8 Langkah Analisis DHA: Panduan Praktis

Analisis Wacana Kritis

Artikel-artikel sebelumnya dalam seri ini membahas apa itu DHA, dari mana ia berasal, apa yang membedakannya, dan apa perangkat analitisnya. Artikel ini menjawab pertanyaan yang paling ditunggu-tunggu oleh siapa pun yang serius ingin menggunakan DHA: secara praktis, bagaimana saya melakukannya dari awal sampai akhir?

Reisigl dan Wodak (2009) merumuskan delapan langkah yang membentuk desain riset ideal sebuah analisis DHA. Kata kuncinya di sini adalah ideal. Delapan langkah ini dirancang untuk proyek interdisipliner besar dengan sumber daya waktu, personel, dan dana yang memadai. Tapi Reisigl dan Wodak sendiri menegaskan bahwa studi yang lebih kecil — skripsi, tesis, artikel jurnal tunggal — tentu saja sah dan berguna, asalkan peneliti sadar akan desain keseluruhan dan membuat pilihan-pilihan yang eksplisit tentang apa yang bisa dan tidak bisa dicakup dalam proyeknya.

Untuk membuat panduan ini lebih konkret, saya akan mengilustrasikan setiap langkah dengan satu contoh proyek hipotetis yang relevan untuk konteks Indonesia: analisis DHA atau Discourse-historical-approach atas pidato kenegaraan 17 Agustus lintas presiden. Proyek ini dipilih karena datanya tersedia secara publik, pertanyaan risetnya jelas, dan ia merupakan padanan langsung dari studi pidato komemoratif Austria yang menjadi salah satu proyek foundational DHA.

Infografis delapan langkah analisis DHA: dari aktivasi pengetahuan teoretis hingga aplikasi hasil, dengan prinsip spiral rekursif

Delapan langkah analisis DHA bukan tangga yang didaki satu arah — ia adalah spiral rekursif. Peneliti boleh dan sering harus kembali ke langkah sebelumnya kapan pun temuan baru menuntutnya. Yang tidak bisa dikompromikan di langkah mana pun: pemahaman konteks historis, transparansi posisi peneliti, dan justifikasi interpretasi.

Langkah 1: Aktivasi dan Konsultasi Pengetahuan Teoretis

Setiap riset DHA dimulai dengan membaca — bukan langsung membaca data, melainkan membaca literatur yang relevan. Ini mencakup literatur tentang topik yang akan diteliti dan literatur tentang metodologi yang akan digunakan.

Untuk proyek pidato 17 Agustus, langkah ini berarti mempelajari dua domain sekaligus. Di satu sisi, kamu perlu membaca literatur tentang pidato kenegaraan sebagai genre politik — bagaimana ia berfungsi, apa konvensinya, bagaimana ia sudah diteliti sebelumnya. Di sisi lain, kamu perlu memahami konteks politik Indonesia secara historis — dari kemerdekaan sampai kontemporer — agar kamu bisa memahami pidato-pidato itu dalam konteks pembuatannya. Dan tentu saja, kamu perlu menguasai metodologi DHA itu sendiri, termasuk lima strategi diskursif dan konsep-konsep seperti rekontekstualisasi dan konteks empat lapis.

Konstruksi Identitas Nasional dalam Wacana: Analisis DHA

Catatan praktis: langkah ini sering diremehkan, tapi ia menentukan kualitas keseluruhan analisis. Seorang peneliti yang langsung terjun ke data tanpa memahami konteks historis dan teoretis yang memadai akan menghasilkan analisis yang dangkal — mungkin secara teknis benar, tapi tidak mampu menangkap makna yang lebih dalam.

Langkah 2: Pengumpulan Data dan Informasi Konteks Secara Sistematis

Langkah kedua adalah mengumpulkan data dan informasi konteks berdasarkan kriteria yang sistematis. Reisigl dan Wodak (2009) mengidentifikasi beberapa kriteria yang bisa digunakan untuk menentukan cakupan pengumpulan data: unit politik tertentu (nasional, regional, internasional), periode waktu yang terkait dengan peristiwa diskursif penting, aktor sosial dan politik tertentu, wacana-wacana spesifik yang menjadi fokus, ranah tindakan politik yang relevan, dan genre serta media semiotik yang terhubung dengan topik riset.

Untuk proyek pidato 17 Agustus, pengumpulan data bisa dirancang seperti ini. Unit politiknya adalah Indonesia sebagai negara-bangsa. Periode waktunya bisa dibatasi — misalnya satu pidato per presiden dari Soekarno sampai presiden terkini, atau fokus pada satu era transisi tertentu (misalnya 1998–2004 untuk melihat bagaimana pidato berubah dari Orde Baru ke Reformasi). Aktor utamanya adalah presiden sebagai pembicara, tapi aktor lain juga relevan — media yang melaporkan pidato, komentator yang menganalisisnya, publik yang merespons di media sosial. Genre utamanya adalah pidato kenegaraan, tapi genre pendamping — liputan media, editorial, komentar publik — juga penting untuk analisis rekontekstualisasi.

Catatan praktis untuk peneliti Indonesia: sebagian besar pidato 17 Agustus tersedia secara daring, baik di situs resmi pemerintah maupun di arsip media. Untuk pidato era Soekarno dan Soeharto yang belum didigitalisasi, Perpustakaan Nasional dan Arsip Nasional adalah sumber utama. Jangan lupa bahwa teks resmi pidato kadang berbeda dari apa yang benar-benar diucapkan — improvisasi, penekanan, dan jeda dalam penyampaian lisan juga bisa menjadi data yang relevan jika kamu punya akses ke rekaman audiovisual.

Langkah 3: Seleksi dan Persiapan Data untuk Analisis Spesifik

Data yang sudah dikumpulkan biasanya terlalu besar untuk dianalisis semuanya secara detail. Langkah ketiga adalah menseleksi dan mempersiapkan data berdasarkan kriteria tertentu. Reisigl dan Wodak (2009) menyebutkan beberapa kriteria yang bisa digunakan: frekuensi (seberapa sering elemen tertentu muncul), representativitas (seberapa tipikal sebuah teks mewakili genre atau periodenya), prototipikalitas (seberapa jelas sebuah teks menunjukkan ciri-ciri yang ingin dianalisis), cakupan intertekstual atau interdiskursif (seberapa besar pengaruh sebuah teks terhadap teks-teks lain), saliensi (seberapa menonjol sebuah teks dalam wacana publik), keunikan, dan redundansi.

Konteks 4 Lapis dan Rekontekstualisasi dalam DHA

Untuk proyek pidato 17 Agustus, langkah ini mungkin berarti memilih satu pidato per presiden yang paling representatif atau paling salient — misalnya pidato pertama setelah menjabat, atau pidato di tahun krisis. Kalau fokusnya pada transisi Orde Baru ke Reformasi, kamu mungkin memilih pidato terakhir Soeharto (1997 atau 1998), pidato pertama Habibie, dan pidato pertama Abdurrahman Wahid sebagai korpus inti.

Kalau data berupa rekaman lisan, langkah ini juga mencakup transkripsi. Konvensi transkripsi harus ditentukan oleh pertanyaan riset — apakah kamu butuh transkripsi yang mencatat jeda, intonasi, dan penekanan (untuk analisis performatif), atau cukup transkripsi verbatim standar.

Langkah 4: Spesifikasi Pertanyaan Riset dan Formulasi Asumsi

Perhatikan bahwa pertanyaan riset baru dispesifikasi di langkah keempat — bukan di langkah pertama. Ini bukan kebetulan. DHA menganut prinsip bahwa pertanyaan riset yang baik muncul dari interaksi antara pengetahuan teoretis (langkah 1), pemahaman tentang data yang tersedia (langkah 2–3), dan kepekaan terhadap konteks. Pertanyaan riset yang dirumuskan sebelum bersentuhan dengan data dan konteks cenderung terlalu abstrak atau terlalu sempit.

Untuk proyek pidato 17 Agustus, pertanyaan riset bisa dispesifikasi seperti ini. Pertanyaan utama: bagaimana konstruksi identitas nasional Indonesia berubah dalam pidato kenegaraan 17 Agustus dari Orde Baru ke era Reformasi? Pertanyaan turunan: strategi nominasi dan predikasi apa yang digunakan untuk mengkonstruksi “bangsa Indonesia” di setiap periode? Topoi apa yang digunakan untuk melegitimasi kebijakan presiden? Bagaimana referensi ke masa lalu (sejarah perjuangan, trauma kolonial) direkontekstualisasi untuk tujuan politik kontemporer? Apakah ada kontinuitas atau diskontinuitas dalam cara “musuh” atau “ancaman” dikonstruksi?

Bersama pertanyaan riset, DHA juga menuntut formulasi asumsi awal — semacam hipotesis kerja yang akan diuji dan direvisi sepanjang analisis. Misalnya: “Kami mengasumsikan bahwa pidato 17 Agustus pasca-Reformasi akan menunjukkan pergeseran dari strategi perpetuasi (mempertahankan narasi Orde Baru) ke strategi transformasi (membangun narasi baru), tapi dengan kontinuitas tertentu dalam penggunaan topos sejarah.” Asumsi ini bisa dikonfirmasi, direvisi, atau ditolak berdasarkan temuan analisis.

​5 Strategi Diskursif dan Topoi dalam Discourse-Historical Approach (DHA)

Langkah 5: Analisis Pilot Kualitatif

Langkah kelima adalah melakukan analisis pilot — analisis kualitatif awal pada sampel kecil dari data untuk menguji kategori-kategori analitis dan asumsi awal. Ini langkah yang sangat penting tapi sering dilewati oleh peneliti yang terburu-buru.

Untuk proyek pidato 17 Agustus, analisis pilot mungkin berarti mengambil satu pidato saja — misalnya pidato pertama Soeharto setelah peristiwa 1965 — dan menganalisisnya secara detail menggunakan kelima strategi diskursif. Dari analisis pilot ini, kamu bisa mengevaluasi apakah kategori-kategori analitismu cukup tajam. Apakah daftar topoi yang kamu identifikasi dari literatur benar-benar muncul di data? Apakah ada topoi baru yang tidak ada di literatur tapi sangat dominan di konteks Indonesia? Apakah pertanyaan risetmu perlu direvisi berdasarkan apa yang kamu temukan di data?

Reisigl dan Wodak (2009) menekankan bahwa analisis pilot bukan sekadar “latihan.” Ia adalah bagian integral dari desain riset yang memungkinkan peneliti memperbaiki pertanyaan, asumsi, dan perangkat analitisnya sebelum menginvestasikan waktu besar untuk analisis penuh. Kadang, hasil analisis pilot memaksa peneliti untuk kembali ke langkah 1 dan membaca literatur tambahan — dan itu bukan kegagalan, melainkan bukti bahwa prosesnya bekerja. Inilah yang dimaksud dengan sifat rekursif delapan langkah DHA.

Langkah 6: Studi Kasus Detail

Setelah analisis pilot memperbaiki kategori dan asumsi, langkah keenam adalah melakukan studi kasus yang lebih detail dan lebih luas. Analisis di langkah ini mencakup level makro (topik-topik utama dan struktur keseluruhan wacana), level meso (strategi-strategi diskursif dan pola argumentasi), dan level mikro (fitur linguistik spesifik yang merealisasikan strategi-strategi tersebut). Analisis juga harus mempertimbangkan keempat lapis konteks secara eksplisit.

Untuk proyek pidato 17 Agustus, langkah ini berarti menganalisis seluruh korpus yang sudah diseleksi di langkah 3 — misalnya enam atau delapan pidato dari presiden yang berbeda — secara sistematis menggunakan perangkat yang sudah diperbaiki di langkah 5. Analisisnya terutama kualitatif, tapi bisa juga mencakup elemen kuantitatif — misalnya menghitung frekuensi penggunaan pronomina tertentu (“kita” vs “kami” vs “saya”) atau topoi tertentu lintas pidato untuk mengidentifikasi pola perubahan diakronis.

Catatan praktis: untuk proyek skala kecil seperti artikel jurnal atau skripsi, langkah 5 dan langkah 6 sering digabung. Analisis pilot menjadi studi kasus utama, dan cakupannya lebih terbatas — mungkin hanya dua atau tiga pidato yang dibandingkan. Ini sah, asalkan keterbatasan ini dieksplisitkan dan dijustifikasi.

Langkah 7: Formulasi Kritik

Langkah ketujuh adalah di mana DHA menunjukkan karakter kritis-nya secara paling eksplisit. Di sini, hasil analisis diinterpretasi dan kritik dirumuskan berdasarkan tiga dimensi yang sudah dibahas di artikel pilar: kritik imanen-teks (apakah ada kontradiksi atau inkonsistensi internal dalam teks?), kritik sosio-diagnostik (apa fungsi manipulatif atau persuasif dari strategi-strategi yang ditemukan, jika dilihat dalam konteks sosial-politiknya?), dan kritik prospektif (bagaimana temuan ini bisa berkontribusi pada perbaikan komunikasi publik?).

Untuk proyek pidato 17 Agustus, langkah ini bisa menghasilkan temuan seperti: meskipun pidato pasca-Reformasi secara eksplisit mengklaim komitmen pada demokrasi dan transparansi (strategi transformasi), beberapa pola diskursif dari era Orde Baru masih bertahan — misalnya penggunaan topos ancaman untuk melegitimasi pembatasan kebebasan, atau penghilangan agensi negara ketika membahas kekerasan masa lalu (strategi mitigasi). Kritik DHA menunjukkan bahwa perubahan wacana tidak selalu seirama dengan perubahan politik — dan ketegangan antara keduanya itulah yang paling menarik untuk dianalisis.

Yang penting: kritik dalam DHA bukan opini personal peneliti yang ditempelkan di akhir analisis. Ia harus didasarkan secara ketat pada temuan empiris dan dijustifikasi secara teoretis. DHA menuntut peneliti untuk menjelaskan mengapa interpretasi tertentu lebih valid daripada interpretasi lain — bukan sekadar menyatakannya.

Langkah 8: Aplikasi Hasil Analisis

Langkah terakhir adalah yang paling sering diabaikan dalam praktik akademis — dan yang paling ditekankan oleh Wodak secara personal. DHA bukan pendekatan yang puas hanya dengan memproduksi artikel jurnal. Ia secara eksplisit berorientasi pada aplikasi — bagaimana temuan riset bisa diterjemahkan ke dalam tindakan yang bermakna.

Reisigl dan Wodak (2009) menyebutkan bahwa aplikasi hasil analisis tidak harus terbatas pada publikasi ilmiah. Ia bisa mencakup penyusunan rekomendasi praktis (misalnya panduan penggunaan bahasa yang lebih inklusif), diseminasi ke publik melalui berbagai genre (komentar di media, seminar untuk guru dan jurnalis, materi pendidikan), atau advokasi kebijakan berdasarkan temuan riset. Yang ditekankan adalah bahwa aplikasi ini membutuhkan rekontekstualisasi hasil riset ke dalam genre dan konteks komunikatif yang berbeda — dan ini sendiri adalah proses yang menantang.

Untuk proyek pidato 17 Agustus, aplikasi bisa beragam. Publikasi di jurnal ilmiah tentu saja yang paling konvensional. Tapi temuan tentang bagaimana identitas nasional dikonstruksi melalui pidato juga bisa diterjemahkan ke dalam materi pembelajaran untuk guru sejarah SMA — bagaimana membaca pidato presiden secara kritis, bukan sekadar menghafal isinya. Atau temuan tentang kontinuitas pola diskursif dari Orde Baru bisa menjadi bahan diskusi publik tentang sejauh mana Reformasi benar-benar mengubah cara negara berbicara kepada rakyatnya.

Prinsip Rekursif: Bukan Tangga, Tapi Spiral

Satu hal yang harus ditegaskan: delapan langkah ini bukan tangga yang didaki secara linear. Mereka adalah proses rekursif — lebih menyerupai spiral daripada garis lurus. Kamu bisa — dan sering harus — kembali ke langkah sebelumnya berdasarkan apa yang kamu temukan di langkah yang sedang dikerjakan.

Analisis pilot (langkah 5) mungkin memaksamu mereformulasi pertanyaan riset (kembali ke langkah 4). Studi kasus detail (langkah 6) mungkin mengungkap kebutuhan akan data tambahan (kembali ke langkah 2). Formulasi kritik (langkah 7) mungkin menuntut konsultasi literatur teoretis baru (kembali ke langkah 1). Pergerakan bolak-balik ini bukan tanda kegagalan — ia adalah cara kerja DHA yang dirancang secara sengaja. Sifat rekursif inilah yang memungkinkan DHA tetap responsif terhadap kompleksitas objek yang diteliti, alih-alih memaksakan kerangka yang kaku pada data.

Catatan untuk Proyek Berskala Kecil

Bagi mahasiswa yang mengerjakan skripsi atau peneliti yang menulis artikel jurnal tunggal, delapan langkah ini mungkin terasa berlebihan. Dan memang, Reisigl dan Wodak sendiri mengakui bahwa daftar ideal-tipikal ini paling realistis untuk proyek interdisipliner besar. Studi yang lebih kecil harus membuat pilihan-pilihan yang eksplisit tentang apa yang dicakup dan apa yang tidak.

Beberapa penyesuaian yang realistis untuk proyek kecil. Pertama, korpus data bisa sangat terbatas — bahkan satu teks saja sudah cukup untuk analisis DHA yang bermakna, asalkan dipilih dengan hati-hati dan dianalisis secara mendalam. Bab DHA dalam Methods of Critical Discourse Analysis sendiri mendemonstrasikan analisis detail pada satu teks tunggal — surat Václav Klaus kepada Kongres AS tentang perubahan iklim. Kedua, analisis pilot dan studi kasus detail bisa digabung menjadi satu fase. Ketiga, tidak semua strategi diskursif harus dianalisis dengan kedalaman yang sama — kamu bisa memfokuskan pada satu atau dua strategi yang paling relevan untuk pertanyaan risetmu, asalkan kamu menjustifikasi pilihan itu. Keempat, langkah 8 (aplikasi) untuk proyek akademis standar biasanya cukup berupa publikasi hasil riset dan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.

Yang tidak bisa dikompromikan, bahkan dalam proyek terkecil sekalipun: pemahaman konteks historis (langkah 1 dan dimensi keempat dari model konteks), transparansi tentang posisi peneliti, dan justifikasi mengapa interpretasi tertentu lebih valid daripada yang lain. Tanpa ketiga hal ini, sebuah studi mungkin menggunakan perangkat DHA, tapi belum benar-benar menjalankan DHA.

FAQ tentang 8 Langkah Analisis DHA

1. Apakah saya harus mengikuti kedelapan langkah DHA secara berurutan?

Tidak harus — dan justru tidak disarankan. Delapan langkah DHA bekerja seperti spiral, bukan tangga. Kamu bisa dan sering harus kembali ke langkah sebelumnya: analisis pilot bisa memaksamu mereformulasi pertanyaan riset, studi kasus detail bisa mengungkap kebutuhan data baru, dan formulasi kritik bisa menuntut konsultasi literatur tambahan. Sifat rekursif ini bukan tanda kegagalan — justru itulah cara DHA bekerja.

2. Mengapa pertanyaan riset baru dirumuskan di langkah keempat, bukan di awal?

Karena DHA percaya bahwa pertanyaan yang baik lahir dari persentuhan dengan data dan konteks, bukan dari ruang hampa. Peneliti yang merumuskan pertanyaan riset sebelum membaca literatur, mengumpulkan data, dan menyeleksi korpus cenderung menghasilkan pertanyaan yang terlalu abstrak atau terlalu sempit. Tiga langkah pertama — membaca teori, mengumpulkan data, menyeleksi korpus — adalah proses yang justru mendidik peneliti tentang apa yang perlu ditanyakan.

3. Apa fungsi analisis pilot, dan mengapa langkah ini sering dilewati?

Analisis pilot adalah uji coba kualitatif pada sampel kecil data — misalnya satu pidato saja — untuk menguji apakah kategori-kategori analitis yang sudah disiapkan benar-benar bekerja di data nyata. Fungsinya sangat krusial: ia bisa mengungkap topoi yang tidak ada di literatur tapi dominan di konteks Indonesia, atau memperlihatkan bahwa pertanyaan riset perlu direvisi. Langkah ini sering dilewati karena peneliti merasa sudah “siap” setelah membaca teori — padahal analisis pilot adalah bagian integral desain riset, bukan sekadar latihan.

4. Apa yang boleh dikompromikan dalam proyek DHA berskala kecil, dan apa yang tidak?

Banyak yang bisa disesuaikan: korpus bisa hanya satu teks, analisis pilot dan studi kasus bisa digabung, tidak semua strategi diskursif perlu dianalisis dengan kedalaman yang sama. Tapi ada tiga hal yang tidak bisa dikompromikan: pemahaman konteks historis yang memadai, transparansi tentang posisi peneliti, dan justifikasi mengapa interpretasi tertentu lebih valid daripada yang lain. Tanpa ketiga hal ini, sebuah studi mungkin menggunakan perangkat DHA, tapi belum benar-benar menjalankan DHA.

5. Apa yang dimaksud dengan “aplikasi hasil analisis” di langkah kedelapan, dan mengapa ia penting?

Langkah kedelapan adalah tuntutan DHA untuk melampaui artikel jurnal — menerjemahkan temuan riset ke dalam tindakan yang bermakna bagi publik. Ini bisa berupa rekomendasi kebijakan, materi pendidikan untuk guru, atau diseminasi melalui media. Bagi peneliti Indonesia, misalnya, temuan tentang konstruksi identitas nasional dalam pidato presiden bisa diterjemahkan menjadi panduan membaca pidato secara kritis untuk siswa SMA. Yang menarik: proses menerjemahkan temuan ke genre yang berbeda ini sendiri adalah bentuk rekontekstualisasi — dan ia menantang tersendiri.

Akhir Kata

Delapan langkah DHA memberikan kerangka yang komprehensif tapi fleksibel untuk mendesain dan melaksanakan riset analisis wacana yang berorientasi historis. Kerangka ini bukan resep yang harus diikuti secara kaku, melainkan peta yang menunjukkan lanskap lengkap proses riset — sehingga peneliti bisa membuat pilihan yang sadar tentang rute mana yang diambil dan mana yang ditinggalkan.

Untuk konteks Indonesia, di mana DHA masih sangat baru, memulai dengan proyek-proyek yang terbatas tapi dikerjakan secara ketat — misalnya analisis satu pidato atau perbandingan dua teks dari periode yang berbeda — adalah strategi yang jauh lebih produktif daripada mencoba proyek berskala besar tanpa infrastruktur yang memadai. Yang penting bukan skalanya, melainkan kedalaman analisis dan kejujuran metodologis — dua hal yang menjadi inti dari DHA sejak kelahirannya.

Referensi

Baker, P. et al. (2008). “A Useful Methodological Synergy? Combining Critical Discourse Analysis and Corpus Linguistics.” Discourse & Society, 19(3), 273–306.

Reisigl, M. & Wodak, R. (2001). Discourse and Discrimination: Rhetorics of Racism and Antisemitism. London: Routledge.

Reisigl, M. & Wodak, R. (2009). “The Discourse-Historical Approach (DHA).” Dalam R. Wodak & M. Meyer (Eds.), Methods of Critical Discourse Analysis (2nd ed., pp. 87–121). London: SAGE.

Reisigl, M. & Wodak, R. (2016). “The Discourse-Historical Approach (DHA).” Dalam R. Wodak & M. Meyer (Eds.), Methods of Critical Discourse Studies (3rd ed., pp. 23–61). London: SAGE.

Tang, X. & Li, J. (2024). “Toward Integrative Triangulation in Discourse-Historical Approach.” Discourse & Society. SAGE.

Wodak, R., de Cillia, R., Reisigl, M. & Liebhart, K. (2009). The Discursive Construction of National Identity (2nd ed.). Edinburgh: Edinburgh University Press.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *