengan latar belakang patung perunggu tokoh sejarah di atas pedestal. (ardiholmes.id)

Reni Putiray Kaya bersama delegasi kebudayaan Indonesia saat melakukan kunjungan internasional di Moskow, Uni Soviet, sekitar akhir tahun 1950-an. (Sumber foto: Majalah Api Kartini, No. 12-13, 1960, diedit dengan warna)

Tujuh Belas Tahun di Depan Mikrofon NIROM

Reni berasal dari Pulau Tjengkeh di Maluku, gugusan kepulauan yang sejak berabad-abad termasyhur sebagai negeri rempah penghasil cengkih.[1]

Bakatnya di dunia seni suara terlihat sejak belia. Pada usia tujuh belas tahun, ia sudah dipercaya memimpin koor wanita di stasiun radio NIROM di Surabaya.

NIROM adalah perusahaan penyiaran resmi pemerintah Hindia Belanda, jaringan radio terbesar di tanah jajahan kala itu.[2]

Di gelombang udara yang dikuasai penjajah itu, justru suara seorang perempuan muda dari Maluku yang memandu paduan suara.

Memimpin paduan suara di stasiun sepenting itu, pada usia semuda itu, menumbuhkan keyakinan dalam dirinya. Ia merasa sanggup menggapai hal-hal yang jauh lebih besar.

Sejarah Pocong: Dari Kain Kafan hingga Pocong Keliling

Belajar di Belanda, Melawan dari Leiden

Hoofdakte di Amsterdam, ROEPI di Leiden

Reni melanjutkan pendidikan keguruan hingga ke jantung negeri penjajah. Di Amsterdam, ia meraih ijazah guru lengkap dengan kualifikasi hoofdakte.

Hoofdakte adalah sertifikat keguruan tingkat tertinggi dalam sistem pendidikan Belanda, bekal yang membuka jalan untuk memimpin sebuah sekolah.[3]

Tetapi di Belanda ia tidak sekadar menuntut ilmu. Pada tahun 1938, ia terjun ke gerakan kemerdekaan di kalangan mahasiswa Indonesia di Leiden, bergabung dalam Roekoen Peladjar Indonesia atau ROEPI.

Leiden saat itu adalah salah satu pusat tumbuhnya kesadaran kebangsaan di kalangan pelajar Indonesia di perantauan.[4]

Di sanalah seorang calon guru perlahan berubah menjadi seorang yang sadar politik.

Tebu Ajaib POJ 2878: Drama Sains di Balik Penyelamat Gula Dunia dari Jawa

Dipecat Kolonial, Bergabung Revolusi

Reni pulang ke tanah air pada tahun 1940. Dua tahun kemudian, statusnya sebagai guru dicabut.

Pemerintah kolonial memecatnya karena ia dipandang anti-Belanda. Pemecatan itu terjadi di Surabaya pada 1942, di bawah pemerintahan Hartevelt.

Tahun 1942 sekaligus menandai runtuhnya kuasa Belanda di Hindia oleh pendudukan Jepang, awal dari masa penuh gejolak menuju proklamasi.[5]

Di Surabaya, Reni menjalin kerja sama erat dengan Bu Djar, putri dari Ibu Sudirman, nama yang dikenal luas dalam pergerakan perempuan.

Ketika revolusi kemerdekaan meletus, ia masuk barisan Laskar Pemuda Indonesia Maluku di Surabaya.

Di setiap penugasan, ia selalu dipercaya memimpin bagian kebudayaan. Bagi Reni, seni dan perjuangan tidak pernah menjadi dua hal yang terpisah.

Lagu Anak-anak sebagai Warisan Kebangsaan

Setelah Indonesia merdeka, Reni menemukan medan juang yang khas: menciptakan lagu untuk anak-anak.

Kumpulan karyanya dibukukan dengan judul Kurtjatji. Ia juga menulis buku lagu Kita Bergembira jilid I dan II.[6]

Buku Kita Bergembira bukan sekadar koleksi pribadi. Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan mengakuinya secara resmi untuk dipakai di Sekolah Rakyat dan Sekolah Guru Atas.

Artinya, lagu-lagu Reni masuk ke ruang-ruang kelas dan ikut membentuk telinga sebuah generasi.

Sebagian lagunya bahkan menembus rekaman piringan hitam di Belanda dan Uni Soviet.

Judul-judulnya sederhana dan dekat dengan dunia anak: “Lihatlah tanganku”, “Aku pohon Mangga”, “Madju perahuku madju”, dan “Pohon bungur dimusim bunga”.

Lewat lagu-lagu inilah seorang perempuan Maluku ikut menanam rasa kebangsaan pada anak-anak republik yang baru lahir.

Impresariat dan Mimpi Seni yang Bermartabat

Ambisi Reni tidak berhenti di buku lagu. Ia memimpin Yayasan Impresariat Indonesia.

Yayasan ini lahir dari satu keyakinan: kesenian Indonesia layak dikelola secara khusus dan profesional.

Bagi Reni, seni bukanlah sekadar selingan di malam amal, acara ramah tamah, atau hiburan santai.[7]

Seni harus menjadi jembatan antara dunia kebudayaan dan masyarakat, serta menyajikan pertunjukan bermutu tinggi dari dalam maupun luar negeri.

Di bawah kepemimpinannya, panggung yayasan menampilkan seniman dalam negeri seperti penyanyi Rukmini Sukmawati, penari Setiati Kailola, kesenian Batak pimpinan Nj. Mulia Panggabean, dan kesenian Jawa pimpinan Nj. Sutarjo.

Yayasan ini juga mendatangkan nama-nama besar dunia: penari Amerika Martha Graham, penyanyi Metropolitan New York Eleanor Steber, penari Inggris Anthony Burke, penari Jerman Alexander von Swaine, hingga pianis Polandia Jozef Pacholczyk.

Mendatangkan seniman sekaliber itu ke negeri yang baru seumur jagung adalah sebuah pernyataan tersendiri: Indonesia merdeka tidak gentar bersanding dengan panggung dunia.

Sebagai pelengkap, Reni memimpin Sekolah Musik Amabasti di Jalan Rasamala, kawasan Menteng, Jakarta.

Semua itu ia jalankan di tengah keterbatasan. Gedung pertunjukan kala itu belum dilengkapi dekor, tata lampu, dan tata suara yang memadai, sehingga karcis terpaksa dijual mahal sekadar menutup ongkos dan pajak.

Terlupakan, Tapi Tidak Seharusnya

Kiprah Reni membawanya melawat ke Inggris, Belanda, Jerman, Italia, Prancis, hingga Uni Soviet sebagai anggota misi kebudayaan.[8]

Di Uni Soviet ia menyempatkan diri menerbitkan buku nyanyian Amabasti dan Njanjian kanak-kanak dari Indonesia.

Ia mengaku puas dapat menyaksikan langsung sebuah negara yang sedang berjuang dalam pembangunan raksasa.

Di tengah seluruh kesibukan itu, ia tetap menjalani perannya sebagai ibu dari tiga orang putera.

Aktivis, komponis, pemimpin yayasan, sekaligus ibu: semua peran itu ia pikul dalam satu napas.

Hidup Reni Putiray Kaya adalah lintasan panjang seorang perempuan Maluku yang menolak ditentukan oleh penjajah yang pernah memecatnya.

Ia membalas dengan cara paling elegan: membangun kebudayaan bangsanya sendiri, lalu membawanya ke hadapan dunia. Sudah saatnya namanya kembali kita kenang.

Catatan Kaki

  1. Arsip Majalah Api Kartini, No. 11-12 Th. II (November-Desember 1960), 12-13. Seluruh data biografis dalam artikel ini bersumber dari arsip yang sama.
  2. NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschappij) adalah badan penyiaran radio resmi pemerintah Hindia Belanda yang beroperasi sejak pertengahan 1930-an dengan pemancar di sejumlah kota besar.
  3. Hoofdakte merupakan akta keguruan jenjang tertinggi dalam sistem pendidikan Belanda, yang umumnya menjadi syarat untuk memimpin sekolah.
  4. Sejumlah kota di Belanda, termasuk Leiden dan Den Haag, menjadi pusat berkumpulnya pelajar Indonesia dan lingkungan yang menyemai kesadaran politik antikolonial sejak 1920-an.
  5. Pendudukan Jepang atas Hindia Belanda dimulai pada Maret 1942 setelah Belanda menyerah, membuka periode pendudukan yang berlangsung hingga proklamasi kemerdekaan 1945.
  6. Api Kartini, 12-13.
  7. Api Kartini, 12-13.
  8. Api Kartini, 12-13.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada Langka (Logos ID) melalui laman https://langka.logosid.app/api-kartini atas penyediaan akses langsung ke arsip digital Majalah Api Kartini (1960), yang menjadi sumber primer utama dalam penulisan dan verifikasi artikel ini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer

01

Review Buku Homo Deus: Saat Manusia Berambisi Menjadi Tuhan

02

Chung Hwa Hui (1928-1942): Kisah Organisasi Politik Tionghoa yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia

03

20 Teknik Storytelling dalam Pembelajaran Sejarah

04

Detective Board: Solusi Krisis Literasi Sejarah Indonesia

05

Review Jujur NotebookLM: Asisten AI Guru Sejarah atau Sekadar Gimmick?

Artikel Terbaru






Berlangganan Gratis