Komodifikasi Ketakutan: Siapa yang Untung di Balik Narasi Perang Dunia III?

Opini

Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah, yang terus memanas dengan rentetan serangan yang melibatkan Israel dan negara-negara sekutunya melawan Iran, tidak hanya memicu krisis kemanusiaan di dunia nyata. Di saat yang bersamaan, ketegangan ini meledakkan sebuah fenomena psikologis yang masif di dunia maya. Hampir setiap kali ada peluncuran proyektil atau manuver militer yang agresif, frasa “Perang Dunia 3” langsung merajai puncak trending topic di berbagai platform media sosial. Di tengah lautan informasi yang sering kali membingungkan dan kepanikan massal ini, sebuah pertanyaan kritis harus diajukan: di luar para aktor politik dan industri pertahanan, siapa yang sebenarnya menangguk keuntungan paling besar dari reproduksi terus-menerus atas narasi apokaliptik ini?

​Jawabannya terletak pada cara kerja Attention Economy (Ekonomi Perhatian) di era digital, di mana ketakutan telah bertransformasi menjadi komoditas pasar yang sangat bernilai. Untuk membongkar mekanisme eksploitasi di balik pemberitaan ini, wacana media harus dibedah menggunakan instrumen Analisis Wacana Kritis (AWK) dan semiotika secara multidimensional.

Pertama, kita harus melihat bagaimana narasi konflik ini dibingkai secara makro oleh institusi media arus utama. Mengutip pandangan Ruth Wodak melalui Pendekatan Wacana Sejarah (Discourse-Historical Approach), bahasa politik dan media sering kali memanipulasi memori kolektif serta trauma masa lalu untuk menciptakan demarkasi yang tegas antara “Kita” (in-group) dan “Mereka” (out-group). Konflik yang berpusat di Timur Tengah sangat sarat dengan beban historis yang kompleks. Narasi “Perang Dunia 3” sengaja diangkat untuk menyederhanakan konflik geopolitik yang rumit menjadi tontonan biner: antara pihak yang dianggap mewakili peradaban melawan pihak yang dikonstruksi sebagai ancaman eksistensial mutlak. Pembenaran atas eskalasi kekerasan dibungkus dengan retorika pertahanan diri yang dilegitimasi secara historis, yang pada akhirnya memicu polarisasi tajam dan sentimen yang emosional di kalangan audiens.

​Polarisasi dan ketegangan emosional inilah yang kemudian direproduksi demi melanggengkan keuntungan ekonomi kapitalis. Seperti yang diartikulasikan secara tajam oleh Norman Fairclough dalam Analisis Wacana Kritis, sebuah teks media tidak pernah lahir dari ruang hampa; ia terikat erat dengan praktik institusional dan relasi kekuasaan. Narasi ancaman perang berskala global diproduksi dan didistribusikan secara masif karena narasi ini secara ideologis melanggengkan tatanan ekonomi media digital yang bergantung pada klik, interaksi, dan waktu tayang. Kepanikan yang ditebar melalui tajuk-tajuk berita yang sensasional adalah strategi hegemoni institusi media untuk mendikte agenda publik, sekaligus meraup keuntungan finansial dari lalu lintas kunjungan (traffic) yang melonjak drastis saat krisis terjadi.

​Pertanyaannya, bagaimana media memastikan publik tetap terikat secara terus-menerus pada layar HP mereka? Di sinilah pendekatan sosio-kognitif dari Teun A. van Dijk memberikan jawaban. Van Dijk menjelaskan bahwa wacana media tidak sekadar melaporkan peristiwa, melainkan secara aktif mengkonstruksi “model mental” (mental models) di kepala audiensnya. Pilihan leksikal atau kosakata ekstrem seperti “kiamat nuklir”, “ambang kehancuran”, atau “eskalasi fatal” tidak dipilih secara kebetulan oleh para editor berita. Kosakata ini direkayasa secara sadar untuk memanipulasi kognisi sosial, menciptakan ilusi kedekatan ancaman seolah-olah perang global akan pecah esok pagi di halaman rumah kita sendiri. Ketika model mental publik telah berhasil diisi penuh oleh kecemasan, rasa takut tersebut akan mendorong perilaku doomscrolling—keinginan kompulsif untuk terus memperbarui dan membaca berita buruk—yang pada akhirnya terus mempertebal kantong para pemilik platform teknologi.

Mens Rea dan Matinya Sang Punokawan: Ketika Tawa Dianggap Kejahatan Negara

​Namun, di era web interaktif saat ini, monopoli keuntungan dari penjualan ketakutan tidak lagi hanya dinikmati oleh media arus utama. Fenomena yang paling mencolok justru adalah desentralisasi wacana melalui kreator konten skala kecil hingga menengah di platform seperti TikTok, X (Twitter), dan YouTube. Terkait pergeseran ini, pemikiran Anne O’Keeffe mengenai kerangka partisipasi (participation framework) dalam wacana media menjadi instrumen analisis yang sangat relevan. O’Keeffe menyoroti runtuhnya batas antara produsen informasi dan konsumen pasif. Audiens kini memiliki kekuatan untuk merespons, merekayasa ulang, dan menyebarkan narasi secara instan melalui efek riak (ripple effect). Celah inilah yang dimanfaatkan oleh kreator konten amatir—yang konten aslinya mungkin membahas game, gaya hidup, atau kuliner—untuk tiba-tiba bermetamorfosis menjadi “pakar geopolitik dadakan“. Mereka menunggangi algoritma pencarian audiens yang sedang panik untuk mendulang ribuan pengikut baru, sekadar dengan membagikan ulang narasi kecemasan.

​Strategi yang digunakan para kreator konten ini sering kali sangat canggih secara semiotik, meskipun substansi analisis geopolitiknya dangkal atau bahkan nihil. Gunther Kress dengan teori Analisis Wacana Multimodal menjelaskan bahwa pembentukan makna tidak hanya bergantung pada teks tertulis, melainkan terorkestrasi melalui berbagai mode material secara serentak. Para kreator konten sangat piawai menerapkan prinsip ini. Mereka membingkai narasi Perang Dunia 3 dengan taktik sensasionalisme visual yang agresif: menggunakan filter video berwarna merah darah, tipografi huruf kapital tebal yang mendominasi komposisi layar, hingga menyisipkan potongan cuplikan ledakan yang sering kali diambil di luar konteks waktu dan tempat yang sebenarnya.

​Lebih jauh lagi, mode material tersebut tidak hanya bekerja pada tataran kognitif, tetapi secara brutal menyerang afeksi penontonnya. Jay L. Lemke, melalui kajian wacana multimedia dan afek, menegaskan sebuah prinsip fundamental: “tidak ada makna tanpa perasaan” (there is no meaning without feeling). Para kreator menunggangi momentum ketegangan ini dengan membubuhkan elemen audio yang mencekam, seperti suara dengungan sirene peringatan serangan udara atau dentuman musik bass yang beritme cepat. Manipulasi audio-visual ini memobilisasi emosi paling primitif manusia, yakni rasa takut dan insting bertahan hidup. Konten yang memicu emosi ekstrem memiliki probabilitas algoritmik tertinggi untuk memicu engagement. Pada titik ini, kreator konten menengah berhasil mengonversi kepanikan massal menjadi metrik interaksi, yang pada gilirannya dapat dicairkan menjadi uang melalui monetisasi AdSense, endorsement, atau sekadar kapital sosial berupa popularitas instan.

​Sebagai kesimpulan, pemberitaan yang terus-menerus menggaungkan ancaman Perang Dunia 3 di tengah pusaran konflik Israel dan sekutunya merupakan komoditas diskursif yang sangat menguntungkan. Dari konglomerasi media arus utama yang mempertahankan hegemoni ekonomi, hingga kreator konten skala menengah yang mengeksploitasi celah algoritma melalui manipulasi multimodal; semuanya berpesta pora di atas kecemasan psikologis publik.

​Bagi kita, terutama bagi mereka yang mendedikasikan diri pada pendidikan, literasi sejarah, dan pemikiran kritis, fenomena ini adalah alarm bahaya. Perang adalah tragedi nyata yang menghancurkan tatanan peradaban dan merenggut nyawa manusia yang tidak bersalah. Tragedi kemanusiaan tidak sepantasnya direduksi menjadi sekadar kata kunci Search Engine Optimization (SEO) atau Trend demi mendulang impresi tayangan. Memahami siapa yang bermain, merekayasa, dan meraup keuntungan di balik wacana ini adalah benteng pertahanan pertama kita untuk menolak tunduk pada politik ketakutan yang terus mereka perdagangkan di ruang digital.

Mengajar Sejarah di Tengah Pendidikan yang Tidak Sabar Berpikir

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *