Majalah Api Kartini 1959: Belajar Parenting Ala Gerwani yang Dilupakan

Sejarah

Ringkasan Artikel

Jauh sebelum istilah pengasuhan positif ramai dibicarakan, majalah resmi Gerwani bernama Api Kartini sudah memuat kolom asuh anak yang melarang ibu menakut-nakuti dan membentak anaknya, serta memperlakukan anak sebagai manusia kecil yang punya jiwa sendiri. Wajah lembut ini bertolak belakang dengan citra Gerwani yang bengis dalam propaganda Orde Baru. Tulisan ini menelusuri rubrik pendidikan anak di Api Kartini akhir 1959.


Gerwani yang Lembut: Kolom Asuh Anak di Majalah yang Kelak Dicap Bengis

Pada penghujung 1959, seorang ibu di Kediri menulis surat ke sebuah majalah perempuan. Anaknya yang berumur empat tahun tidak bisa tidur nyenyak.

Tengah malam ia kerap terbangun dan menjerit-jerit seakan ada yang menakutinya, sekujur badannya basah oleh keringat.

Jawaban redaksi tidak menyuruh sang ibu bersikap keras. Justru sebaliknya.

Mereka menelusuri akar rasa takut itu sampai ke kebiasaan orang dewasa sendiri, yaitu menakut-nakuti anak dengan cerita mengerikan, misalnya ada orang yang dipotong lehernya, dicekik, atau ada orang hitam tinggi besar bermata tiga di dapur.

Gerwani, Kontes Mangga, dan Pembebasan Irian Barat

Cerita semacam itu, tulis mereka, justru menekan jiwa anak dan membuatnya hidup dalam ketakutan.

Maka nasihatnya tegas: jangan suka membentak dan berteriak, sebab sebagai pendidik seorang ibu harus sabar.

Bila anak terbangun ketakutan, dekati dan peluk ia, nyalakan lampu, beri minum, lalu ganti pakaiannya yang basah.[1]

Nasihat selembut itu datang dari tempat yang hari ini mungkin terdengar mengejutkan, yaitu majalah organisasi perempuan yang kelak dilukiskan sebagai kumpulan perempuan paling kejam dalam sejarah Republik.

Majalah dari Matraman Raya 51

Majalah itu bernama Api Kartini, terbit sebulan sekali oleh Jajasan Melati di Matraman Raya 51, Jakarta.[2]

VOC: Lahir, Berjaya, dan Runtuh: Kisah Perusahaan Multinasional Pertama di Dunia (1602–1799)

Ia corong Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani, organisasi perempuan terbesar pada masa itu yang berdiri dekat dengan Partai Komunis Indonesia.

Foto arsip sampul depan majalah Api Kartini Nomor 6 Tahun I edisi November 1959 berlatar warna kuning cerah dengan tipografi judul kursif yang anggun. Di bagian tengah terdapat ilustrasi foto hitam-putih dua tangkai bunga teratai yang sedang mekar di atas permukaan air (ardiholmes.id).

Sampul Api Kartini No. 6, Th. I, terbitan November 1959, menampilkan bunga teratai.

Di jajaran pengelolanya berdiri nama-nama perempuan pergerakan yang kenyang pengalaman, antara lain SK Trimurti, Sugiarti Siswadi, Trees Sunito, dan Sulami.[3]

Pembaca yang mereka sasar bukan kader partai, melainkan ibu-ibu lapisan menengah. Karena itu isi majalah berseliweran antara resep masakan, pola baju anak, berita perjuangan, dan, sejak November 1959, sebuah rubrik baru tentang mendidik anak.

“Anak bukanlah barang”

Rubrik itu bernama Dapur Pendidikan Anak. Namanya sendiri sudah berbicara banyak. Mendidik anak diletakkan dalam laci kehidupan yang sama dengan memasak, sesuatu yang dikerjakan setiap hari di rumah, bukan urusan besar yang jauh dari dapur.

Pada edisi perkenalannya, redaksi menjelaskan tujuannya, yaitu memberi ruang bagi pembaca untuk bertanya soal kesulitan menghadapi tingkah laku anak, sebab tidak sedikit ibu yang jengkel dan putus asa karena merasa gagal mengatasi kenakalan anaknya.[4]

Sejarah Jamu Masa Kolonial: Dihina Apotek, Diam-Diam Ditiru

Yang menarik bukan format tanya-jawabnya, melainkan cara pandang yang menjadi dasarnya. Redaksi menegaskan bahwa syarat pertama mendidik adalah mengenal jiwa anak.

Lalu muncul kalimat yang sebenarnya bisa diletakkan di buku pengasuhan masa kini: anak bukanlah barang, bukan pula binatang peliharaan, melainkan manusia kecil yang mempunyai jiwa sendiri, dengan proses pertumbuhan dan kemauannya sendiri.[5]

Arsip halaman cetak asli dari majalah Api Kartini bertajuk "DAPUR PENDIDIKAN ANAK". Teks ini berisi manifesto redaksi yang memperkenalkan ruang tanya jawab pengasuhan baru, menguraikan kegelisahan kaum ibu dalam menghadapi kenakalan anak, serta menegaskan pandangan bahwa anak bukanlah barang melainkan manusia kecil yang mempunyai jiwa dan kemauan sendiri (ardiholmes.id).

Kolom perdana “Dapur Pendidikan Anak” dalam Api Kartini No. 6 (1959). Redaksi menegaskan anak “bukanlah barang, bukan pula binatang piaraan.

Di Indonesia tahun 1959, ketika hukuman fisik masih dianggap wajar dalam mendidik, memandang anak sebagai pribadi yang punya kehendak sendiri bukan hal sepele.

Dari premis itu redaksi menarik kesimpulan yang halus. Anak memerlukan kemerdekaan untuk pertumbuhan jiwanya, tetapi ia juga memerlukan pengawasan dan batasan yang wajar agar tidak salah memakai kemerdekaan itu.

Di mana letak batasnya? Itulah, tulis mereka, yang hendak dijawab oleh ilmu jiwa anak.[6]

Ilmu jiwa anak di meja dapur

Cara pandang itu terlihat dalam surat-surat pembaca. Seorang ibu dari Klaten mengeluh anak sulungnya rewel dan selalu minta ditemani.

Redaksi tidak menghakiminya. Mereka menduga anak itu dulu terlanjur terlalu dimanjakan karena orang tua belum berpengalaman, lalu menyarankan agar dengan sabar, sedikit demi sedikit, ia diajari bermain sendiri, sambil mengingatkan bahwa taman kanak-kanak akan membantunya belajar bergaul.[7]

Rubrik ini berjalan dari edisi ke edisi, kadang dengan judul Taman Pendidikan Anak2, tetapi nadanya tetap sama.

Pahami dulu watak anak, jangan memukul, jangan membentak, jangan menakut-nakuti. Anak yang penakut justru menuntut lebih banyak kesabaran, bukan ancaman.

Dalam istilah hari ini, ini hampir seperti seruan untuk mendisiplinkan tanpa kekerasan, dicetak rapi di sela halaman resep dan pola baju.

Dokumen arsip rubrik "TAMAN PENDIDIKAN ANAK2" halaman 9 dari majalah Api Kartini tahun 1959. Kolom ini memuat surat pembaca interaktif dari Nj. S. Soenoko (Kediri), Nj. Munandar (Bandung), dan Nj. M. Ichwan (Djakarta) mengenai masalah psikologi anak, serta jawaban redaksi yang melarang keras penggunaan hukuman fisik atau memukul (ardiholmes.id).

Rubrik “Taman Pendidikan Anak2” dalam Api Kartini No. 7 (1959), hlm. 9-10. Redaksi melarang ibu menakut-nakuti anak dengan cerita seram.

Wajah yang kemudian dihapus

Gambaran ini terasa ganjil bila dibaca dari hari ini, sebab Gerwani yang diwariskan kepada kita sama sekali berbeda.

Setelah peristiwa 1965, koran-koran yang dikelola dinas penerangan tentara menyebarkan cerita bahwa perempuan Gerwani menari telanjang di Lubang Buaya, menyilet wajah para jenderal, mencungkil mata, bahkan memotong kelamin mereka.

Citra perempuan jalang dan kejam itulah yang menempel pada nama Gerwani selama puluhan tahun.

Padahal cerita itu tidak tahan uji. Laporan otopsi resmi atas jenazah enam jenderal dan satu perwira muda, yang diperintahkan langsung oleh Mayor Jenderal Suharto dan kemudian diterjemahkan sejarawan Benedict Anderson, adalah keterangan paling objektif tentang bagaimana mereka tewas.[8]

Jenazah baru diangkat dari sumur lebih dari tujuh puluh lima jam setelah pembunuhan, dalam keadaan sudah membusuk.

Menurut laporan-laporan itu, para korban tewas karena tembakan dan luka benda tumpul, bukan karena penyiletan, pencungkilan mata, atau pengebirian seperti yang diramaikan koran.[9]

Di bawah timbunan citra bengis itu, redaktur yang dulu dengan sabar menasihati ibu agar tidak membentak anak yang ketakutan ikut terkubur.

Mengembalikan wajah yang dirampas

Membaca ulang halaman-halaman Api Kartini tahun 1959 berarti menengok satu Gerwani yang nyaris lenyap dari ingatan publik.

Bukan perempuan dengan silet di tangan, melainkan redaktur yang repot memikirkan mengapa seorang anak menjerit saat lampu padam.

Ada ironi yang pahit di sana. Majalah yang mengajari para ibu untuk tidak menakut-nakuti anak justru diubah menjadi momok untuk menakut-nakuti satu bangsa.

Mengembalikan kolom asuh anak itu ke tempatnya adalah satu cara kecil untuk mengembalikan sebagian wajah yang dirampas.

Catatan Kaki

  1. Redaksi, menjawab surat Nj. S. Soenoko, Kediri, dalam rubrik “Taman Pendidikan Anak2,” Api Kartini, No. 7 (1959), hlm. 9.
  2. Keterangan penerbit, Api Kartini, No. 6, Th. I (November 1959): Jajasan Melati, Matraman Raya 51, Djakarta, terbit sebulan sekali.
  3. Susunan redaksi, Api Kartini, No. 6, Th. I (November 1959). Tercantum, antara lain, SK Trimurti, Sugiarti Siswadi, Trees Sunito, dan Sulami.
  4. Redaksi, “Dapur Pendidikan Anak,” Api Kartini, No. 6, Th. I (November 1959), hlm. 4. Edisi ini menandai perkenalan rubrik tersebut.
  5. Ibid. Kalimat asli dalam ejaan lama: “anak bukanlah barang, bukan pula binatang piaraan, akan tetapi manusia ketjil, jang mempunjai djiwa sendiri.”
  6. Ibid.
  7. Redaksi, menjawab surat Nj. Sutikno, Klaten, dalam rubrik “Dapur Pendidikan Anak,” Api Kartini, No. 6, Th. I (November 1959), hlm. 4.
  8. Benedict Anderson, “How Did the Generals Die?” Indonesia, No. 43 (April 1987): 109–134.
  9. Ibid. Laporan otopsi disusun tim ahli kedokteran forensik atas perintah tertulis Mayor Jenderal Suharto, beberapa hari setelah peristiwa.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *