Dua Suara dari 1933: Psikiater Kolonial dan Psikiater Pribumi tentang Jiwa

Sejarah

Ringkasan Artikel

  • Pada 1933, jurnal Koloniale Studien memuat dua artikel tentang jiwa pribumi, satu oleh psikiater Belanda P. M. van Wulfften Palthe dan satu oleh psikiater pribumi Dr. Mohammad Amir.
  • van Wulfften Palthe menulis tentang perawatan orang gila, sementara Moh. Amir membedah psikopat pribumi di penjara menurut suku, dan bahkan mengaitkan psikopati dengan pemberontakan.
  • Keduanya bekerja dalam kerangka psikiatri kolonial yang sama, sehingga kehadiran suara pribumi tidak otomatis berarti suara perlawanan, dan justru di situ letak pelajarannya.

Dua Suara tentang Jiwa Pribumi: van Wulfften Palthe dan Mohammad Amir, 1933

Pada 1933 terbit sebuah jilid jurnal ilmiah di Batavia, namanya Koloniale Studien, bacaan para pejabat dan ahli kolonial.

Di dalamnya, dua psikiater menulis tentang hal yang berdekatan, yaitu jiwa orang pribumi, tetapi dari dua kursi yang sangat berbeda.

Yang satu orang Belanda dan paling senior di koloni. Yang lain orang Indonesia, salah satu dokter jiwa pribumi pada masanya.

Membaca keduanya berdampingan memberi kita sesuatu yang langka, yaitu kesempatan melihat bagaimana pengetahuan tentang jiwa pribumi dibuat, dan oleh siapa.

Suara pertama: orang gila yang dibiarkan di kampung

P. M. van Wulfften Palthe menulis tentang krankzinnigenverzorging, yaitu perawatan orang gila di Hindia.

Pembakaran Tebu di Jawa: Sabotase yang Dicatat sebagai Kejahatan Biasa

Pesannya berani, yaitu bahwa sistem rumah sakit jiwa hanya menjangkau segelintir orang, dan sedikitnya 50.000 orang gila tidak pernah dilihat dokter.

Namun ia tidak menganggap itu sebagai masalah besar, sebab baginya kampung sanggup menampung mereka yang tidak membahayakan.

“een groot deel der krankzinnigen [kan] in kampongverband blijven zonder al te storend te werken” (P. M. van Wulfften Palthe, Koloniale Studien (1933). Terjemahan: sebagian besar orang gila dapat tetap tinggal dalam ikatan kampung tanpa terlalu mengganggu).

Pandangan ini punya konsekuensi, yaitu negara merasa cukup menangani yang berbahaya saja, dan membiarkan sisanya kepada keluarga dan desa.

Suara kedua: psikopat pribumi di balik jeruji

Artikel kedua ditulis Dr. Mohammad Amir, seorang psikiater pribumi, dengan judul tentang psikopat pribumi dan makna sosialnya.

Macroscope AI: Menavigasi Pola dan Ledakan Arsip dalam Riset Sejarah

Tujuannya ia nyatakan terang-terangan.

“wat voor rol deze typen spelen in de inheemsche maatschappij” (Moh. Amir, Koloniale Studien (1933). Terjemahan: peran apa yang dimainkan tipe-tipe ini dalam masyarakat pribumi).

Tetapi perhatikan bahannya. Ia memeriksa tahanan di bagian psikopat penjara Glodok di Batavia, bukan orang gila di desa.

Ia sendiri jujur soal batas itu.

“dit materiaal [is] klein, geselecteerd … zoodat het niet precies de verhoudingen in de dessa weergeeft” (Moh. Amir, Koloniale Studien (1933). Terjemahan: bahan ini sedikit dan terpilih … sehingga tidak persis menggambarkan keadaan di desa).

Lebih jauh, ia memakai kosakata degenerasi Eropa yang sedang populer saat itu, menyebut sebagian tahanan sebagai Untermenschen atau kepribadian bionegatief.

Menghitung yang Tak Terlihat: Sensus 1930 dan Sisi Gelap Psikiatri Kolonial

Ketika kegilaan dibaca menurut suku

Yang paling mencolok, Moh. Amir mengelompokkan para tahanan itu menurut suku, lalu memberi tiap suku watak tersendiri.

  • Tentang orang Aceh, ia menggambarkan tipe yang terobsesi, misalnya terpaku pada keinginan membunuh seorang yang dianggap kafir.
  • Tentang orang Batak, ia memakai istilah primitif, yaitu orang yang mudah tersulut lalu memukul.

Kategori semacam ini adalah kategori rasial zaman itu, dan justru itulah yang membuat teksnya penting untuk dibaca secara kritis, bukan untuk diikuti.

Ia memperlihatkan bagaimana ilmu jiwa kolonial mengubah keragaman manusia menjadi daftar watak suku yang seolah tetap.

Ketika pemberontakan dianggap penyakit

Ada satu lompatan yang bahkan lebih jauh, yaitu ketika perlawanan politik dibaca sebagai gejala kejiwaan.

Di antara para tahanan, Moh. Amir mencatat sejumlah kasus yang berkaitan dengan pemberontakan komunis 1926 dan 1927.

“De rol van het psychopathendom in revoluties is in Europa voldoende bestudeerd” (Moh. Amir, Koloniale Studien (1933). Terjemahan: peran psikopati dalam revolusi sudah cukup dipelajari di Eropa).

Dengan membaca pemberontak sebagai psikopat, deviansi medis dan perlawanan politik dileburkan menjadi satu.

Inilah sisi paling politis dari teks itu, sebab menyakitkan jika revolusi melawan penjajah dijelaskan sebagai penyakit jiwa.

Baca Juga: Psikiatri Kolonial Hindia Belanda: Sistem yang Menjangkau Seujung Kuku

Dua kursi, satu kerangka

Perbedaan dan kesamaan keduanya dapat diringkas sebagai berikut.

Aspek
van Wulfften Palthe
Mohammad Amir
Posisi
Psikiater Belanda, paling senior
Psikiater pribumi
Tema
Perawatan orang gila
Psikopat dalam arti forensik
Bahan
Sistem dan perkiraan jumlah
Tahanan penjara Glodok
Kerangka pikir
Psikiatri kolonial
Teori degenerasi Eropa
Sasaran perhatian
Orang gila yang dibiarkan
Deviansi yang dipenjarakan

Apa artinya dua suara ini?

Mudah tergoda membaca Moh. Amir sebagai suara perlawanan pribumi. Tetapi itu keliru.

Ia justru memakai kerangka pikir psikiatri kolonial yang sama, lalu menerapkannya pada bangsanya sendiri.

Ini bukan kebetulan, sebab dokter pribumi dilatih dalam ilmu Eropa, dan ikut dalam ilmu kolonial adalah jalan menuju kewibawaan (Pols, 2018).

Di sinilah pelajaran pentingnya, yaitu pengetahuan kolonial tentang jiwa pribumi tidak hanya dibuat oleh orang Eropa, melainkan juga oleh elite terdidik pribumi yang ikut di dalamnya.

Maka tahun 1933 menyimpan satu paradoks, yaitu kehadiran suara pribumi yang nyata, tetapi belum tentu suara yang merdeka.

Pertanyaan yang sering diajukan

Siapa Mohammad Amir?

Ia seorang dokter pribumi yang terlatih dalam psikiatri dan menulis di jurnal ilmiah kolonial pada 1930-an, sehingga menjadi salah satu suara ahli pribumi yang langka dari masa itu.

Tentang Apa Perdebatan kedua artikel tersebut?

Intinya, van Wulfften Palthe menulis tentang perawatan orang gila secara umum, sedangkan Moh. Amir menulis tentang psikopat dalam arti forensik.

Mengapa membaca dua teks lama ini penting hari ini?

Karena keduanya menunjukkan bagaimana ilmu dapat dipakai untuk menggambarkan, dan kadang membungkam, sebuah masyarakat, sebuah pelajaran yang tetap relevan.

Daftar Pustaka

Amir, Moh. (1933). De inheemsche psychopathen en hunne sociale beteekenis. Koloniale Studien, 17(2).

Pols, H. (2007). Psychological knowledge in a colonial context: Theories on the nature of the “native mind” in the former Dutch East Indies. History of Psychology, 10(2), 111–131. https://doi.org/10.1037/1093-4510.10.2.111

Pols, H. (2018). Nurturing Indonesia: Medicine and Decolonisation in the Dutch East Indies. Cambridge University Press.

van Wulfften Palthe, P. M. (1933). Krankzinnigenverzorging in Nederlandsch-Indie. Koloniale Studien, 17(2).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *