Ilustrasi thumbnail Museum Bank Indonesia, bekas kantor pusat De Javasche Bank di Kota Tua Jakarta, menampilkan fasad bangunan bergaya neoklasik, mesin cetak uang tua, linimasa lahirnya Bank Indonesia, replika batangan emas sebagai simbol dekking, panel metamorfosis logo Bank Indonesia, serta elemen sejarah moneter Indonesia dari 1828 hingga 1953 dalam desain kolase informatif bertema arsitektur kolonial dan perbankan nasional (ardiholmes.id).

Museum Bank Indonesia: Menilik Sejarah Moneter dan Arsitektur De Javasche Bank

Kajian Sejarah

Ringkasan Artikel

  • Jejak Arsitektur Kolonial yang Tumbuh Bertahap: Gedung Museum Bank Indonesia merupakan bekas kantor pusat De Javasche Bank (DJB) yang dibangun secara bertahap dalam lima fase (1912–1935) oleh biro arsitek ternama Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers, menampilkan adaptasi arsitektur Eropa (kerabat jauh Rijksmuseum Amsterdam) dengan iklim tropis.
  • ​Linimasa Lahirnya Bank Sentral Republik: Artikel ini membedah sejarah moneter Indonesia secara runtut, mulai dari hak istimewa (octrooi) DJB pada 1828, likuidasi era Jepang, hingga proses nasionalisasi aset DJB secara damai dan pembelian saham di atas harga pasar yang melahirkan Bank Indonesia pada 1 Juli 1953 di bawah Gubernur Sjafruddin Prawiranegara.
  • ​Edukasi Melalui Narasi Ruang dan Koleksi: Lewat berbagai koleksinya, seperti ruang rempah pemantik perdagangan dunia, mesin cetak uang tua, metamorfosis logo, hingga replika piramida batangan emas, museum ini secara jujur dan cerdik menjelaskan konsep ekonomi abstrak seperti dekking (jaminan logam mulia) serta ketimpangan sosial masa lalu.

Menyusuri Museum Bank Indonesia: Jejak Arsitektur dan Sejarah di Kota Tua

Di ujung selatan kawasan Kota Tua, tepat di seberang halte Jakarta Kota, berdiri sebuah gedung putih yang sering dikira istana. Kolom-kolomnya tegak berbaris, fasadnya simetris, dan atap genteng merahnya membingkai halaman dalam yang luas untuk ukuran kawasan sepadat itu.

Gedung ini bukan istana. Ia adalah bekas kantor pusat De Javasche Bank, bank sirkulasi Hindia Belanda, yang kini menjadi Museum Bank Indonesia.

Lokasi museum Bank Indonesia dari Google maps (ardiholmes.id).

Lokasi persis dari Google maps museum BI bisa sekalian mampir ke museum Bank Mandiri, Museum Sejarah Jakarta dan Museum lainnya yang bersebrangan hanya beberapa ratus meter.

Banyak pengunjung datang ke sini untuk berfoto, dan itu wajar karena gedungnya memang fotogenik.

Tetapi di balik dinding tebalnya tersimpan cerita yang jauh lebih menarik daripada sekadar latar swafoto: cerita tentang bagaimana uang, kekuasaan, dan arsitektur saling menopang selama hampir dua abad.

Dari tabung rempah yang dulu berharga setinggi emas, sketsa rancangan gedung yang digarap biro arsitek kelas Rijksmuseum, sampai piramida batangan emas yang memantulkan wajah pengunjung, setiap ruang menyimpan satu keping teka-teki.

Juru Cacar di Neraka Anggaran

Halaman dalam Museum Bank Indonesia dilihat dari lantai dua: dua sayap gedung putih bergaya neoklasik dengan deretan kolom, atap genteng merah, jendela kaca patri, dan pelataran batu berpola geometris; tampak perancah renovasi di sisi kanan serta pohon perdu dalam pot batu di pelataran. (ardiholmes.id)

Halaman dalam bekas kantor pusat De Javasche Bank, kini Museum Bank Indonesia. Dokumentasi penulis.

Dari Tanah Gereja ke Bank Sirkulasi Hindia

Kisah museum ini dimulai jauh sebelum ada bank. Menurut keterangan kesejarahan yang beredar, lahan tempat gedung ini berdiri pernah menjadi tapak gereja Protestan pada 1625, yang kemudian dibongkar sekitar 1628 ketika pasukan Sultan Agung dari Mataram menyerang Batavia.[1]

Baru dua abad kemudian tanah ini menemukan fungsi yang melekat sampai sekarang: rumah bagi lembaga yang mencetak dan mengedarkan uang.

De Javasche Bank (DJB) berdiri pada 1828 atas perintah Raja Willem I, sebagai jawaban atas kekacauan ekonomi Hindia Belanda setelah kebangkrutan VOC.[2]

Landasan hukumnya berbentuk octrooi atau piagam hak istimewa berjangka. Oktroi pertama berlaku sepuluh tahun, dari Januari 1828 hingga Desember 1837, lalu terus diperpanjang hingga digantikan undang-undang tersendiri pada 1922.[3]

Dari kantor pusatnya di Batavia, jaringan DJB tumbuh hingga menjangkau 22 kota di Hindia Belanda, dari Jawa, Sumatra, Kalimantan, sampai Sulawesi.[4]

Ketika ‘Setia’ Artinya Melawan: Sejarah Pemogokan Pegadaian 1922

Gedung yang sekarang kita masuki bukan gedung pertama DJB.

Kompleks ini dibangun bertahap pada awal abad ke-20 untuk menggantikan kantor lama yang sudah sesak. Statusnya sebagai cagar budaya ditetapkan lewat SK Gubernur DKI Jakarta pada 1993.

Setelah kantor Bank Indonesia Kota berhenti beroperasi, gedung ini dibuka untuk umum sebagai museum pada akhir 2006, lalu diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Juli 2009.[5]

Gedung yang Tumbuh Lima Kali

Salah satu sudut favorit saya justru bukan koleksi uangnya, melainkan deretan sketsa akuarel yang merekonstruksi tahapan pembangunan gedung ini.

Denah-denah kecil di pojok sketsa menandai fase 1912, 1922, 1924, 1933, dan 1935. Gedung ini, dengan kata lain, tidak lahir sekali jadi. Ia tumbuh mengikuti gemuknya pundi-pundi bank.[6]

Sepuluh Sen Semalam: Ketika Negara Ingin Menertibkan Bacaan Rakyat

Sketsa akuarel rancangan De Javasche Bank tahun 1912 karya biro Ed. Cuypers en Hulswit: fasad neoklasik dilihat dari arah Jalan Binnen Nieuwpoortstraat, dilengkapi denah lantai, detail jendela dormer, potongan ornamen, dan catatan tangan bahwa gedung ini memiliki ruang kluis pertama di Hindia Belanda (ardiholmes.id).

Sketsa rancangan 1912: unit pertama gedung, lengkap dengan ruang kluis pertama di Hindia Belanda. Dokumentasi penulis.

Unit pertama dirancang pada 1912 oleh biro Ed. Cuypers en Hulswit dalam gaya neo-classicism, menghadap Jalan Binnen Nieuwpoortstraat, yang kini menjadi Jalan Pintu Besar Utara.

Catatan pada sketsa museum menyebut satu keistimewaan teknis: bangunan ini memiliki ruang brankas berlapis baja (pantser-kluizen) yang pertama di Hindia Belanda.[7]

Detail kecilnya pun fungsional. Kubah-kubah mungil di atas atap, yang pada sketsa disebut lantaarn, dirancang untuk memasukkan udara dan cahaya ke ruang dalam, siasat cerdas sebelum era pendingin ruangan.[8]

Pada 1933 ditambahkan deretan kluis baru, disebut Ruang Khasanah, untuk penyimpanan barang berharga di sepanjang sisi jalan yang sama, dengan gaya arsitektur yang lebih sederhana.

Puncaknya pada 1935, seluruh muka bangunan disatukan agar tampak lebih terpadu, monumental, dan megah, dengan pintu masuk baru yang lebih besar tepat di tengah fasad, serta ornamen kepala kolom bergaya ionik dan tuscan yang masih bisa kamu amati hari ini.[9]

Pertumbuhan fisik ini sejalan dengan pertumbuhan jaringannya. Dalam kurun 1906 sampai 1910 saja, DJB membuka sembilan kantor cabang baru sekaligus, dari Pontianak, Medan, Banjarmasin, sampai Manado, menggandakan jaringan yang sudah ada.[10] Kantor pusat di Batavia harus tampil sepadan dengan gurita jaringan itu.

Sketsa akuarel tampak muka De Javasche Bank tahun 1935 dengan catatan tangan bahwa perubahan hingga 1935 ditujukan untuk menghasilkan tampak bangunan yang lebih terpadu, monumental, dan megah, termasuk pintu masuk baru yang lebih besar di tengah muka bangunan; di bagian atas tampak studi detail ornamen kepala kolom bergaya ionik dan tuscan (ardiholmes.id).

Sketsa 1935: fasad disatukan menjadi wajah monumental yang kita kenal sekarang. Dokumentasi penulis.

Bagian yang jarang diceritakan artikel wisata adalah siapa di balik rancangan ini, dan jawabannya membawa kita ke Amsterdam.

Sejak 1907, direksi DJB mengambil kebijakan membangun baru kantor pusat beserta seluruh kantor cabangnya. Semua gedung baru DJB dari 1907 sampai 1935 dirancang oleh satu biro yang sama: Hulswit, Fermont & Ed. Cuypers, yang kelak menjadi biro arsitek terbesar di Hindia Belanda.[11]

Hubungan bisnis sebesar itu bermula dari pertemanan. Eduard Cuypers, keponakan arsitek besar P.J.H. Cuypers yang merancang Rijksmuseum Amsterdam, berkunjung ke Batavia pada 1908.

Di sana ia bertemu kawan lamanya sesama orang Amsterdam, Gerard Vissering, yang saat itu menjabat Presiden De Javasche Bank periode 1906 sampai 1912.

Dari jejaring itulah proyek gedung-gedung DJB mengalir ke biro Cuypers dan rekannya Marius Hulswit, arsitek yang pernah ikut menggarap Rijksmuseum.[12]

Jadi ketika kamu menatap fasad museum ini, kamu sedang menatap kerabat jauh Rijksmuseum Amsterdam yang beradaptasi dengan iklim tropis.

Menyusuri Ruang demi Ruang

Rempah yang senilai emas

Museum ini cerdik: ia tidak membuka kisahnya dari bank, melainkan dari dapur dunia. Ruang awal dipenuhi tabung-tabung kaca berisi rempah asli, dari lada hitam, pala, sampai gulungan kayu manis, ditemani panel kayu berjudul “Bumbu Dapur Senilai Emas”.

Panel itu meringkas logikanya: rempah Nusantara sudah tersohor ribuan tahun, disalurkan pedagang Arab hingga Venesia, lalu dijual ke seluruh Eropa dengan harga setinggi emas.

Maraknya perdagangan Asia inilah yang kelak melahirkan cikal bakal perbankan di Nusantara.[13] Uang, dengan kata lain, datang mengikuti komoditas.

Deretan tabung kaca berisi rempah asli koleksi Museum Bank Indonesia, antara lain lada hitam, pala, dan batang kayu manis, dengan panel penjelasan menyala berjudul Lada dan Kayu Manis di depannya serta mural pemandangan pantai dan burung camar di dinding belakang (ardiholmes.id).

Tabung rempah asli: lada, pala, dan kayu manis, komoditas yang memanggil datangnya bank. Dokumentasi penulis.

Diorama para pedagang dan pegawai bank

Beberapa langkah kemudian, patung-patung seukuran manusia menghidupkan kembali suasana kerja abad ke-18: dua figur Eropa berambut palsu di ruang berdaun jendela kayu, satu tenggelam membaca surat dagang, satu lagi bertumpu di meja marmer, dengan lukisan kapal layar tergantung di dinding.

Adegan kecil ini mewakili dunia administrasi niaga yang menjadi rahim perbankan kolonial.[14]

Arsip menunjukkan sisi manusiawi yang serupa dari DJB sendiri. Korespondensi bank dengan percetakan Joh. Enschedé di Haarlem memperlihatkan lembaga yang bekerja seperti perusahaan rintisan: presiden bank sendiri yang menulis surat memesan uang kertas, mengeluh soal keterlambatan kiriman kapal, dan berulang kali menekankan pentingnya menghemat biaya.

Presiden ketiga DJB, E. Francis, bahkan memulai kariernya sebagai juru tulis pemerintahan pada 1815 sebelum merangkak naik hingga memimpin bank sirkulasi Hindia.[15]

Sosok-sosok di balik meja marmer itu, dengan kata lain, bukan sekadar simbol kemapanan; mereka administrator yang setiap hari berhitung ongkos kertas dan ongkos kapal.

Diorama dua figur pedagang Eropa abad ke-18 berambut palsu putih di ruang bergaya kolonial: satu duduk membungkuk membaca surat, satu lagi berdiri bertumpu pada meja bundar bermuka marmer, dengan jendela berdaun kayu terbuka dan lukisan kapal layar Belanda tergantung di dinding (ardiholmes.id).

Diorama era niaga VOC, rahim administrasi yang kelak melahirkan bank. Dokumentasi penulis.

Papan cahaya kelahiran Bank Indonesia

Instalasi paling padat informasi di museum ini adalah papan bercahaya bertajuk “Sejarah Lahirnya Bank Indonesia”.

Linimasanya bisa diringkas dalam lima lompatan:

  • Pertama, 1828: DJB berdiri sebagai bank sirkulasi.
  • Kedua, 1942: pendudukan Jepang melikuidasi DJB dan menunjuk Nanpo Kaihatsu Ginko sebagai bank sirkulasi pengganti.
  • Ketiga, 1949: Konferensi Meja Bundar menyepakati pembentukan bank sentral bagi Republik Indonesia Serikat.
  • Keempat, 1951: pemerintah membentuk panitia nasionalisasi DJB pada 2 Juli 1951, dikukuhkan Undang-Undang No. 24 Tahun 1951.
  • Kelima, 1 Juli 1953: Bank Indonesia resmi berdiri dengan berlakunya Undang-Undang Pokok Bank Indonesia No. 11 Tahun 1953, dan Sjafruddin Prawiranegara menjadi gubernur pertamanya.[16]

Undang-undang itu sendiri ditetapkan pada 19 Mei 1953 dan mulai berlaku 1 Juli 1953, tanggal yang kini diperingati sebagai hari lahir BI.[17]

Ada detail yang jarang dikutip: pemerintah membeli saham DJB dengan penawaran 20 persen di atas harga pasar, dan DJB resmi dibubarkan pada 30 Juni 1953.[18]

Nasionalisasi ini bukan perampasan, melainkan pembelian yang dirancang mulus. Sjafruddin, presiden terakhir DJB sekaligus gubernur pertama BI, menegaskan dalam pidatonya pada Januari 1953 bahwa bank itu kini bank nasional milik semua, meski sebagian besar pegawainya masih bukan warga negara Indonesia, sehingga Indonesianisasi harus dijalankan berangsur-angsur dan sistematis.[19]

Papan pajang menyala bertajuk Sejarah Lahirnya Bank Indonesia berisi linimasa 1828 sampai 1 Juli 1953: berdirinya De Javasche Bank atas perintah Raja Willem I, pendudukan Jepang 1942, Konferensi Meja Bundar 1949, nasionalisasi DJB 1951, kelahiran Bank Indonesia 1 Juli 1953, dilengkapi foto Sjafruddin Prawiranegara dan petikan pidatonya tahun 1953 (ardiholmes.id).

Papan interaktif kelahiran BI: lima lompatan dari oktroi kolonial ke bank sentral republik. Dokumentasi penulis.

Mesin pembuat uang di depan pintu brankas

Di lantai bawah, tepat di depan pintu brankas baja setebal lengan, dipajang sebuah mesin cetak tua berbahan besi tuang dengan roda penggerak besar.

Penempatannya terasa puitis: alat yang melahirkan uang berdiri persis di mulut ruang yang dulu menyimpannya.

Tidak jauh dari situ, museum memajang generasi penerusnya, deretan Mesin Sortasi Uang Kertas era komputer yang tutupnya sengaja dibuka agar pengunjung bisa melihat jeroan rol dan sabuknya.

Mesin semacam ini pernah bekerja memilah jutaan lembar rupiah: memisahkan uang layak edar dari yang lusuh, sekaligus mendeteksi yang palsu.[20]

Dari roda besi yang diputar kaki sampai sensor otomatis, satu lorong ini merangkum dua abad teknologi di balik selembar uang.

Mesin cetak uang tua berbahan besi tuang dengan roda penggerak besar dan pedal kaki, dipajang di balik tali pembatas merah berlogo Museum Bank Indonesia, tepat di depan pintu brankas baja tebal peninggalan De Javasche Bank yang terbuka (ardiholmes.id).

Mesin cetak tua di depan pintu brankas baja DJB. Dokumentasi penulis.

Dinding foto lama dan metamorfosis logo

Satu lorong museum menjadi galeri foto sepia kehidupan Hindia Belanda: keluarga Belanda berkereta kuda, pembantu pribumi mengasuh bayi majikannya, tuan tanah bersama para budaknya, hingga Stadhuis dan Pelabuhan Sunda Kelapa.

Museum tidak menyembunyikan ketimpangan itu; keterangan fotonya menyebut kata budak dan pembantu pribumi apa adanya.

Justru dari kejujuran kecil semacam ini pengunjung bisa membaca siapa sesungguhnya yang dilayani ekonomi kolonial.[21]

Dinding galeri berlapis kain biru berisi belasan foto sepia kehidupan Hindia Belanda awal abad ke-20, antara lain keluarga Belanda berkereta kuda, pembantu pribumi mengasuh bayi, pasangan pengantin Eropa, gedung Stadhuis Batavia, dan suasana pelabuhan serta jembatan gantung (ardiholmes.id).

Galeri foto lama: potret keseharian kolonial, lengkap dengan ketimpangannya. Dokumentasi penulis.

Di ruang lain, panel tembaga berukir memajang metamorfosis logo dari monogram DJB era 1870-an sampai logo BI tahun 2005.

Penjelasannya menarik: logo Bank Indonesia berakar langsung pada logo De Javasche Bank. Pada awal berdirinya, BI sekadar mengganti huruf J menjadi huruf I tanpa mengubah unsur lain. Dari 1953 sampai 2005, logo BI berubah tujuh kali.

Yang juga jarang disadari, monogram-monogram lama itu bukan logo resmi lembaga, melainkan logo yang muncul pada uang terbitannya; baru tiga logo terakhir, sejak 1990-an, yang sekaligus menjadi logo korporat.[22]

Setiap pergantian menandai perubahan status: dari bank swasta berprivilese kolonial, menjadi bank sentral milik republik, hingga bank sentral independen.

Panel Metamorfosa Logo Bank Indonesia berupa enam belas ukiran tembaga monogram dari era De Javasche Bank tahun 1870-an, 1918, tiga versi tahun 1930, lalu monogram Bank Indonesia 1948 hingga 2005, dengan teks penjelasan dwibahasa bahwa logo BI berakar pada logo DJB dan berubah tujuh kali antara 1953 dan 2005 (ardiholmes.id).

Metamorfosis logo: huruf J milik DJB diganti I, lalu berubah tujuh kali hingga 2005. Dokumentasi penulis.

Emas yang Bukan Emas

Di ruang bercahaya temaram, pengunjung disambut tumpukan batangan emas tersusun bak piramida di balik kaca.

Yang dipajang tentu replika, tetapi replika ini justru pintu masuk ke konsep terpenting dalam sejarah bank sirkulasi: dekking, jaminan logam mulia.

Berdasarkan ketentuan piagamnya, DJB boleh memperbanyak uang kertas yang beredar selama cadangan logam mulianya setara sekurang-kurangnya 40 persen dari nilai seluruh uang kertas itu.

Selisih antara cadangan dan batas minimum itulah ruang kredit yang bisa dipakai bank untuk mencari untung; emas yang menganggur di brankas adalah potensi laba yang belum dieksekusi.

Maka tidak heran, pada 1903 cadangan DJB masih menutup 66 persen nilai uang kertas beredar, tetapi pada 1913 rasionya menyusut ke 51 persen seiring ekspansi kredit yang kian agresif.[23]

Hak istimewa mengedarkan uang kertas ini pula yang terus diperebutkan dan diperpanjang; terakhir lewat De Javasche Bank Wet 1922, yang memberi DJB hak eksklusif mengeluarkan dan mengedarkan uang kertas di Hindia Belanda selama lima belas tahun berikutnya.[24]

Ketika kamu menatap kilau dingin tumpukan emas itu, sedang menatap inti dari seluruh cerita museum: kepercayaan bahwa selembar kertas bisa ditukar logam mulia, dan kekuasaan yang lahir dari siapa yang memegang hak menerbitkan kertas itu.

Tumpukan replika batangan emas tersusun membentuk piramida di dalam ruang kaca Museum Bank Indonesia, memantulkan cahaya keemasan ke lantai, dengan beberapa pengunjung tampak samar terpantul di dinding kaca sedang memotret (ardiholmes.id).

Piramida replika emas: simbol dekking, jaminan di balik selembar uang kertas. Dokumentasi penulis.

Terima Kasih untuk Sebuah Gedung

Perjalanan berakhir di halaman dalam yang teduh: rumput tercukur rapi, pohon-pohon muda, dan menara tandon bergaya art deco menjulang di sudut kompleks.

Beberapa keluarga duduk santai di bawah payung. Sulit tidak merasa berterima kasih kepada Bank Indonesia, yang memilih merawat gedung ini alih-alih membiarkannya lapuk seperti banyak bangunan kolonial lain di Jakarta.

Merawat arsitektur semacam ini mahal dan tidak mendatangkan laba, tetapi hasilnya adalah ruang publik tempat siapa saja bisa berdiri di dalam brankas sejarah keuangan bangsanya.

Gedung ini pernah menjadi simbol kekuasaan ekonomi kolonial. Hari ini ia menjadi kelas sejarah terbuka.

Perubahan fungsi itu, dari alat kekuasaan menjadi alat belajar, mungkin adalah metamorfosis paling penting yang pernah dialaminya, melebihi pergantian logo mana pun.

Tentu masih banyak yang belum tertampung dalam satu tulisan. Peta merah Oeang Republik Indonesia yang membentang di Jawa dan Sumatera, dokumen keabsahan uang di Indonesia Timur dari awal abad ke-19, sampai enam babak perjalanan rupiah dari demokrasi parlementer hingga reformasi, masing-masing menyimpan cerita yang layak dibedah tersendiri.

Bagi yang ingin datang, museum berada di Jalan Pintu Besar Utara Nomor 3, bersebelahan dengan Museum Bank Mandiri dan hanya beberapa langkah dari Taman Fatahillah serta halte Jakarta Kota.

Datanglah pagi saat rombongan sekolah belum ramai, dan sisihkan waktu setidaknya dua jam; gedung ini terlalu kaya untuk dilewati setengah berlari.[25]

Halaman dalam Museum Bank Indonesia berupa taman rumput hijau dengan pohon rindang dan pagar tanaman, dikelilingi sayap gedung putih berlantai dua serta menara tandon bergaya art deco menjulang di sudut kanan kompleks; beberapa pengunjung duduk di bawah payung biru (ardiholmes.id).

Halaman dalam yang kini menjadi ruang publik. Dokumentasi penulis.

Detail lebih lanjut bisa cek di website resminya ataupun media sosial Bank Indonesia:

Website: https://www.bi.go.id/id/layanan/museum-bi/default.aspx

Instagram: https://www.instagram.com/museum_bi?igsh=MTdpeWl3dGg1bWp3aw==

Catatan Kaki

  1. Keterangan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta sebagaimana dikutip sejumlah media daring. ↑
  2. Panel “Sejarah Lahirnya Bank Indonesia”, pajangan tetap Museum Bank Indonesia, Jakarta. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  3. Nawiyanto, Tony N. Tjahjono, dan Mirza Ardi Wibawa, Rupiah untuk Kedaulatan Negara (Jakarta: Bank Indonesia Institute, 2024), hlm. 5–6. ↑
  4. Panel “Sejarah Lahirnya Bank Indonesia”, pajangan tetap Museum Bank Indonesia, Jakarta. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  5. SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993; pembukaan tahap I museum pada 15 Desember 2006 oleh Gubernur BI Burhanuddin Abdullah dan peresmian oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Juli 2009. ↑
  6. Sketsa rekonstruksi tahapan pembangunan gedung De Javasche Bank (1912, 1922, 1924, 1933, 1935), pajangan Museum Bank Indonesia. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  7. Sketsa rekonstruksi tahapan pembangunan gedung De Javasche Bank (1912, 1922, 1924, 1933, 1935), pajangan Museum Bank Indonesia. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  8. Sketsa rekonstruksi tahapan pembangunan gedung De Javasche Bank (1912, 1922, 1924, 1933, 1935), pajangan Museum Bank Indonesia. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  9. Sketsa rekonstruksi tahapan pembangunan gedung De Javasche Bank (1912, 1922, 1924, 1933, 1935), pajangan Museum Bank Indonesia. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  10. L. de Bree, Gedenkboek van De Javasche Bank 1828–1928 (Weltevreden: Kolff, 1928) dan J. T. M. van Laanen (1980), sebagaimana dikutip dalam monografi sejarah perbankan kolonial. ↑
  11. Nawiyanto dkk., Membangun Kemakmuran di Pedalaman: Bank Indonesia dalam Perkembangan Ekonomi Kediri (Jakarta: Bank Indonesia Institute, 2022), hlm. 444–448. ↑
  12. Nawiyanto dkk., Membangun Kemakmuran di Pedalaman: Bank Indonesia dalam Perkembangan Ekonomi Kediri (Jakarta: Bank Indonesia Institute, 2022), hlm. 444–448. ↑
  13. Panel “Bumbu Dapur Senilai Emas / The Golden Spices”, Museum Bank Indonesia. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  14. Panel “Sejarah Lahirnya Bank Indonesia”, pajangan tetap Museum Bank Indonesia, Jakarta. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  15. Rob Huisman, “De Javasche Bank Note Issues, Part 4: January 1864 – April 1895, Printed by Joh. Enschedé en Zn.” ↑
  16. Panel “Sejarah Lahirnya Bank Indonesia”, pajangan tetap Museum Bank Indonesia, Jakarta. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  17. Nawiyanto, Tjahjono, dan Wibawa, Rupiah untuk Kedaulatan Negara, hlm. 202; bandingkan Panel “Sejarah Lahirnya Bank Indonesia”, Museum Bank Indonesia. ↑
  18. Panel “Sejarah Lahirnya Bank Indonesia”, pajangan tetap Museum Bank Indonesia, Jakarta. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  19. Petikan pidato Sjafruddin Prawiranegara pada Peringatan 125 Tahun De Javasche Bank, 24 Januari 1953, sebagaimana dipajang pada Panel “Sejarah Lahirnya Bank Indonesia”, Museum Bank Indonesia. ↑
  20. Panel “Sejarah Lahirnya Bank Indonesia”, pajangan tetap Museum Bank Indonesia, Jakarta. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  21. Panel “Sejarah Lahirnya Bank Indonesia”, pajangan tetap Museum Bank Indonesia, Jakarta. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  22. Panel “Metamorfosa Logo Bank Indonesia”, Museum Bank Indonesia. Dokumentasi pribadi penulis. ↑
  23. L. de Bree, Gedenkboek van De Javasche Bank 1828–1928 (Weltevreden: Kolff, 1928) dan J. T. M. van Laanen (1980), sebagaimana dikutip dalam monografi sejarah perbankan kolonial. ↑
  24. De Javasche Bank Wet 1922; lihat pula Koloniaal Verslag 1923, kol. 245–246, tentang perpanjangan hak sirkulasi selama 15 tahun terhitung 1 April 1922. ↑
  25. SK Gubernur DKI Jakarta No. 475 Tahun 1993; pembukaan tahap I museum pada 15 Desember 2006 oleh Gubernur BI Burhanuddin Abdullah dan peresmian oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 Juli 2009. ↑

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Populer

01

Review Buku Homo Deus: Saat Manusia Berambisi Menjadi Tuhan

02

Review Buku Jan Breman: Kolonialisme, Kapitalisme, dan Rasisme

03

Chung Hwa Hui (1928-1942): Kisah Organisasi Politik Tionghoa yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia

04

20 Teknik Storytelling dalam Pembelajaran Sejarah

05

Sejarah Kuntilanak: Dari Pendiri Pontianak 1771 hingga Industri Film

Artikel Terbaru






Berlangganan Gratis