Ilustrasi berwarna dari kartu pos zaman Hindia Belanda bertajuk Uit het Indische Volksleven yang memperlihatkan dua orang kuli bertopi caping sedang memikul peti kayu besar menggunakan bilah bambu di atas sebuah jembatan, dengan latar belakang perkampungan dan bangunan kolonial (source: KITLV. nl)

Werek dan Gendam: Para Kuli yang Diperdaya

Sejarah

Ringkasan Artikel

Werek adalah perekrut kuli kontrak pada masa Hindia Belanda yang konon menundukkan korbannya dengan ilmu gendam. Arsip koran kolonial menunjukkan kekuatan sebenarnya: uang muka, komisi per kepala, dan jaringan depot di pelabuhan seperti Semarang. Artikel ini menelusuri bagaimana mitos itu lahir dan bisnis besar di baliknya.


Ilmu Gendam Werek: Misteri yang Ternyata Soal Uang

Solo, September 1902. Polisi menangkap dua calo tenaga kerja yang beroperasi di pasar.

Seorang perempuan asal Boyolali menjadi korbannya. Kepada polisi ia mengaku tidak mengerti bagaimana dirinya bisa terbujuk; sejak dirayu di pasar, ia merasa sepenuhnya berada dalam kuasa para perekrut itu.

Saat digeledah, berbagai jimat ditemukan terselip di ikat kepala kedua calo. Koran Java Bode, yang dikutip De Sumatra Post, sampai pada kesimpulan yang ditulis dengan nada serius: orang-orang ini juga bekerja dengan stille kracht, kekuatan gaib.[1]

Begitulah reputasi werek terbentuk, profesi yang paling ditakuti di desa-desa Jawa pada pergantian abad ke-20.

Majalah Api Kartini 1959: Belajar Parenting Ala Gerwani yang Dilupakan

Foto sejarah yang telah diwarnai memperlihatkan suasana sebuah perkampungan tradisional di Jawa dengan deretan rumah beratap rumbia dan seng, tampak beberapa penduduk desa, anak-anak, serta seorang pria berpakaian rapi dengan jas dan topi berjalan di pekarangan tanah. (ardiholmes.id)

Suasana pedesaan Jawa awal abad ke-20, wilayah operasi utama para werek dalam mengeksploitasi kerentanan ekonomi masyarakat lokal.

Jimat di Ikat Kepala Calo

Dalam ingatan kolektif, werek adalah tukang gendam. Cerita yang beredar sampai hari ini menyebut korbannya menurut begitu saja, seperti kehilangan kehendak.

Yang jarang disadari, mitos itu tidak hanya hidup di desa. Polisi kolonial menemukan jimat lalu menyimpulkan ada kekuatan gaib, dan koran Belanda menuliskannya tanpa ragu.

Padahal laporan yang sama menyimpan pengakuan yang lebih jujur. Para calo itu, tulis si wartawan, selalu lebih cerdik daripada para pejabat yang seharusnya mencegah kecurangan mereka.[2]

Ketika aparat gagal membendung sesuatu, menyebutnya sihir memang lebih mudah daripada mengakui kalah cerdik.

Ilmu yang Sebenarnya: Persekot dan Komisi per Kepala

Janji yang berpindah pulau

Setahun sebelumnya, September 1901, polisi memburu seorang lelaki Jawa bernama Madredjo dari Karanganyar.

Gerwani, Kontes Mangga, dan Pembebasan Irian Barat

Ia membawa enam orang yang dibujuknya menjadi kuli kontrak untuk Sumatra. Tujuan sebenarnya: Singapura.[3]

Pola kerjanya bukan mantra, melainkan cerita. Calon korban dijanjikan tanah seberang yang gampang uang, lalu disodori voorschot, uang muka yang di Jawa dikenal sebagai persekot.

Begitu persekot diterima dan dibelanjakan, jeratnya mengunci. Menolak berangkat berarti berutang, dan utang mengikat jauh lebih kuat daripada jimat mana pun.

Manusia ada harganya

Bisnis ini punya hitungan yang rapi. Dalam rapat tahunan Deli Planters Vereeniging (DPV), asosiasi pemilik perkebunan Deli, pada Mei 1908, presiden asosiasi mengeluh bahwa ronselen, perekrutan liar, dalam beberapa bulan terakhir telah mencapai proporsi yang begitu besar.[4]

Rapat yang sama memperlihatkan sisi dalam bisnisnya. Dua biro perekrut swasta, Firma Soesman di Semarang dan Firma Falkenberg, dibahas gara-gara tarif: Falkenberg menolak permintaan agar hanya sepertiga persekot dibayarkan di Jawa, dan presiden menegaskan Falkenberg tidak pantas dibayar lebih mahal daripada Soesman.[5]

VOC: Lahir, Berjaya, dan Runtuh: Kisah Perusahaan Multinasional Pertama di Dunia (1602–1799)

Perhatikan bahasanya. Yang diperdebatkan bukan nasib orang yang direkrut, melainkan struktur harga per kepala, persis tawar-menawar komoditas.

Jan Breman mencatat ujung lain rantai ini: sejumlah perkara pengadilan di Jawa membongkar kepala desa yang menerima bayaran untuk menerbitkan pas jalan, surat yang dibutuhkan agar kuli bisa diberangkatkan.[6]

Semarang, Pelabuhan “Aman” bagi Para Calo

Laporan tahun 1902 tadi ditutup satu kalimat dingin: Semarang tampaknya menjadi pelabuhan keberangkatan yang aman bagi orang-orang seperti ini.[7]

Kalimat itu terbukti awet. Dua puluh tiga tahun kemudian, Oktober 1925, polisi Batavia memulangkan 38 orang asal Blora, Kendal, Pati, dan Brumbung ke Semarang.

Mereka diduga direkrut gelap oleh tiga calo yang justru bermarkas di kampung-kampung Semarang sendiri.[8]

Di kolom yang sama, ada kabar dari Salatiga. Seorang perempuan, ditulis sebagai Bok S., mendaftar menjadi kuli tanpa sepengetahuan suami dan orang tuanya.

Ketika wedana (pejabat pembantu bupati/pimpinan wilayah di bawah kabupaten) meminta polisi menahannya, ia sudah telanjur dikapalkan ke Aceh sebagai koeli-contractante sejak 11 September.[9]

Mesin itu bergerak lebih cepat daripada keluarga, bahkan lebih cepat daripada pemerintah.

Pada tahun yang sama, pers Batavia membongkar jaringan vrouwenhandel, perdagangan perempuan berkedok rekrutmen kerja ke Palembang, yang lihai berkelit lewat celah hukum.[10]

Skalanya jauh dari kejahatan kecil-kecilan. Data Koloniaal Verslag yang diolah Marieke van Klaveren menunjukkan jumlah kuli Jawa di Pantai Timur Sumatra meledak dari 1.771 orang pada 1884 menjadi 194.189 pada 1926.[11]

Hampir dua ratus ribu orang itu masuk lewat rantai yang sama: dibujuk di pasar atau desa, ditampung di depot, lalu dinaikkan ke kapal.

Foto arsip sejarah yang telah diwarnai menampilkan ratusan kuli kontrak pria, wanita, dan anak-anak asal Jawa berkumpul di halaman depan depot penampungan kolonial, dikelilingi tumpukan tas, buntelan kain, dan barang bawaan berukuran besar sebelum keberangkatan kapal. (ardiholmes.id)

Kerumunan kuli kontrak Jawa di sebuah depot penampungan. Jaringan depot seperti ini mengubah rekrutmen personal menjadi industri skala besar.

Ketika Perusahaan Merebut Bisnis Calo

Perebutan tenaga kerja bahkan terjadi sesama orang Belanda. Jawa sejak lama punya dunia kerja upahan yang besar dan cair, jauh lebih rumit daripada stereotip kuli yang pasrah.[12]

Di Banyuwangi dan Jember pada 1913, para planter (pemilik atau pengelola perkebunan swasta) saling membajak buruh satu sama lain. Rencana biro registrasi bersama kandas karena dianggap hanya akan jadi lelucon yang mahal.[13]

Bagi pemilik modal, masalahnya bukan moral, melainkan kendali. DPV menyiapkan ordonansi anti-ronselen sejak 1908,[14] lalu perkebunan mengambil alih perekrutan ke tangan sendiri lewat biro resmi yang kelak menjadi Algemeen Delisch Emigratie Kantoor (ADEK), lengkap dengan depot besar di Batavia, Semarang, dan Surabaya.[15]

Puncaknya pada 1930. Bersama rencana penghapusan bertahap Poenale Sanctie (sanksi pidana bagi kuli yang melanggar kontrak), pemerintah merancang Kamar Imigrasi di Medan khusus untuk membendung percaloan model baru.[16]

Werek tidak pernah benar-benar dilenyapkan. Ia hanya diberi kantor, formulir, dan seragam.

Mantra yang Sebenarnya

Lalu dari mana datangnya cerita gendam? Mungkin dari kebutuhan semua pihak akan penjelasan.

Bagi keluarga korban, sihir lebih mudah diterima daripada kenyataan bahwa kemiskinan membuat tawaran palsu terdengar masuk akal.

Bagi polisi dan koran kolonial, stille kracht lebih enak ditulis daripada pengakuan bahwa mereka kalah cerdik oleh jaringan komisi.

Yang menundukkan para korban bukan mantra di ikat kepala. Ia adalah persekot yang telanjur dibelanjakan, malu untuk pulang ke desa, dan harga seorang manusia yang sudah disepakati dalam rapat para tuan kebun.

Catatan Kaki

  1. “Koeli-werving voor de Buitenbezittingen,” De Sumatra Post, 30 September 1902 (mengutip Java Bode).
  2. Ibid.
  3. “Ronselen,” Het Nieuws van den Dag voor Nederlandsch-Indië, 3 September 1901.
  4. “Algemeene Vergadering der Deli Planters Vereeniging,” Deli Courant, 20 Mei 1908.
  5. Ibid.
  6. Jan Breman, Koelies, planters en koloniale politiek (Dordrecht: Foris Publications, 1987).
  7. “Koeli-werving voor de Buitenbezittingen,” De Sumatra Post, 30 September 1902.
  8. “Clandestiene werving,” De Locomotief, 5 Oktober 1925.
  9. “Naar Deli,” De Locomotief, 5 Oktober 1925.
  10. “Het Ronselen van Vrouwen,” Bataviaasch Nieuwsblad, 6 Agustus 1925.
  11. Marieke van Klaveren, “Death among Coolies: Mortality of Chinese and Javanese Labourers on Sumatra in the Early Years of Recruitment, 1882-1909,” Itinerario 21, no. 1 (1997): 112-113.
  12. G. Roger Knight, “Coolie or Worker? Crossing the Lines in Colonial Java, 1780-1942,” Itinerario 23, no. 1 (1999): 62-77.
  13. “De werkvolkquaestie,” De Nieuwe Vorstenlanden, 20 Januari 1913.
  14. “Algemeene Vergadering der Deli Planters Vereeniging,” Deli Courant, 20 Mei 1908.
  15. Yoko Hayashi, “Agencies and Clients: Labour Recruitment in Java, 1870s-1950s,” CLARA Working Paper 14 (Amsterdam: IISH).
  16. “De geleidelijke afschaffing van de Poenale Sanctie,” De Locomotief, 16 September 1930.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *