Sejarah Discourse-Historical Approach (DHA)

Analisis Wacana Kritis

Ruth Wodak dan Sekolah Wina

Sebuah pendekatan akademis jarang punya cerita asal-usul yang se-dramatis ini. Kebanyakan metode penelitian lahir dari perdebatan di ruang seminar, dari ketidakpuasan terhadap teori sebelumnya, atau dari kebutuhan teknis untuk menganalisis data dengan cara baru. Discourse-Historical Approach (DHA) lahir dari sesuatu yang jauh lebih mendasar: dari sebuah negara yang berbohong kepada dirinya sendiri selama empat puluh tahun — dan dari seorang perempuan yang menolak ikut berpura-pura.

Artikel ini menceritakan bagaimana DHA muncul dari konteks politik Austria yang sangat spesifik, siapa orang-orang yang mengembangkannya, dan mengapa asal-usul ini penting untuk memahami karakter pendekatan ini sampai hari ini.

Austria dan “Tesis Korban”: Empat Dekade Kebohongan Nasional

Ilustrasi sketsa sejarah lahirnya DHA, menggambarkan bagaimana Ruth Wodak dan tim merespons "Tesis Korban" Austria dan Skandal Waldheim 1986.

Konteks sosio-politik dan sejarah Austria yang memicu kelahiran pendekatan wacana kritis DHA.

Ceritanya dimulai dari sebuah narasi. Setelah Perang Dunia II berakhir pada 1945, Austria membutuhkan sebuah cerita tentang dirinya sendiri — cerita yang memungkinkan negara ini membangun kembali identitasnya dari reruntuhan. Cerita yang dipilih sangat sederhana dan sangat nyaman: Austria adalah “korban pertama” agresi Nazi Jerman. Anschluss 1938 — ketika Jerman mencaplok Austria — dibingkai sebagai pemaksaan dari luar, bukan sesuatu yang disambut oleh banyak orang Austria.

Narasi ini punya dasar dalam Deklarasi Moskow 1943, di mana Sekutu menyebut Austria sebagai “negara bebas pertama yang jatuh menjadi korban agresi Hitleris.” Kalimat inilah yang kemudian menjadi fondasi identitas Austria pasca-perang. Selama empat dekade, “tesis korban” ini mendominasi wacana publik — di buku sejarah, di pidato resmi, di media, dalam percakapan sehari-hari. Austria berbeda dari Jerman, demikian narasinya: Jerman pelaku, Austria korban.

Yang tersembunyi di balik narasi ini, tentu saja, adalah kenyataan yang jauh lebih rumit. Banyak orang Austria yang bukan hanya menjadi korban — mereka menyambut Anschluss dengan antusias, berpartisipasi aktif dalam mesin perang Nazi, dan terlibat dalam Holocaust. Tapi selama “tesis korban” mendominasi, kenyataan ini bisa disembunyikan. Mantan anggota partai Nazi bisa kembali ke kehidupan publik, memegang jabatan tinggi, bahkan menjadi politisi terkemuka — tanpa ada yang mempertanyakan masa lalu mereka secara serius.

Discourse-Historical Approach (DHA)

Untuk memahami kenapa DHA lahir, kamu perlu memahami betapa kuatnya narasi ini — dan betapa dalamnya penolakan Austria terhadap kenyataan di baliknya. Ini bukan sekadar “versi sejarah yang berbeda.” Ini adalah konstruksi diskursif berskala nasional yang dipertahankan melalui bahasa, melalui cara peristiwa diceritakan dan tidak diceritakan, melalui pilihan kata dan pilihan diam, selama empat puluh tahun.

1986: Skandal Waldheim dan Lahirnya DHA

Semua berubah pada 1986. Kurt Waldheim — diplomat Austria yang pernah menjabat Sekretaris Jenderal PBB selama dua periode (1972–1981) — mencalonkan diri sebagai presiden Austria. Selama kampanye, World Jewish Congress mengungkap bahwa Waldheim pernah menjadi perwira intelijen Wehrmacht di Balkan selama perang, di unit yang terlibat dalam deportasi Yahudi Thessaloniki ke kamp kematian dan pembantaian partisan.

Waldheim menyangkal mengetahui apa pun tentang kekejaman itu. Dan yang lebih penting untuk cerita kita: reaksi publik Austria sangat terpecah. Sebagian besar kemarahan publik tidak diarahkan kepada Waldheim — melainkan kepada mereka yang mengungkap masa lalunya. Media internasional dan komunitas Yahudi dituduh “mencampuri urusan dalam negeri Austria.” Slogan kampanye pendukung Waldheim berbunyi: “Kita pilih siapa yang kita mau” (Wir wählen wen wir wollen) — pernyataan defian terhadap tekanan internasional. Waldheim tetap terpilih.

Skandal ini memaksa Austria untuk pertama kalinya berhadapan secara publik dengan “tesis pelaku” — bahwa orang Austria bukan hanya korban tapi juga partisipan aktif dalam kejahatan Nazi. Dan di sinilah DHA lahir.

Ruth Wodak, yang saat itu adalah professor linguistik di Universitas Wina, memimpin tim peneliti interdisipliner yang menganalisis bagaimana wacana publik beroperasi selama skandal Waldheim. Bukan hanya apa yang dikatakan — tapi bagaimana stereotip antisemitik dikonstruksi, diaktifkan, dan direproduksi dalam pidato politik, liputan media, dan percakapan publik. Bagaimana mekanisme penyangkalan bekerja di level bahasa. Bagaimana “tesis korban” dipertahankan meskipun bukti semakin kuat.

Analisis Wacana Kritis: Versi Bahasa Bayi

Hasil studi ini diterbitkan sebagai Wir sind alle unschuldige Täter! (“Kita Semua Pelaku yang Tidak Bersalah!”) pada 1990 — dan inilah yang secara umum diakui sebagai studi pertama yang menggunakan DHA. Reisigl dan Wodak (2009) mencatat bahwa empat karakteristik yang menjadi ciri khas DHA semuanya muncul dari proyek ini: orientasi interdisipliner yang menggabungkan analisis linguistik dengan pendekatan historis dan sosiologis; kerja tim lintas disiplin; triangulasi sebagai prinsip metodologis — mendekati fenomena dari berbagai sudut menggunakan berbagai jenis data dan metode; dan orientasi pada aplikasi praktis — bukan hanya menganalisis, tapi juga berkontribusi pada perubahan.

Ruth Wodak: Antara Trauma Personal dan Proyek Intelektual

Infografis sketsa memetakan asal-usul intelektual, kolaborator, dan fondasi metodologi Discourse-Historical Approach (DHA) dengan Ruth Wodak sebagai tokoh sentral.

Untuk memahami DHA secara utuh, kamu perlu tahu sedikit tentang orang yang menciptakannya. Ruth Wodak lahir di London pada 1950, dari keluarga Yahudi Austria yang melarikan diri dari Holocaust. Keluarganya kembali ke Austria setelah perang. Ayahnya adalah diplomat. Wodak tumbuh di Austria pasca-perang — di sebuah negara di mana tetangga-tetangganya, guru-gurunya, bahkan pejabat yang mengurus administrasi hariannya, mungkin saja adalah orang-orang yang pernah mendukung atau bahkan berpartisipasi dalam rezim yang nyaris memusnahkan keluarganya. Tapi tidak ada yang membicarakan itu. “Tesis korban” memastikan semua orang bisa berpura-pura.

Pengalaman ini — hidup di masyarakat yang menggunakan bahasa untuk menyangkal, menyembunyikan, dan merelativir kejahatannya sendiri — membentuk seluruh orientasi intelektual Wodak. DHA bukan hanya metode akademis. Ia adalah respons personal dan intelektual terhadap pengalaman hidup di tengah kebohongan yang diinstitusionalisasi. Ketika Wodak menganalisis bagaimana bahasa digunakan untuk menyangkal masa lalu, ia bukan hanya mengerjakan proyek penelitian — ia sedang membongkar mekanisme yang memungkinkan masyarakat tempatnya tumbuh menghindari akuntabilitas selama puluhan tahun.

Ini juga menjelaskan mengapa DHA, sejak awal, secara eksplisit menolak klaim netralitas. Reisigl dan Wodak (2009) menyatakan bahwa DHA “berpihak pada mereka yang menderita ketidakadilan politik dan sosial” dan bertujuan untuk “mengintervensi secara diskursif” dalam praktik sosial dan politik yang ada. Ini bukan kelemahan metodologis — ini adalah posisi epistemologis yang disengaja dan ditransparankan. Wodak dan timnya percaya bahwa berpura-pura netral itu sendiri adalah tindakan politik — karena ketidakpedulian yang pura-pura pada akhirnya membantu mempertahankan status quo yang tidak adil.

Dari Antisemitisme ke Identitas Nasional ke Populisme: Evolusi DHA

DHA tidak berhenti di studi Waldheim. Sejak 1990, pendekatan ini terus berkembang melalui serangkaian proyek riset besar, masing-masing memperluas cakupan dan mempertajam perangkat analitisnya.

Proyek besar kedua adalah studi tentang diskriminasi terhadap migran Romania di Austria pada awal 1990-an (Matouschek, Wodak, dan Januschek, 1995). Di sini, DHA mulai digunakan untuk menganalisis bukan hanya antisemitisme tapi rasisme dan xenofobia secara lebih luas — bagaimana “orang asing” dikonstruksi sebagai ancaman melalui wacana media dan politik.

Kemudian datang proyek paling ambisius: konstruksi diskursif identitas nasional Austria. Proyek ini, yang menghasilkan buku The Discursive Construction of National Identity (Wodak, de Cillia, Reisigl, dan Liebhart, 1999/2009), menganalisis bagaimana identitas nasional Austria dikonstruksi melalui tiga jenis data yang berbeda — pidato komemoratif resmi, diskusi kelompok terarah dengan warga biasa, dan wawancara mendalam individual. Dari proyek inilah kerangka teoretis DHA tentang identitas nasional — termasuk konsep-konsep seperti strategi konstruktif, perpetuasi, transformasi, dan pembongkaran — dikembangkan secara sistematis.

Wittgenstein Prize yang diterima Wodak pada 1996 — penghargaan ilmiah tertinggi di Austria — memberikan dana riset besar yang memungkinkan pembentukan pusat riset Discourse, Politics, Identity (DPI) di Universitas Wina. Pusat ini menjadi basis untuk proyek-proyek komparatif dan transnasional — menganalisis wacana EU tentang ketenagakerjaan, politik memori Eropa, dan identitas Eropa (Reisigl & Wodak, 2009).

Karya terbaru Wodak — The Politics of Fear: The Shameless Normalization of Far-Right Discourses (edisi kedua, 2021) dan artikel-artikelnya tentang appeal to common sense dan normality (2024, 2026) — menerapkan DHA pada fenomena paling mendesak saat ini: kebangkitan populisme sayap kanan di seluruh Eropa dan bagaimana wacana yang tadinya dianggap ekstrem secara perlahan menjadi “normal” melalui proses yang dia sebut shameless normalization.

Pola yang konsisten di sepanjang evolusi ini: DHA selalu mengikuti fenomena yang mendesak. Ia tidak mencari data untuk menguji teori — ia mengembangkan teori dan metode untuk memahami fenomena politik yang sedang terjadi. Ini membuat DHA selalu relevan, tapi juga selalu berubah.

Kolaborator Utama: Bukan Proyek Satu Orang

DHA sering diasosiasikan secara eksklusif dengan nama Ruth Wodak — dan memang dia figur sentralnya. Tapi DHA adalah produk kolaboratif, dan beberapa kolaborator utamanya memberikan kontribusi yang sangat spesifik dan substansial.

Martin Reisigl adalah ko-arsitek metodologis DHA. Bersama Wodak, dia merumuskan lima strategi diskursif (nominasi, predikasi, argumentasi, perspektivisasi, intensifikasi/mitigasi) dan apparatus argumentasi berbasis topoi yang menjadi tulang punggung analisis DHA. Buku mereka berdua, Discourse and Discrimination (2001), adalah teks metodologis foundational yang paling sering dirujuk. Reisigl juga menulis bab DHA di edisi-edisi Methods of Critical Discourse Analysis/Studies yang menjadi referensi standar pendekatan ini.

Rudolf de Cillia membawa keahlian dalam sosiolinguistik dan kebijakan bahasa. Dia adalah salah satu empat penulis The Discursive Construction of National Identity dan berkontribusi terutama pada analisis bagaimana bahasa itu sendiri — bukan hanya wacana tentang bahasa — menjadi arena konstruksi identitas nasional.

Markus Rheindorf adalah kolaborator terpenting Wodak dalam dekade terakhir. Kontribusinya yang paling signifikan adalah mengembangkan model normalisasi yang lebih sistematis — bagaimana wacana sayap kanan bergerak dari pinggiran ke arus utama melalui proses rekontekstualisasi lintas genre dan ranah tindakan. Dia juga mengintegrasikan metode kuantitatif (analisis korpus linguistik) ke dalam DHA, mengatasi salah satu kritik terbesar terhadap pendekatan ini — masalah transparansi dalam pemilihan data.

Michał Krzyżanowski memperluas DHA ke analisis media dan normalisasi. Kontribusi terbesarnya adalah konsep conceptual flip-siding — strategi di mana partai-partai sayap kanan mengambil alih konsep-konsep yang biasanya diasosiasikan dengan demokrasi liberal (kebebasan, toleransi, kesetaraan) dan membalik maknanya untuk tujuan illiberal.

Bersama-sama, kelompok ini — yang kadang disebut “Sekolah Wina” analisis wacana kritis — membentuk DHA menjadi apa yang kita kenal sekarang: pendekatan interdisipliner yang menggabungkan analisis linguistik detail dengan kontekstualisasi historis yang mendalam, bekerja dengan berbagai jenis data melalui prinsip triangulasi, dan berkomitmen secara eksplisit pada demokrasi dan hak asasi manusia.

Apa Artinya Semua Ini?

Kenapa cerita asal-usul ini penting? Karena ia mengungkap sesuatu yang fundamental tentang karakter DHA.

DHA bukan metode yang diciptakan di ruang hampa lalu dicari aplikasinya. Ia lahir karena ada kebutuhan yang sangat nyata untuk memahami bagaimana bahasa bisa digunakan untuk menyembunyikan kebenaran, membangun narasi palsu, dan mempertahankan kekuasaan — selama puluhan tahun — tanpa ada yang mempertanyakannya secara serius. Setiap fitur DHA — orientasi interdisiplinernya, prinsip triangulasinya, model konteks empat lapisnya, analisis strategi diskursifnya — adalah respons terhadap masalah konkret yang ditemui dalam proses menganalisis fenomena politik yang mendesak.

Dan pola ini bisa direplikasi. Indonesia, dengan pergulatan panjangnya dengan narasi Orde Baru, dengan perdebatan tentang siapa yang berhak menulis sejarah bangsa, dengan wacana-wacana yang membentuk cara kita memahami masa lalu dan masa kini — Indonesia punya fenomena-fenomena yang membutuhkan perangkat analitis seperti DHA. Bukan untuk mengimpor metode Eropa secara mentah, melainkan untuk mengembangkan perangkat yang tumbuh dari kebutuhan kita sendiri — persis seperti DHA tumbuh dari kebutuhan Austria.

FAQ Tentang DHA

1. Mengapa konteks sejarah sangat penting dalam DHA?

Karena DHA tidak membaca teks sebagai sesuatu yang berdiri sendiri. Makna wacana selalu dikaitkan dengan situasi historis, politik, dan sosial yang melingkupinya, sehingga konteks menjadi kunci utama analisis.

2. Apa masalah utama yang mendorong lahirnya DHA di Austria?

DHA lahir dari kebutuhan untuk membaca ulang cara Austria membangun narasi tentang masa lalunya, terutama melalui “tesis korban” dan skandal Waldheim, yang menunjukkan bagaimana bahasa dipakai untuk menata ingatan kolektif.

3. Apa fokus analisis DHA selain bahasa itu sendiri?

Selain struktur bahasa, DHA juga memperhatikan praktik sosial, identitas, ideologi, dan relasi kuasa yang muncul dalam wacana. Karena itu, DHA selalu bergerak dari teks ke konteks yang lebih luas.

4. Mengapa DHA disebut pendekatan interdisipliner?

Karena DHA menggabungkan linguistik, sejarah, ilmu sosial, dan analisis politik dalam satu kerangka kerja. Pendekatan ini tidak puas hanya dengan pembacaan tekstual, tetapi juga menautkannya dengan proses sosial yang membentuknya.

5. Dalam isu apa DHA paling sering digunakan?

DHA sering digunakan untuk meneliti nasionalisme, identitas, antisemitisme, xenofobia, populisme, dan normalisasi wacana sayap kanan. Topik-topik ini cocok dianalisis karena DHA memang menyoroti hubungan bahasa dengan kuasa dan eksklusi sosial.

Artikel Terkait

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *