Metodologi Sejarah: Membedah Ulang Perdebatan Carr dan Elton

Kajian Sejarah

Fakta Tidak Berbicara Sendiri: Membaca Ulang Perdebatan Dalam Metodologi Sejarah Antara Carr Dan Elton

Mengapa Pertanyaan Ini Belum Selesai

Pada 1830-an, sejarawan Jerman Leopold von Ranke meninggalkan kalimat yang sampai hari ini terus dikutip dalam pengantar metodologi sejarah: tugas sejarawan adalah menunjukkan masa lalu wie es eigentlich gewesen — sebagaimana ia sebenarnya terjadi (Ranke & Iggers, 1973).

Janji ini terdengar sederhana: jika sejarawan cukup teliti, cukup disiplin, dan cukup tunduk pada bukti, ia bisa sampai pada kebenaran objektif tentang apa yang pernah terjadi. Janji itu menjadi fondasi historiografi profesional sepanjang abad ke-19.

Tetapi pada 1961, E. H. Carr menulis kalimat yang menggoyahkan seluruh fondasi itu: fakta tidak berbicara sendiri (Carr, 1961). Sejarawan, kata Carr, selalu memilih, menyaring, menyusun, dan menafsirkan. Tidak ada kebenaran historis yang tinggal diambil dari arsip seperti buah dari pohon.

Enam dekade kemudian, perdebatan yang dipicu Carr — dan dijawab keras oleh Geoffrey Elton (1967) — bukan saja belum selesai, ia kembali dalam tiga bentuk baru. Yang pertama adalah perdebatan filosofis tentang historical realism yang memanas sejak 2020 (Roth, 2020; Førland & Mitrović, 2023; Ohara, 2026).

Yang kedua adalah krisis kepercayaan publik kepada sejarawan profesional di era populisme dan post-truth (Gudonis & Jones, 2020; Černín, 2022). Yang ketiga adalah tantangan generative AI yang bisa memproduksi narasi yang terdengar otoritatif tanpa pernah membuka satu pun arsip.

Majalah Api Kartini 1959: Belajar Parenting Ala Gerwani yang Dilupakan

Tulisan ini memetakan ulang debat Carr–Elton melalui tiga isu yang sedang hidup: apakah fakta sejarah ditemukan atau dibuat, bagaimana kita menilai tafsir yang baik, dan apa konsekuensi dari semua ini di era ketika mesin sudah ikut bicara tentang masa lalu.

Mengapa Carr dan Elton Masih Penting Hari Ini

Infografis berjudul Peta Fondasi Filsafat Sejarah: Evolusi Objektivitas dan Fakta. Menampilkan ilustrasi Leopold von Ranke dengan janji objektivitas "wie es eigentlich gewesen", E. H. Carr dengan kutipan "Fakta Tidak Berbicara Sendiri" dan konsep sejarah sebagai dialog, serta G. R. Elton yang menekankan disiplin teknis ketat serta kerendahan hati di hadapan bukti.

Membedah kembali akar perdebatan metodologi sejarah yang memengaruhi para sejarawan hingga hari ini. Dimulai dari janji objektivitas mutlak abad ke-19 oleh Leopold von Ranke. E.H. Carr kemudian menggoyahkan fondasi tersebut dengan menyatakan bahwa fakta sejarah selalu disaring dan ditafsirkan, menjadikan sejarah sebagai dialog tanpa henti. Pendapat ini dijawab oleh G.R. Elton yang menolak relativisme dan bersikukuh pada disiplin metodologis serta keratnya kritik sumber.

Untuk memahami mengapa perdebatan ini terus dirujuk, kita perlu kembali sebentar ke posisi masing-masing tokoh dan ke lawan filosofis yang mereka hadapi. Pembaca yang sudah mengenal pemetaan delapan babak historiografi yang saya bahas di tempat lain bisa melompati bagian ini; bagi pembaca lain, ini ringkasan yang diperlukan agar isu-isu di bagian berikut tidak terasa abstrak.

Carr dan Dialog Tanpa Akhir antara Sejarawan dan Faktanya

Ketika Carr berdiri di Cambridge pada awal 1960-an menyampaikan kuliah What Is History?, ia melawan dua kubu sekaligus. Di satu sisi, ada warisan positivisme yang membayangkan sejarah sebagai akumulasi fakta — semakin banyak fakta yang dikumpulkan dengan benar, semakin dekat kita pada kebenaran. Di sisi lain, ada relativisme yang menganggap semua versi sejarah sama validnya karena toh semuanya konstruksi. Carr mengambil jalan tengah dengan rumusan yang sampai sekarang masih hidup: sejarah adalah dialog tanpa akhir antara sejarawan dan faktanya, sebuah proses interaksi terus-menerus antara masa kini dan masa lalu (Carr, 1961). Fakta tidak hilang dalam rumusan ini — ia tetap menjadi batu uji. Tetapi tanpa kerangka penafsiran, fakta hanyalah debu arsip.

Elton dan Kerendahan Hati di Hadapan Bukti

Lima tahun setelah Carr, sejarawan Tudor Inggris Geoffrey Elton menulis The Practice of History (1967) sebagai serangan langsung. Bagi Elton, definisi Carr terlalu lunak. Sejarah, kata Elton, harus dipraktikkan dengan disiplin teknis yang ketat: pelatihan paleografi, kritik sumber yang ekstensif, kemampuan membedakan dokumen otentik dari yang palsu. Tugas sejarawan bukan berdialog dengan masa lalu seperti seorang filsuf, melainkan merekonstruksi apa yang benar-benar terjadi dengan kerendahan hati di hadapan bukti. Posisi Elton sering disalahpahami sebagai positivisme naif. Sebenarnya, ia tidak menolak bahwa setiap sejarawan punya perspektif; ia hanya menolak gagasan bahwa perspektif itu boleh dijadikan alasan untuk meremehkan disiplin metodologis.

Yang Sering Hilang dari Cerita: Tradisi Rankean

Yang menarik, baik Carr maupun Elton sebenarnya berdialog dengan satu lawan filosofis yang sama: Leopold von Ranke. Carr menolak janji Rankean — ia menyebut wie es eigentlich gewesen sebagai mitos profesi yang harus dilampaui. Elton, sebaliknya, melihat dirinya sebagai pewaris Ranke yang lebih dewasa: tetap setia pada empirisme, tetapi sadar bahwa sejarawan bukan mesin. Membaca Ranke langsung — terutama edisi Iggers (Ranke & Iggers, 1973) — penting karena tanpa Ranke, posisi Carr dan Elton kehilangan latar yang membuatnya bermakna. Tradisi Rankean adalah meja makan tempat keduanya duduk bertengkar; tanpa meja itu, pertengkaran mereka jadi tidak terdengar.

Gerwani, Kontes Mangga, dan Pembebasan Irian Barat

Isu Pertama: Apakah Fakta Sejarah Ditemukan atau Dibuat?

Inilah pertanyaan metafisis yang paling tua dan paling baru sekaligus. Tua, karena ia hadir sejak Ranke. Baru, karena sejak 2020-an, pertanyaan ini kembali dalam bentuk yang lebih tajam — dengan tokoh-tokoh, jurnal, dan kosakata yang berbeda dari debat Carr–Elton aslinya.

Apa yang Carr Maksud dengan “Fakta Sejarah”

Salah satu kontribusi Carr yang sering dilewati pembaca pemula adalah pembedaannya antara fact about the past dan historical fact. Yang pertama adalah segala sesuatu yang pernah terjadi di masa lalu — tak terhitung jumlahnya, sebagian besar tidak pernah terdokumentasikan. Yang kedua adalah fact about the past yang sudah diangkat oleh komunitas sejarawan menjadi bagian dari narasi historis (Carr, 1961). Carr menggunakan ilustrasi terkenal: jutaan orang menyeberangi Sungai Rubicon sebelum dan sesudah Caesar, tetapi hanya penyeberangan Caesar yang menjadi historical fact. Yang menjadikan sebuah peristiwa “fakta sejarah” bukan hanya bahwa ia terjadi, melainkan bahwa sejarawan menganggapnya cukup bermakna untuk dimasukkan ke dalam narasi. Dengan rumusan ini, Carr sudah meletakkan benih seluruh perdebatan kontemporer.

Realism Baru: Masa Lalu Itu Independen, Tafsir Bisa Salah

Sejak 2020, sejumlah filsuf sejarah menulis sebagai reaksi terhadap apa yang mereka anggap sebagai dominasi anti-realisme yang berlebihan. Adrian Currie dan Daniel Swaim (2022) berargumen bahwa ada past facts yang independen dari sejarawan: peristiwa benar-benar terjadi, dan klaim tentangnya bisa benar atau salah secara sederhana. Branko Mitrović (2024) lebih jauh: ia mengusulkan definisi anti-realisme yang lebih tajam dan membedakan tiga varian, dengan kesimpulan bahwa tidak satu pun varian itu bisa dipertahankan secara konsisten. Kumpulan esai The Poverty of Anti-Realism (Førland & Mitrović, 2023) menggabungkan posisi-posisi ini menjadi sebuah platform: realisme historis baru yang sadar akan kompleksitas tafsir tetapi menolak menyerah pada relativisme.

Anti-Realism Baru: Tidak Ada Satu Masa Lalu, Ada Banyak

Lawan utama posisi ini adalah Paul Roth, yang dalam The Philosophical Structure of Historical Explanation (2020) mengembangkan tesis yang ia sebut irrealism: tidak ada satu masa lalu yang tetap, melainkan banyak masa lalu yang lahir bersama dengan narasi yang menjelaskannya. Roth tidak mengatakan bahwa masa lalu adalah fiksi; ia mengatakan bahwa “masa lalu sebagai objek penjelasan historis” tidak ada sebelum sejarawan merangkainya. Bersama Fons Dewulf, Roth menjawab kritik Currie dan Swaim dengan tegas (Dewulf & Roth, 2022): yang disebut past facts oleh para realis selalu merupakan deskripsi yang sudah mengandung kerangka konseptual sejarawan, bukan benda telanjang yang menunggu untuk ditemukan.

Pemetaan Ohara: Pisahkan Masalah Metafisis dari Epistemologis

Esai paling baru yang relevan dengan debat ini adalah João Ohara dalam History and Theory edisi Maret 2026. Ohara mengeluh bahwa debat realism-vs-anti-realism sering terjebak dalam kebingungan konseptual: orang berbicara tentang dua hal yang berbeda dengan istilah yang sama. Solusi Ohara elegan: pisahkan masalah metafisis (apakah masa lalu eksis independen dari sejarawan) dari masalah epistemologis (apakah kita bisa mengetahuinya). Yang pertama adalah tentang status keberadaan; yang kedua tentang status pengetahuan. Pembedaan ini memungkinkan posisi yang hari ini sulit diartikulasikan: realisme metafisis (masa lalu memang terjadi) bisa hidup berdampingan dengan skeptisisme epistemologis terbatas (kita tidak selalu bisa mengetahuinya dengan pasti). Bagi pembaca Indonesia, kerangka Ohara akan terasa berguna ketika kita masuk ke kasus konkret seperti narasi 1998 di bagian akhir tulisan ini.

VOC: Lahir, Berjaya, dan Runtuh: Kisah Perusahaan Multinasional Pertama di Dunia (1602–1799)

Isu Kedua: Bagaimana Kita Menilai Tafsir yang Baik?

Bahkan jika kita setuju bahwa fakta sejarah punya status yang lebih rumit daripada “ditemukan begitu saja”, masih ada pertanyaan praktis yang tidak hilang: bagaimana kita membedakan tafsir yang baik dari yang buruk? Ini adalah isu epistemologis-metodis yang mengalir dari Bloch sampai ke postnarrativism kontemporer.

Disiplin Teknis: Dari Bloch ke Elton

Marc Bloch — sejarawan Prancis pendiri Annales yang dieksekusi Nazi pada 1944 — menulis The Historian’s Craft dalam tahanan, dan buku itu terbit setelah kematiannya (Bloch, 1953). Argumen sentralnya: pekerjaan sejarawan punya kerajinan teknis yang konkret. Membaca dokumen, membandingkan saksi, menafsirkan jejak material — semuanya bisa diajarkan, dilatih, dan dievaluasi. Bloch mengambil sungguh-sungguh metafora “kerajinan” (craft): ada perbedaan antara sejarawan yang terlatih dan yang tidak, sama seperti ada perbedaan antara tukang kayu yang terlatih dan yang tidak. Posisi ini diteruskan oleh Elton (1967) dengan penekanan yang lebih keras pada kritik sumber sebagai disiplin yang nyaris militer ketatnya.

Mengapa Objektivitas Bukan Jawaban Tunggal

Tetapi kerajinan teknis saja tidak menyelesaikan pertanyaan tentang objektivitas. Peter Novick, dalam karya monumentalnya That Noble Dream (1988), menunjukkan bahwa profesi sejarah Amerika abad ke-20 berkali-kali jatuh-bangun mempertahankan klaim objektivitasnya — dan setiap kali, klaim itu dibentuk ulang oleh konteks politis tempat sejarawan bekerja. Selama Perang Dingin, “objektivitas” berarti satu hal; selama gelombang sejarah sosial 1970-an, ia berarti hal lain. Kesimpulan Novick bukan bahwa objektivitas tidak ada, melainkan bahwa apa yang dianggap objektif oleh komunitas sejarawan itu sendiri historis. Ini posisi yang lebih halus daripada relativisme: bukan “semua tafsir sama valid”, melainkan “kriteria validitas itu sendiri perlu direfleksikan”.

Ankersmit: Narasi sebagai Struktur Penjelasan

Frank Ankersmit, dalam Historical Representation (2001), mendorong refleksi ini lebih jauh dengan pertanyaan teknis: jika tafsir sejarah tidak sepenuhnya determinasikan oleh bukti, apa yang menentukan representasi yang baik? Jawaban Ankersmit kontroversial tetapi produktif: representasi sejarah bersifat estetis sekaligus rasional. Ia bisa dievaluasi, tetapi kriterianya bukan kriteria deskripsi (benar atau salah satu-satu) melainkan kriteria representasi (apakah ia berhasil membentuk masa lalu menjadi sesuatu yang dapat dipahami). Posisi Ankersmit sering dituduh terlalu dekat dengan Hayden White, tetapi ada perbedaan penting: Ankersmit tetap mempertahankan bahwa ada batas-batas rasional dalam evaluasi narasi historis.

Post-narrativisme dan Jalan Tengah

Posisi yang paling banyak dirujuk dalam debat hari ini adalah postnarrativism Jouni-Matti Kuukkanen. Dalam review tajamnya terhadap The Poverty of Anti-Realism, Kuukkanen (2025) berargumen bahwa baik realisme baru maupun anti-realisme radikal terjebak dalam dikotomi palsu. Yang sebenarnya kita lakukan ketika menulis sejarah adalah membangun argumen informal tentang masa lalu — argumen yang bisa lebih kuat atau lebih lemah, lebih meyakinkan atau kurang meyakinkan, tanpa harus tunduk pada model “benar atau salah” yang dipinjam dari ilmu alam. Daniel Swaim dan Adrian Currie (2022), dalam respons mereka kepada Roth dan Dewulf, mengajukan posisi yang serupa walaupun dari arah berbeda: “metafisika minimal, semantik maksimal”. Apa pun nama posisinya, intinya sama: jalan tengah antara objektivitas naif Rankean dan relativisme post-modern dimungkinkan, asalkan kita berhenti mencari jaminan absolut.

Isu Ketiga: Sejarah dalam Era Post-Truth dan AI

Infografis berjudul Otoritas Sejarah Dalam Kepungan: Tantangan Historiografi di Era AI & Post-Truth. Menggambarkan dua tantangan utama: krisis kepercayaan di era post-truth berupa sentimen populis dan narasi alternatif, serta ancaman Generative AI yang berpotensi menghasilkan halusinasi fakta, pengaburan batas tafsir, dan bias epistemis dari korpus teks Barat.

Otoritas sejarah profesional sedang diuji oleh dua tantangan besar abad ini. Pertama, era post-truth yang memicu sentimen populisme dan menjatuhkan otoritas keilmuan akibat maraknya narasi tak terverifikasi. Kedua, kehadiran generative AI yang mampu memproduksi narasi otoritatif namun berisiko menciptakan “halusinasi” sejarah, di mana batas antara tafsir berbasis bukti dan karangan mesin menjadi semakin kabur.

Debat metafisis dan epistemologis di atas terdengar abstrak, tetapi konsekuensinya sangat konkret. Dalam dua dekade terakhir, sejarah profesional menghadapi dua tantangan publik yang mengubah taruhan perdebatan: krisis kepercayaan publik di era post-truth dan kehadiran generative AI yang ikut memproduksi narasi tentang masa lalu.

Ketika Kepercayaan Publik pada Sejarawan Anjlok

Pada 2016, Oxford Dictionaries memilih post-truth sebagai kata tahun itu. Marius Gudonis dan Benjamin Jones (2020) merangkum dampaknya pada profesi sejarah dalam volume editorial mereka: di banyak negara, klaim sejarawan profesional kehilangan otoritasnya yang dulu nyaris otomatis. Bukan karena sejarawan tiba-tiba menjadi kurang teliti; tetapi karena ekosistem informasi berubah. Klaim sejarah yang tidak terverifikasi bisa menyebar lebih cepat dari klaim yang terverifikasi. Komunitas online membangun versi sejarah mereka sendiri yang sering berlawanan dengan konsensus akademis. Yang menarik secara filosofis: gelombang ini sebenarnya membuat pertanyaan Carr–Elton menjadi lebih mendesak, bukan kurang. Ketika setiap orang merasa berhak punya “sejarahnya sendiri”, pertanyaan tentang apa yang membedakan tafsir baik dari buruk bukan lagi diskusi seminar — ia adalah pertanyaan publik.

Populisme dan Serangan Terhadap Profesi Sejarah

David Černín (2022) menelusuri satu kasus konkret yang menarik: bentrok antara komunitas arkeolog profesional dengan reaksi populis ketika sebuah penemuan arkeologis baru tidak sesuai dengan narasi kebangsaan tertentu. Pola yang ditemukan Černín terulang di banyak konteks: para ahli dituduh “elitis”, “asing”, atau “memutarbalikkan fakta”, sementara penolakan terhadap konsensus akademis diframekan sebagai “akal sehat rakyat”. Bagi sejarawan, ini momen yang paradoks. Di satu sisi, kita tidak bisa kembali ke posisi Eltonian yang menganggap expertise otomatis menjamin otoritas; debat puluhan tahun tentang objektivitas membuat posisi itu sulit dipertahankan secara naif. Di sisi lain, kita juga tidak bisa membiarkan otoritas profesional dijatuhkan menjadi “satu pendapat di antara banyak”. Jalan keluarnya — seperti diusulkan Kuukkanen dan kerangka Ohara — adalah memperkuat klaim profesional dengan transparansi metodologis yang lebih besar, bukan dengan klaim objektivitas yang lebih keras.

Subjektivitas-Objektivitas di Era Generative AI

Tantangan ketiga, yang baru muncul dalam tiga tahun terakhir, adalah generative AI. Saya sudah menulis di tempat lain bagaimana AI bisa berfungsi sebagai macroscope — alat yang memungkinkan sejarawan menjelajahi arsip dengan volume yang melampaui kemampuan baca tunggal. Tetapi macroscope yang sama membawa risiko yang langsung relevan dengan debat yang kita bahas di sini. Halusinasi AI — ketika large language model memproduksi kutipan, sumber, atau detail yang terdengar otoritatif tetapi sepenuhnya difabrikasi — adalah versi paling tajam dari masalah Carr: fakta yang tampak berbicara sendiri padahal hanya tafsir yang tidak terikat bukti. Asem Baniamer dan Noor Issa Allendi (2024), dalam analisis mereka tentang historical fantasizing, menyebut bahwa garis antara narasi yang menafsirkan dan narasi yang mengarang menjadi kabur ketika alat produksi narasi sebagian dipinjam dari mesin. Lebih jauh, sebagaimana ditunjukkan Mohamed dan koleganya (2020) dalam artikel “Decolonial AI”, model-model AI besar dilatih dengan korpus yang didominasi teks Barat — sehingga apa yang dianggap “informasi historis standar” oleh mesin sudah dimuati struktur kekuasaan epistemis tertentu. Pada titik ini, perdebatan filosofis Carr–Elton tidak lagi abstrak: ia adalah pertanyaan praktis tentang siapa yang berhak menentukan apa yang dihitung sebagai fakta.

Pertanyaan Carr Setelah 60 Tahun

Tepat 60 tahun setelah Carr menerbitkan What Is History?, Helen Carr — cucu E. H. Carr — bersama Suzannah Lipscomb mengumpulkan refleksi dua puluh sejarawan kontemporer dalam What Is History, Now? (Carr & Lipscomb, 2021). Yang menarik dari volume ini bukan bahwa ia memberi jawaban final, melainkan bahwa ia memperlihatkan betapa pertanyaan Carr meledak ke segala arah: sejarah perempuan, sejarah keluarga budak, sejarah lingkungan, sejarah digital. Dalam pengantar tematik mereka di Journal of the Philosophy of History, Georg Gangl dan Ilkka Lähteenmäki (2023) merangkum kondisi disiplin: filsafat sejarah saat ini sedang mengalami “momen” — banyak publikasi penting, banyak tokoh muda, dan banyak tema yang tidak terbayangkan oleh Carr maupun Elton. Bagi pembaca pemula, ini bisa terasa membingungkan. Tetapi justru di situ letak vitalitasnya. Disiplin yang berhenti mempertanyakan dirinya sendiri adalah disiplin yang sudah mati.

Konteks Indonesia: Apakah Pertanyaan Ini Sudah Sampai di Sini?

Infografis berjudul Historiografi Indonesia: Membumikan Teori dalam Tragedi 1998. Menampilkan pemikir sejarah Sartono Kartodirdjo dengan konsep Dualitas Sejarah, Kuntowijoyo dengan Ilmu Sosial Profetik, dan Bambang Purwanto yang menggugat Indonesiasentris. Bagian bawah menampilkan aplikasi kasus Tragedi Mei 1998, dari realitas fisik hingga mencapai pengakuan resmi melalui konsensus politik.

Bagaimana perdebatan filosofi sejarah relevan di Indonesia? Pemikir seperti Sartono Kartodirdjo membedakan antara peristiwa objektif dan narasi subjektif. Kuntowijoyo menambahkan bahwa sejarawan juga memikul tanggung jawab sosial etis melalui ilmu sosial profetik. Sementara itu, Bambang Purwanto mempertanyakan apakah historiografi kita sudah terlepas dari asumsi kolonial. Konsep-konsep ini teruji saat merangkai kepingan epistemologis Tragedi Mei 1998 hingga akhirnya mencapai pengakuan resmi pada 2023.

Pembaca yang sabar mengikuti tulisan ini sampai di sini mungkin bertanya: bagus, tetapi apakah perdebatan ini relevan untuk Indonesia? Jawaban singkat saya: sangat relevan, tetapi dengan vocabulary dan beban etis yang berbeda. Saya kemukakan empat titik masuk.

Sartono dan Dualitas Sejarah Subjektif-Objektif

Sartono Kartodirdjo, dalam Pendekatan Ilmu Sosial dalam Metodologi Sejarah (1993), membuat pembedaan yang sangat dekat dengan Carr — meskipun ia tidak mengutip Carr secara langsung. Bagi Sartono, “sejarah dalam arti subjektif” adalah konstruk sejarawan: rangkaian narasi yang disusun untuk menggambarkan suatu gejala. “Sejarah dalam arti objektif”, sebaliknya, adalah peristiwa itu sendiri. Pembedaan ini memungkinkan Sartono berbicara tentang plurality narasi tanpa jatuh ke relativisme: peristiwa terjadi sekali, tetapi narasi tentangnya bisa banyak. Yang berbeda dari Carr adalah jalur teoretisnya — Sartono mengambilnya dari Weber dan Dilthey, bukan dari Marxisme Inggris seperti Carr. Bagi pembaca yang ingin menelusuri bagaimana pertanyaan ini masuk ke historiografi Indonesia, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia (Kartodirdjo, 1982) adalah pintu masuk yang lebih luas.

Kuntowijoyo: Disiplin Metodis Berbasis Profetik

Kuntowijoyo, dalam Metodologi Sejarah (2003), mengambil posisi yang lebih dekat dengan Elton — penekanan pada langkah-langkah metodologis yang konkret: heuristik, kritik sumber, interpretasi, historiografi. Tetapi ia menambahkan dimensi yang absen di tradisi Inggris: konsep “ilmu sosial profetik”, yang menempatkan sejarawan sebagai profesi yang punya tanggung jawab etis dan religius, bukan hanya teknis. Bagi Kuntowijoyo, sejarawan tidak sekadar memilih bukti dengan disiplin; ia juga harus memilih pertanyaan dengan sensitivitas terhadap konsekuensi sosial. Posisi ini tidak ada padanan persisnya di Carr maupun Elton, dan ia membuat debat objektivitas di Indonesia membawa muatan yang khas.

Purwanto dan Pertanyaan apakah Indonesiasentris Sudah Lepas dari Kolonial

Bambang Purwanto, dalam Gagalnya Historiografi Indonesiasentris?! (2006), mengajukan pertanyaan yang paralel secara struktural dengan kritik Hayden White terhadap Carr — meskipun targetnya berbeda. Sartono ingin mendekolonisasi historiografi dengan mengganti perspektif Eropasentris dengan Indonesiasentris. Purwanto bertanya: apakah penggantian itu benar-benar menyelesaikan masalah, atau apakah ia hanya memindahkan asumsi-asumsi kolonial ke dalam wadah baru? Pertanyaan Purwanto adalah versi Indonesia dari pertanyaan filosofis yang terus muncul dalam debat realism vs anti-realism: bisakah kita keluar dari kerangka konseptual yang membentuk apa yang kita anggap sebagai “fakta”, atau apakah setiap kerangka baru hanya menggantikan kerangka lama tanpa pernah menjangkau “yang sebenarnya terjadi”? Dalam kerangka Ohara (2026), Sartono dan Purwanto sebenarnya berbicara tentang dua hal yang berbeda — Sartono tentang masalah epistemologis (bagaimana kita tahu), Purwanto tentang masalah metafisis-konseptual (apa yang kita anggap eksis sebagai objek pengetahuan).

Ketika Pertanyaan Ini Sampai ke Warung Kopi: Narasi 1998

Beberapa minggu lalu, dalam tongkrongan biasa di sebuah warung kopi, percakapan kami berkelok dari hal lain ke kasus pemerkosaan massal terhadap perempuan etnis Tionghoa pada Mei 1998. Pertanyaan yang dilemparkan salah satu teman cukup sederhana — tetapi persis pertanyaan yang menggetarkan seluruh debat yang saya bahas di tulisan ini: apakah klaim bahwa kekerasan seksual itu terjadi punya landasan objektif yang cukup kuat untuk diakui sebagai pelanggaran HAM berat? Pertanyaan itu bukan dimaksudkan untuk menyangkal — beberapa di tongkrongan justru sangat yakin peristiwa itu terjadi, beberapa tidak yakin, beberapa menahan diri. Yang menarik adalah betapa cepat pertanyaan itu masuk ke wilayah yang persis sedang diperdebatkan oleh Roth, Mitrović, dan Ohara di jurnal-jurnal akademis: kapan kepingan bukti yang masih dikonstruksi cukup untuk klaim faktual? Apa beda antara “tidak ada bukti yang cukup” dan “tidak terjadi”?

Kasus 1998 menjadi ilustrasi ideal — dan menyakitkan — dari kerangka Ohara. Secara metafisis, kekerasan itu terjadi atau tidak terjadi: peristiwa fisik tidak menunggu pengakuan administratif untuk eksis. Tetapi secara epistemologis, akses kita kepadanya selalu melalui kepingan: kesaksian survivor yang banyak takut bicara, laporan Tim Gabungan Pencari Fakta 1998 yang dikritik sebagian dan dipertahankan sebagian lainnya, dokumen yang hilang atau memang tidak pernah ada, momen-momen pengakuan resmi yang datang dan pergi mengikuti politik pemerintahan. Dalam istilah Carr, kita sedang menyaksikan proses fact about the past menjadi (atau gagal menjadi) historical fact — dan proses itu jelas tidak hanya soal bukti, tetapi soal kemauan komunitas untuk memasukkannya ke dalam narasi resmi. Yang dipertanyakan teman saya di warung kopi bukan apakah peristiwa itu pernah ada di masa lalu; yang dipertanyakan adalah berapa banyak agregasi bukti yang cukup untuk membuat klaim itu lulus dari ujian publik.

Inilah relevansi terdalam dari debat Carr–Elton untuk konteks kita. Posisi Eltonian yang naif akan berkata: tidak ada bukti dokumenter yang cukup, jadi klaimnya lemah. Posisi anti-realis radikal akan berkata: yang penting hanya narasi mana yang menang. Tetapi posisi yang dewasa — yang dibangun oleh Kuukkanen, Ohara, dan dalam vocabulary Indonesia oleh Sartono — akan mengatakan sesuatu yang berbeda. Argumen historis tentang 1998 adalah argumen informal dalam pengertian Kuukkanen: ia bisa lebih kuat atau lebih lemah, lebih meyakinkan atau kurang meyakinkan, tergantung pada kualitas, jumlah, dan koherensi bukti yang terus dikonstruksi. Pengakuan resmi pemerintah pada 2023 atas dua belas pelanggaran HAM berat masa lalu — termasuk Mei 1998 — bukan datang dari tiba-tibanya bukti baru, melainkan dari akumulasi bertahap kepingan bukti yang akhirnya cukup untuk membentuk konsensus politik. Bagi sejarawan, momen seperti ini adalah pengingat bahwa pertanyaan filosofis Carr–Elton bukan kemewahan akademis. Ia adalah pertanyaan yang menentukan kapan korban kekerasan diakui dan kapan tidak.

Penutup: Pertanyaan yang Tidak Akan Selesai

Enam dekade lebih setelah Carr menulis bahwa fakta tidak berbicara sendiri, kalimat itu masih menjadi sumbu seluruh perdebatan. Yang berubah hanya panggungnya. Pada 1961, panggungnya adalah kuliah Cambridge dan polemik antar profesor. Pada 2026, panggungnya adalah jurnal global, large language models yang ikut memproduksi narasi, dan warung kopi tempat orang biasa menanyakan apakah suatu kekerasan masa lalu cukup objektif untuk diakui sebagai pelanggaran HAM berat. Yang tidak berubah adalah ketegangan dasar antara fakta dan tafsir; antara apa yang terjadi di masa lalu dan apa yang kita susun sebagai narasi tentangnya.

Bagi pembaca yang baru saja mengikuti perdebatan ini, kerangka Ohara (2026) yang memisahkan masalah metafisis dari epistemologis akan terasa berguna. Bagi pembaca yang sudah lama bekerja dengan dokumen sejarah, posisi postnarrativism Kuukkanen yang melihat tafsir historis sebagai argumen informal mungkin terasa paling akrab — karena itu memang yang kita lakukan setiap hari, dengan atau tanpa nama teoretis. Bagi pembaca yang baru memulai perjalanan, Sartono dan Kuntowijoyo tetap menjadi guide yang andal. Yang penting, perdebatan ini bukan persoalan apakah objektivitas itu ada atau tidak. Ia adalah persoalan tentang bagaimana kita membangun klaim historis dengan kerendahan hati di hadapan bukti, kesadaran terhadap kerangka kita sendiri, dan keberanian untuk tetap mengeluarkan tafsir meskipun jaminan absolut tidak pernah datang. Itu yang dilakukan sejarawan, dan itu yang membuat profesi ini, ditengah segala krisis kepercayaan dan ancaman AI, tetap diperlukan.

Daftar Pustaka

Ankersmit, F. R. (2001). Historical representation. Stanford University Press.

Baniamer, A., & Allendi, N. I. (2024). Fantasizing history between subjectivity and objectivity. Cogent Arts & Humanities, 11(1), Article 2335787. https://doi.org/10.1080/23311983.2024.2335787

Bloch, M. (1953). The historian’s craft (P. Putnam, Trans.). Knopf. (Karya asli diterbitkan 1949)

Carr, E. H. (1961). What is history? Macmillan.

Carr, H., & Lipscomb, S. (Eds.). (2021). What is history, now? How the past and present speak to each other. Weidenfeld & Nicolson.

Černín, D. (2022). Faking a collision course: When history clashes with populism. Filozofia, 77(2), 97–111. https://doi.org/10.31577/filozofia.2022.77.2.3

Currie, A., & Swaim, D. (2022). Past facts and the nature of history. Journal of the Philosophy of History, 16(2), 179–206.

Dewulf, F., & Roth, P. A. (2022). Real true facts: A reply to Currie and Swaim. Journal of the Philosophy of History, 16(2), 207–225.

Elton, G. R. (1967). The practice of history. Sydney University Press.

Førland, T. E., & Mitrović, B. (Eds.). (2023). The poverty of anti-realism: Critical perspectives on postmodernist philosophy of history. Rowman & Littlefield.

Gangl, G., & Lähteenmäki, I. (2023). The futures of the philosophy of history: An introduction. Journal of the Philosophy of History, 17(2), 177–194.

Gudonis, M., & Jones, B. T. (Eds.). (2020). History in a post-truth world: Theory and praxis. Routledge.

Kartodirdjo, S. (1982). Pemikiran dan perkembangan historiografi Indonesia: Suatu alternatif. Gramedia.

Kartodirdjo, S. (1993). Pendekatan ilmu sosial dalam metodologi sejarah. Gramedia.

Kuntowijoyo. (2003). Metodologi sejarah (Edisi kedua). Tiara Wacana.

Kuukkanen, J.-M. (2025). Unwarranted confidence: A critical review of The Poverty of Anti-Realism. History and Theory. Advance online publication. https://doi.org/10.1111/hith.70025

Mitrović, B. (2024). What is historical anti-realism and how to define it? Journal of the Philosophy of History, 18(2), 113–124.

Mohamed, S., Png, M.-T., & Isaac, W. (2020). Decolonial AI: Decolonial theory as sociotechnical foresight in artificial intelligence. Philosophy & Technology, 33(4), 659–684. https://doi.org/10.1007/s13347-020-00405-8

Novick, P. (1988). That noble dream: The “objectivity question” and the American historical profession. Cambridge University Press.

Ohara, J. (2026). On historical (anti-)realism. History and Theory, 65(1), 58–82. https://doi.org/10.1111/hith.70023

Purwanto, B. (2006). Gagalnya historiografi Indonesiasentris?! Penerbit Ombak.

Ranke, L. von. (1973). The theory and practice of history (G. G. Iggers, Ed.; W. A. Iggers, Trans.). Bobbs-Merrill.

Roth, P. A. (2020). The philosophical structure of historical explanation. Northwestern University Press.

Swaim, D., & Currie, A. (2022). Minimal metaphysics vs. maximal semantics: A response to Paul Roth and Fons Dewulf. Journal of the Philosophy of History, 16(2), 226–236.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *