Ringkasan Artikel
- Pada 1880-an, sebuah penyakit tak kasat mata bernama sereh nyaris menghancurkan industri gula Jawa.
- Penyelamatnya bukan mesin, melainkan sebuah gagasan: mengawinkan tebu mulia yang lemah dengan rumput liar yang perkasa.
- Hasilnya, varietas POJ 2878, melipatgandakan laba dan menyebar ke seluruh dunia, tetapi keajaiban biologis itu tidak pernah menjadi keajaiban bagi rakyat yang menanamnya.
Tebu Ajaib dari Jawa yang Menyelamatkan Industri, Bukan Rakyatnya
Di ladang-ladang tebu Jawa pada akhir abad ke-19, sesuatu yang ganjil terjadi. Batang tebu tumbuh kerdil, ruasnya menyusut, dan getahnya mengental seperti lendir.
Pemandangan itu menjelma mimpi buruk yang menjalar dari kebun ke kebun.
Industri gula raksasa yang menjadi tulang punggung kas kolonial sedang sekarat, dan musuhnya tak bisa dilihat mata.
Penyakit tak kasat mata yang nyaris membunuh industri
Penyakitnya disebut sereh. Ia menyumbat pembuluh tebu sehingga ruas batang tetap pendek dan tanaman gagal tumbuh.1

Dr. J.G. Kramers, Direktur Pertama Pusat Penelitian Gula Jawa Timur (Proefstation Oost-Java). Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia.
Celakanya, hampir seluruh perkebunan Jawa kala itu bergantung pada satu varietas saja, Black Cheribon, jenis tebu utama yang ditanam sejak pertengahan abad ke-19.
Ketika sereh menyerang, satu varietas tumbang berarti seluruh industri ikut tumbang.
Kepanikan ini melahirkan jawaban kelembagaan. Dalam tiga tahun beruntun, para industriawan gula mendirikan tiga stasiun riset tebu di Jawa.
Sumber: tahun pendirian dari Bremer (1961); identitas dan lokasi stasiun dari sejarah Proefstation.
Yang terakhir, di Pasuruan, kelak menulis namanya dengan tinta emas dalam sejarah gula dunia.
Mengawinkan yang mulia dengan yang liar
Gagasan penyelamatannya terdengar nyaris gila pada zamannya: kawinkan tebu mulia yang manis tapi rapuh dengan kerabat liarnya yang pahit tapi bandel.
Orang pertama yang memikirkannya adalah Soltwedel, direktur stasiun riset di Semarang. Pada 1885 ia mulai menanam tebu dari biji, dan bibit pertamanya justru glagah, rumput liar yang tumbuh bebas di Jawa.
Pada 1887 ia mencoba menyilangkan tebu dengan glagah. Persilangannya gagal, dan tahun itu juga ia wafat. Tetapi gagasannya hidup terus.2
Estafet berpindah ke Pasuruan. Pada 1893, Wakker, sang direktur, menyilangkan Black Cheribon dengan tebu liar bernama Kassoer yang ditemukan tumbuh di kaki sebuah gunung di kawasan Cirebon, Jawa Barat. Dari persilangan itu lahir tiga belas tanaman.3
Sementara itu, seorang ahli kimia bernama Kobus menempuh jalan lain. Pada 1890 ia berlayar ke India untuk mengumpulkan varietas tebu setempat, lalu mengarantinakannya di Pulau Banka sebelum membawanya ke Jawa.
Dalam laporan perjalanannya, Kobus menuliskan sebuah visi.
Diterjemahkan dari bahasa Belanda: sejumlah besar varietas tebu India tampaknya termasuk spesies lain, dan barangkali kita bisa menyilangkannya dengan tebu kita untuk memperoleh hibrida yang memadukan kadar gula tinggi kedua induk, dengan dimensi yang satu dan ketahanan yang lain.4
Itulah inti dari seluruh cerita ini. Kekuatan dari yang liar, kemanisan dari yang mulia, dalam satu batang.

Kegiatan di Afdeling Rietveredeling en Bloeiwijze Onderzoek (Departemen Pemuliaan dan Penelitian Pembungaan Tebu). Sumber: Arsip Nasional Republik Indonesia.
Kelahiran si tebu ajaib
Ada teka-teki yang lama mengganggu. Kassoer, tebu liar yang dipakai Wakker itu, ternyata bukan tumbuhan liar murni.
Lewat kajian bentuk oleh Jeswiet pada 1916 dan kajian sel oleh Bremer pada 1921, terbukti Kassoer sendiri adalah hibrida alami antara tebu mulia dan glagah.5
Alam, rupanya, sudah lebih dulu melakukan persilangan yang dikira manusia sudah ditemukan lebih dulu.
Dari sinilah jalan menuju keajaiban terbuka. Para peneliti menemukan bahwa sebuah klon bernama 2364 POJ, turunan dari persilangan dengan Kassoer, adalah induk betina terbaik.
Kode POJ pada nama varietas ini perlu dijelaskan sedikit. Ia singkatan dari Proefstation Oost-Java, nama resmi stasiun riset Pasuruan, sedangkan angka di belakangnya adalah nomor urut bibit hasil seleksi mereka. Jadi POJ 2878 berarti bibit nomor 2878 dari Pasuruan.
Klon 2364 POJ itu lalu disilangkan dengan varietas lain bernama EK 28. Pada 1921, dari persemaian itu dibesarkan beberapa klon sekaligus, dan satu di antaranya, bernomor 2878, ternyata jauh mengungguli yang lain.6
POJ 2878 lahir. Para ilmuwan menyebut prosesnya nobilisasi ketiga, yaitu hasil persilangan berlapis yang mengembalikan kemuliaan tebu setelah disuntik ketahanan dari yang liar.
Keunggulannya membuatnya layak disebut ajaib:7
- Tahan terhadap wabah sereh yang mematikan itu.
- Produktivitas dan kadar gulanya jauh lebih tinggi daripada varietas sebelumnya.
- Unggul sebagai induk untuk melahirkan varietas-varietas baru.
Tiga tanggal yang sering dikacaukan
Di sinilah banyak cerita populer keliru. Mereka menyebut POJ 2878 “ditemukan dan dirilis pada 1921”, padahal ada beberapa babak waktu yang sama sekali berbeda.
Sumber: seleksi 1921 dari Bremer (1961); data adopsi, kenaikan hasil, dan ekspor dari tinjauan modern dan National Geographic Indonesia.
Tahun 1921 hanyalah saat klon itu diseleksi dari persemaian, bukan saat ia diedarkan luas. Adopsi besar-besaran dan lonjakan hasil panen baru datang bertahun-tahun kemudian.8
Dari sebuah kota kecil di Jawa Timur, tebu ajaib lalu menaklukkan dunia.9
Keajaiban untuk siapa?
Pertanyaan yang jarang diajukan adalah: keajaiban ini bekerja untuk siapa.
POJ 2878 memang menyelamatkan industri gula. Ia menyembuhkan tebu, melipatgandakan rendemen, dan menggemukkan laba para pemilik pabrik serta kas kolonial.
Tetapi sains ini menyelamatkan mesin, bukan orang yang menjalankannya. Tanah yang ditanami tetap tanah desa yang disewa murah, dan tenaga yang menanamnya tetap kuli dengan upah rendah yang sama.
Keajaiban biologis itu, dengan kata lain, tidak pernah menjelma menjadi keajaiban sosial. Tebu menjadi lebih kuat, manis, dan tahan banting, sementara nasib penanamnya nyaris tak bergeser.
Warisan yang bercabang dua
Hari ini gedung tua Proefstation di Pasuruan masih berdiri, kini menjadi pusat penelitian gula nasional.10
Ia layak dikenang sebagai salah satu pencapaian riset terbesar yang pernah lahir di Nusantara.
Namun warisannya bercabang dua. Ada kebanggaan atas ilmu yang memukau dunia, dan ada pertanyaan yang ditinggalkannya: untuk siapa sebuah kemajuan dirancang, dan siapa yang akhirnya menuai manisnya.
Catatan Kaki
- G. Bremer, “Problems in Breeding and Cytology of Sugar Cane,” Euphytica 10, no. 1 (1961): 60. Penyakit sereh menyumbat sistem pembuluh sehingga ruas tebu tetap pendek; Black Cheribon adalah varietas dominan di Jawa pada 1880-an; wabah ini menjadi salah satu alasan tiga stasiun riset didirikan pada 1885, 1886, dan 1887. Nomor halaman mohon dicek ulang terhadap berkas Bremer yang ada.
- Bremer, “Problems in Breeding,” 60. Soltwedel, direktur pertama stasiun “Midden-Java” di Semarang, mulai menanam tebu dari biji pada 1885; bibit pertamanya glagah liar; persilangannya dengan glagah pada 1887 gagal, dan ia wafat pada tahun yang sama.
- Bremer, “Problems in Breeding,” 61. Hibrida antarspesies pertama diperoleh Wakker pada 1893 dari persilangan Black Cheribon dengan Kassoer, yang ditemukan tumbuh liar di kaki gunung di Jawa Barat. Catatan: arsip ANRI mencatat Wakker sebagai direktur kedua Proefstation, setelah Kramers.
- Bremer, “Problems in Breeding,” 61. Kobus pergi ke India pada 1890, mengarantina varietas di Pulau Banka, dan mengimpor tebu Chunnee yang pertama kali disilangkan pada 1897. Kutipan visinya diterjemahkan dari kutipan bahasa Inggris Bremer; teks Belanda asli laporan perjalanan Kobus belum berhasil ditemukan (lead manual: Archief voor de Java-Suikerindustrie Jilid I, 1893, dan Delpher).
- Bremer, “Problems in Breeding,” 61. Kassoer terbukti merupakan hibrida spontan antara tebu mulia dan glagah, lewat kajian morfologi Jeswiet (1916) dan kajian sitologi Bremer (1921).
- Bremer, “Problems in Breeding,” 61-62. Klon 2364 POJ (turunan 100 POJ disilangkan dengan Kassoer) adalah induk betina terbaik; disilangkan dengan EK 28; pada 1921 dibesarkan klon 2875, 2878, dan 2883 POJ, dan 2878 jauh paling unggul; varietas ini tergolong nobilisasi ketiga.
- Mahandis Y. Thamrin, “Pusaka Pasuruan: Dunia Mengakui Tebu Ajaib Berasal dari Tanah Jawa,” National Geographic Indonesia, 2021; lih. juga Good News From Indonesia. POJ 2878 dinilai unggul sebagai tanaman induk (parent material).
- “Sugarcane Genetics: Underlying Theory and Practical Application,” ScienceDirect, 2024. POJ 2878 dipopulerkan di Jawa pada 1927-1930, dengan kenaikan hasil tebu sekitar 21 persen.
- Thamrin, “Pusaka Pasuruan.” Hampir 200.000 hektar pada akhir 1920-an; varietas ini diekspor ke Karibia dan Louisiana sejak 1924, lalu ke Kolombia pada awal 1930-an.
- Arsip Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) Periode 1893-1982, Arsip Nasional Republik Indonesia. Urutan direktur (Kramers, Wakker, Kobus), foto varietas POJ 2878 sebagai “tebu ajaib,” dan gedung Proefstation Pasuruan.



Komentar