DHA dan Sejarah Indonesia: Sebuah Review

Analisis Wacana Kritis

Artikel-artikel sebelumnya dalam seri ini menjelaskan apa itu DHA atau Discourse-historical-approach, bagaimana sejarahnya, apa perangkatnya, dan bagaimana ia bekerja. Artikel ini menjawab pertanyaan yang paling penting untuk konteks kita: secara konkret, proyek riset apa yang bisa dilakukan dengan menerapkan DHA pada material sejarah Indonesia?

Pertanyaan ini mendesak karena dua alasan. Pertama, data bibliometrik menunjukkan kekosongan yang hampir total: dari 335 dokumen tentang DHA yang terindeks di Scopus selama 2002–2023, tidak satu pun berasal dari Indonesia (Yeo et al., 2025). Satu-satunya penerapan DHA pada material Indonesia yang bisa ditemukan adalah studi Yatmikasari dan Isana (2017) tentang manuskrip Sunda kuno Amanat Galunggung di jurnal TAWARIKH. DHA adalah terra incognita di akademia Indonesia.

Kedua, historiografi Indonesia sudah lama bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan yang secara natural membutuhkan perangkat seperti DHA: bagaimana narasi sejarah dikonstruksi dan oleh siapa, bagaimana konsep-konsep berubah makna lintas periode, bagaimana identitas nasional diproduksi melalui pendidikan dan media. Pertanyaan-pertanyaan ini sudah ada — yang belum ada adalah perangkat analitis yang cukup sistematis untuk menjawabnya di level wacana.

Artikel ini menguraikan lima kemungkinan proyek riset. Masing-masing dirancang untuk bisa dikerjakan oleh peneliti Indonesia dengan sumber daya yang realistis — ada yang cocok untuk skripsi atau artikel jurnal tunggal, ada yang cocok untuk tesis atau proyek kolaboratif yang lebih besar.

Infografis peta jalan riset DHA untuk sejarah Indonesia: lima proyek dari pidato 17 Agustus hingga rekontekstualisasi 1965, dengan latar belakang kekosongan bibliometrik di Scopus

Dari 335 dokumen DHA yang terindeks di Scopus selama dua dekade, nol berasal dari Indonesia — padahal pertanyaan-pertanyaan historiografi Indonesia secara natural membutuhkan perangkat ini. Lima proyek di atas adalah titik berangkat, bukan resep. Yang terpenting bukan skalanya, melainkan kedalaman analisis dan kejujuran metodologisnya. Ruang itu terbuka — pertanyaannya adalah siapa yang akan mengisinya pertama.

Proyek 1: Konstruksi Identitas Nasional dalam Pidato 17 Agustus Lintas Presiden

Mengapa proyek ini?

Pidato kenegaraan pada Hari Kemerdekaan adalah genre diskursif yang paling kaya untuk analisis DHA di konteks Indonesia. Ia memadukan fungsi seremonial (memperingati masa lalu), fungsi politik (melegitimasi kebijakan masa kini), dan fungsi identitas (mengkonstruksi “bangsa Indonesia” di hadapan audiensnya). Dan yang terpenting, proyek ini adalah padanan langsung dari studi pidato komemoratif Austria yang menjadi salah satu proyek foundational DHA — sehingga hasilnya bisa diperbandingkan secara lintas-budaya.

Konstruksi Identitas Nasional dalam Wacana: Analisis DHA

Data

Teks pidato 17 Agustus dari berbagai presiden tersedia secara publik. Untuk era Soekarno, transkripsi pidato bisa ditemukan di kumpulan pidato yang diterbitkan serta di arsip Perpustakaan Nasional. Untuk era Soeharto sampai kontemporer, sebagian besar tersedia secara daring di situs resmi Sekretariat Kabinet atau arsip media. Kalau tersedia rekaman audiovisual, ia bisa menjadi data tambahan yang kaya — intonasi, jeda, dan penekanan dalam penyampaian lisan membawa makna yang tidak tertangkap oleh transkripsi.

Pertanyaan riset

Bagaimana konstruksi identitas nasional Indonesia berubah dalam pidato kenegaraan 17 Agustus dari era Orde Lama ke Orde Baru ke Reformasi? Strategi nominasi dan predikasi apa yang digunakan untuk mengkonstruksi “bangsa Indonesia” dan “musuh bangsa” di setiap periode? Topoi apa yang digunakan untuk melegitimasi kebijakan presiden? Bagaimana referensi ke masa lalu — perjuangan kemerdekaan, trauma kolonial, heroisme nasional — direkontekstualisasi untuk tujuan politik kontemporer yang berbeda-beda?

Konsep DHA yang paling relevan

Lima strategi diskursif diterapkan penuh, dengan penekanan pada nominasi (bagaimana “kita” dan “mereka” dikonstruksi), predikasi (sifat apa yang diatribusikan ke bangsa), dan argumentasi (topoi sejarah, topos ancaman). Empat makro-strategi (konstruktif, perpetuasi, transformasi, pembongkaran) sangat relevan untuk melacak bagaimana narasi identitas berubah lintas rezim. Rekontekstualisasi menjadi kunci untuk menganalisis bagaimana referensi ke masa lalu bergeser fungsinya.

Skala

Untuk artikel jurnal: perbandingan dua atau tiga pidato dari momen-momen transisi kunci (misalnya pidato terakhir Soeharto vs pidato pertama Habibie vs pidato pertama Abdurrahman Wahid). Untuk tesis: analisis lebih komprehensif yang mencakup satu pidato representatif per presiden.

Proyek 2: Wacana Penulisan Ulang Sejarah Nasional Indonesia

Mengapa proyek ini?

Proyek penulisan ulang Sejarah Nasional Indonesia yang diluncurkan pada 2025 memicu perdebatan publik yang sangat intens. Perdebatan ini bukan hanya tentang isi sejarah yang akan ditulis — ia adalah perdebatan tentang siapa yang berhak mendefinisikan narasi sejarah bangsa. Ini persis wilayah DHA: analisis bagaimana wacana publik beroperasi untuk melegitimasi atau mendelegitimasi proyek semacam ini, argumen apa yang digunakan oleh berbagai pihak, dan bagaimana perdebatan ini terhubung dengan perdebatan-perdebatan historiografis yang lebih panjang.

8 Langkah Analisis DHA: Panduan Praktis

Data

Korpus untuk proyek ini sangat kaya dan sepenuhnya kontemporer: pernyataan resmi pemerintah dan penyelenggara proyek, respons akademisi dan sejarawan (artikel opini, pernyataan resmi asosiasi profesi, diskusi di forum ilmiah seperti AIPI), liputan dan editorial media, serta diskusi di media sosial. Data pendukung yang penting: dokumen-dokumen terkait proyek penulisan SNI sebelumnya (terutama edisi asli 1975 yang disusun di bawah Nugroho Notosusanto) sebagai titik perbandingan diakronis.

Pertanyaan riset

Bagaimana berbagai aktor sosial (pemerintah, sejarawan akademis, masyarakat sipil, media) memposisikan diri terhadap proyek ini? Argumen apa yang digunakan untuk melegitimasi dan mendelegitimasi proyek? Apakah ada kontinuitas antara argumen-argumen yang digunakan sekarang dengan argumen-argumen yang digunakan dalam perdebatan SNI sebelumnya — atau apakah ada argumen baru yang muncul? Bagaimana konsep-konsep kunci seperti “objektivitas,” “inklusivitas,” dan “dekolonisasi” direkontekstualisasi oleh pihak-pihak yang berbeda untuk tujuan yang berbeda?

Konsep DHA yang paling relevan

Analisis argumentasi (topoi dan falasi) menjadi pusat — karena perdebatan ini secara fundamental bersifat argumentatif. Perspektivisasi penting untuk menganalisis bagaimana pihak-pihak yang berbeda membingkai isu yang sama secara berbeda. Rekontekstualisasi relevan untuk melacak bagaimana argumen berpindah dari ranah akademik ke ranah media ke ranah politik.

Skala

Untuk artikel jurnal: fokus pada satu momen diskursif tertentu (misalnya minggu pertama setelah pengumuman resmi proyek) dan analisis bagaimana perdebatan terbentuk di media. Untuk tesis: analisis yang lebih komprehensif yang melacak perdebatan selama beberapa bulan dan membandingkannya dengan perdebatan SNI di era sebelumnya.

Proyek 3: Konstruksi Wacana dalam Buku Teks Sejarah SMA

Mengapa proyek ini?

Buku teks sejarah adalah salah satu situs paling penting di mana identitas nasional diproduksi dan direproduksi untuk generasi baru. Ia bukan sekadar kumpulan fakta — ia adalah konstruksi diskursif yang menentukan versi sejarah mana yang dianggap “resmi” dan layak diketahui oleh warga negara muda. Purwanta (2018) sudah menunjukkan bagaimana representasi wacana kolonial dalam buku teks sejarah SMA berubah — tapi tidak berubah sebanyak yang diharapkan — dari Orde Baru ke pasca-Reformasi. DHA bisa memperdalam analisis semacam ini dengan perangkat yang lebih sistematis.

Konteks 4 Lapis dan Rekontekstualisasi dalam DHA

Data

Buku teks sejarah SMA dari berbagai periode kurikulum: Kurikulum 1975, 1984, 1994 (Orde Baru), Kurikulum 2004/2006 (pasca-Reformasi awal), Kurikulum 2013, dan Kurikulum Merdeka. Untuk setiap kurikulum, idealnya dipilih buku yang paling banyak digunakan atau buku terbitan pemerintah yang berstatus “wajib.” Fokus analisis bisa dibatasi pada bab-bab tertentu yang membahas topik yang sama — misalnya bab tentang kolonialisme, bab tentang kemerdekaan, atau bab tentang Orde Baru.

Pertanyaan riset

Bagaimana konstruksi diskursif tentang topik tertentu (misalnya kolonialisme Belanda, atau gerakan kemerdekaan) berubah lintas kurikulum? Strategi nominasi dan predikasi apa yang digunakan untuk mengkonstruksi “penjajah” dan “pahlawan”? Apakah ada topoi yang konsisten lintas kurikulum (misalnya topos “350 tahun dijajah”) dan topoi yang berubah? Bagaimana agensi diatribusikan — siapa yang digambarkan sebagai subjek yang bertindak dan siapa yang digambarkan sebagai objek pasif? Dan yang mungkin paling menarik: apa yang tidak ada di buku teks — peristiwa apa yang dihilangkan, perspektif siapa yang tidak direpresentasikan?

Konsep DHA yang paling relevan

Nominasi dan predikasi untuk menganalisis bagaimana aktor-aktor sejarah dikonstruksi. Empat makro-strategi untuk menganalisis fungsi sosial narasi buku teks — apakah dominan konstruktif, perpetuatif, transformatif, atau destruktif. Konkordansi dan diskordansi dari kerangka identitas nasional — bagaimana buku teks mengelola peristiwa-peristiwa yang menantang narasi nasional yang koheren.

Skala dan preseden

Untuk artikel jurnal: perbandingan satu bab yang sama dari dua periode kurikulum yang berbeda. Untuk tesis: analisis lebih komprehensif lintas beberapa kurikulum. Preseden yang relevan: Purwanta (2018) yang menganalisis representasi wacana kolonial dalam buku teks SMA dari 1975 sampai 2013 menggunakan CDA — proyek ini bisa diperdalam dan diperluas menggunakan perangkat DHA yang lebih spesifik.

Proyek 4: Analisis Wacana Kolonial Menggunakan Sumber Arsip Multilingual

Mengapa proyek ini?

Infografis riset DHA proyek wacana kolonial multilingual: sumber arsip ANRI dan Delpher, pertanyaan riset Ethische Politiek, dan konsep rekontekstualisasi lintas bahasa Belanda-Melayu-Jawa

Menganalisis wacana kolonial bukan sekadar membaca arsip Belanda — ia berarti melacak bagaimana argumen “misi berperadab” dikonstruksi dalam teks resmi, lalu direspons dan dibingkai ulang dalam pers pribumi berbahasa Melayu dan Jawa. Di sinilah DHA menemukan dimensi baru yang belum terteorikan: intertekstualitas lintas bahasa.

Ini proyek yang paling ambisius dalam daftar ini — dan yang paling berpotensi menghasilkan kontribusi orisinal bagi DHA secara global. Alasannya: DHA hingga saat ini hampir seluruhnya dikembangkan dan diterapkan dalam konteks Eropa yang kebanyakan monolingual atau bilingual. Ketika DHA diterapkan pada material arsip kolonial Indonesia yang multilingual — di mana sumber-sumber dalam bahasa Belanda, Melayu, Jawa, dan bahasa-bahasa lokal lainnya saling berinteraksi — dimensi-dimensi baru muncul yang belum terteorikan dalam kerangka DHA yang ada.

Data

Sumber arsip dari periode kolonial yang tersedia di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan di Nationaal Archief di Den Haag (banyak yang sudah didigitalisasi dan bisa diakses secara daring). Untuk proyek yang lebih terfokus, koleksi digital Delpher (arsip surat kabar dan majalah kolonial Belanda) sangat berguna — ia berisi ribuan terbitan berkala dari Hindia Belanda dalam bahasa Belanda dan Melayu. Sumber lain: koleksi Perpustakaan Nasional, termasuk pers berbahasa Melayu dan Jawa awal abad ke-20.

Contoh proyek yang sangat spesifik: analisis DHA atas wacana Ethische Politiek — bagaimana kebijakan “balas budi” ini diargumentasi dan dilegitimasi dalam teks-teks resmi Belanda, dan bagaimana ia direspons dan direkontekstualisasi dalam pers berbahasa Melayu dan Jawa. Atau analisis atas figur seperti G.A.J. Hazeu — penasihat urusan pribumi yang otoritas akademis dan otoritas birokrasisnya saling mengonstitusi — menggunakan sumber arsip multilingual.

Pertanyaan riset

Bagaimana wacana tertentu (misalnya “misi berperadab” atau “balas budi”) dikonstruksi dalam teks-teks kolonial Belanda? Bagaimana wacana yang sama direspons, ditolak, atau direkontekstualisasi dalam pers pribumi? Apakah ada topoi yang berpindah dari wacana kolonial ke wacana nasionalis — misalnya topos “kemajuan” yang digunakan oleh kedua belah pihak dengan makna yang berbeda? Bagaimana multilingualisme sumber — fakta bahwa aktor-aktor yang sama menulis dalam bahasa yang berbeda untuk audiens yang berbeda — mempengaruhi strategi diskursif yang mereka gunakan?

Konsep DHA yang paling relevan

Rekontekstualisasi menjadi sangat sentral — melacak bagaimana argumen dan konsep berpindah dari wacana kolonial ke wacana nasionalis. Intertekstualitas lintas bahasa adalah dimensi yang belum banyak dieksplorasi dalam DHA dan bisa menjadi kontribusi orisinal. Konteks empat lapis menjadi sangat menantang dan sangat produktif karena lapis keempat (konteks sosio-politik dan historis) mencakup seluruh struktur kekuasaan kolonial.

Skala dan persyaratan

Proyek ini membutuhkan kemampuan membaca bahasa Belanda — atau setidaknya kolaborasi dengan seseorang yang bisa. Untuk artikel jurnal: fokus pada satu perdebatan spesifik dalam satu periode singkat. Untuk tesis atau proyek besar: analisis yang lebih komprehensif yang melacak wacana tertentu melintasi beberapa dekade dan beberapa bahasa. Preseden: Galudra dan Sirait yang menganalisis wacana kebijakan kehutanan kolonial, dan studi CDA terhadap surat-surat Kartini (2023) yang menunjukkan bahwa teks-teks historis Indonesia bisa dianalisis untuk mengungkap relasi kekuasaan.

Proyek 5: Rekontekstualisasi Peristiwa 1965 dalam Wacana Pasca-Reformasi

Mengapa proyek ini?

Selama 30 tahun, peristiwa 1965 dikunci dalam satu narasi tunggal. Sejak Reformasi, narasi itu mulai terbuka — tapi tidak merata dan tidak tanpa perlawanan. Pertanyaan DHA yang paling tajam di sini bukan hanya “apa yang berubah,” melainkan: korban disebut apa, oleh siapa, dalam genre mana — dan tingkat kekejaman dipertegas atau diperhalus untuk kepentingan apa?

Peristiwa 1965–1966 adalah diskordansi terbesar dalam narasi identitas nasional Indonesia. Selama lebih dari tiga dekade di bawah Orde Baru, peristiwa ini dikunci dalam satu narasi tunggal yang tidak boleh dipertanyakan. Sejak Reformasi 1998, narasi itu mulai terbuka — tapi tidak secara merata dan tidak tanpa perlawanan. Proses pembukaan ini sendiri adalah fenomena diskursif yang sangat kaya untuk dianalisis: bagaimana sebuah peristiwa historis yang selama puluhan tahun “dikunci” dalam satu narasi perlahan-lahan direkontekstualisasi dalam berbagai genre dan oleh berbagai aktor?

Data

Korpus untuk proyek ini bersifat multi-genre dan multi-media, yang persis merupakan kekuatan DHA. Genre-genre yang relevan mencakup film (dari Pengkhianatan G30S/PKI produksi Orde Baru sampai The Act of Killing dan The Look of Silence karya Joshua Oppenheimer, sampai film-film Indonesia kontemporer yang menyinggung tema ini), buku (dari historiografi resmi Orde Baru sampai karya-karya Pramoedya Ananta Toer, John Roosa, dan sejarawan-sejarawan yang menawarkan perspektif alternatif), artikel dan editorial media (bagaimana media arus utama meliput perdebatan tentang 1965 di era Reformasi), media sosial (bagaimana generasi muda membahas 1965 di platform digital), dan kebijakan resmi (pernyataan pemerintah tentang kemungkinan rekonsiliasi atau permintaan maaf).

Pertanyaan riset

Bagaimana peristiwa 1965 direkontekstualisasi dalam genre-genre yang berbeda setelah Reformasi? Apakah ada narasi-narasi baru yang muncul — atau apakah narasi Orde Baru masih mendominasi dalam bentuk yang dimodifikasi? Strategi nominasi apa yang digunakan untuk merujuk pada korban — apakah mereka disebut “anggota PKI,” “komunis,” “korban,” atau “warga negara”? Bagaimana agensi diatribusikan — siapa yang digambarkan sebagai pelaku dan siapa sebagai korban? Topoi apa yang digunakan oleh pihak yang mendukung rekonsiliasi dan pihak yang menolaknya? Bagaimana wacana tentang 1965 terhubung dengan wacana-wacana lain — tentang komunisme, tentang hak asasi manusia, tentang stabilitas nasional?

Konsep DHA yang paling relevan

Rekontekstualisasi menjadi konsep sentral — seluruh proyek pada dasarnya adalah analisis tentang bagaimana satu peristiwa direkontekstualisasi melintasi waktu dan genre. Konkordansi dan diskordansi dari kerangka identitas nasional sangat relevan — bagaimana narasi nasional mengelola (atau gagal mengelola) diskordansi terbesar ini. Perspektivisasi penting untuk menganalisis dari sudut pandang siapa cerita diceritakan di setiap genre. Intensifikasi dan mitigasi penting untuk menganalisis bagaimana kekejaman dipertegas atau diperhalus dalam konteks yang berbeda.

Skala

Untuk artikel jurnal: fokus pada satu genre (misalnya hanya film, atau hanya media sosial) dan satu momen tertentu. Untuk tesis: perbandingan lintas genre dalam satu periode. Untuk proyek besar: analisis diakronis yang melacak rekontekstualisasi dari 1966 sampai kontemporer.

Akhir Kata: Bukan Mengimpor, Tapi Memperkaya

Lima proyek di atas bukan resep yang harus diikuti secara kaku. Mereka adalah titik berangkat — contoh-contoh konkret tentang bagaimana DHA bisa diterapkan pada material Indonesia. Setiap peneliti perlu menyesuaikan pertanyaan riset, cakupan data, dan perangkat analitis sesuai dengan konteks spesifik proyeknya.

Yang perlu ditegaskan sekali lagi: menerapkan DHA di Indonesia bukan berarti mengimpor metode Eropa secara mentah. Setiap penerapan di konteks baru menuntut adaptasi — dan adaptasi itu sendiri bisa menghasilkan kontribusi orisinal. Ketika DHA diterapkan pada material arsip multilingual (Belanda-Melayu-Jawa), dimensi intertekstualitas lintas bahasa menuntut pengembangan konseptual yang belum ada dalam kerangka DHA yang ada. Ketika DHA digunakan untuk menganalisis identitas nasional di negara yang terdiri dari ratusan kelompok etnis dan bahasa, kerangka konkordansi-diskordansi perlu dielaborasi untuk menampung kompleksitas yang tidak ada di konteks Austria yang relatif homogen. Ketika DHA diterapkan pada masyarakat pasca-kolonial yang pengalaman traumatisnya berbeda secara fundamental dari pengalaman pasca-fasisme Austria, dimensi-dimensi baru muncul yang memperkaya — bukan sekadar menerapkan — kerangka DHA itu sendiri.

Beberapa studi yang sudah ada menunjukkan bahwa jalan ini bisa ditempuh. Yatmikasari dan Isana (2017) menerapkan DHA pada manuskrip Sunda kuno dan menunjukkan bahwa perangkat lima strategi diskursif bekerja di material yang sangat jauh dari konteks Eropa kontemporer. Purwanta (2018) menggunakan CDA untuk menganalisis buku teks sejarah Indonesia — dan hasilnya menunjukkan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang ia ajukan bisa diperdalam secara substansial dengan perangkat DHA yang lebih spesifik. Studi CDA terhadap surat-surat Kartini (2023) menunjukkan bahwa teks-teks historis Indonesia adalah material yang sangat kaya untuk analisis wacana kritis.

Apa yang dibutuhkan sekarang adalah langkah selanjutnya: riset yang secara eksplisit dan sistematis menggunakan kerangka DHA — dengan delapan langkahnya, lima strategi diskursifnya, model konteks empat lapisnya, dan apparatus argumentasi berbasis topoi-nya — untuk menganalisis material sejarah Indonesia. Kontribusi semacam ini tidak hanya mengisi kekosongan dalam historiografi Indonesia, tapi juga memperkaya DHA sebagai pendekatan global dengan perspektif yang selama ini absen.

Ruang itu terbuka. Pertanyaannya bukan apakah DHA relevan untuk Indonesia — artikel ini mudah-mudahan sudah menjawab itu. Pertanyaannya adalah siapa yang akan menjadi orang pertama yang mengisi ruang itu.

FAQ tentang DHA dan Sejarah Indonesia

1. Mengapa DHA hampir belum pernah diterapkan pada material sejarah Indonesia?

Data bibliometrik menjawabnya secara telak: dari 335 dokumen tentang DHA yang terindeks di Scopus selama 2002–2023, tidak satu pun berasal dari Indonesia. Satu-satunya penerapan yang bisa ditemukan adalah studi Yatmikasari dan Isana (2017) tentang manuskrip Sunda kuno Amanat Galunggung. Ini bukan karena DHA tidak relevan — justru sebaliknya. Historiografi Indonesia sudah lama bergulat dengan pertanyaan yang secara natural membutuhkan DHA: bagaimana narasi sejarah dikonstruksi, bagaimana konsep berubah makna lintas rezim, bagaimana identitas nasional diproduksi melalui pendidikan dan media. Yang belum ada adalah perangkat analitis yang cukup sistematis untuk menjawabnya di level wacana.

2. Di antara kelima proyek yang diusulkan, mana yang paling realistis untuk skripsi atau artikel jurnal?

Proyek 1 (pidato 17 Agustus lintas presiden) dan Proyek 3 (buku teks sejarah SMA) adalah dua yang paling ramah untuk skala kecil. Keduanya menggunakan data yang tersedia secara publik, pertanyaan risetnya terdefinisi jelas, dan ada preseden metodologis yang bisa dijadikan pijakan — Purwanta (2018) untuk buku teks, dan studi pidato komemoratif Austria sebagai padanan langsung untuk pidato 17 Agustus. Untuk artikel jurnal, bahkan satu perbandingan dua teks dari momen transisi kunci sudah cukup untuk analisis DHA yang bermakna, asalkan dikerjakan dengan kedalaman yang memadai.

3. Mengapa analisis wacana kolonial multilingual (Proyek 4) disebut paling berpotensi menghasilkan kontribusi orisinal?

Karena DHA hingga saat ini hampir seluruhnya dikembangkan dalam konteks Eropa yang monolingual atau bilingual. Ketika DHA diterapkan pada arsip kolonial Indonesia — di mana sumber-sumber dalam bahasa Belanda, Melayu, Jawa, dan bahasa lokal lainnya saling berinteraksi — dimensi baru muncul yang belum terteorikan: intertekstualitas lintas bahasa, dan strategi diskursif aktor yang menulis dalam bahasa berbeda untuk audiens yang berbeda. Kontribusi semacam ini tidak sekadar mengisi kekosongan di historiografi Indonesia, tapi juga memperkaya kerangka DHA itu sendiri secara global. Harga masuknya adalah kemampuan membaca bahasa Belanda — atau kolaborasi dengan seseorang yang bisa.

4. Apa yang membuat rekontekstualisasi peristiwa 1965 (Proyek 5) menjadi studi kasus yang sangat kaya untuk DHA?

Karena ia adalah contoh langka dari sebuah diskordansi yang secara aktif “dikunci” selama tiga dekade, kemudian perlahan dibuka kembali — dan proses pembukaan itu sendiri terjadi secara tidak merata di berbagai genre. Film, buku, media arus utama, media sosial, dan kebijakan resmi masing-masing merekontekstualisasi peristiwa yang sama dengan cara yang berbeda, dengan strategi nominasi yang berbeda (korban disebut apa?), dan dengan atribusi agensi yang berbeda (siapa yang digambarkan sebagai pelaku?). DHA dengan penekanannya pada rekontekstualisasi lintas genre dan perspektivisasi adalah salah satu sedikit pendekatan yang mampu menangkap kompleksitas itu secara sistematis.

5. Apakah menerapkan DHA di Indonesia berarti sekadar “mengimpor metode Eropa”?

Tidak — dan artikel ini menegaskan perbedaan penting itu. Setiap penerapan DHA di konteks baru menuntut adaptasi, dan adaptasi itu sendiri bisa menjadi kontribusi orisinal. Kerangka konkordansi-diskordansi, misalnya, dikembangkan dalam konteks Austria yang relatif homogen secara etnis. Ketika ia diterapkan pada Indonesia yang terdiri dari ratusan kelompok etnis dan bahasa, kerangka itu perlu dielaborasi untuk menampung kompleksitas yang jauh berbeda. Ketika DHA diterapkan pada masyarakat pascakolonial yang pengalaman traumatisnya berbeda secara fundamental dari pengalaman pasca-fasisme Austria, dimensi-dimensi baru muncul. Bukan mengimpor — melainkan memperkaya.

Referensi

Galudra, G. & Sirait, M. “A Discourse on Dutch Colonial Forest Policy and Science in Indonesia.” CIFOR-ICRAF.

Purwanta, H. (2018). “The Representation of Colonial Discourse in Indonesian Secondary Education History Textbooks During and After the New Order (1975–2013).” History of Education. DOI: 10.1080/0046760X.2017.1384855.

Reisigl, M. & Wodak, R. (2009). “The Discourse-Historical Approach (DHA).” Dalam R. Wodak & M. Meyer (Eds.), Methods of Critical Discourse Analysis (2nd ed., pp. 87–121). London: SAGE.

Wodak, R., de Cillia, R., Reisigl, M. & Liebhart, K. (2009). The Discursive Construction of National Identity (2nd ed.). Edinburgh: Edinburgh University Press.

Yatmikasari, I. & Isana, W. (2017). “Local Wisdom in Sundanese Manuscript of Amanat Galunggung.” TAWARIKH: International Journal for Historical Studies, 9(1).

Yeo, W.S. et al. (2025). “A Retrospective View of Discourse-Historical Approach (DHA).” Gading Journal for the Social Sciences.

“Studi Analisis Wacana Kritis terhadap Surat-Surat Kartini.” (2023). Basastra: Jurnal Kajian Bahasa dan Sastra Indonesia, UNIMED.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *