Kalau artikel sebelumnya membahas dari mana DHA berasal dan apa yang membedakannya dari pendekatan lain, artikel ini menjawab pertanyaan yang paling praktis: secara konkret, apa yang saya analisis ketika menggunakan DHA?
Jawaban pendeknya: kamu menganalisis strategi diskursif — pola-pola yang digunakan oleh aktor sosial dalam teks untuk mengkonstruksi, mempertahankan, mengubah, atau meruntuhkan pemahaman tertentu tentang realitas. DHA mengidentifikasi lima jenis strategi diskursif, masing-masing menjawab satu pertanyaan heuristik yang spesifik. Ditambah satu konsep kunci lagi — topoi — yang menjadi tulang punggung analisis argumentasi.
Kedengarannya teknis? Tenang. Artikel ini menjelaskan setiap strategi dengan contoh-contoh dari konteks Indonesia yang bisa langsung kamu kenali. Dan di akhir, kamu akan punya “kotak peralatan” yang bisa kamu bawa untuk membaca teks apa pun — dari pidato 17 Agustus sampai caption Instagram — dengan mata yang berbeda.
Lima Pertanyaan, Lima Strategi
Reisigl dan Wodak (2009) merumuskan lima pertanyaan heuristik yang menjadi titik berangkat setiap analisis DHA. Setiap pertanyaan berkorespondensi dengan satu jenis strategi diskursif. Kelima pertanyaan ini saling terhubung — dalam praktik analisis, kamu tidak bisa benar-benar memisahkan satu dari yang lain. Tapi secara analitis, memisahkan mereka membantu kita melihat dimensi-dimensi yang berbeda dari cara sebuah teks bekerja.
Untuk membuat kelima strategi ini lebih konkret, kita akan menggunakan satu contoh yang sama di sepanjang pembahasan: wacana tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ini bukan karena MBG adalah contoh paling penting di dunia — melainkan karena ia cukup familiar bagi semua pembaca dan cukup kontroversial untuk menunjukkan bagaimana setiap strategi bekerja.

Lima Strategi Diskursif pada level mikro dalam kerangka Discourse-Historical Approach (DHA). Strategi ini berfungsi sebagai “kotak peralatan” analitis (meliputi nominasi, predikasi, argumentasi, perspektivisasi, serta intensifikasi dan mitigasi) untuk membedah bagaimana aktor atau peristiwa dikonstruksi secara kebahasaan di dalam teks.
1. Nominasi: “Mereka Menyebut Ini Apa?”
Pertanyaan pertama DHA adalah yang paling mendasar: bagaimana orang, objek, peristiwa, dan tindakan dinamai secara linguistik? Ini strategi nominasi — dan ia jauh lebih penting daripada yang terlihat di permukaan.
Penamaan bukan tindakan yang netral. Setiap nama membawa konotasi, membingkai persepsi, dan menentukan respons emosional. Ketika program makan siang di sekolah diberi nama “Makan Bergizi Gratis,” tiga kata itu sudah melakukan pekerjaan diskursif yang berat: “makan” menegaskan ini bukan sekadar jajanan, “bergizi” mengklaim kualitas nutrisi, “gratis” menjanjikan bahwa tidak ada biaya. Bandingkan kalau programnya disebut “Subsidi Pangan Anak Sekolah” — kesan yang muncul langsung berbeda: lebih birokratis, lebih teknis, kurang emosional.
Dalam analisis DHA, kamu memperhatikan perangkat nominasi yang lebih luas. Ada antroponim — bagaimana aktor sosial dinamai. Apakah penerima MBG disebut “anak-anak Indonesia,” “siswa,” “generasi emas,” atau “penerima bantuan”? Masing-masing menempatkan mereka dalam relasi sosial yang berbeda. Ada juga deiksis — kata-kata penunjuk seperti “kita,” “mereka,” “di sini” — yang membangun batas antara in-group dan out-group. Dan ada trope seperti metafora, metonimi, dan sinekdoki — misalnya ketika satu kasus keracunan makanan di satu sekolah dipakai untuk mewakili seluruh program (pars pro toto — bagian mewakili keseluruhan).
Contoh dari konteks historis Indonesia yang lebih berat: apakah orang-orang yang dibunuh pada 1965–1966 disebut “anggota PKI,” “komunis,” “korban,” atau “warga negara”? Setiap nominasi membawa implikasi yang sangat berbeda tentang siapa mereka dan apakah apa yang terjadi pada mereka bisa dijustifikasi. Strategi nominasi bukan soal semantik — ia soal politik.
2. Predikasi: “Digambarkan Seperti Apa?”
Pertanyaan kedua: sifat, kualitas, dan karakteristik apa yang diatribusikan kepada aktor sosial, objek, atau peristiwa? Ini strategi predikasi — dan ia bekerja sangat erat dengan nominasi. Kalau nominasi menjawab “disebut apa,” predikasi menjawab “digambarkan kayak apa.”
Kembali ke MBG. Programnya bisa dipredikasikan secara positif (“inovatif,” “bersejarah,” “pro-rakyat”) atau negatif (“amburadul,” “pemborosan,” “setengah hati”). Pelaksananya bisa dipredikasikan sebagai “dedicated” atau “tidak kompeten.” Penentangnya bisa dipredikasikan sebagai “kritis dan konstruktif” atau “cuma bisa nyinyir tanpa solusi.”
Perangkat predikasi yang dicatat oleh Reisigl dan Wodak (2009) mencakup atribusi evaluatif (adjektiva yang bernilai positif atau negatif), predikat eksplisit, kolokasi (kata-kata yang secara konvensional muncul bersama — misalnya “korupsi” yang hampir selalu berkolokasi dengan “sistemik” atau “mengakar”), perbandingan dan simile, metafora, hiperbola, litotes, dan eufemisme.
Yang paling penting untuk diperhatikan: predikasi jarang berdiri sendiri. Ia biasanya bekerja bersama nominasi untuk membangun gambaran utuh tentang seorang aktor atau sebuah fenomena. Ketika seseorang secara konsisten menyebut program MBG sebagai “proyek ambisius pemerintah yang masih banyak kekurangan,” gabungan nominasi (“proyek ambisius pemerintah”) dan predikasi (“masih banyak kekurangan”) mengkonstruksi gambaran yang spesifik: sesuatu yang niatnya baik tapi eksekusinya bermasalah. Gambaran ini bukan fakta — ia adalah konstruksi diskursif yang bisa dianalisis.
3. Argumentasi: “Argumen Apa yang Dipakai?”
Pertanyaan ketiga adalah jantung dari analisis DHA: argumen apa yang digunakan untuk menjustifikasi atau mendelegitimasi klaim tertentu? Ini strategi argumentasi — dan di sinilah konsep topoi menjadi sangat penting.
Tapi pertama-tama: apa itu topoi? Dalam kerangka DHA, topoi (tunggal: topos) adalah aturan kesimpulan yang menghubungkan argumen dengan klaim. Ia berfungsi sebagai premis yang — seringkali tidak diucapkan secara eksplisit tapi bisa selalu dieksplisitkan — menjembatani data atau bukti dengan kesimpulan yang ditarik darinya. Topoi bisa diformulasikan sebagai parafrasa kondisional (“jika x, maka y”) atau kausal (“y, karena x”) (Reisigl & Wodak, 2001, 2009).
Beberapa topoi yang sering muncul dalam wacana politik dan paling relevan untuk konteks Indonesia.
Topos ancaman/bahaya: “jika ada ancaman tertentu, kita harus bertindak untuk mencegahnya.” Contoh: “Kalau kita tidak memperketat imigrasi, lapangan kerja untuk orang Indonesia akan habis.” Topos ini sangat produktif dalam wacana tentang pekerja asing di Indonesia.
Topos sejarah: “karena sejarah mengajarkan X, kita harus melakukan Y.” Contoh: “Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya” — kalimat yang sering muncul di pidato kenegaraan dan bisa digunakan untuk melegitimasi berbagai posisi, dari konservasi monumen sampai penulisan ulang buku sejarah.
Topos angka/kuantitas: “jika angka-angka mendukung X, maka X benar.” Contoh: “80% masyarakat mendukung program MBG, jadi program ini berhasil.” Topos ini terlihat kuat tapi seringkali menyembunyikan pertanyaan penting: bagaimana angka itu diperoleh, siapa yang ditanya, dan apa yang tidak diukur oleh angka tersebut.
Topos biaya/keuangan: “jika sebuah tindakan terlalu mahal, kita seharusnya tidak melakukannya.” Contoh: “Anggaran MBG terlalu besar, lebih baik dipakai untuk infrastruktur.”
Topos otoritas: “karena X yang berwenang/ahli mengatakan Y, maka Y benar.” Contoh: “Ahli gizi mengatakan program ini tidak memenuhi standar nutrisi” atau sebaliknya “Presiden sendiri yang merancang program ini.”
Yang krusial untuk dipahami: topoi tidak selalu falasi. Topos ancaman bisa menjadi argumen yang sangat valid kalau ancamannya nyata dan tindakan yang diusulkan memang proporsional. Ia menjadi falasi ketika ancaman dibesar-besarkan, buktinya lemah, atau tindakan yang diusulkan tidak proporsional. Reisigl dan Wodak (2009) menekankan bahwa membedakan topoi yang valid dari falasi membutuhkan pengetahuan konteks — kamu tidak bisa menilai sebuah argumen hanya dari strukturnya tanpa memahami situasi di mana ia digunakan.
Ini yang membuat analisis argumentasi DHA berbeda dari logika formal. DHA tidak hanya bertanya “apakah argumen ini logis?” — ia bertanya “apakah argumen ini reasonable dalam konteks ini, mengingat bukti yang tersedia dan kepentingan yang bermain?”
4. Perspektivisasi: “Dari Sudut Pandang Siapa?”
Pertanyaan keempat: dari perspektif mana nominasi, predikasi, dan argumen ini diungkapkan? Ini strategi perspektivisasi — dan ia berkaitan dengan bagaimana penulis atau pembicara memposisikan dirinya terhadap apa yang dikatakannya.
Setiap teks ditulis dari sudut pandang tertentu — dan pilihan sudut pandang ini sangat menentukan makna. Berita tentang pelaksanaan MBG di satu daerah bisa ditulis dari perspektif pemerintah daerah (“Pemda berhasil mendistribusikan makanan ke 500 sekolah”), dari perspektif guru (“Guru terpaksa jadi koordinator logistik di samping mengajar”), dari perspektif siswa (“Anak-anak antusias mendapat makan siang di sekolah”), atau dari perspektif orang tua (“Orang tua khawatir soal kualitas bahan makanan”). Masing-masing perspektif menghasilkan cerita yang sangat berbeda tentang peristiwa yang sama.
Perangkat perspektivisasi yang dicatat Reisigl dan Wodak (2009) mencakup deiksis (kata-kata yang maknanya tergantung konteks — “di sini,” “sekarang,” “kita”), ujaran langsung dan tidak langsung (apakah seseorang dikutip langsung atau hanya diparafrase — dan bagaimana parafrasa itu mengubah makna), tanda kutip dan penanda wacana, serta metafora yang menyiratkan posisi tertentu.
Dalam konteks historiografi Indonesia, perspektivisasi sangat relevan. Ketika seseorang menulis sejarah Gerakan 30 September, dari perspektif siapa ceritanya diceritakan? Dari perspektif militer yang “menumpas”? Dari perspektif korban yang “dibantai”? Dari perspektif anak-anak yang “tumbuh dalam stigma”? Pilihan perspektif bukan soal gaya penulisan — ia soal politik pengetahuan.
5. Intensifikasi dan Mitigasi: “Dipertegas atau Diperhalus?”
Pertanyaan kelima: apakah ujaran tersebut diintensifikasi (dipertegas) atau dimitigasi (diperlunak)? Ini strategi intensifikasi dan mitigasi — dan ia bekerja pada level apa yang dalam linguistik disebut illocutionary force atau daya ilokusi sebuah ujaran.
Contoh paling sederhana. Bandingkan dua kalimat ini: “Program MBG gagal total” versus “Program MBG masih perlu perbaikan di beberapa aspek.” Keduanya mengkritik program yang sama, tapi dengan intensitas yang sangat berbeda. Yang pertama adalah intensifikasi — memaksimalkan kekuatan ujaran. Yang kedua adalah mitigasi — memperlunak kekuatan ujaran.
Perangkat intensifikasi mencakup hiperbola (berlebih-lebihan), kata penguat (“sangat,” “benar-benar,” “total”), repetisi, dan paralelisme retoris. Perangkat mitigasi mencakup litotes (meremehkan), kata penghalus (“mungkin,” “barangkali,” “sedikit”), subjunktif, ekspresi yang kabur, tag question, dan tindak tutur tidak langsung (misalnya mengajukan pertanyaan retorikal alih-alih membuat pernyataan langsung).
Strategi ini sangat penting dalam wacana politik karena ia menentukan seberapa “keras” sebuah klaim dibuat. Seorang politisi yang mengatakan “korupsi harus diberantas sampai ke akar-akarnya” menggunakan intensifikasi. Politisi yang sama, ketika kasus korupsi melibatkan koleganya, mungkin beralih ke mitigasi: “Kita perlu menunggu proses hukum berjalan” atau “Jangan terburu-buru menilai.” Perpindahan antara intensifikasi dan mitigasi oleh aktor yang sama tentang topik yang sama adalah salah satu temuan paling revealing dalam analisis DHA — karena ia mengungkap inkonsistensi yang menunjukkan kepentingan di balik kata-kata.
Empat Makro-Strategi: Fungsi Sosial Wacana

Empat Makro-Strategi dalam DHA dan bagaimana mereka beroperasi sebagai sebuah sistem. Visual ini menekankan bahwa strategi level makro (konstruktif, transformasi, perpetuasi, dan pembongkaran) tidak berdiri sendiri. Dalam praktiknya, satu teks tunggal dapat menjalankan beberapa fungsi sosial secara simultan dengan memanfaatkan kombinasi dari kelima strategi mikro.
Di samping lima strategi diskursif yang beroperasi di level mikro (level teks), DHA juga membedakan empat jenis strategi di level makro berdasarkan fungsi sosialnya (Wodak et al., 2009). Keempat makro-strategi ini membantu menjawab pertanyaan: untuk apa wacana ini digunakan — apa tujuan sosialnya?
Strategi konstruktif bertujuan membangun identitas, narasi, atau realitas tertentu. Contoh: pidato 17 Agustus yang mengkonstruksi narasi tentang “bangsa Indonesia yang besar dan pejuang.” Strategi perpetuasi dan justifikasi bertujuan mempertahankan dan mereproduksi status quo. Contoh: wacana “bangsa Indonesia adalah bangsa yang toleran” yang digunakan untuk melegitimasi keengganan menangani diskriminasi yang masih terjadi. Strategi transformasi bertujuan mengubah identitas atau realitas yang sudah mapan. Contoh: wacana reformasi 1998 yang mentransformasi narasi tentang Suharto dari “Bapak Pembangunan” menjadi “diktator korup.” Dan strategi pembongkaran bertujuan meruntuhkan konstruksi yang ada. Contoh: wacana dekolonisasi yang membongkar narasi “misi berperadab” kolonialisme Belanda.
Keempat makro-strategi ini tidak saling eksklusif. Satu teks bisa menggunakan strategi konstruktif untuk membangun satu narasi sekaligus menggunakan strategi pembongkaran untuk meruntuhkan narasi lain. Pidato kenegaraan, misalnya, sering secara simultan mengkonstruksi narasi positif tentang masa depan sambil mendelegitimasi narasi pesaing.
Bagaimana Strategi-Strategi Ini Bekerja Bersama
Dalam praktik analisis, kelima strategi diskursif dan empat makro-strategi tidak pernah berdiri sendiri. Mereka bekerja sebagai sebuah sistem — dan kekuatan analisis DHA justru terletak pada kemampuan melihat bagaimana strategi-strategi ini berinteraksi.
Untuk mengilustrasikan ini, mari kita analisis satu contoh singkat. Perhatikan kalimat berikut dari sebuah editorial hipotetis: “Bangsa ini sudah beratus-ratus tahun berjuang melawan penjajah. Masa sekarang kita mau menyerahkan kedaulatan ekonomi kita kepada investor asing?”
Di level nominasi, ada konstruksi “bangsa ini” (in-group kolektif), “penjajah” (out-group historis), dan “investor asing” (out-group kontemporer yang secara implisit disejajarkan dengan penjajah). Di level predikasi, bangsa ini digambarkan sebagai “sudah beratus-ratus tahun berjuang” — pejuang yang tangguh. Di level argumentasi, ada topos sejarah (“karena kita pernah berjuang melawan penjajah, kita tidak boleh menyerahkan kedaulatan”) yang menghubungkan pengalaman kolonial dengan kebijakan ekonomi kontemporer — sebuah lompatan argumentatif yang bisa valid atau falasi tergantung konteks. Di level perspektivisasi, kata “kita” menempatkan pembicara dan pembaca dalam satu kelompok yang sama. Dan di level intensifikasi, pertanyaan retorikal (“Masa sekarang kita mau…”) mempertegas argumen — ia bukan benar-benar pertanyaan, melainkan pernyataan yang dikemas sebagai pertanyaan untuk efek persuasif.
Di level makro-strategi, kalimat ini menggunakan strategi perpetuasi (mempertahankan narasi nasionalisme ekonomi) sekaligus strategi pembongkaran (mendelegitimasi kebijakan pro-investasi asing). Semua ini terjadi dalam dua kalimat pendek. Inilah kekuatan analisis DHA: ia bisa membongkar lapisan-lapisan makna yang tertanam dalam teks yang kelihatannya sangat sederhana.
Catatan Praktis untuk Peneliti
Beberapa catatan penting bagi kamu yang ingin menerapkan perangkat ini dalam riset.
Pertama, studi bibliometrik terbaru atas 335 dokumen DHA di Scopus (Yeo et al., 2025) menemukan bahwa banyak peneliti hanya menggunakan satu atau dua strategi diskursif dalam analisis mereka — biasanya nominasi dan predikasi — dan mengabaikan sisanya. Yeo dan kolega memperingatkan bahwa selektivitas ini bisa menghambat potensi DHA untuk menjelaskan bagaimana perubahan sosial mempengaruhi wacana. Idealnya, kelima strategi dianalisis secara terintegrasi.
Kedua, Reisigl dan Wodak (2009) sendiri menekankan bahwa kategori-kategori ini bukan perangkat yang kaku dan tetap untuk selamanya. Mereka harus dielaborasi untuk setiap analisis sesuai dengan masalah spesifik yang diteliti. Daftar topoi yang relevan untuk wacana tentang imigrasi di Austria akan berbeda dari daftar topoi yang relevan untuk wacana tentang penulisan sejarah di Indonesia. Tugas peneliti adalah mengidentifikasi topoi yang muncul dari datanya sendiri — bukan memaksakan daftar topoi dari literatur.
Ketiga, dan ini mungkin yang paling penting: analisis strategi diskursif selalu harus dilakukan dalam konteks. Sebuah metafora atau topos tidak memiliki makna tunggal yang tetap — maknanya tergantung pada siapa yang menggunakannya, kepada siapa, dalam genre apa, dalam situasi apa, dan dalam konteks historis apa. Inilah mengapa DHA menuntut model konteks empat lapis yang dibahas di artikel lain dalam seri ini.

Peta konsep komprehensif perangkat analitis DHA. Gambar ini mengilustrasikan hubungan antara strategi diskursif di level mikro (berfokus pada linguistik teks) dengan empat makro-strategi di level makro (berfokus pada fungsi dan tujuan sosial wacana). Analisis yang ideal mengharuskan peneliti melihat kedua level ini secara terintegrasi dengan memperhatikan konteks historis dan sosialnya.
Akhir Kata
Lima strategi diskursif — nominasi, predikasi, argumentasi, perspektivisasi, dan intensifikasi/mitigasi — ditambah apparatus topoi dan empat makro-strategi, membentuk kotak peralatan analitis inti DHA. Perangkat ini memungkinkan peneliti untuk membedah secara sistematis bagaimana bahasa digunakan dalam teks untuk mengkonstruksi realitas tertentu — bukan berdasarkan intuisi, tapi berdasarkan kerangka yang eksplisit dan bisa direplikasi.
Tapi perangkat ini bukan tujuan akhir — ia adalah alat. Yang menentukan kualitas sebuah analisis DHA bukan seberapa lengkap kamu menerapkan kelima strategi, melainkan seberapa tajam kamu menggunakannya untuk menjawab pertanyaan riset yang bermakna. Dan untuk itu, kamu butuh satu hal lagi yang tidak bisa digantikan oleh perangkat apa pun: pemahaman yang mendalam tentang konteks historis dan sosio-politik dari wacana yang kamu teliti.
(FAQ)
1. Apa yang dimaksud dengan strategi diskursif dalam analisis DHA?
Strategi diskursif adalah pola-pola spesifik yang digunakan oleh aktor sosial di dalam sebuah teks untuk mengkonstruksi, mempertahankan, mengubah, atau meruntuhkan pemahaman tertentu mengenai suatu realitas. Dalam Discourse-Historical Approach (DHA), menganalisis strategi ini membantu kita melihat bagaimana sebuah teks bekerja secara politis maupun sosial.
2. Apa saja lima strategi diskursif inti yang digunakan dalam DHA?
Reisigl dan Wodak merumuskan lima pertanyaan heuristik yang berkorespondensi dengan lima strategi diskursif, yaitu:
- Nominasi: Bagaimana orang, objek, peristiwa, dan tindakan dinamai secara linguistik.
- Predikasi: Sifat, kualitas, dan karakteristik apa yang diatribusikan atau dilekatkan kepada mereka.
- Argumentasi: Argumen apa yang digunakan untuk menjustifikasi atau mendelegitimasi sebuah klaim.
- Perspektivisasi: Dari sudut pandang siapa ungkapan tersebut disampaikan.
- Intensifikasi dan mitigasi: Apakah kekuatan ujaran tersebut dipertegas (diintensifikasi) atau diperlunak (dimitigasi).
3. Apa itu “Topoi” dan mengapa penting dalam analisis wacana?
Dalam kerangka DHA, topoi (tunggal: topos) adalah aturan kesimpulan yang menghubungkan sebuah argumen dengan klaimnya. Topoi bertindak sebagai premis yang menjembatani data atau bukti dengan kesimpulan yang ditarik, sering kali diformulasikan sebagai hubungan sebab-akibat seperti “jika X, maka Y”. Beberapa contoh topoi yang sering digunakan dalam wacana politik antara lain topos ancaman, topos sejarah, topos angka, dan topos otoritas.
4. Selain kelima strategi di level teks (mikro), apakah ada strategi lain di level yang lebih luas?
Ya, di samping strategi mikro, DHA juga membedakan empat jenis makro-strategi yang melihat tujuan atau fungsi sosial dari sebuah wacana. Keempatnya adalah strategi konstruktif (membangun identitas/narasi tertentu), strategi perpetuasi dan justifikasi (mempertahankan status quo), strategi transformasi (mengubah narasi yang sudah mapan), dan strategi pembongkaran (meruntuhkan konstruksi narasi yang sudah ada).
5. Apakah kelima strategi diskursif ini dianalisis secara terpisah satu sama lain?
Meski secara analitis memisahkan kelima strategi ini membantu membedah teks dengan lebih jelas, idealnya seluruh strategi tersebut harus dianalisis secara terintegrasi. Dalam praktiknya, kelima strategi diskursif dan empat makro-strategi tersebut tidak pernah berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dan bekerja bersama sebagai sebuah sistem di dalam teks.
Referensi
Reisigl, M. & Wodak, R. (2001). Discourse and Discrimination: Rhetorics of Racism and Antisemitism. London: Routledge.
Reisigl, M. & Wodak, R. (2009). “The Discourse-Historical Approach (DHA).” Dalam R. Wodak & M. Meyer (Eds.), Methods of Critical Discourse Analysis (2nd ed., pp. 87–121). London: SAGE.
Reisigl, M. & Wodak, R. (2016). “The Discourse-Historical Approach (DHA).” Dalam R. Wodak & M. Meyer (Eds.), Methods of Critical Discourse Studies (3rd ed., pp. 23–61). London: SAGE.
Wodak, R., de Cillia, R., Reisigl, M. & Liebhart, K. (2009). The Discursive Construction of National Identity (2nd ed.). Edinburgh: Edinburgh University Press.
Wodak, R. (2021). The Politics of Fear: The Shameless Normalization of Far-Right Discourses (2nd ed.). London: SAGE.
Yeo, W.S. et al. (2025). “A Retrospective View of Discourse-Historical Approach (DHA).” Gading Journal for the Social Sciences.


Komentar