Pemogokan Buruh Gula 1920: Sebelum Ideologi, Ada Kelaparan

Kajian Sejarah

Sebelum Semaoen Datang: Mengapa Buruh Gula Jawa Sudah Marah Sejak 1912

Pemogokan yang Terlupakan dalam Sejarah Perburuhan Indonesia

Mengapa Pemogokan 1920 Jarang Dibahas sebagai Subjek Tersendiri

Bayangin ini: puluhan ribu buruh di ratusan pabrik gula di seluruh Jawa serempak berhenti bekerja. Tuntutan mereka jelas — naikan upah, hentikan pemecatan sepihak, dan akui serikat kami sebagai mitra bicara yang sah. Ini bukan fiksi. Ini terjadi pada tahun 1920, dan skala serta intensitasnya belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah perburuhan Hindia Belanda.

Tapi anehnya, kalau kamu membuka buku-buku sejarah Indonesia dan mencari peristiwa ini, kamu akan sering kecewa. Pemogokan buruh gula 1920 lebih sering muncul sebagai catatan kaki — satu paragraf di bawah narasi yang lebih besar tentang kebangkitan nasionalisme, atau tentang awal mula gerakan komunis. Jarang sekali ia diperlakukan sebagai subjek kajian tersendiri yang layak ditelusuri mekanismenya secara serius.

Saya pertama kali menyadari kekosongan ini ketika membaca dua buku besar sejarah ekonomi dan perburuhan Jawa secara bersamaan. Keduanya sangat detail tentang kondisi perkebunan dan dinamika gerakan buruh di tahun-tahun tertentu, tapi tidak ada yang benar-benar berhenti dan bertanya: bagaimana tepatnya pemogokan 1920 bisa terjadi? Dari situlah artikel ini bermula.

Pertanyaan yang Sering Salah Dijawab

Kalau kamu bertanya kepada kebanyakan orang tentang mengapa buruh Jawa bisa bergerak pada 1920, jawaban yang paling sering muncul adalah: “karena pengaruh ideologi sosialis dari Eropa” atau “karena ada tokoh-tokoh seperti Semaoen dan Sneevliet yang mengorganisir mereka.”

Jawaban itu tidak salah. Tapi ia tidak lengkap — dan ketidaklengkapannya itulah yang menarik untuk ditelusuri. Sebab kalau kita mau jujur dengan bukti-bukti yang ada, keresahan buruh gula Jawa sudah ada jauh sebelum nama Semaoen disebut-sebut. Sudah ada jauh sebelum Sneevliet menginjakkan kaki di Hindia Belanda. Bahkan, surat kabar kolonial Belanda sudah menyebutnya sebagai staking-bacil — “kuman pemogokan” — sejak tahun 1912.

Jejak Sunyi dan Nyata: Evolusi Peran Perempuan dalam Sejarah Islam Nusantara (Abad XVI – XX)

Lalu dari mana datangnya kemarahan itu? Jawabannya ada di ladang tebu, di buku upah yang tidak berubah selama 15 tahun, dan di sertifikat tanah yang sudah tidak ada lagi di tangan mereka.

Keresahan buruh gula Jawa sudah ada jauh sebelum nama Semaoen disebut-sebut. Yang datang belakangan adalah ideologi, bukan kemarahan.

Kondisi Struktural: Akar Material Keresahan Buruh Jawa

Upah yang Tidak Pernah Naik Selama 15 Tahun

perbandingan krisis ekonomi tahun 1905-1920 yang menunjukkan melonjaknya harga kebutuhan pokok akibat Perang Dunia I berbenturan dengan garis upah buruh gula Jawa yang stagnan, memicu mobilisasi massal 31.000 anggota PFB.

Kesenjangan ekstrem antara melonjaknya harga kebutuhan pokok akibat Perang Dunia I dan stagnasi upah buruh. Realita material inilah yang menjadi pendorong utama lonjakan drastis keanggotaan serikat buruh dalam waktu singkat.

Mari kita mulai dari sesuatu yang konkret: angka. Bayangin kamu bekerja hari ini dengan upah yang sama persis seperti yang kamu terima 15 tahun lalu — sementara harga beras, garam, dan minyak sudah naik hampir dua kali lipat. Itulah persis yang dialami buruh gula Jawa pada awal abad ke-20.

Industri gula Jawa mempertahankan profitabilitasnya dengan satu cara yang sangat sederhana: tekan upah serendah mungkin, selama mungkin. Bukan karena industrinya tidak menguntungkan — justru sebaliknya. Gula Jawa adalah salah satu komoditas ekspor paling laris di pasar dunia. Keuntungannya luar biasa. Tapi keuntungan itu mengalir ke pabrik, ke pengusaha, ke Den Haag — bukan ke orang-orang yang setiap hari memotong tebu di bawah matahari Jawa.

Perang Dunia I (1914–1918) membuat situasi ini semakin tidak tertahankan. Harga kebutuhan pokok di seluruh Hindia Belanda melonjak tajam akibat gangguan rantai pasokan global. Tapi upah buruh gula? Tetap sama. Komite yang dibentuk pemerintah kolonial sendiri pada 1919 mengakui fakta yang memalukan itu: upah buruh tidak terampil di industri gula tidak pernah dinaikkan dalam 15 tahun terakhir, padahal harga-harga sudah naik dua kali lipat. Bukan rahasia, bukan temuan tersembunyi — pemerintah sendiri yang mengakuinya.

Dari Toko Merah ke Tanam Paksa: Mengungkap ‘Hidden Gems’ Sejarah Perbudakan Nusantara

Proletarianisasi: Ketika Sepertiga Buruh Kehilangan Tanahnya

Ada satu hal lagi yang membuat posisi buruh gula semakin rentan: mereka tidak punya tanah. Atau lebih tepatnya, mereka sudah tidak lagi punya tanah.

Sistem industri gula kolonial, sejak era Tanam Paksa hingga era swasta setelah 1870, beroperasi dengan cara yang sangat cerdas secara bisnis tapi sangat kejam secara sosial. Ia tidak menghancurkan struktur agraria desa — ia menggunakannya. Lahan petani disewa secara bergantian dengan tanaman pangan. Tenaga kerja desa diserap ke dalam ritme produksi pabrik. Perlahan tapi pasti, batas antara “petani” dan “buruh upahan” menjadi kabur.

Hasilnya? Sekitar 30 persen buruh gula pada era 1920 sudah tidak memiliki lahan sama sekali. Mereka sepenuhnya bergantung pada upah. Tidak ada sawah untuk diolah kalau pekerjaan hilang, tidak ada kebun untuk ditanami kalau pabrik tutup. Ketika majikan mengancam memecat, ancaman itu bukan sekadar soal kehilangan pekerjaan — itu ancaman kelaparan yang nyata.

Represi Sistematis: Senjata yang Paling Efektif

Infografis jebakan ekonomi buruh gula Jawa tahun 1920 yang menjelaskan tiga elemen penyebab pemogokan: upah yang stagnan selama 15 tahun, hilangnya lahan pertanian (proletarianisasi), dan represi berupa ancaman pemecatan sepihak.

Tiga elemen struktural yang mengunci posisi buruh gula Jawa pada awal abad ke-20. Stagnasi upah, hilangnya tanah, dan ancaman pemecatan bekerja sebagai satu sistem yang saling memperkuat dan menutup jalan keluar bagi para buruh.

Dan itulah yang dimanfaatkan pengusaha dengan sangat sadar. Ketiadaan tanah menjadikan ancaman pemecatan sebagai senjata represi yang luar biasa efektif — tanpa perlu kekerasan fisik, tanpa perlu tentara. Cukup dengan menandatangani surat pemecatan.

Kita tahu ini bukan teori. Pada Maret 1920, sebuah surat kabar kolonial Belanda melaporkan kejadian yang sangat spesifik: 200 buruh di pabrik gula Sempal Wadak yang baru saja bergabung dengan serikat langsung dipecat dan digantikan oleh buruh yang didatangkan dari Manado. Pesannya jelas — bergabung dengan serikat berarti kehilangan pekerjaan, dan kehilangan pekerjaan berarti kehilangan segalanya.

Menenun Peradaban di Pulau Seribu Sungai: Kisah Panjang Islam, Adat, dan Kuasa di Borneo

Stagnasi upah, hilangnya tanah, dan ancaman pemecatan bekerja sebagai satu sistem yang saling memperkuat. Ketiganya menutup semua jalan — baik jalan perbaikan individual maupun kolektif. Dalam kondisi seperti itu, keresahan bukan pilihan. Ia adalah konsekuensi logis dari sistem yang memang dirancang untuk menguras tanpa memberi.

Bukti dari Lapangan: Keresahan Sudah Ada Sejak 1912

Staking-bacil: “Kuman Pemogokan” yang Sudah Menyebar Lebih Dulu

Peta pulau Jawa yang menampilkan titik-titik sebaran pemogokan buruh gula tahun 1920, mencakup akar sejarah kemunculan 'kuman pemogokan' sejak 1912 di Surabaya, serta mesin mobilisasi melalui rapat propaganda dan media cetak.

Peta sebaran kemarahan buruh di jalur industri gula Jawa. Bukti sejarah menunjukkan bahwa keresahan organik telah menyebar sebagai staking-bacil atau “kuman pemogokan” di berbagai wilayah sejak 1912, jauh sebelum tokoh atau ideologi serikat pekerja formal mengambil peran sentral.

Sekarang kembali ke pertanyaan tadi: kapan sebenarnya keresahan itu mulai? Kalau kita mengikuti narasi yang dominan, jawabannya adalah sekitar 1918–1919, seiring masuknya pengaruh ideologi sosialis dan berdirinya serikat-serikat buruh baru.

Tapi bukti dari surat kabar kolonial Belanda sendiri mengatakan sesuatu yang berbeda. Sejak akhir 1912, sudah ada gelombang pemogokan dan ketidakhadiran massal di berbagai perusahaan di Surabaya — jauh sebelum Sneevliet tiba, jauh sebelum nama Semaoen dikenal luas. Surat kabar Het Nieuws van den Dag menyebutnya dengan frasa yang menarik: staking-bacil. Kuman pemogokan.

Pilihan kata “kuman” itu sendiri mengungkap banyak hal. Ia menunjukkan bahwa kalangan pengusaha kolonial sudah merasakan sesuatu yang menyebar, sesuatu yang organik dan tidak mudah dikendalikan. Kuman tidak butuh ideologi untuk berkembang biak — ia butuh kondisi yang tepat. Dan kondisi itu sudah ada.

Arsip Kolonial Belanda: Melimpah tapi Sering Diabaikan

Menariknya, semua bukti ini sebenarnya tersedia — bahkan melimpah. Platform digital perpustakaan nasional Belanda menyimpan koleksi surat kabar kolonial yang bisa diakses secara penuh dan gratis oleh siapa pun yang memiliki koneksi internet. Surat kabar kolonial berbahasa Belanda dari awal abad ke-20, lengkap dengan laporan-laporan tentang pemogokan, rapat propaganda, dan respons pemerintah, semuanya ada di sana.

Ini poin yang saya rasa penting untuk digarisbawahi bagi siapa pun yang tertarik meneliti sejarah kolonial Indonesia: hambatan terbesar bukanlah aksesibilitas arsip. Sebagian besar sudah terdigitalisasi dan terbuka. Hambatannya lebih sering pada kemampuan membaca bahasa Belanda — yang memang membutuhkan investasi waktu tersendiri, tapi sangat layak dipertimbangkan.

Pola yang Berulang di Sempal Wadak dan Tempat Lain

Yang terjadi di Sempal Wadak pada Maret 1920 bukan anomali. Ia adalah bagian dari pola yang sudah berulang selama hampir satu dekade sebelumnya: setiap kali buruh mencoba mengorganisir diri, respons pengusaha selalu sama. Pemecatan massal. Penggantian dengan buruh dari luar. Pesan yang tidak perlu diucapkan secara eksplisit karena tindakannya sudah cukup berbicara.

Menjelang 1920, keresahan yang sudah terakumulasi sejak 1912 itu sudah mencapai titik di mana ia butuh hanya satu hal untuk berubah menjadi gerakan: seseorang yang mau berhenti sejenak dan bertanya, “mengapa kita menerima ini?”

Lalu untuk Apa PFB dan Semaoen?

Peran Organisasi: Bukan Pemicu, Melainkan Penguat

Di sinilah penting untuk tidak jatuh ke ekstrem yang berlawanan. Mengakui bahwa keresahan buruh sudah ada sebelum 1920 bukan berarti menafikan peran Personeel Fabriek Bond (PFB), Soerjopranoto, atau Semaoen. Peran mereka nyata dan signifikan — hanya perlu diletakkan pada proporsi yang tepat.

Cara paling mudah untuk memahami ini adalah dengan analogi yang sederhana. Bayangin tumpukan jerami kering yang sudah menumpuk selama bertahun-tahun. Ia mudah terbakar, ia menunggu. Yang datang kemudian adalah korek api. Korek api itu penting — tanpanya jerami itu mungkin tidak pernah terbakar pada waktu itu. Tapi korek api bukan penyebab jerami itu mudah terbakar. Jerami sudah kering sebelum korek api datang.

PFB adalah korek api itu. Soerjopranoto, seorang bangsawan Pakualaman dengan akses ke jaringan sosial dan sumber daya yang luas, mengembangkan strategi pengorganisasian yang berbeda dari serikat-serikat sebelumnya. Alih-alih menunggu buruh datang sendiri, ia mendatangi tempat di mana pemogokan spontan sudah terjadi dan mendirikan cabang PFB di sana. Hasilnya luar biasa: dalam waktu kurang dari dua tahun, PFB memiliki cabang di 179 dari 192 pabrik gula di seluruh Jawa dengan 31.000 anggota.

Pertumbuhan secepat itu tidak bisa dijelaskan oleh kemampuan satu orang atau satu organisasi. Ia terjadi karena kondisi di lapangan sudah sangat matang — dan PFB datang tepat pada saat orang-orang sudah siap untuk bergabung.

Rapat Propaganda, Surat Kabar, dan Penuntun Kaum Buruh

Proses penyadaran kolektif berlangsung melalui tiga cara yang saling memperkuat. Pertama, rapat-rapat propaganda yang diadakan di ladang-ladang terbuka, di alun-alun, di mana pun orang bisa berkumpul. Rapat ini tidak sekadar mengajak bergabung — ia mengajak buruh untuk memahami posisi mereka dalam sistem yang lebih besar. Mengapa mereka bekerja keras tapi tetap miskin? Ke mana perginya hasil kerja mereka? Mengapa ada yang kaya dan ada yang lapar di atas tanah yang sama?

Kedua, jaringan surat kabar pergerakan yang menghubungkan perjuangan-perjuangan lokal yang tersebar menjadi satu narasi bersama. Ketika buruh di Bangil tahu bahwa buruh di Surakarta juga sedang berjuang, dan buruh di Pekalongan tahu bahwa yang terjadi di Semarang bukan kejadian tunggal — sesuatu berubah dalam cara mereka memahami situasi mereka sendiri.

Ketiga, pada Mei 1920, tepat ketika gelombang pemogokan sedang berlangsung, Semaoen menerbitkan Penuntun Kaum Buruh — sebuah panduan organisasi yang ditulis dalam bahasa Melayu sederhana. Bukan teks akademis, bukan manifesto ideologis yang rumit — melainkan tulisan yang berbicara langsung kepada buruh dalam bahasa kehidupan sehari-hari mereka tentang kenapa kondisi mereka bisa seperti itu.

Mengapa Pertumbuhan Cepat Justru Menjadi Kelemahan

Tapi di sinilah ironi terbesar 1920 terletak. Pertumbuhan yang luar biasa itu — yang pada permukaannya tampak sebagai kekuatan — menyimpan benih kelemahan yang serius.

Banyak buruh bergabung dengan PFB karena situasinya memang darurat. Tapi begitu kenaikan upah diberikan — dan antara Mei dan Juli 1920 memang banyak pabrik yang menaikkan upah 20 hingga 50 persen untuk meredam pemogokan — rasa urgensinya memudar. Mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan secara pribadi. Tapi PFB tidak mendapatkan apa yang sesungguhnya dibutuhkan: pengakuan formal sebagai mitra perundingan yang setara.

Ketika PFB mengeluarkan ultimatum pemogokan umum pada Agustus 1920, di atas kertas kekuatannya luar biasa. Tapi realitas di lapangan jauh berbeda. Semaoen sendiri, ketika berkeliling mempersiapkan pemogokan, menemukan bahwa mayoritas anggota tidak dalam kondisi siap untuk aksi yang terkoordinasi. Telegramnya ke markas yang mengkonfirmasi kelemahan ini dicegat dan dipublikasikan oleh wartawan Belanda — mengungkap kepada publik betapa rapuhnya organisasi yang di atas kertas tampak sangat kuat.

Warisan Ambigu: Gagal tapi Tidak Sia-sia

PFB Runtuh, tapi Pemerintah Kolonial Ketakutan

Apa yang terjadi sesudahnya berjalan cepat dan pahit. Pemogokan umum Agustus 1920 berlangsung tanpa koordinasi, tanpa dana cadangan, tanpa kesiapan yang memadai. Pemerintah kolonial merespons dengan keras: hak berkumpul ditangguhkan, pemimpin-pemimpin PFB ditangkap, pabrik-pabrik mendatangkan buruh pengganti dengan dukungan otoritas. Dalam tiga tahun, PFB yang pernah memiliki 31.000 anggota itu secara efektif sudah tidak beroperasi lagi.

Tapi perhatikan apa yang dilakukan pemerintah kolonial setelahnya. Mereka tidak sekadar menghancurkan serikat itu dan melupakan. Mereka membangun infrastruktur anti-serikat yang jauh lebih sistematis dan elaborat dari sebelumnya: perundang-undangan perburuhan yang lebih ketat, sistem pemantauan organisasi buruh, pertukaran informasi terstruktur antara pemerintah dan pengusaha tentang aktivis yang dianggap berbahaya.

Pikirkanlah sejenak apa artinya ini. Kamu tidak membangun benteng yang begitu kuat untuk menghadapi sesuatu yang tidak kamu takuti. Pemerintah kolonial, dengan semua sumber daya dan kekuasaannya, merasa perlu membangun sistem yang sedemikian kompleks justru karena gerakan yang baru saja mereka hancurkan itu telah membuktikan sesuatu: buruh Jawa bisa bergerak, dan ketika mereka bergerak dalam skala itu, hasilnya menakutkan.

Apa yang Bisa Kita Baca dari Pemogokan yang “Kalah” Ini

Menulis tentang pemogokan 1920 sebagai peneliti mandiri — tanpa afiliasi institusi besar, tanpa teman diskusi yang bisa diajak berdebat setiap hari — adalah pengalaman yang memiliki kerapuhannya sendiri. Ada momen-momen di mana saya meragukan interpretasi yang sedang saya bangun, bertanya-tanya apakah saya membaca sumber dengan cukup cermat, apakah ada perspektif yang luput dari perhatian saya. Dalam skala yang jauh lebih kecil tentu saja, ada sesuatu yang terasa familiar dalam kondisi itu — bekerja dengan keyakinan terhadap sesuatu yang penting, tapi tanpa jaringan pendukung yang kokoh di sekitar.

Barangkali itulah yang membuat kisah PFB terasa relevan bahkan hari ini. Bukan karena sejarah berulang secara harfiah, tapi karena pola yang mendasarinya masih bisa kita kenali: kondisi yang tidak adil, keresahan yang lama terakumulasi, gerakan yang tumbuh cepat karena kondisinya matang, dan pertanyaan tentang apakah pertumbuhan itu cukup dalam untuk bertahan ketika tekanan datang.

Pemogokan 1920 gagal dalam tujuan terpentingnya — PFB tidak pernah mendapatkan pengakuan sebagai mitra perundingan yang sah, ribuan buruh kehilangan pekerjaan, dan organisasi yang dibangun selama dua tahun runtuh dalam hitungan bulan. Tapi ia membuktikan sesuatu yang tidak bisa dihapus: bahwa keresahan itu nyata, bahwa ia sudah ada sebelum ideologi datang, dan bahwa di bawah permukaan Jawa yang tampak tenang di mata penjajah, api itu sudah menyala jauh lebih lama dari yang mereka kira.

Dan untuk sejarah perburuhan Indonesia, itu sudah cukup untuk layak diingat.


Cerita di artikel ini baru sebagian kecilnya aja, lho. Yuk, baca hasil penelitian lengkapnya buat tahu lebih banyak detail sejarahnya di sini.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *