Ketika Tulisan Bung Hatta Terasa Seperti Bahasa Asing
Pagi itu, saya memasuki kelas XII IPS dengan membawa fotokopi naskah pidato Bung Hatta tentang “Demokrasi Kita” yang disampaikan pada tahun 1966.
Sebagai guru sejarah, saya memilih teks ini karena relevansinya dengan pembelajaran tentang transisi politik Indonesia pasca-Sukarno dan pentingnya memahami konsep demokrasi yang dikembangkan oleh para pendiri bangsa.
Dalam pidato tersebut, Hatta menggunakan gaya bahasa formal dengan struktur argumentasi yang kompleks, mencerminkan tradisi intelektual generasi proklamator.
“Pak, ini bahasa apa sih? Kok kayak bahasa Indonesia tapi susah banget dipahami,”
keluh seorang siswa setelah mencoba membaca paragraf pembuka.
Teman sebangkunya menambahkan sambil menghela napas,
“Kalimatnya panjang banget, bikin pusing.”
Dalam hitungan kurang dari dua menit, hampir seluruh kelas sudah menunjukkan tanda-tanda frustasi yang familiar bagi saya.
Yang lebih mengejutkan adalah respons mereka ketika saya mengajukan pertanyaan analisis:
“Bagaimana konsep demokrasi yang dirumuskan Hatta dapat kalian pahami dalam konteks Indonesia masa kini, dan tantangan apa yang mungkin dihadapi dalam implementasinya?”
Alih-alih diskusi mendalam yang saya harapkan, mereka mengeluh bahwa pertanyaan terlalu rumit dan teks sumbernya terlalu sulit dipahami.
Pengalaman serupa telah saya alami berulang kali selama hampir dua tahun mengajar sejarah di sebuah SMA swasta di Jakarta Utara sejak Agustus 2023.
Siswa cenderung menolak teks yang membutuhkan pemahaman mendalam, lebih memilih ringkasan instan dari platform digital atau AI, dan mudah menyerah ketika tidak menemukan jawaban cepat.
Ketika penggunaan ponsel tidak diizinkan di kelas, respons mereka seringkali adalah mengalihkan perhatian ke aktivitas lain atau bahkan tertidur.
Fenomena ini mendorong saya untuk merenungkan pertanyaan yang lebih fundamental:
“Apakah kesulitan siswa dalam mengolah teks sejarah kompleks ini merupakan cerminan dari tantangan literasi yang lebih luas dalam sistem pendidikan Indonesia?”
*Catatan: Artikel ini adalah series perjalanan saya mengajar sebagai guru sejarah selama 2 tahun di salah satu SMA Swasta Jakarta Utara yang terbagi menjadi beberapa artikel:
• SERIES PERTAMA: Krisis Literasi Indonesia
- Perjalanan Literasi Indonesia: Dari Sejarah hingga Refleksi Seorang Guru (on the way)
- Mengajar Literasi Sejarah: Pengalaman 2 Tahun di Kelas (on the way)
• SERIES KEDUA: Revolusi Metodologi Pembelajaran Sejarah
- Transformasi Pembelajaran Sejarah: Solusi Krisis Literasi (on the way)
- Panduan Lengkap Pembelajaran Sejarah di Museum 8 Minggu (on the way)
- Detective Board: Solusi Krisis Literasi Sejarah Indonesia (on the way)
Data: 125 siswa observasi + 70 siswa eksperimen | Periode:Agustus 2023 – Juli 2025
Memahami Kompleksitas Literasi dalam Pembelajaran Sejarah

Sebelum mendalami analisis, penting bagi kalian untuk memahami bahwa literasi membaca dalam konteks pembelajaran sejarah memiliki karakteristik khusus yang berbeda dari literasi umum.
Menurut kerangka Program Penilaian Siswa Internasional, literasi membaca didefinisikan sebagai kemampuan memahami, menggunakan, mengevaluasi, dan merefleksikan teks tertulis untuk mencapai tujuan tertentu, mengembangkan pengetahuan, dan berpartisipasi dalam masyarakat.
Dalam pembelajaran sejarah, kompleksitas ini bertambah karena siswa tidak hanya dituntut untuk memahami informasi faktual, tetapi juga menganalisis perspektif yang berbeda, memahami konteks temporal yang jauh dari pengalaman mereka, dan menginterpretasi bahasa yang mungkin sudah tidak digunakan dalam komunikasi sehari-hari.
Yang lebih menantang lagi adalah mengajak siswa untuk tidak berpikir secara hitam-putih—pahlawan versus penjahat—melainkan memahami bahwa sejarah itu bersifat abu-abu.
Tidak ada pahlawan atau penjahat murni dalam sejarah; yang ada hanyalah manusia dengan segala kompleksitasnya, yang bisa berbuat baik sekaligus berbuat jahat.
Sebagai contoh, ketika membahas Agresi Militer Belanda terhadap Indonesia, siswa cenderung melihatnya secara simplistik sebagai tindakan kejahatan.
Namun, ketika saya ajak mereka untuk memahami bahwa secara yuridis dan pengakuan internasional pada saat itu Indonesia memang dianggap sebagai wilayah Belanda, mereka mulai bergulat dengan kompleksitas moral dan legal yang tidak mudah dikategorikan sebagai benar atau salah secara mutlak.
Kemampuan untuk berpikir dalam nuansa abu-abu ini menjadi fondasi untuk mengembangkan pemikiran kritis yang akan mereka perlukan sebagai warga negara yang terinformasi.
Baca juga: 15 Tips Belajar Sejarah Efektif: Pengalaman 2 Tahun Mendidik
Apa yang Saya Saksikan dalam Realitas Pembelajaran Sehari-hari

Respons Siswa Terhadap Teks Sejarah dengan Kompleksitas Tinggi
Berdasarkan pengamatan selama mengajar di 6 kelas dengan total kurang lebih sekitar 300 siswa kelas XII (sejak 2023-2025), saya menemukan pola yang konsisten dalam cara mereka berinteraksi dengan dokumen sejarah primer.
Ketika dihadapkan pada teks seperti pidato Bung Hatta, naskah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, atau bahkan kutipan dari memoar para tokoh kemerdekaan, respons awal mereka hampir selalu menunjukkan keengganan yang sama.
Yang menarik, siswa-siswa yang sama menunjukkan antusiasme tinggi ketika membaca novel populer atau bahkan komik sejarah.
Hal ini menunjukkan bahwa masalah bukan terletak pada ketidakmampuan membaca secara teknis, melainkan pada kesulitan mengolah teks yang membutuhkan konsentrasi berkelanjutan dan pemahaman kontekstual yang mendalam.
Dari 300 siswa yang saya amati, sekitar 85 persen menunjukkan kesulitan mempertahankan fokus ketika berhadapan dengan teks sejarah yang memiliki struktur kalimat kompleks atau terminologi khusus.
Hanya sekitar 15 persen yang mampu menyelesaikan bacaan dengan pemahaman yang memadai, dan dari kelompok ini, mayoritas adalah siswa yang memiliki kebiasaan membaca di luar aktivitas sekolah.
Realitas yang harus saya akui adalah bahwa meskipun telah mengembangkan berbagai strategi mengajar selama hampir dua tahun, hanya sekitar 5-10 persen siswa yang menunjukkan perbaikan yang signifikan dalam kemampuan literasi mereka.
Angka ini mungkin mengecewakan, tetapi saya yakin bahwa kejujuran tentang tantangan yang kita hadapi adalah langkah pertama untuk mencari solusi yang lebih efektif.
Strategi Pencarian Informasi dalam Era Digital
Pengamatan terhadap perilaku siswa ketika menghadapi tugas sejarah menunjukkan pergeseran fundamental dalam cara mereka mencari dan memproses informasi.
Data yang saya kumpulkan menunjukkan bahwa 90 persen siswa lebih memilih mencari jawaban melalui platform digital dibandingkan membaca sumber primer atau sekunder yang telah disediakan.
Platform yang paling sering mereka gunakan adalah TikTok untuk penjelasan visual singkat dan aplikasi kecerdasan buatan untuk menjawab pertanyaan spesifik.
Preferensi ini mencerminkan kebiasaan konsumsi informasi yang terpecah-pecah dan berorientasi pada hasil cepat, yang kontras dengan sifat pembelajaran sejarah yang membutuhkan pemahaman naratif yang utuh dan analisis kontekstual.
Ketika akses terhadap teknologi dibatasi di kelas, sekitar 70 persen siswa menunjukkan kesulitan untuk tetap terlibat dengan materi pembelajaran.
Mereka cenderung beralih ke aktivitas lain seperti mengobrol dengan teman atau bahkan tertidur, menunjukkan ketergantungan yang tinggi terhadap rangsangan eksternal untuk mempertahankan perhatian.
Pola Ketahanan dalam Menghadapi Tantangan Intelektual
Salah satu pengamatan yang paling mengkhawatirkan adalah rendahnya toleransi terhadap ketidakjelasan di kalangan siswa.
Ketika menghadapi teks yang tidak memberikan jawaban langsung atau membutuhkan penafsiran, mayoritas siswa cenderung menyerah dengan cepat.
Dalam konteks pertanyaan analitis seperti yang saya ajukan tentang konsep demokrasi Hatta, mereka lebih sering meminta “jawaban instan” dibandingkan berusaha membangun argumen berdasarkan pemahaman mereka sendiri.
Namun, di antara tantangan ini, saya juga menyaksikan transformasi positif pada beberapa siswa.
Mereka yang awalnya menunjukkan penolakan terhadap teks kompleks, setelah mendapat pendampingan dan dorongan yang konsisten, mulai menunjukkan peningkatan dalam kemampuan analisis dan bahkan keberanian untuk menyampaikan pendapat yang berbeda.
Perubahan ini menunjukkan bahwa potensi untuk berkembang sebenarnya ada, tetapi membutuhkan pendekatan pengajaran yang tepat dan dukungan sistematis.
Saya juga menemukan pola yang konsisten dalam dinamika kelas. Dalam setiap sesi pembelajaran 90 menit, 20-30 menit pertama biasanya menunjukkan antusiasme tinggi karena siswa terkesan seperti sedang mengobrol dan bercanda.
Namun, begitu memasuki mode pembelajaran yang lebih serius, antusiasme mereka menurun secara signifikan.
Pola ini konsisten dari waktu ke waktu dan menjadi tantangan tersendiri dalam mempertahankan fokus sepanjang proses pembelajaran.

Faktor-Faktor Sistemik yang Membentuk Tantangan Literasi
Dinamika Ekonomi dalam Akses Terhadap Bacaan Berkualitas
Analisis terhadap faktor-faktor yang berkontribusi pada rendahnya kemampuan literasi siswa mengungkap kompleksitas yang melampaui persoalan individual.
Data dari Ikatan Penerbit Indonesia menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya membeli dua buku per tahun, dengan oplah rata-rata per judul sekitar 3.000 eksemplar¹.
Kondisi ini menciptakan siklus yang merugikan: rendahnya minat baca menyebabkan oplah kecil, yang pada gilirannya membuat biaya produksi per unit menjadi tinggi.
Survei yang dilakukan oleh Snapcart pada tahun 2024 mengungkap bahwa 40 persen responden menyebutkan “harga buku mahal” sebagai hambatan utama dalam mengembangkan kebiasaan membaca.
Dalam konteks keluarga siswa yang saya ajar, pengamatan informal menunjukkan bahwa prioritas pengeluaran untuk bahan bacaan berada di urutan yang rendah dibandingkan kebutuhan lain seperti perangkat elektronik atau hiburan.
Data Survei Sosial Budaya dan Pendidikan 2024 memperkuat temuan ini dengan menunjukkan bahwa kelompok ekonomi atas mengeluarkan biaya pendidikan dua kali lipat dibanding kelompok bawah, termasuk untuk pembelian buku dan materi bacaan.
Kesenjangan ini menciptakan stratifikasi akses terhadap literasi berkualitas yang pada akhirnya mempengaruhi perkembangan kemampuan analitis siswa.
Pergeseran Budaya dalam Mengonsumsi Informasi
Faktor kedua yang signifikan adalah transformasi cara masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengkonsumsi dan memproses informasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Divisi Psikiatri Anak dan Remaja Universitas Indonesia pada tahun 2021 menunjukkan bahwa 95,4 persen remaja usia 16-24 tahun mengalami gejala kecemasan terkait penggunaan media sosial, dengan 88 persen mengalami gejala yang mempengaruhi kemampuan konsentrasi.
Data Kementerian Komunikasi dan Informatika tahun 2022 menunjukkan bahwa 89 persen penduduk Indonesia menggunakan ponsel pintar, dengan kelompok usia 20-29 tahun mencapai tingkat penggunaan tertinggi sebesar 75,95 persen.
Di kalangan siswa yang saya amati, rata-rata durasi penggunaan ponsel mencapai lebih dari dua jam per hari untuk aktivitas non-akademik.
Pergeseran ini tidak sepenuhnya negatif, karena menunjukkan kemampuan adaptasi terhadap teknologi dan efisiensi dalam mengakses informasi.
Namun, ketika preferensi terhadap konten visual dan tersegmentasi menjadi dominan, kemampuan untuk mengolah teks linear yang membutuhkan perhatian berkelanjutan mengalami degradasi.
Posisi Mata Pelajaran Sejarah dalam Sistem Pendidikan
Konteks yang tidak kalah penting adalah posisi mata pelajaran sejarah dalam hierarki prioritas sistem pendidikan Indonesia.
Dalam implementasi Kurikulum Merdeka, sejarah ditempatkan sebagai mata pelajaran pilihan di tingkat SMA kelas XI-XII, sementara fokus utama diberikan kepada “materi esensial seperti literasi dan numerasi.”
Alokasi waktu pembelajaran sejarah yang hanya dua jam per minggu menciptakan tekanan untuk menyelesaikan materi dalam waktu terbatas, sehingga seringkali mengurangi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan analisis mendalam.
Sebagai praktisi, saya mengalami dilema antara memenuhi target kurikulum dan memberikan waktu yang cukup untuk siswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis melalui analisis sumber sejarah.
Persepsi siswa terhadap mata pelajaran sejarah sebagai subjek yang kurang relevan untuk melanjutkan pendidikan tinggi atau karier masa depan juga mempengaruhi motivasi mereka untuk mengembangkan kemampuan literasi dalam konteks pembelajaran sejarah.
Mereka cenderung memprioritaskan mata pelajaran yang dianggap lebih “praktis” seperti matematika, sains, atau ekonomi.
Saya sudah berdamai dengan kenyataan bahwa mata pelajaran sejarah memang tidak dianggap sebagai mata pelajaran yang patut dibanggakan secara akademik.
Kadang-kadang, ketika siswa tidak menunjukkan ketertarikan terhadap pembelajaran sejarah, saya bahkan menyarankan mereka untuk fokus belajar mata pelajaran lain yang lebih sesuai dengan minat dan tujuan akademik mereka.
Realitas Mengajar yang Kompleks: Dilema dan Trade-off
Tantangan Mempertahankan Fokus pada Minoritas yang Responsif
Salah satu dilema terberat yang saya hadapi adalah memutuskan apakah mempertahankan strategi yang berfokus pada 15 persen siswa yang responsif, atau mengubah strategi secara keseluruhan untuk mengakomodasi mayoritas.
Di satu sisi, jika saya mengubah strategi untuk mayoritas yang tidak tertarik, ada konsekuensi bahwa 15 persen siswa yang sudah interaktif kemungkinan akan kehilangan minat mereka.
Untuk saat ini, saya memilih mempertahankan strategi yang fokus pada 15 persen siswa tersebut sambil mengajak mereka yang lain secara perlahan-lahan untuk mau belajar juga.
Keputusan ini tidaklah mudah, karena sering kali membuat saya merasa tidak adil terhadap mayoritas siswa yang membutuhkan pendekatan yang berbeda.
Keterbatasan Waktu dan Tuntutan Zaman
Waktu mengajar yang terbatas juga menciptakan kontradiksi tersendiri. Ketika saya berupaya mengajak mereka yang tidak tertarik untuk terlibat, di sisi lain saya juga perlu menggali lebih dalam dengan mereka yang sudah tertarik belajar secara mendalam.
Dengan hanya dua jam per minggu, sulit untuk menyeimbangkan kedua kebutuhan ini secara optimal.
Ketika siswa menunjukkan perlawanan terhadap pembelajaran, bentuk yang paling sering muncul adalah ketidakacuhan—mereka sering keluar kelas, tidur, mengobrol, atau bercanda tanpa memperhatikan pembelajaran.
Menghadapi perlawanan pasif seperti ini lebih menantang daripada perlawanan aktif, karena sulit untuk mengidentifikasi akar masalah dan mencari solusi yang tepat.
Implikasi untuk Masa Depan Masyarakat Indonesia
Koneksi antara Kemampuan Literasi dan Partisipasi Demokratis
Tantangan literasi yang saya saksikan di ruang kelas memiliki implikasi yang melampaui konteks pendidikan formal.
Menurut analisis Yudi Latif dalam bukunya “Mata Air Keteladanan” (2014), budaya demokrasi mengandaikan adanya empati dan partisipasi yang dapat ditumbuhkan oleh kekuatan literasi.
Dalam masyarakat dengan tradisi lisan yang dominan, akses terhadap informasi terbatas pada kelompok elite, sehingga menciptakan hierarki pengetahuan yang tidak sehat.
Kemampuan untuk membaca dan menganalisis teks secara kritis menjadi pondasi untuk partisipasi demokratis yang bermakna.
Ketika warga negara tidak mampu memproses informasi kompleks, mengevaluasi argumen yang bertentangan, atau memahami konteks historis dari isu-isu kontemporer, mereka menjadi rentan terhadap manipulasi informasi dan populisme yang menyederhanakan realitas politik yang kompleks.
Data hasil Program Penilaian Siswa Internasional 2022 menunjukkan bahwa skor literasi membaca Indonesia mengalami penurunan dari 371 poin pada 2018 menjadi 359 poin, menempatkan Indonesia di peringkat ketujuh dari delapan negara ASEAN yang terdata.
Tren ini mengkhawatirkan ketika kalian mempertimbangkan korelasi antara kemampuan literasi populasi dengan kualitas wacana publik dan stabilitas demokratis.
Dampak Ekonomi dari Rendahnya Kemampuan Literasi
Direktur Agama, Pendidikan, dan Kebudayaan Bappenas, Amich Alhumami, dalam presentasinya tahun 2021 menegaskan bahwa literasi yang rendah berdampak langsung pada produktivitas ekonomi.
Negara-negara dengan proporsi tinggi pekerja di sektor yang mensyaratkan kemampuan baca-tulis lanjutan cenderung memiliki produktivitas yang lebih tinggi, terutama dalam ekonomi berbasis pengetahuan.
Penelitian yang dipublikasikan dalam Indeks Pengetahuan Global 2020 menempatkan Indonesia di peringkat 81 dari 138 negara dalam pembangunan sumber daya manusia.
Di tingkat ASEAN, Indonesia berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, dan Filipina.
Kesenjangan ini tidak hanya mencerminkan kesenjangan dalam akses pendidikan, tetapi juga kualitas hasil pendidikan, termasuk kemampuan literasi yang canggih.
Dalam konteks jangka panjang, rendahnya kemampuan literasi berdampak pada tingginya biaya sosial, termasuk biaya pendidikan perbaikan, rendahnya inovasi, dan kesulitan dalam mengadopsi teknologi baru.
Sebaliknya, investasi dalam pengembangan literasi memberikan keuntungan yang signifikan dalam bentuk peningkatan produktivitas, inovasi, dan kemampuan adaptasi tenaga kerja.
Pembelajaran dari Konteks Internasional
Perbandingan dengan negara-negara yang berhasil meningkatkan kemampuan literasi memberikan perspektif penting tentang kemungkinan intervensi yang efektif.
Amerika Serikat, yang menempati posisi teratas dalam penerbitan buku dengan 3,3 juta judul terdaftar pada 2022, juga memiliki masyarakat dengan kebiasaan membaca yang kuat, dengan rata-rata 17 judul dan 357 jam membaca per tahun.
Korea Selatan menunjukkan transformasi yang luar biasa dalam meningkatkan budaya literasi melalui investasi sistematis dalam industri penerbitan dan infrastruktur perpustakaan.
Dengan 338,2 ribu buku diterbitkan per tahun dan 75,3 ribu penerbit aktif, Korea berhasil menciptakan ekosistem literasi yang mendukung perkembangan ekonomi berbasis pengetahuan.
Finlandia, yang secara konsisten menempati peringkat teratas dalam penilaian internasional, menunjukkan bahwa pendekatan holistik yang mengintegrasikan pengembangan literasi dengan budaya membaca di tingkat keluarga dan masyarakat menghasilkan hasil yang berkelanjutan.
Model ini menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan komunitas dalam menciptakan lingkungan yang mendukung pengembangan literasi.

Membangun Jalan ke Depan dengan Perspektif yang Realistis
Menghadapi kompleksitas tantangan yang telah saya paparkan, penting untuk mengembangkan pendekatan yang realistis dan dapat diimplementasikan dalam konteks Indonesia.
Berdasarkan pengalaman mengajar dan analisis sistemik yang telah dilakukan, transformasi literasi memerlukan intervensi di berbagai tingkat dengan pemahaman yang bernuansa tentang kondisi dan keterbatasan yang ada.
Saya tidak akan berpura-pura bahwa strategi yang telah saya kembangkan memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi.
Namun, pengalaman mengajar di tiga konteks berbeda—SMA swasta Jakarta Utara sebagai setting utama, pengalaman magang di SMA negeri Jakarta Timur, dan program KKN di sekolah dasar dengan keterbatasan fasilitas di Maja, Banten—memberikan saya perspektif yang lebih luas tentang universalitas tantangan literasi yang kita hadapi.
Di tingkat kelas, pendekatan yang terbukti memberikan hasil, meski terbatas, adalah bantuan bertahap, dimulai dari teks yang familiar bagi siswa kemudian secara bertahap meningkatkan kompleksitas.
Penggunaan teknologi digital tidak harus dihindari, tetapi dapat diintegrasikan sebagai jembatan untuk mengembangkan kemampuan analisis yang lebih mendalam.
Yang penting adalah membantu siswa mengembangkan toleransi terhadap ketidakjelasan dan ketahanan dalam menghadapi tantangan intelektual.
Di tingkat institusi, diperlukan reorientasi terhadap posisi mata pelajaran yang mengembangkan kemampuan berpikir kritis, termasuk sejarah, dalam kurikulum nasional.
Alokasi waktu yang memadai dan dukungan sumber daya untuk pengembangan profesional guru menjadi prasyarat untuk implementasi pembelajaran literasi yang efektif.
Di tingkat masyarakat, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, industri penerbitan, dan masyarakat sipil untuk menciptakan ekosistem yang mendukung akses terhadap bacaan berkualitas.
Ini termasuk kebijakan yang mendukung keterjangkauan buku, pengembangan perpustakaan komunitas, dan kampanye literasi yang melibatkan seluruh anggota masyarakat.
Refleksi dan Kejujuran Saya
Sebagai praktisi pendidikan, saya mengundang kalian—rekan-rekan pendidik, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas—untuk terlibat dalam dialog yang konstruktif tentang bagaimana kita dapat bersama-sama membangun masa depan Indonesia yang lebih literat.
Pengalaman menunjukkan bahwa perubahan bermakna dimulai dari kesadaran terhadap kompleksitas tantangan dan komitmen untuk bekerja sama dalam mencari solusi yang berkelanjutan.
Saya tidak bermaksud memberikan panduan atau solusi yang terbukti berhasil, karena kejujurannya, strategi yang telah saya kembangkan belum menunjukkan keberhasilan yang signifikan.
Namun, saya berharap bahwa dengan berbagi pengalaman ini, kita dapat memulai percakapan yang lebih realistis tentang tantangan literasi yang kita hadapi.
Bagaimana pengalaman literasi di lingkungan kalian?
Strategi apa yang telah kalian coba, dan bagaimana hasilnya?
Apa saja kegagalan yang kalian alami, dan pelajaran apa yang bisa kita ambil bersama?
Mari berbagi wawasan dan berkolaborasi untuk membangun fondasi yang kuat bagi generasi Indonesia yang mampu berpartisipasi aktif dalam masyarakat demokratis dan ekonomi berbasis pengetahuan, meskipun dengan langkah-langkah kecil dan realistis.
Lanjutin baca analisis saya terkait PBL: Apakah Model Problem-Based Learning (PBL) Benar Efektif?
Referensi
Alhumami, A. (2021, 23 Maret). Literasi rendah berpotensi kurangi produktivitas. Republika. https://www.republika.id/posts/15241/literasi-rendah-berpotensi-kurangi-produktivitas
Asosiasi Penerbit Internasional. (2022). Laporan tahunan statistik penerbitan global 2022. Geneva: IPA.
Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. (2020). Indeks Pengetahuan Global 2020. Jakarta: Bappenas.
Badan Pusat Statistik. (2024). Survei Sosial Budaya dan Pendidikan (Susenas MSBP) 2024. Jakarta: BPS.
Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Universitas Indonesia. (2021). Dampak media sosial terhadap kesehatan mental remaja Indonesia. Jurnal Psikiatri Indonesia, 15(2), 45-52.
Ikatan Penerbit Indonesia. (2019). Industri perbukuan Indonesia dalam angka dan fakta 2019. Jakarta: IKAPI.
Kementerian Komunikasi dan Informatika. (2022). Statistik penggunaan ponsel pintar Indonesia 2022. Jakarta: Kemenkominfo.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2021). Hasil Asesmen Nasional 2021. Jakarta: Kemendikbud Ristek.
Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2022, 11 Februari). Kurikulum Merdeka jadi jawaban untuk atasi krisis pembelajaran. https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2022/02/kurikulum-merdeka-jadi-jawaban-untuk-atasi-krisis-pembelajaran
Latif, Y. (2014). Mata Air Keteladanan: Pancasila dalam Perbuatan. Bandung: Mizan.
Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi. (2023). Hasil PISA 2022 (Volume I): Keadaan pembelajaran dan kesetaraan dalam pendidikan. Paris: OECD Publishing.
Snapcart. (2024). Survei kebiasaan membaca generasi muda Indonesia 2024. Jakarta: Snapcart Indonesia
¹ https://www.ikapi.org/riset/


Komentar