Foto arsip cetak hitam-putih jadul dan buram dari Majalah Api Kartini tahun 1962, memperlihatkan puluhan anak-anak usia dini sedang berkumpul dan membuat lingkaran besar sambil berpegangan tangan di bawah pepohonan rindang Lapangan Polonia dalam kegiatan Taman Minggu Melati, didampingi seorang pengasuh perempuan di sisi kanan halaman (ardiholmes.id).

Lima Cinta: Kurikulum Pendidikan Anak ala Gerwani yang Terlupakan

Sejarah

Ringkasan Artikel

Gerwani, organisasi perempuan terbesar Indonesia pada 1960-an, merancang sebuah kurikulum pendidikan anak bernama “lima cinta” dan menjalankannya lewat taman kanak-kanak dan sekolah Minggu bermain. Halaman majalah Api Kartini memperlihatkan pedagogi yang lembut, sengaja antikolonial, dan menolak kekerasan terhadap anak. Wajah inilah yang kemudian dihapus oleh propaganda Orde Baru.


Ketika Gerwani Mengajari Anak-Anak “Lima Cinta”

Arsip dokumen cetak hitam-putih dari majalah lama berisi panduan tumbuh kembang berjudul Perkembangan Djiwa & Raga Anak-anak umur 2-8 Tahun, memuat rincian aspek psikologis, motorik, berat, serta tinggi badan per usia menggunakan ejaan lawas (ardiholmes.id).

Rubrik panduan dan pondasi perkembangan jiwa dan raga anak usia 2–8 tahun berdasarkan cuplikan ceramah dokter Tanti. Sumber: Api Kartini No. 1, 1962, hal. 25.

Pagi Minggu di tahun 1962. Di Lapangan Polonia, Jakarta, sekitar empat puluh anak berlarian riuh di bawah pohon-pohon rindang.

Mereka bernyanyi, berlomba, dan tertawa di bawah asuhan seorang perempuan bernama Ibu Bagijo. Sebagian murid sebuah taman kanak-kanak, sebagian lagi anak-anak tetangga sekitar lapangan.

Pemandangan itu tampak biasa saja. Namun di balik nyanyian pagi itu ada sebuah rancangan pendidikan yang serius, lengkap dengan filosofi dan metodenya.

Yang merancangnya adalah Gerwani, dan kurikulum yang dijalankan anak-anak Polonia punya nama yang lembut: lima cinta.

Mesin Uang VOC di Asia: Perdagangan Antar-Pelabuhan, Kota Batavia, dan Kopi Priangan

Pagi Minggu di Lapangan Polonia

Kegiatan itu disebut Taman Minggu Melati. Setiap Minggu pagi, anak-anak berkumpul di lapangan untuk bermain, menyanyi, dan berlomba bersama.

Majalah Api Kartini mencatat sesuatu yang menarik: anak-anak yang tadinya terlihat lesu dan kurang gerak berubah menjadi periang setelah rajin ikut, dan di sela permainan mereka mendengar cerita tentang tokoh-tokoh pahlawan Indonesia.[1]

 

Foto arsip cetak hitam-putih jadul dan buram dari Majalah Api Kartini tahun 1962, memperlihatkan puluhan anak-anak usia dini sedang berkumpul dan membuat lingkaran besar sambil berpegangan tangan di bawah pepohonan rindang Lapangan Polonia dalam kegiatan Taman Minggu Melati, didampingi seorang pengasuh perempuan di sisi kanan halaman (ardiholmes.id).

Anak-anak di salah satu Taman Minggu Melati. Sumber: Api Kartini No. 1, 1962, hal. 7.

Taman Minggu Melati bukan kegiatan yang berdiri sendiri.

Ia bagian dari jaringan yang lebih besar, diasuh Jajasan Melati, yayasan milik Gerwani yang juga menerbitkan Api Kartini.

Majalah Api Kartini 1959: Belajar Parenting Ala Gerwani yang Dilupakan

Yayasan itu mengelola taman kanak-kanak bernama Taman Kanak-Kanak Melati, yang cabang-cabangnya tumbuh sampai ke desa.

Membangun lembaga pendidikan memang ciri khas gerakan kiri pada masa itu, sebuah cara menanamkan gagasan modern lewat sekolah dan kursus.[2]

Lima Cinta, Sebuah Kurikulum yang Dirancang

Dari sebuah seminar taman kanak-kanak

Dasar pemikirannya sudah dirumuskan dua tahun sebelumnya. Dalam sebuah artikel tahun 1960, Api Kartini menegaskan bahwa pendidikan anak usia empat sampai tujuh tahun adalah fondasi yang menentukan watak anak di kemudian hari.

Artikel itu merujuk pada Seminar Taman Kanak-Kanak yang digelar pimpinan pusat Gerwani pada Desember sebelumnya, dengan tujuan sederhana: mendidik anak agar menjadi manusia berbudi luhur dan warga yang berguna bagi masyarakat dan tanah air.[3]

Lima cinta dan cara mengajarkannya

Dari situ lahir kerangka lima cinta: cinta tanah air, cinta orang tua dan sesama manusia, cinta kebenaran dan keadilan, cinta persahabatan dan perdamaian, serta cinta alam.

Gerwani, Kontes Mangga, dan Pembebasan Irian Barat

Metodenya bukan ceramah. Guru diminta bercerita, mengajak menyanyi dan menari, menggambar, bahkan membawa anak-anak ke kebun binatang agar mengenal isi tanah airnya sendiri.[4]

Susunan kelima cinta itu tidak pernah baku. Versi sekolah Minggu di Polonia, misalnya, memasukkan cinta kerja, dan gagasan serupa sudah beredar di pers kiri sejak akhir 1950-an.[5] Yang tetap adalah intinya: menanam nilai lewat permainan, bukan lewat hafalan.

Mendidik Tanpa Rasa Takut

Ada dua hal yang membuat kurikulum ini terasa berani untuk zamannya.

  • Pertama, ia sengaja antikolonial. Mengajarkan cinta tanah air, tulis Api Kartini, berarti sekaligus mengikis sisa-sisa pendidikan kolonial dari kepala anak-anak.
  • Kedua, ia menolak kekerasan. Guru dilarang menakut-nakuti atau memberi hukuman badan, sebab cara itu hanya membuat anak menjadi penakut dan bermuka dua. Guru harus menjadi teladan, adil, dan sabar.[6]

Sikap ini bukan kebetulan. Ia bagian dari cara pandang Gerwani tentang “keibuan yang militan”, yaitu ibu yang penyayang sekaligus sadar politik dan cinta tanah air.[7]

Bagi Gerwani, mengasuh anak dan membangun bangsa adalah satu tarikan napas yang sama.

Wajah yang Kemudian Dihapus

Ironinya datang beberapa tahun kemudian. Setelah peristiwa 1965, perempuan-perempuan yang merancang pedagogi selembut ini justru dicap biadab dan pembunuh dalam propaganda Orde Baru.

Taman kanak-kanak yang mereka bangun ikut menjadi sasaran.

Organisasi-organisasi lain bahkan menuntut Menteri Pendidikan membereskan sekolah-sekolah bentukan Gerwani, dan jaringan Taman Kanak-Kanak Melati pun dibubarkan.[8]

Tuduhan paling keji, bahwa para anggota Gerwani menyilet dan mencungkil mata para jenderal, kelak dibantah oleh laporan otopsi resmi yang ditemukan kembali oleh Benedict Anderson, yang memperlihatkan tubuh para korban tidak dimutilasi seperti yang diberitakan.[9]

Yang tersisa dari masa itu tersimpan di halaman-halaman Api Kartini yang kini menguning: catatan tentang puluhan anak yang bernyanyi di sebuah lapangan, diajari mencintai tanah air, sesama, dan kerja, tanpa sekali pun ditakut-takuti.

Catatan Kaki

  1. “Apa itu Taman Minggu Melati?,” Api Kartini, No. 1 (Januari 1962): 7.
  2. Ruth T. McVey, “Teaching Modernity: The PKI as an Educational Institution,” Indonesia, No. 50 (Oktober 1990): 5–27.
  3. “Lima Tjinta sebagai Pendidikan Dasar Anak2 Kita,” Api Kartini, No. 2 (1960): 5.
  4. Ibid.
  5. Saskia E. Wieringa, Sexual Politics in Indonesia (Basingstoke: Palgrave Macmillan, 2002), 275.
  6. “Lima Tjinta sebagai Pendidikan Dasar Anak2 Kita,” 5.
  7. Wieringa, Sexual Politics in Indonesia, 273–274.
  8. Ibid., 306.
  9. Benedict Anderson, “How Did the Generals Die?,” Indonesia, No. 43 (April 1987): 109–134.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *