Pembakaran Tebu di Jawa: Sabotase yang Dicatat sebagai Kejahatan Biasa

Sejarah

Ringkasan Artikel

  • Sepanjang masa kolonial, ribuan bouw tebu di Jawa terbakar setiap tahun, dan arsip Belanda mencatatnya sebagai kejahatan biasa, bukan perlawanan politik.
  • Daftar sasaran api justru menunjuk para penyangga lokal industri gula, yaitu lurah, penjaga kebun, dan mandor, meski pemerintah bersikeras motifnya sekadar dendam pribadi.
  • Dengan melabeli sabotase sebagai kriminalitas perorangan, negara kolonial mendepolitisasi perlawanan sekaligus membenarkan represi di luar pengadilan demi melindungi modal gula.

Api di Ladang Tebu: Saat Perlawanan Petani Dibaca sebagai Dendam Pribadi

Pada awal Mei 1911, sebuah pabrik gula di Modjokerto kehilangan sekitar delapan bouw tebu (satu bouw kira-kira 0,7 hektar atau 7.000-7.400m²) dalam waktu singkat.

Kerugiannya ditaksir enam sampai tujuh ribu gulden.

Surat kabar setempat merangkumnya dengan satu frasa, vermoedelijk door kwaadwilligheid, kemungkinan karena niat jahat.[1]

Kalimat sependek itu menyimpan sebuah keputusan besar. Api di ladang tebu bisa dibaca sebagai dua hal yang sangat berbeda: kecelakaan kriminal biasa, atau perlawanan politik.

Dan yang menentukan bacaan mana yang dipakai bukan si pembakar, melainkan negara yang mencatatnya.

Macroscope AI: Menavigasi Pola dan Ledakan Arsip dalam Riset Sejarah

Baca juga: Pemogokan Buruh Gula 1920: Sebelum Ideologi, Ada Kelaparan

Wabah api yang tak bisa dipadamkan

Kebakaran tebu bukan peristiwa langka. Pada 1906 saja, di luar wilayah kerajaan (Vorstenlanden), tercatat 2.519 bouw tebu hangus, dengan kerugian lebih dari 176.000 gulden bagi pabrik-pabrik gula.[2]

Peta hitam putih Pulau Jawa abad ke-20 menunjukkan wilayah sebaran produksi tebu yang terkonsentrasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur seperti Pasuruan, Malang, dan Kediri.

Peta sebaran wilayah produksi tebu di Jawa yang menjadi sabuk utama industri gula kolonial (Sumber: Bosma, 2013, hlm. 97).

Angka semacam itu berulang dari tahun ke tahun. Laporan resmi kolonial masih mencatat kebakaran tebu sepanjang 1913 hingga 1917.[3]

Bagi pemerintah, kerugian uang bukan luka yang paling dalam. Yang lebih perih adalah rusaknya wibawa, sebab rakyat menyaksikan negara tak mampu menghentikannya.[4]

Masalahnya, pelaku nyaris mustahil ditangkap.

Menghitung yang Tak Terlihat: Sensus 1930 dan Sisi Gelap Psikiatri Kolonial

“De hoofdreden ligt in de moeilijkheid om het wettig bewijs te vinden, dat de verdachte het misdrijf gepleegd heeft”[5] Terjemahan: Sebab utamanya terletak pada sulitnya menemukan bukti hukum bahwa tersangka memang melakukan kejahatan itu.

Ladang tebu membentang puluhan hektar, tanamannya tinggi dan rapat. Seseorang bisa menyulut api di sela-sela batang, lalu menghilang sebelum ada yang menyadarinya.

Ketika asap mulai mengepul, pelakunya sudah jauh, bahkan mungkin ikut berbaur di antara warga yang datang memadamkan.

Orang sedesa biasanya tahu siapa pelakunya, tetapi enggan bersaksi, khawatir suatu saat menjadi sasaran balasan.

Siapa yang sebenarnya dibakar?

Litografi abad ke-19 menampilkan para pekerja atau kuli pribumi bertelanjang dada sedang menyortir dan mengangkut karung-karung gula di dalam gudang pabrik.

Aktivitas para pekerja pribumi di dalam gudang pengepakan gula. Industri kolonial sangat bergantung pada pengawasan ketat hierarki lokal seperti mandor.

Untuk memahami apa yang terjadi, kita perlu bertanya ke arah siapa api itu ditujukan. Sebuah laporan yang dikutip luas pada 1907, berdasar data kebakaran di Kraksaan, merinci sasaran amukan api sepanjang 1902 dan 1903.[6]

Psikiatri Kolonial Hindia Belanda: Sistem yang Menjangkau Seujung Kuku

Tabel 1. Sasaran pembakaran tebu di Kraksaan, 1902 dan 1903 (jumlah kasus)

Sasaran api
1902
1903
Kepala desa atau wakilnya
21
28
Pamong desa lainnya
9
6
Penjaga kebun
24
36
Pejabat penjaga kebun
1
4
Pemerintah secara umum
12
12
Mandor atau wakil pribumi pabrik
3
7
Pegawai Eropa pabrik gula
2
5
Pemilik pabrik
1
1

Polanya berbicara. Sasaran terbesar bukan gedung pabrik milik orang Eropa, melainkan kepala desa dan para penjaga kebun, disusul pamong desa, mandor, dan perwakilan pribumi di pabrik.

Mereka semua adalah penyangga lokal mesin gula: lurah yang menyewakan tanah desa, mandor yang mengatur kuli, penjaga yang melindungi kebun.

Api tidak diarahkan ke pusat kekuasaan yang jauh, melainkan ke aparat terdekat yang menekan sehari-hari.

Bahkan ada motif yang lugas dan terang. Pada 1902, delapan kasus pembakaran tercatat bertujuan agar tanah yang telah berpindah ke perkebunan kembali ke tangan pemiliknya.[7]

Kejahatan biasa, bukan perlawanan

Bagi pengamat kolonial, makna semua itu sudah jelas. Alasan pembakaran, tulis mereka, jarang berkaitan langsung dengan industri gula itu sendiri.

“…niet de uitingen van een algemeene ontstemming tegenover dezen tak van landbouwindustrie, maar eenvoudig die van de wraakoefening van enkele individuen”[8] Terjemahan: …bukan ungkapan ketidakpuasan umum terhadap cabang industri pertanian ini, melainkan sekadar pelampiasan dendam segelintir orang.

Maka pembakaran diperlakukan sebagai perkara kriminal, sederet dengan pencurian dan perampokan, bukan sebagai persoalan politik.[9]

Pembedaan ini bukan sekadar urusan istilah. Dengan menyebut pembakaran sebagai dendam pribadi, perlawanan kehilangan makna politiknya, dan tuntutan atas tanah serta upah menyusut menjadi sekadar persoalan ketertiban.

Cara pandang itu bahkan punya dimensi budaya yang disadari pada masanya.

“Terwijl de Westerling brandstichting aanvoelt als een zwaar misdrijf, vindt de Oosterling het een onbeduidend vergrijp, vooral wanneer het suikerriet betreft”[10] Terjemahan: Sementara orang Barat merasakan pembakaran sebagai kejahatan berat, orang Timur menganggapnya pelanggaran sepele, terutama bila yang dibakar adalah tebu.

Pernyataan ini sering dibaca sebagai bukti keterbelakangan pribumi. Tetapi bisa dibaca sebaliknya: bagi rakyat, membakar tebu bukanlah kejahatan, melainkan tindakan yang masuk akal dan dianggap sah.

Membaca ulang lewat senjata kaum lemah

Di sinilah arsip kolonial perlu dibaca melawan arah. Antropolog James Scott menamai tindakan semacam ini everyday resistance, perlawanan sehari-hari.[11]

Bentuknya tersembunyi, perorangan, dan sukar dibuktikan, mulai dari kerja lambat, pura-pura tak paham, pencurian kecil, sampai pembakaran.

Justru karena tampak personal dan tak terkoordinasi, tindakan ini relatif aman: tak ada pemimpin yang bisa ditangkap, tak ada organisasi yang bisa dibubarkan.

Dibaca dengan kacamata ini, frasa dendam segelintir individu versi kolonial berubah maknanya.

Sasaran yang konsisten, yaitu para penegak orde gula di desa, justru memperlihatkan bahwa api punya logika, bukan sekadar amarah acak.

Bahwa kemarahan itu meluas pun terekam, meski tak resmi. Di pertunjukan wayang, ketika orang merasa bebas bicara, para pejabat dan pemerintah kolonial justru ditertawakan karena ketidakberdayaan mereka.[12]

Siasat negara: dari reorganisasi polisi sampai pembuangan

Negara tidak tinggal diam. Pada 1906 sampai 1907, sebuah laporan resmi merancang penataan ulang kepolisian di Jawa dan Madura, lengkap dengan satu bab khusus tentang pembakaran ladang dan gudang.[13]

Di dalamnya dibahas beragam cara menanggulangi, dari pemadaman, penjagaan atas biaya pemilik perkebunan, sampai apa yang disebut het afmattingsysteem, yaitu sistem yang dirancang untuk melelahkan dan menjerakan pelaku.

Ketika cara biasa gagal, tersedia senjata pamungkas, yaitu politieke verwijdering, pembuangan seseorang atas dasar pertimbangan politik dan ketertiban tanpa lewat pengadilan.

Tersangka yang tak terbukti bersalah pun bisa diasingkan secara administratif, cukup atas nama ketertiban umum.[14]

Logikanya konsisten dengan cara baca sebelumnya. Karena api dianggap kejahatan, bukan tuntutan politik, jawabannya adalah represi yang lebih rapi, bukan reformasi tanah atau upah.

Yang dilindungi pada akhirnya adalah aset industri gula.

Siapa yang diuntungkan oleh kata kejahatan?

Pertanyaan kuncinya bukan apakah petani membakar tebu, sebab itu jelas terjadi. Pertanyaannya: siapa yang diuntungkan ketika tindakan itu disebut kejahatan biasa.

Jawabannya adalah industri gula dan negara yang menopangnya.

Selama api hanya dianggap dendam perorangan, akar persoalannya, yaitu tanah dan tenaga rakyat yang diserap perkebunan, tak perlu disentuh.

Betapa rapuh wibawa itu sebenarnya, sempat diakui dari dalam. Seorang pabrikan gula keturunan Tionghoa di Pasuruan menyebut rakyat tak lagi menyimpan rasa takut maupun hormat kepada pemerintah.[15]

Membaca arsip kolonial berarti menyadari bahwa label di dalamnya, dari kejahatan sampai dendam pribadi, bukan keterangan netral, melainkan bagian dari cara kekuasaan bekerja.

Untuk menemukan suara perlawanan, kadang kita justru harus membaca melawan arah catatan yang menutupinya.

Catatan Kaki

  1. De Preanger-Bode, 7 Mei 1911 (via Delpher).
  2. “Rietbranden op Java. II (Slot),” De Nieuwe Courant, 1907 (via Delpher).
  3. Koloniaal Verslag 1918, Bijlage Z (data rietbrand 1913-1917).
  4. “Rietbranden op Java. II (Slot),” De Nieuwe Courant.
  5. Ibid.
  6. “Rietbranden op Java,” Soerabaiasch-Handelsblad, 30 Oktober 1907; bandingkan “Rietbranden op Java. II (Slot),” De Nieuwe Courant.
  7. “Rietbranden op Java. II (Slot),” De Nieuwe Courant.
  8. Ibid.
  9. W. Boekhoudt, Rapport reorganisatie van het politiewezen op Java en Madoera … 1906-07 (Batavia: Landsdrukkerij, 1908). Pembakaran dibahas dalam bagian tentang kriminalitas, sederet dengan pencurian dan perampokan.
  10. Kolom “Uit de Pers,” De Surinamer, No. 94, 1913 (via Delpher).
  11. James C. Scott, Weapons of the Weak: Everyday Forms of Peasant Resistance (New Haven: Yale University Press, 1985).
  12. “Rietbranden op Java. II (Slot),” De Nieuwe Courant.
  13. W. Boekhoudt, Rapport reorganisatie van het politiewezen op Java en Madoera … 1906-07 (Batavia: Landsdrukkerij, 1908), 33.
  14. “Rietbranden op Java. II (Slot),” De Nieuwe Courant.
  15. Kolom “Uit de Pers,” De Surinamer, No. 94, 1913 (via Delpher).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *