Teori Pengkambinghitaman René Girard: Cara Masyarakat Menyalahkan Korban dalam Sejarah

Infografis alur scapegoating menurut Girard lengkap dengan contoh dari dunia dan Indonesia
Apa Itu Teori Pengkambinghitaman?
Penjelasan Singkat
René Girard adalah seorang pemikir asal Prancis. Ia dikenal karena teorinya tentang keinginan meniru, konflik sosial, dan kekerasan kolektif.
Menurut Girard, manusia tidak menciptakan keinginannya sendiri. Sebaliknya, kita cenderung meniru keinginan orang lain. Inilah yang disebut mimetic desire atau keinginan mimetik.
Ketika dua orang atau lebih menginginkan hal yang sama, konflik bisa muncul. Karena objek yang diinginkan terbatas, orang akan saling bersaing untuk mendapatkannya.
Contohnya: dua anak menginginkan mainan yang sama. Padahal sebelumnya, salah satu anak tidak tertarik. Tapi ketika ia melihat temannya menginginkannya, ia jadi ingin juga.
Girard percaya pola ini berlaku dalam masyarakat luas. Keinginan meniru ini bisa menciptakan rivalitas, lalu meluas jadi kekerasan sosial.
Lahirnya Krisis dan Kekacauan
Ketika banyak orang menginginkan hal yang sama, seperti kekuasaan, harta, atau posisi, konflik akan meluas.
Situasi ini disebut krisis diferensiasi. Artinya, batas-batas sosial dan identitas mulai kabur.
Dalam keadaan ini, sulit membedakan siapa kawan dan siapa lawan. Semua orang bisa jadi musuh.
Untuk meredakan kekacauan, masyarakat secara tidak sadar akan mencari satu pihak untuk disalahkan. Inilah yang disebut kambing hitam (scapegoat).
Bagaimana Mekanisme Pengkambinghitaman Terjadi?
Pola Umum Menurut Girard
- Terjadi krisis sosial: ekonomi buruk, konflik politik, atau kekacauan budaya.
- Masyarakat mengalami ketegangan. Kekerasan mulai menyebar antar individu atau kelompok.
- Untuk menghentikan kekerasan, masyarakat mencari satu pihak untuk dikorbankan.
- Korban ini sering kali lemah, berbeda, atau minoritas.
- Setelah dikorbankan, masyarakat merasa lega. Ketertiban sosial seolah pulih.
Girard menyebut proses ini sebagai mekanisme pengorbanan kambing hitam. Ia menilai, ini adalah cara purba masyarakat menjaga ketertiban.
Bentuk Pengorbanan
Pengorbanan bisa dalam berbagai bentuk:
- Hukuman mati tanpa proses hukum
- Pengusiran dari komunitas
- Diskriminasi sistematis
- Penghancuran reputasi di era media sosial
Sering kali, masyarakat merasa telah melakukan hal benar. Padahal korban tersebut tidak bersalah atau tidak punya andil besar dalam masalah yang terjadi.
Contoh Pengkambinghitaman dari Dunia dan Indonesia
Jerman Nazi (1930-an)
Setelah Perang Dunia I, Jerman mengalami kehancuran ekonomi dan sosial. Rakyat frustrasi dan kehilangan harapan.
Partai Nazi, di bawah Hitler, mencari kambing hitam: kaum Yahudi. Mereka dituduh menjadi penyebab kekalahan perang, krisis ekonomi, hingga kerusakan moral bangsa.
Propaganda anti-Yahudi menyebar luas. Hasilnya: muncul diskriminasi hukum, pemisahan sosial, dan akhirnya Holocaust.
Sekitar 6 juta orang Yahudi dibantai dalam genosida terbesar abad ke-20. Ini salah satu contoh paling ekstrem dari teori scapegoat.
Rwanda 1994
Rwanda pernah mengalami konflik etnis antara Hutu dan Tutsi. Setelah pesawat presiden Rwanda ditembak jatuh, situasi makin tegang.
Kelompok Hutu menyalahkan etnis Tutsi sebagai biang keladi. Dalam waktu singkat, radio-radio menyerukan pembantaian.
Hasilnya: lebih dari 800.000 orang Tutsi dibunuh hanya dalam 100 hari. Ini menjadi salah satu tragedi kemanusiaan terburuk dalam sejarah modern.
Amerika Serikat (abad ke-20)
Pada era McCarthyisme (1950-an), siapa pun yang dicurigai simpati terhadap komunisme dianggap musuh negara.
Senator McCarthy memimpin “perburuan komunis”. Banyak seniman, penulis, bahkan guru kehilangan pekerjaan.
Pasca 9/11, situasi serupa terjadi. Muslim Amerika dan imigran Timur Tengah menjadi sasaran diskriminasi dan kekerasan.
Mereka dianggap ancaman, padahal sebagian besar tidak punya kaitan dengan aksi terorisme.
Myanmar (2017)
Militer Myanmar menuduh etnis Rohingya sebagai pengganggu stabilitas negara. Mereka dianggap tidak sah sebagai warga negara.
Tuduhan itu dijadikan alasan untuk melakukan kekerasan sistematis: pembakaran desa, pembunuhan, dan pengusiran massal.
Lebih dari 700.000 Rohingya melarikan diri ke Bangladesh. Banyak organisasi HAM menyebut ini sebagai genosida.
Indonesia 1965 dan Pembantaian Anti-PKI
Sudah dibahas di atas. Salah satu contoh terbesar mekanisme scapegoat dalam sejarah Indonesia.
Kasus Malari 1974
Setelah kerusuhan besar di Jakarta pada tahun 1974, mahasiswa dan aktivis dijadikan kambing hitam atas kekacauan tersebut.
Padahal, kerusuhan dipicu oleh kekecewaan terhadap dominasi modal asing dan kebijakan ekonomi Orde Baru.
Pemerintah membungkam kritik dengan menyalahkan segelintir aktivis sebagai biang keladi.
Tragedi Mei 1998
Kerusuhan sosial saat krisis ekonomi 1998 menyebabkan jatuhnya Soeharto. Namun dalam prosesnya, etnis Tionghoa dijadikan sasaran kekerasan massa.
Mereka dituduh sebagai simbol kesenjangan dan monopoli ekonomi. Padahal banyak warga Tionghoa juga terdampak krisis.
Kasus Ahmadiyah dan Syiah
Beberapa kelompok keagamaan minoritas seperti Ahmadiyah dan Syiah sering dijadikan kambing hitam atas isu moral dan sosial.
Mereka diserang, tempat ibadahnya dibakar, dan hak-haknya dibatasi, meskipun mereka tidak memicu krisis apa pun.
Tuduhan “Anti-Islam” dalam Politik Identitas
Dalam beberapa pemilu terakhir, narasi “anti-Islam” atau “pro-komunis” digunakan untuk menyerang lawan politik.
Kelompok tertentu dicap sebagai ancaman terhadap moral bangsa, tanpa bukti yang kuat. Ini pola scapegoating yang sangat politis.
Buku Metode Jakarta?

Representasi visual scapegoating: satu orang dituduh sebagai sumber masalah oleh kelompok
Buku The Jakarta Method karya Vincent Bevins menjelaskan bagaimana strategi pembantaian di Indonesia 1965 menjadi contoh global.
Rezim-rezim otoriter di Amerika Latin meniru cara Indonesia “menghancurkan komunisme” dengan kekerasan.
Kata “Jakarta” bahkan digunakan sebagai kode rahasia untuk menggambarkan ancaman pembantaian terhadap kaum kiri.
Contoh:
- Di Brasil, militer menggunakan metode ini setelah kudeta 1964.
- Di Chile, Jenderal Pinochet melakukannya setelah menggulingkan Presiden Salvador Allende.
“Metode Jakarta” adalah bentuk nyata dari mekanisme scapegoat yang ditiru lintas negara.
Relevansi Teori Girard Hari Ini
Politik Populis
Banyak pemimpin populis menggunakan narasi “musuh bersama” untuk meraih dukungan.
Contoh:
- Donald Trump menyalahkan imigran atas kejahatan dan pengangguran.
- Viktor Orban di Hungaria menyalahkan Uni Eropa dan George Soros atas krisis politik.
- Di Indonesia, isu komunis dan anti-nasional sering dimunculkan menjelang pemilu.
Media Sosial dan Cancel Culture
Di era digital, scapegoating terjadi lewat media sosial. Satu orang bisa dihujat habis-habisan hanya karena satu pernyataan kontroversial.
Meski kadang pantas dikritik, sering kali serangan itu berlebihan. Tidak ada proses adil. Tidak ada ruang klarifikasi.
Fenomena ini menciptakan rasa lega kolektif. Seolah “masalah selesai” karena satu orang telah dihancurkan.
Konflik dan Polarisasi Global
Dalam konflik Israel-Palestina, masing-masing pihak sering menyebut lawan sebagai akar semua kekerasan.
Di Rusia dan Ukraina, propaganda menyalahkan pihak lain atas perang yang terjadi.
Narasi scapegoating menyebar cepat karena ia menawarkan jawaban sederhana atas masalah kompleks.
Apa yang Bisa Kita Pelajari?
Waspadai Narasi Musuh Bersama
Jika ada pihak yang terus-menerus dituduh sebagai sumber semua masalah, kita patut curiga.
Bisa jadi itu bukan solusi, tapi hanya pelampiasan untuk meredam krisis yang lebih dalam.
Bangun Empati Terhadap Korban
Kita harus berhati-hati dalam menilai seseorang atau kelompok. Apalagi jika penilaiannya hanya berdasarkan arus massa.
Korban scapegoating sering tidak bersalah. Tapi karena lemah atau berbeda, mereka tidak bisa membela diri.
Pendidikan Kritis dan Relevansi Teori Girard di Sekolah
Sebagai pendidik, kita memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir kritis.
Teori pengkambinghitaman René Girard bukan hanya sekadar teori sosial, tapi dapat menjadi alat bantu yang efektif dalam pendidikan karakter, sejarah, dan kewarganegaraan.
Pertama, teori ini bisa membuka diskusi tentang bagaimana narasi sejarah dibentuk. Kita dapat mengajak siswa menganalisis bagaimana suatu kelompok dalam sejarah dijadikan kambing hitam, dan bagaimana narasi resmi sering kali tidak memihak korban.
Ini membantu siswa memahami bahwa sejarah bukan hanya soal data dan tanggal, tapi juga soal sudut pandang, kekuasaan, dan representasi.
Kedua, dalam konteks pendidikan multikultural, teori ini memperkuat pentingnya toleransi dan empati terhadap kelompok minoritas.
Banyak kasus scapegoating berakar dari prasangka, stereotip, dan ketakutan kolektif terhadap yang “berbeda”. Jika siswa diajak mengenali pola-pola ini, mereka akan lebih siap hidup dalam masyarakat yang plural dan kompleks.
Ketiga, teori Girard membantu siswa memahami dinamika media sosial dan budaya digital.
Di era di mana cancel culture dan perundungan daring marak, siswa perlu diberi kerangka untuk mengenali kapan opini publik berubah menjadi penghakiman massa.
Pendidikan kritis di sini bukan hanya membahas konten, tetapi juga konteks sosial dan psikologis di balik viralitas suatu isu.
Akhirnya, dengan mengintegrasikan teori Girard dalam pembelajaran, guru juga mendidik siswa menjadi warga negara yang adil, reflektif, dan tidak mudah terhasut.
Ini adalah bentuk pendidikan demokratis yang tidak hanya melatih kecakapan akademik, tapi juga kepekaan etis dan kemanusiaan.
Kesimpulan
Teori pengkambinghitaman René Girard adalah alat penting untuk memahami sejarah dan masyarakat.
Dari perburuan penyihir, Holocaust, hingga tragedi 1965, pola yang sama berulang: saat krisis, masyarakat cenderung menyalahkan satu pihak.
Dengan memahami teori ini, kita belajar untuk tidak ikut-ikutan menyalahkan. Kita belajar melihat konflik secara lebih dalam dan adil.
Di era sekarang, saat informasi menyebar cepat dan polarisasi meningkat, pemahaman seperti ini sangat dibutuhkan.
Baca juga:
-
Chung Hwa Hui (1928-1942): Kisah Organisasi Politik Tionghoa yang Terlupakan dalam Sejarah Indonesia
Referensi
- YouTube. René Girard: The Scapegoat – CBC Ideas
- Critical Legal Thinking. Mimetic Desire & The Scapegoat – Bernard Keenan (2023)
- Vincent Bevins. The Jakarta Method. Marjin Kiri, 2022.
- Girard, René. Violence and the Sacred. The Johns Hopkins University Press, 1977.
- Girard, René. Things Hidden Since the Foundation of the World. Stanford University Press, 1987.


Komentar